
Malam ini, acara lamaran Aull di gedung milik pribadi. Seluruh keluarga besar Eyang Arjuna, sudah memenuhi meja yang telah disiapkan.
Aull yang mengenakan kebaya modern berpayet kebiruan, dengan bawahan rok sepan batik yang hampir senada dengan atasan yang dikenakan. Tampak sanggul modern dengan aksesoris cantik.
Penampilan ayu nan anggun, dengan untaian senyuman manis, saat menjadi calon pengantin.
Keluarga besar Rangga, juga sudah tampak hadir di aula acara lamaran.
Meski mereka kerabat jauh Eyang Arjuna, tapi beberapa dari mereka, tampaknya tidak mengenal dekat, sosok Eyang Arjuna.
"Aull, kamu cantik sekali." Ucap calon Mama Mertua.
"Terima kasih Tante Inez. Saya memang begini adanya." Ucap Aull dan tampak malu-malu. Meski tersenyum manis, dalam hatinya berdesar-desir tidak karuan.
"Kamu harus panggil Mama. Sebentar lagi, kita jadi keluarga. Kamu sudah seperti putriku." Ucapnya dengan lembut dan masih memegang tangan calon menantunya.
"Baik, Mama."
Aull dan Mama mertua ini, saling memeluk dengan kasih sayang.
Setelah acara tukar cincin. Tampak acara santai dan saling mengenalkan keluarga mereka. Bunda Lea juga tampil cantik, saat menyambut hangat pihak keluarga calon pengantin pria.
Bunda Lea yang mengenakan kebaya warna silver tampak mempesona. Gaya modern dengan dress yang terbalut tile dengan aksen bunga-bunga. Terlihat cantik dan awet muda.
"Rangga, Bunda hanya berharap, kamu bisa menjaga Aull dengan cintamu."
"Baik Bunda. Saya janji, akan menjaga Aull dengan segenap cinta."
"Bunda hanya bisa mendo'akan, agar semuanya berjalan lancar, sampai di hari pernikahan kalian berdua. Semoga kalian berjodoh, dan menjadi pasangan yang bahagia." Ucap sang Bunda dan tampak berkaca-kaca.
Bunda ini, memang tidak pandai merangkai kata. Tetapi, dalam hatinya terdalam, beliau sangat menyayangi semua putra putrinya.
"Bunda, terima kasih. Sudah menerima lamaran saya." Ucap Rangga, tampak gugup dan bahagia.
Sang Bunda tersenyum. Bunda dan Rangga, usianya tidak begitu jauh. Bahkan, terlihat seperti adiknya saja.
Rangga dan Ayah Setya, bila berjalan bersama. Tidak ada yang tahu, kalau mereka berdua ini, menantu dan Ayah mertua. Pastinya, orang mengira kalau Rangga adalah adiknya Ayah Setya, bahkan sempat ada yang mengira rekan bisnisnya.
Acara tukar cincin malam ini dipenuhi kebahagiaan. Meski, Raja sebagai Kakak tidak turut hadir bersama keluarganya.
El tampak menggandeng lengan kiri Singa. Lalu ada Kai yang menggaet guru tampannya, dia malah mengalungkan tangan kanannya di lengan kiri sang guru tampannya.
Ada Zyan, yang turut menggandeng si cantik Cassrandra. Sedangkan Lean, juga hadir bersama sepupu cantiknya. Adik sepupu yang begitu imut. Tampak berpakaian batik nan serasi.
Sedangkan Lionel, sudah tampak duduk bersama kedua orang tuanya dan Lionel mengajak teman gamer cantiknya, yang bernama Hanni Lolita Mersha.
Baru kemarin, Lionel bertemu teman gamernya ini. Padahal, mereka sudah mengenal lebih dari 3 tahun. Meski hanya di dalam permainan.
Hanni akhirnya, mau diajak bertemu Lionel. Pertamanya, dia juga bingung. Takut akan merasa canggung, bila nantinya bertemu di dalam game. Ternyata, Lionel pemuda yang baik.
