Permen Kapas

Permen Kapas
Adik-adik Nakal


__ADS_3

Siang hari di sebuah restoran hotel berbintang. Ada sosok manis, yang duduk di sofa, dan menantikan calon istrinya.


Raut wajah itu, terlihat gelisah saat menantikan kekasihnya yang tak kunjung datang.


"Sudah 15 menit. Kenapa belum datang juga. Tidak biasa Aull terlambat begini." Gumam Rangga dan masih melihat ke arah jam yang ada di tangan kanannya.


Sambil menunggu Aull datang, ada sedikit cerita gemas dari Bunda Lea.


Flashback di tahun pernikahan Bunda Lea.


Saat pernikahan Bunda Lea dan Ayah Setya.


Ada kerabat jauh yang datang, bersama putra tampannya. Dokter cantik berusia 35 tahun.


Dokter Ines keturunan dari mendiang Eyang Suryo Mahatma dan Eyang Dewi. Kalau dari silsilah keluarga besar memang masih ada ikatan kerabat. Apalagi, orang tua Ines yang menempati kediaman sesepuh terdahulu.


Dulunya, Eyang Suryo dan Eyang Dewi memiliki dua anak. Dokter perempuan dan putra pertamanya adalah Yuda Mahatma. Eyang Dewi juga mengadopsi Damar Putra Mahatma.


Eyang buyutnya dokter Ines, dulunya itu dokter. Hampir sebagian anak turunnya menjadi dokter. Salah satunya dokter Ines.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua. Kami turut berbahagia. Semoga kalian diberikan rahmat-Nya, hingga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Aamiin." Ucapan dokter ines pada saat itu. Bunda Lea mangamini ucapannya dokter ines.


Rangga hanya terdiam dan hanya mengikuti langkah kaki sang Mama.


"Terima kasih Kak, sudah datang kemari dan sudah memberikan do'a restu untuk kita berdua." Ucap Bunda Lea.


"Jangan panggil aku Kakak. Aturan aku yang memanggilmu Kakak." Ucapannya akrab.


"Kak, aku tidak nyaman." Ucap Bunda Lea saat itu, karena Mamanya Rangga usianya sudah lebih dewasa. Lea menganggap kalau kerabat jauh ini, memang harus dipanggilnya Kakak.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Semoga keluarga kita tetap erat ya. Meski sudah lama sekali tidak bertemu, kita tetap keluarga besar Suryo Mahatma."


"Kak Ines tahu dari mana, kalau hari ini aku menikah?" Tanya Bunda Lea. Karena, ini hanya acara akad nikah.


"Kemarin, aku ke rumah Oma kamu. Sudah lama sekali, aku tidak bertemu Oma kamu. Rasanya kangen, makanya aku ke Jakarta. Terus, aku mendengar kalau Pakde Arjuna menikahkan putrinya. Aku datang kemari. Aku kecewa waktu pernikahan Nada, kenapa tidak ada yang mengabari keluarga Jogja. Apa kita ini bukan keluarga lagi?"


"Maaf, Kak Ines. Aku juga lupa. Aku yang mengatur tamu undangan. Tidak banyak undangannya." Gaya Bunda Lea memang begitu adanya.


Meski terlihat memakai kebaya putih dan rambut disanggul. Sikapnya tidak bisa lembut. Tetap saja banyak tingkahnya.


"Ingat, kalau ada apa-apa. Kabari aku. Nomor Hpku juga tidak pernah ganti."


"Siap, Kak Ines."


Setelah saling memeluk. Bunda Lea muda melihat sosok kecil nan kalem.


"Hallo Rangga, aku Kak Lea. Waktu aku bertemu kamu, kamu masih bayi. Sekarang sudah besar." Ucap Bunda Lea dan tangan Rangga, tidak dilepaskan olehnya.


"Rangga, Budhe Lea menikah. Kasih selamat sama Budhe kamu."


Anak kecil berumur 8 tahun itu, berkata "Selamat Budhe Lea, semoga bahagia dan secepatnya punya anak perempuan. Nanti, aku tungguin anaknya Budhe, sampai aku menikahi anaknya Budhe."

__ADS_1


"Rangga." Sang Mama menatapnya dan Rangga berpura-pura tidak salah bicara.


Rangga terlihatnya saja kalem, tapi sama saja tingkahnya kalau di rumah. Hampir mirip Bunda Lea.


"Iya, semoga do'a kamu terkabulkan ya. Aamiin."


Ayah Setya juga mendengar ucapan bocah itu dan tampak menggeleng.



Kembali di jam saat ini. Senyuman tipis Rangga saat melihat Aull, yang datang dan menggandeng adik tampannya.


"Pantas saja terlambat." Batin Rangga dan menatap Zyan.


"Mas Rangga, sudah lama?" Tanya Aull dan tidak basa basi, setelah mencium tangan kanan Rangga.


"Aku juga baru sampai." Padahal, sudah 1 jam Rangga menunggu, di restoran hotel berbintang ini.


Rangga yang tidak mau datang terlambat. Dia sudah tiba lebih dulu. Setelah jam yang ditentukan tiba. Ternyata terlewat 5 menit, Rangga masih sabar menanti. Lalu, 15 menit menunggu dan tak kunjung datang. Tetap sabar menunggu dan duduk tanpa menikmati apapun.


Rangga memang sengaja, tidak memesan makanan apapun. Karena, Aull yang membuat janji bertemu dan dia pula yang milih tempat pertemuannya.


"Mas Rangga, apa kabar?" Tanya Zyan, setelah dia mencium tangan kanan calon kakak iparnya itu.


