
^^^Dua hari kemudian.^^^
"Yunaku sayang. Ini sepatu kamu aku bawain." Ucap Lea dengan gemas.
Yuna melihat sepatu kaca itu, ia berkata "Aku bukan cinderella."
"Benar. Hanya karena sepatu yang kamu buang. Aku harus membayarnya dua kali lipat. Gila to si Tommy. Malak aku sampai jebol dompetku." Ucap Lea.
"Tommy?" Tanya Yuna.
"Iya, siapa lagi orang yang suka iseng. Tapi, dia dapat dari salah satu mahasiswa di kelasnya. Bilangnya, sepatu itu dilelang." Jawab Lea.
"Kenapa Zio tidak bilangin aku?"
Lea berkata "Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin, Zio tidak mau mendapatkan sepatu kamu."
Yuna berkata "Lalu dengan anaknya, apa dia tidak mau mengambilnya dariku?"
"Yuna, jangan pikirkan begitu. Aku sudah membuat keputusan. Setelah bayi kita lahir. Aku langsung membuat surat, itu anakku dan Mas Setya. Bukan anak kalian. Aku yakin, Zio tidak akan bisa merebutnya dariku." Jawab Lea santai.
Yuna berkata "Aku terserah sama kamu saja."
Lea mengelus rambut Yuna, ia berkata "Aku yang salah. Aku membuat kamu ada diposisi itu. Seandainya aku tidak menyuruh kamu untuk menjaga dia."
"Aku juga tidak tahu, mereka tega sama Zio. Sampai-sampai aku juga sudah tidak sadar."
Lea berkata "Jangan cemas. Selama ada aku. Aku akan menjaga kamu. Ayah kamu, sudah aku beritahu sebelumnya, dia menyerahkan kamu padaku."
"Kamu sudah bilang sama Ayahku?" Tatapan Yuna syok, padahal minggu kemarin ini, mengajak Zio pulang ke rumah orang tuanya.
"Kapan kamu cerita sama Ayahku?"
"Emh, setelah tahu kamu hamil. Aku tahu dari klinik tempat kamu periksa. Setelah itu, aku meminta maaf sama Ayah kamu."
Yuna melihat tubuh Lea, dan memastikan tidak ada pukulan keras Ayahnya.
Yuna menatap serius wajah Lea, bertanya "Kamu melawan Ayahku?"
"Tidak. Ayahmu hanya diam. Dia bilang sudah tua. Badannya tidak kuat untuk melawanku." Jawab Lea.
"Kalian ini, bikin aku gila." Yuna meraih Lea dalam pelukannya.
Yuna perlahan menangis, ia juga tidak sanggup akan situasi ini. Seminggu lalu, dia memang memeriksakan dirinya, ke sebuah klinik bersalin.
"Sudah, jangan menangis." Ucap Lea dan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Aku tidak bisa menjaga diriku. Aku juga tidak bisa menjaga Zio untukmu. Aku tidak bisa menjaga kamu lagi." Ucapnya Yuna dan ia sudah menangis. Suara itu tersengal-sengal. Lea juga merasakan hati Yuna yang terluka.
"Aku tahu, apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu tidak perlu menjaga aku. Aku yang akan menjaga kamu."
"Terima kasih."
Setya yang baru kembali dari pasar, ia mendapati dua perempuan yang menangis tersedu-sedu.
"Perempuan hanya bisa menangis. Aku yang harus mengerjakan semua ini." Desis Setya.
Gubraak!
__ADS_1
Melihat dapur malah berantakan karena ulah istri hebohnya. Pagi-pagi, bukannya dapat belaian mesra, malah disuruh ke pasar dan membeli semua bahan masakan.
Begitu kembali, dapur sudah kotor karena sesuatu. Lea mendapati kecoak terbang. Sampai Lea jungkir balik. Agar bisa menangkap kecoak itu. Soalnya, Yuna geli sama kecoak. Demi Yuna, Lea mengejar kecoaknya dan harus tertangkap di tangannya.
"Koki gantengku, tidak percuma aku membawamu kemari." Ucap Lea tengil.
Sudah 1 jam, suaminya bergelut di depan kompor. Tiga menu, untuk makan sudah siap di hidangkan. Lea mengelap keringat suaminya.
"Uh, suamiku sampai berkeringat. Aku akan memasang AC di dapur ini." Ucapnya tanpa mikir.
Mendengar itu, suami bertanya, "Apa uang yang kamu bawa akan cukup dalam setahun?"
Lea terdiam sesaat, ia tidak memikirkan hal ke depan. Bahkan, semuanya dia beli.
Kasur, sofa, televisi, ac kamar dan alat dapur. Semua mewah, sampai yang mengantar perabotan itu kesusahan dan meminta bayaran lebih, soalnya jalan menuju ke rumah itu, tidak bisa dilalui mobil.
Pagi tadi, Setya pergi mengendarai motor. Itupun, motor bekas dan punya pemilik rumah lama itu.
Rumah lama terlihat cat tembok yang pudar, bahkan bagian luar sebagian di penuhi lumut. Setibanya disana, Setya yang harus membersihkan semuanya.
Lea mengeyeka bibir suaminya, ia mengecup bibir itu dengan lembut. Lea berkata "Aku tahu. Aku akan berusaha untuk mencarinya. Aku juga bisa bekerja sendiri."
Setya menggeleng, ia memegang tangan istrinya. "Aku tidak masalah, selama kamu senang hidup seperti ini. Lalu, bagaimana dengan keluarga kita?"