"Jangan jauh-jauh." Tatapan El yang sudah menjerat Singa. Dari tadi, Singa sudah terkunci oleh kedua tangan El.
El sengaja membawa Singa bersamanya. El juga mengatakan kepada Eyang Arjuna. Kalau dia juga ingin segera menikah dengan Singa.
__ADS_1
"Hems, satu persatu. Pembalasan dariku akan tercapai." Batin El kesenangan.
Singa menatap Eyang Arjuna dan tampak menggeleng pelan.
"Apa yang harus aku lakukan?! Kalau semakin aku menolak dan pergi. Nona Elmeera akan semakin nekat." Batin Singa. Mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Bunda Lea.
Meja kursi, sudah sesuai nama keluarga besarnya. El mengatakan kepada Bunda Lea, akan mengajak teman kencannya.
Lionel sebelum membawa Hanni tadi, ia juga sudah mengatakan sama Mammi Yuna. Awalnya, sang Mammi ceramah. Namun, perlahan juga mengijinkan Lionel untuk menikmati masa mudanya.
"Lionel. Kamu mau kemana?" Tanya Hanni, yang melihat Lionel tampak berdiri.
"Aku cuma mau ke toilet. Kamu disini saja, sama Mammi. Aku cuma sebentar."
"Baik."
Mammi Yunna menatap putra pertamanya pergi. Putra keduanya menolak untuk ikut acara ini.
Dua putra tampan yang sering membuatnya darting.
Pappi Zio merasa tentram. Dua putra tampan tidak menyusahkannya. Malahan, Mamanya dan istrinya yang membuat rumahnya terasa hidup.
Tidak ada hari tanpa ada keributan, dan itu sudah terbiasa bagi Nenek Jenny dan Mammi Yuna. Apalagi, kalau Lionel di rumah. Hemms, sudah seperti nonton sepak bola. Lionel juga akan berpihak kepada Nenek cantiknya itu, bukan Mamminya.
"Hanni, kamu sudah lama mengenal Lionel?" Tanya Mammi Yuna, kepada teman dekat putra tampannya itu.
"Sudah lama Tante. Tapi, kemarin baru bertemu." Ucap Hanni sopan.
"Sudah lama tapi baru bertemu? Owh, online." Batin Mammi Yuna.
Mammi Yuna berkata "Hanni, kamu harus tahu satu hal. Lionel itu, cowok yang manja, tidak suka diatur-atur, selalu gonta-ganti cewek. Kamu harus berhati-hati sama dia."
"Itu, yang disana. Namanya Elmeera. Lionel sayang banget sama dia. Tapi, mereka berdua sudah seperti saudara erat. Susah terpisahkan."
"Saya tahu Tante. Lionel sudah cerita. Saya juga mengenal El."
"Emh, bagus kalau begitu. Tapi, ingat! Kalian jangan berhubungan dewasa."
Pappi Zio memegang tangan istrinya dan menggeleng. Sang istri berkata "Pappi, aku hanya ingin menjaganya."
"Biarkan saja. Itu urusan mereka berdua. Bukan urusan kamu."
"Pappi." Mammi Yuna seolah ingin mengeluarkan taringnya. Untung saja, ada Hanni yang masih menatapnya.
"Hanni. Maksud Tante itu, Lionel masih kuliah. Kamu juga masih SMA. Kamu harus berhati-hati sama Lionel."
"Iya Tante. Saya mengerti." Balasnya, dan Hanni tampak tersenyun manis.
Di seberang meja lain. Tampak meja dengan hiasan bunga segar. Kai duduk dan terus saja memegang tangan Calvin.
"Kai, lepasin tanganku." Ucap Calvin pelan, tapi sudah menggigit perasaan tuan putri.
"Pak guruku sayang. Ini namanya couple. Tadi sudah janji, mau jadi pasangan aku." Ucap Kai.