"Kabarku baik. Kalau kamu gimana? Masih suka bolos sekolah?" Tanya Rangga dan tampak senyuman manis.


"Kabarku sangat baik. Tapi, ya begitu. Aku terlambat bangun pagi." Jawab Zyan dan dia memilih duduk di sebelah Kakak cantiknya.


"Hish, Mas Rangga lihatin Mbak Aull kayak lihat apaan saja." Batin adik tampan ini, hareudang.


Zyandru, suka berbuat usil juga. Hampir sama saja dengan Kai. Memperlihatkan sikap yang manis. Setelah berbuat ulah. Dia berpura-pura, tidak mengetahuinya.


"Sayang, mau makan apa?"


"Chicken cordon bleu." Jawab kedua pria itu, bersamaan.


"Mbak Aull nanyain aku. Bukan tanya Mas Rangga." Ucapnya seolah memperjelas.


Aull memegang tangan Zyan. Aull berkata dengan lembut, "Iya sayang, Mbak Aull tanya sama kamu. Tapi, kamu nggak boleh ngomong begitu sama Mas Rangga. Zyan, itu tidak sopan. Hayo, kamu minta maaf sama Mas Rangga."


"Iya, iya." Balas Zyan, dia yang menunduk saat dinasehati. Perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Rangga. "Mas Rangga, aku minta maaf."


Setelah itu, memegang lengan tangan Aull dan bersandar bahu Aull. Tampak bibir yang meledek Rangga.


"Bocah ini, mau ngajakin perang. Baik, kalau itu mau kamu."


Rangga menatap Aull, "Aull sayang. Besok malam Mama sama Papa sudah tiba kemari. Lalu, gimana dengan acara lamaran resminya? Kamu ingin acaranya seperti apa?"


"Hah, lamaran resmi?" Zyan menatap Rangga. Tampak mencebikan bibirnya kepada Rangga.


"Mas Rangga, aku hanya mengikutinya saran dari Bunda. Bunda yang menyiapkan semuanya. Hanya saja, aku masih menunggu keputusan Mas Raja. Kemarin, Mas Raja bilang, dia tidak mau dilangkahi." Jawab Aull.

__ADS_1


"Dilangkahi, apa maksudnya Mbak Aull? Mbak Aull mau melompati Mas Raja?" Batin Zyan yang hareudang.


Ini bocah satu, diam-diam mengajak perang calon kakak iparnya.


Zyan berkata "Mbak Aull nggak boleh melangkahi Mas Raja. Itu tidak baik Mbak. Apalagi, Mbak Aull perempuan dan Mas Raja laki-laki. Sebagai adik, nggak boleh begitu kejam sama Kakaknya."


"Ini bocah, dari tadi malah ikut campur urusan orang dewasa. Untung saja adiknya Aull. Kalau tidak, aku kibas juga." Batin Rangga dan berusaha menahan dirinya.


Aull mengelus rambut Zyan, dan berkata "Sayang, kamu masih kecil. Kamu tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Mas Raja juga sudah tunangan. Bunda sama Ayah, juga akan mengatur acara pernikahan Mas Raja dan Ratu."


"Owh begitu. Aku tidak mengerti." Zyan dan ia sudah berbinar atas sikap lembut Kakaknya.


Dari tadi Zyan memegang lengan tangan kakaknya dan masih menggoda Rangga.


Setelah itu, pesanan makanan tiba. Zyan duduk dengan gaya menawan. Dia sudah bagaikan putra mahkota.


"Mas Rangga, selamat makan." Ucap Zyan dan terdengar begitu sopan.


"Selamat menikmati makan siangmu, adik iparku yang tampan." Balas Rangga.


Aull jadi tersenyum, saat melihat kedua pria ini. Aull jadi mengingat tentang Raja.


"Apa Mas Raja sudah makan siang?" Batin Aull dan saat ini sudah lebih dari jam 12 siang.


Aull masih teringat akan tangisan Raja semalam, bahkan sempat tidur dengan Bunda dan Raja di satu tempat tidur.


Raja yang masih sedih dan sang Bunda membuatnya tidur dalam ketenangan. Aull juga turut memeluk Kakak tampannya.


Yuk, simak Raja dan Kai yang sedang makan siang bersama.


Kai datang ke kampus Raja, membawa menu makanan kesukaan Raja.


"Mas Raja, memang tidak cocok dengan Kak Ratu. Lebih baik, kalian tidak usah menikah." Ucapnya, seperti menyalakan api kompor meleduk.


"Kai. Kamu tidak perlu membahas ini." Raja tetap menikmati makan siangnya.


"Aku serius. Kak Ratu juga bukan sosok Tuan putri." Ini bocah berpura-pura manis, tapi Raja mengerti sikap manisnya.


"Iya, aku akan mendengarkan kamu." Ucap Raja dengan wajah tersenyum.


Batin Raja, "Kai, aku tahu. Kamu sudah menghasut Ratu. Pagi tadi kamu chatingan sama Ratu."


Kai, memegang lengan tangan Raja "Mas Raja, kalau mau cari perempuan cantik. Nanti aku carikan."


"Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri." Balas Raja dan ia menikmati rendang buatan koki rumah.


"Mas Raja, cepat habiskan makanannya. Aku nanti akan ada kelas musik." Ucap Kai terdengar gemas.


"Sekalian saja main film." Batin Raja dan sangat tahu, kalau adiknya sedang menebar racun padanya.


Kai selalu bersikap sok manis, bila ada maunya saja. Apalagi, berniat merusak pertunangan Raja dan Ratu.

__ADS_1


Seseorang telah datang mendekat.


__ADS_2