"Aku yakin, Mama sama Papa bisa memahami tindakan aku." Jawabnya.
"Bagaimana dengan Yuna?" Tanya Setya.
Setya berkata "Baik, aku hanya ingin meringankan beban istriku ini."
"Nah gitu dong. Suamiku harus selalu mendukung aku." Balas Lea.
"Sayang kamu sudah masak nasi?"
"Sudah, coba saja lihat." Lea bergerak ke arah magicom yang terlihat menyala, tapi dia belum menekan tombol memasak.
"Eh, masih beras. Aku lupa memencet cook."
Setya tergemas-gemas, ia sampai ingin menggigit pipi cubby istrinya. Setya merangkul pinggang istrinya, dan Lea menatap wajah sang suami.
"Mas, kamu kenapa senyam-senyum begitu?"
"Aku hanya merasa kita sedang berbulan madu."
"Mas Setya, jangan mikir aneh-aneh."
"Setelah kamu selesai datang bulan. Aku juga ingin jadi bapak. Itu, Zio malah sudah cetak bayi." Ucapan Setya sudah semakin sesat.
"Iya iya, tapi disini aku mau menjaga Yuna. Masa iya, aku ikutan hamil." Balas Lea.
Setya berkata "Mumpung, kamu cuti kuliahnya, aku akan menjaga kamu."
"Iih, dasar." Balas Lea dan ia sampai kegelian saat tangan suaminya sudah beraksi. Untungnya saja, Yuna sedang bobok cantik. Jadi tidak bisa melihat kenakalan kedua orang ini, yang menabur romansa di dapur.
"Mas Setya. Hentikan." Ucap Lea yang merasa ke gelian.
__ADS_1
Suaminya memeluknya dari belakang, ia berbisik di telinga "Aku mencintai kamu."
Sang suami mengecup kembali leher putih mulus itu, Lea berkata "Aku juga mencintaimu."
Keduanya berciuman, entah perasaan apa yang mereka rasakan saat ini. Lea terlihat menikmati ciuman hangat dipagi hari.
Lea menatap suaminya, ia berkata "Mas Setya, aku belum mandi."
"Aku akan memandikanmu." Balasan suaminya.
Setya melepaskan celemek masaknya dan ini sudah lebih dari jam 10. Sang suami dari pagi sudah sibuk, tapi si istri gemasnya malah bersantai ria dan belum mandi. Untungnya sayang, jadi semakin disayang-sayang oleh suaminya.
"Aku masih haid." Bilangnya begitu.
"Sudah hampir 7 hari. Belum selesai juga?" Tanya suami memastikan.
Lea memegang bibir suaminya, ia berkata "Mas Setya harus sabar."
"Aku selalu sabar. Tapi, soal ini. Aku mana bisa tahan." Balasan sang suami tanpa mikir.
Lea dan Setya menempati kamar utama, ada kamar mandi di dalam kamar. Lalu, di kamar depan dekat ruang tamu, itu kamarnya Yuna, ukurannya lebih luas, karena kamar mandinya di luar.
Terdapat dua kamar tidur, di rumah minimalis, gaya rumah sudah tampak modern. Hanya saja, rumah ini sudah tidak terawat lagi.
Lea mendapatkan rumah ini, dari seorang kenalan. Rumah yang jauh dari perkotaan dan daerah ini begitu sejuk.
Begitu Lea datang, juga sudah melapor kepada RT setempat, hanya saja Lea meminta kepada ketua RT itu, agar tidak memberitahu siapapun, termasuk tetangga di sekitar rumahnya. Jarang sekali, rumah yang berpenghuni. Lea malah suka, baginya seperti uji nyali.
Lea mengatakan kalau Kakaknya hamil dan mencari bidan setempat. Pak RT itu, juga memberikan nomor ponselnya, bila sewaktu-waktu membutuhkan bantuan dari beliau ini. Lea mengatakan kalau dirinya, kerabat dekat pemilik rumah. Pak RT juga sempat menghubungi pemilik rumah itu.
"Mas Setya, sudah. Aku geli."
Setya menyudahi aktivitas itu, ia tersenyum "Kamu tidak bisa menahannya?"
"Mas Setya." Tatapan istrinya pasrah.
Melihat itu, Setya tidak lagi mengulum the twins
"See You My Sweetie." Setya dengan tersenyum gemas, lantas pergi meninggalkan kamar mandi.
"Mas Setya, menyebalkan." Lea yang merasa kesal sendiri. Hasratnya juga memuncak, tapi belum siap. Karena, masih terima tamu bulannya.
Setya yang menunggu di kamar. Ia merebahkan dirinya, Setya berkata "Huh, aku tidak bisa menahannya."
Di sebuah kota dan jauh dari Ibukota. Zio berhasil melarikan diri. Pikirannya semakin kacau, saat mendengar ucapan dari sang Mama.
Papa Arjuna gercep dong, orang suruhannya membekap Zio.
Bodyguard Jenny mencari di sekitar jalan rumah mewah. Zio dengan mata melek, jantungnya berdebar kencang.
Setelah tidak terlihat oleh bodyguard Mamanya. Orang suruhan Papa Arjuna berkata "Saya orangnya Pak Arjuna. Kamu harus ikut saya, menemui Pak Arjuna."
"Aku tidak mau. Aku hanya ingin menemui Lea." Memberontak.
"Pak Arjuna akan mengatur pertemuan kalian."
__ADS_1