
Senyuman tipis telah tersirat di wajah tampannya.
Setya yang berdiri di sisi kanan Papa mertuanya.
Dikenalkan kepada para pimpinan perusahaannya.
Disambut hangat oleh mereka dengan bahagianya.
Siang hari jam makan siang, di Hotel Chang Ho.
"Siang ini, kanan kirinya ada menantu. Tahun besok, para cucu." Canda dari salah satu pimpinan perusahaan, yang tidak lain adalah Presdir Jimmy. Papanya, bos Kevin.
"Semoga, kata-katamu menjadi do'a." Ucap Papa Arjuna.
Meski para pria tua ini, hadir dengan penampilan rapi dan memakai jas mewah bernuansa abu-abu.
Tapi, pemilik perusahaan mereka, hanya memakai kaos dan terlihat begitu santai. Bahkan, dua menantunya juga tampil menawan dengan setelan jas ala mereka berdua.
Varell yang mengenakan jas abu tua dasi kotak-kotak, dan Setya tampil memakai jas abu tua, dengan dasi serupa.
"Yang kanan putra Hendri dan yang kiri putra Daniel." Ucap dari salah satu Presdir.
"Aku sampai iri melihatnya." Lugasnya.
"Kalian iri padaku?" Tanya Papa Arjuna.
"Arjuna, kita belum punya menantu tampan. Apa kamu masih punya cadangan anak laki-laki?"
"Keponakanku semuanya laki-laki, ada 8 bujang tampan dan lulusan S2 dari luar negeri. Mereka dari Mahatma dan Jisung. Apa kalian ada yang berminat, menjadikan menantu dari kalian?"
"Kita, tidak akan berani meminta mereka untuk menjadi menantu kita."
"Benar. Kita, ibaratnya remahan kacang bagi mereka."
"Jangan khawatir, saudaraku tidak akan memandang posisi dan jabatan, yang penting seiman." Balas Papa Arjuna.
"Boleh juga, putriku lulusan kedokteran."
"Bagus. Putra adik kembarku, dua bujang tampan berusia 25 tahun."
Papa Arjuna malah promosi keponakan. Keponakannya, memang para pemuda tampan, apalagi si Boyz, putra adik kandungnya yang dinikahi bule Jerman.
Papa Arjuna terlihat santai, karena para Presdir dan CEO ini, semua kenalan dekatnya. Yang tidak lain, adalah teman-teman seusianya.
Eh, Papa Arjuna sudah tua. Hanya saja, karena tidak merasakan pekerjaan yang membuatnya stress, beliau terlihat awet muda dan belum beruban. Yang paling tua diantara yang lainnya, ialah Presdir Jimmy, rambutnya juga sudah dipenuhi uban.
Mau gagal atau berhasil, Papa Arjuna tidak pernah ambil pusing soal perusahaannya. Beliau selalu santai.
Hanya saja kalau soal putrinya, selalu berubah pusing dan nggak sabaran. Contohnya, begitu Lea melirik pria idamannya, Papa Arjuna gerak cepat untuk menjodohkan putrinya itu. Memang dari dulu begitu, tidak sabaran.
Seperti saat ini, mengenalkan kedua menantunya, kepada para pimpinan perusahaan miliknya.
__ADS_1
Malahan, Papa Arjuna mengatakan, kalau yang akan menggantikan dirinya adalah Setya. Tugasnya melihat kinerja, perusahaan miliknya berserta hasilnya.
Setya memundurkan kepala dan melihat ke Varell, dia tampak menggeleng "Huh, kenapa nggak bang Varell saja?"
Setya merasa tidak enak hati kepada Abang iparnya. Apalagi, Setya belum paham, tentang seluk beluk kantor, yang menanungi beberapa perusahaan hebat, milik Papa mertuanya.
Setelah dari pertemuan penting itu, Setya masih berbincang dengan Varell. Mereka berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari hotel tadi, tempat perjamuan makan siang.
"Bang Varell malah ngewatain aku." Tatapan Setya seakan tidak terima. Saat, Varell menertawakan kepolosan Setya.
Varell menepuk bahu Setya "Aku pikir, kamu itu sudah dewasa. Ternyata, lebih menggemaskan dari Lea."
"Memangnya, aku salah? Bang Varell aku serius. Aku bahkan tidak tahu kalau ada A.M Group. Bang, dimana gedung kantornya?" Tanya Setya yang ingin memastikan.
"Kantornya di rumah Papa." Jawaban Varell, yang terdengar begitu santai.
Setya menyernyitkan dahi, ia berkata "Bang Varell. Aku tanya serius."
"Setya, aku jawabnya juga serius." Balas Varell, setelahnya mingkem gemas.
Setya masih bertanya lagi, "Jadi, nggak ada kantor tempat kerjanya?"
"Papa kerjanya di rumah. Terima email, surat, telephone. Melakukan kunjungan santai, dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya. Setahu aku, begitu." Jawab Varell dan terdengar menyakinkan.
"Bang Varell sendiri, gimana pekerjaannya?" Tanya Setya, yang masih awam dalam dunia bisnis Papa mertunya.
"Ya begini."
Di perusahaan Ayahnya sendiri saja, Setya tidak banyak tahu tentang perusahaan itu. Apalagi, di perusahaan Papa mertuanya, bahkan ada beberapa perusahaan yang di naungi oleh A.M Group.
Varell iseng bertanya "Kamu sama Lea gimana? Lea usil nggak?"
Setya menjawab "Lea nggak usil. Cuma, terkadang nggak bisa nurut."