Kai tidak mau menyia-nyiakan pria kulkas ini. Eyang Arjuna juga menatap cucunya yang satu ini. Menoleh ke wajah istrinya.
__ADS_1
"Sayang, cucu kesayanganmu sudah ingin bertunangan dengan Calvin. Apa kamu setuju soal hubungan mereka?" Tanya Eyang Arjuna. Tatapannya begitu serius.
Eyang Beby menjawab "Calvin pemuda yang pintar, rajin dan pekerja keras. Aku yakin, dia bisa menjaga Kai."
"Sayang, bagaimana dengan El?" Tatapan Eyang Arjuna beralih kepada El. Tadinya, Eyang Arjuna ingin mejodohkan Calvin untuk Elmeera. Tetapi, melihat Kai dan El nekatan, jadi berubah rencana perjodohannya.
Eyang putrinya berkata "El sudah menentukan pilihannya. Leo lebih mengenal El. Aku yakin, El akan aman bila Leo yang menjaganya."
"Kalau kamu setuju. Aku tidak apa-apa. Tapi, bagaimana Nada sama Varell? Mereka orang tuanya El. Pasti, mereka punya pilihan."
"Soal itu, aku yang akan bicara sama Nada." Ucap sang Eyang putri.
Yang sebenarnya, Eyang putri kecewa akan perjodohan Raja. Entah kenapa, beliau menghindari itu. Mungkin, karena Ratu putrinya aktris. Eyang putri punya trauma mendalam, akan media. Sebisa mungkin, menjauhkan keluarganya dari semua media gosip.
Duo pasangan itu, masih kalah sama boncil manis yang beranjak remaja.
Bunda Lea dan suaminya, dari tadi malah sibuk menatap Zyan.
"Aku dulu tidak seperti itu." Ucap Ayah Setya.
Bunda Lea bertanya "Ayah mau lagi? Ayah ingin mengulang masa kecilnya dengan siapa?"
"Sayang, bukan begitu maksud aku. Itu, lihatlah putramu Zyan. Dia menurun dari siapa? Sampai aku tidak berani menasehatinya."
"Sudah, biarkan saja. Itu namanya perhatian."
"Tetap saja menganggu perasaanku."
Zyan juga menyeka bibir imut gadis pujaannya. Begitu manis perlakuannya dan sang Kakak cantik duduk di sebelah Zyan, tidak mau kalah dengan adiknya.
"Pak guruku sayang. Aaak.. Aku suapin."
"Kai. Jangan aneh-aneh."
"Lihat keponakanmu. Dia sangat patuh dan manis."
"Tapi aku bukan peliharaanmu. Aku bisa makan sendiri."
"Ayolah, sayang."
"Sayang??" Calvin memalingkan wajah dan kedua tangannya sudah tampak mengepal.
Calvin, akhirnya menuruti permintaan Kai.
"Ini hanya awal. Aku masih ada kejutan lainnya." Batin Kai.
Calvin membatin, "Kai, awas saja nanti. Aku tidak akan membiarkanmu bebas."
Calvin diancam, dengan foto aib Calvin, Kai masih menyimpannya.
Kai mengancam akan menyebarkan foto Calvin, yang masih mengenakan handuk melingkari pinggang.
Cassandra membiarkan Kai masuk ke apartemen Calvin dan Zyan juga turut ikut ke dalam. Tidak tahunya, Calvin baru selesai mandi dan membuatnya malu.
"Kenapa, tadi air di kamar mandiku mati? Apa Zyan yang melakukannya? Cassandra juga mengerjai aku??" Tatapan Calvin, begitu tidak senang.
__ADS_1
Entah kenapa, sore harinya terasa sial. Calvin malas datang untuk bimbelnya Kai. Eh, malah Kai berani datang ke apartemennya dan membuat ulah.
"Aku akan membalasmu." Batin Calvin, saat menatap Kai.