"Lea memang begitu. Kamu harus sabar, kalau ngadepin dia." Ujar Varell, yang sudah mengenal Lea.
"Bang Varell, gimana keadaan Mbak Nada selama hamil muda?" Tanya Setya dan ingin bersiap-siap, bila nantinya sang istri mengidam. Yuna saja, juga banyak maunya. Apalagi, nanti Lea yang mengidam.
"Nada, sering mual-mual. Nggak nasfu makan. Cuma, satu kesukaannya buah apel. Ternyata sama, Mama Beby dulu suka banget ngemil buah apel. Sampai aneka makanan dari buah apel. Tapi, dua hari ini sudah mau makan ikan, daging, gitu-gitu. Biasanya nggak mau, selalu mual-mual." Jawab Varell.
Eit dah. Baru saja diomongin, istrinya sudah chat menanyakan keberadaan sang suami tercinta.
"Aku bingung, kemarin saja. Yuna yang ngidam. Mintanya juga aneh-aneh, aku nggak bisa bayangin, gimana nanti kalau Lea ngidam. Apa yang Lea inginkan dariku." Ucap Setya yang begitu polos.
"Semoga saja, lebih gampang dari sifatnya Lea. Terkadang ibu hamil malahan sifatnya berbalik. Siapa tahu, kalau Lea hamil jadi kalem dan tidak banyak maunya." Ujar Bang Varell, ia tampak santai.
Perlahan, asyik menyeruput kopi robusta. Tatapan matanya begitu tenang dan asyik. Memang orangnya begitu adanya.
Nada yang kalem, dapat suami yang pandai merayu dengan caranya. Asyik, ramah dan humble. Hanya saja, kalau tidur terkadang mendengkur, sampai Nada kesel sendiri, kalau tidur dengan suami tampannya ini.
"Tapi aku tidak masalah. Aku akan berusaha menyenangkan perasaan bumilku. Aku jadi nggak sabar." Ucap Setya dan perlahan senyam-senyum.
__ADS_1
"Setya, Nada saja yang biasa manis. Semenjak hamil, jadi sensian. Ini, kita disini, aku ditanyain macem-mecem." Ucap Bang Varell.
Setya tersenyum manis "Berarti, Mbak Nada sudah cemburuan sama Bang Varell. Bagus dong Bang, Mbak Nada cinta sama Bang Varell."
"Setya, Setya, cemburuan kalau wajar nggak masalah. Ini, sekretarisku cowok di suruh ganti lagi. Papa sampai nggak enak hati sama aku. Makanya, aku di suruh rehat dulu sama Papa. Dari pada Nada mengerek nggak jelas. Soalnya, waktu itu pernah nyamperin ke kantor. Main, pecat sekretarisku. Papa jadi narik itu lagi sekretarisku, di kasih pekerjaan lain. Cuma semenjak hamil, ya berubah.
Dulu sifatnya nggak aneh begini."
"Kalau aku, lebih cemburuan semenjak sudah jatuh cinta sama Lea. Aku nggak bisa, lihat Lea dipeluk cowok lain." Ucap Setya.
"Aku mengerti perasaan kamu. Tapi perlu kamu ingat, Lea juga punya dunianya sendiri. Kalau kamu kekang dia. Nantinya, Lea bakalan jenuh sama kamu." Balasan iparnya. Begitu terlihat santai dengan gayanya yang asyik, tanpa basa basi.
"Sayang, aku pulang." Setya yang sudah kembali ke hotel. Tampak membawa permen kapas di tangannya.
"Lea kemana?" Tanya dalam batinnya.
Lea berada di rumah lama orang tua Setya. Mama Jenny, ternyata dengan sengaja mengajaknya kesana.
"Mereka memblokir jalanku, aku akan membalasnya, pada putri mereka ini."
Jenny yang berpura-pura baik, dan Lea sangat mengerti akan hal itu. Senyuman manis Lea juga palsu, bak madu yang sangat beracun. Jenny tampak manis, saat mengajaknya ke rumah itu.
"Ayo kita bersih-bersih." Ucapnya Jenny dan sudah membawakan alat kebersihanya yang baru ia beli.
"Tante Jenny, aku saja yang ngepel lantainya. Pasti kinclong." Ucap Lea dan ia juga punya cara sendiri untuk mengerjai Jenny.
"Baik, Tante yang akan membersihkan kaca." Ucap Jenny, terlihat anggun.
Keduanya siap beraksi. Lea juga sama saja, sudah mengerti maksud dan tujuannya. Apalagi, Jenny tidak tahu menahu tentang putranya imutnya itu. Dimana tempat tinggalnya, juga di rahasiakan oleh keluarga Arjuna.
Srrook. Srookk, Srrrookk!
Masih mengepel lantai dengan manis, sambil matanya melirik ke arah Jenny.
Jenny mengambil air dari kamar mandi dan terlihat baskom berukuran besar. Entah, niatnya untuk apa.
Bleeegh!
Pyook!
"Tante tidak apa-apa?"
Dengan satu tarikan tangan Lea, Jenny jadi tergelincir. Jenny yang berniat, ingin menyiramkan air es ke muka Lea, malah nyiram ke mukanya sendiri.
Bberrr!
Seakan membasuh wajahnya sendiri, dan kedinginan "Lea, awas saja nanti. Aku akan beri kamu perhitungan."
"Amit-amit, untungnya dia tidak jadi mertuaku."Batinnya Lea juga terus menyerangnya.
__ADS_1
Lea yang pandai membalikan fakta. Membantu Jenny untuk berdiri. "Uuh, Tante sampai basah begini. Mana wajah Tante baru selesai di laser. Nanti infeksi gimana?"