
Mentari siang yang terasa menyengat, seorang pria tampan nan menawan sudah datang mendekat.
Marvin mendekati El yang tampak duduk di cafetaria kantor miliknya. Cafetaria yang berada di lantai bawah dekat lobby.
El tampak duduk menatap ke layar laptopnya, dan menyelesaikan tugas kampusnya.
"Lumayan." Guman El, pelan.
Hari ini, hari terakhir menyusun artikel tentang berita terbaiknya, yang telah dibuat oleh kelompok El.
Beberapa foto dan sudah tampak di edit, dan El hanya tinggal menyusun laporan untuk dosen yang mengampuh mata kuliahnya.
Artikel yang dibuat, sudah diterbitkan tadi pagi oleh kolompok itu. Kemudian hari ini untuk laporannya. Foto-foto ruangan kantor dan bersama sang Bos, itu juga sudah di susun oleh El.
"Hai."
El menoleh ke arah Marvin, yang tampak tersenyum padanya. El membalas "Bos."
"Kamu sendirian, yang lain kemana?" Tanya Bos itu kepada El.
El menjawab "Mereka masih di ruang kerja."
"Kamu sibuk menyusun laporan sendirian?"
"Iya Bos. Ini untuk di kirim ke dosen." Jawab El.
El yang tampak duduk dan terlihat manis di mata Marvin.
Marvin meraih kursi yang ada di depan El, tanpa mengatakan apapun, Marvin duduk di sebelah El. Ia menatap layar laptopnya El. Tampak ketikan dan foto perusahaan, serta ada foto dirinya yang bersama El dan kelompoknya El.
"Di foto itu aku terlihat tampan." Ucapnya percaya diri.
El menoleh dengan senyuman, El berkata "Semua pria memang tampan Bos."
"Iya, kamu benar. Para pria memang ganteng, bukan cantik."
Marvin berusaha sok dekat sok akrab kepada El. Penampilan El mempesona dengan dress yang dibalut blazer.
Hari ini, semua teman di kelompok El memang mengenakan pakaian kantor dan terlihat formal. Agar terlihat lebih nyata dalam menyelesaikan tugas ini.
Meski usia El masih terbilang belia, saat mengenakan pakaian formal. El tampak menarik dan terlihat lebih dewasa dimata Marvin.
Orang kaya memang beda penampilan luarnya. Berbeda dengan para temannya yang tampil apa adanya. Meskipun, ada pula yang semanarik El, tetap tidak bisa menyamai penampilan El saat ini.
"El, apa kamu punya pacar?" Tanya Marvin, tatapannya terlihat serius.
El dengan wajah berseri dan tampak senyuman manis, menjawab "Saya, sudah punya tunangan Pak."
"Tunangan?" Mata Marvin terbelalak, sampai denyut jantungnya berdebar kencang, rasanya tidak rela mendengar jawaban itu.
El kembali menjawab, "Benar Bos Marvin. Saya sudah punya tunangan. Karena, di keluarga saya, semua anak dan cucu menjalin ikatan perjodohan."
"Perjodohan?" Tanya Marvin, rasanya tidak percaya.
El menjawab "Iya Bos. Perjodohan. Mau tidak mau, tetap ada perjodohan. Saya, dengan senang hati menerima jodoh yang diberikan Eyang untuk saya."
"Ckck, hari gini masih ada perjodohan?" Marvin yang tampak tidak senang.
"Buktinya ada Bos. Seperti saya ini."
Marvin jadi berfikir. Mungkin, Raja juga dijodohkan. Sampai membuat adiknya jadi menangis semalaman. Marla, tadi malam menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
"Owh, aku sudah kalah start."
El bertanya "Maksudnya Bos?"
__ADS_1
"Aku ingin mengajak kamu berkencan, dan mengenal dekat kamu. Siapa tahu, kita berjodoh." Gombalnya manis.
"Emh, bisa dicoba Bos."
"Aku tidak salah mendengar?"
"Hanya berkencan. Apa salahnya? Meski saya bertunangan. Tapi, saya belum resmi menikah. Tidak ada salahnya saya berkencan dengan teman pria, seperti Bos."
"Wah, bagus juga ide kamu. Gimana, kalau nanti malam saya ajak kamu dinner?" Marvin senang.
"Dinner. Tidak masalah, tapi saya tetap dikawal sama pengawal pribadi."
"Pengawal? Kamu dikawal bodyguard pribadi?"
"Iya. Sekarang ada di lobby. Menunggu saya. Tadi pagi pengawal kantornya Bos, melarangnya masuk ke ruangan."
"Owh, kamu memang harus terjaga. Tidak masalah soal pengawal."
Marvin malah semakin tertantang, apalagi El telah membuka gembok perjodohannya.
"Hish, menyebalkan." Batin El, entah apa yang akan direncanakan El.
Di kampus, Raja telah menemani Ratu membuat laporan tentang tugasnya.
Raja sibuk mengamati Ratunya, yang sedang bersama Revan dan dua teman lainnya.
Raja yang duduk jauh dari Ratu, tapi kedua matanya tidak berpaling ke arah lain. Tetap fokus mengamati istrinya.
"Ratu, coba fotonya yang ini saja." Tangan Revan mencari masalah.
Raja melotot dengan cepat mendekat. Bertanya, "Sayang, kamu haus tidak?"
"Aku pegel, sini pijitin pundakku."
Kedua teman yang lain, menatap aura wajah dingin dari Raja, saat menatap Revan.
"Serem. Revan memang cari mati." Batinnya mereka.
Revan bukan sosok yang bisa di remehkan oleh Raja. Meskipun, Raja cucu konglomerat, tetap dianggap sepele oleh Revan.
"Suami angkuh." Batin Revan dan sorot matanya sudah memancarkam aura panas membara.
"Berani-beraninya, dia menyentuh tangan istriku." Raja yang tidak senang.
Ratu juga tampaknya memanfaatkan situasi ini. Setidaknya, orang lain akan melihat kebucinan Raja kepada sorang Ratu cupu nan oneng, di ruang umum kampus tercinta.
Mereka berada di area taman kampus. Ada meja bundar dan kursi besi yang ada di taman.
Kolompok Revan, tampaknya harus bisa menerima Raja sebagai tamu istimewa.
"Sayang, gimana? Enak pijatan aku?" Tanya Raja.
"Lumayan." Jawab Ratu.
Ratu kedua tangannya sibuk mengetik dan tatapannya hanya tertuju kepada layar laptop.
Cuaca disiang ini begitu cerah, mentari menyilaukan mata. Namun, taman ini begitu rindang, semilir angin membuat mereka nyaman.
"Aku senang, kalau kamu selalu bermanja begini." Ucap Raja, pamer.
Revan seolah menutup kedua telinga dan matanya. Dia tetap duduk di sebelah Ratu dan tampak dekat. Sedangkan, kedua teman lainnya menatap Raja yang bertingkah aneh.
Bagi Bara dan Rere, hal itu sangatlah aneh. Apalagi, jauh dari imeg cool seorang Raja.
"Gila. Raja beneran bucin." Batinnya Bara.
Rere menatap Ratu "Apa Ratu memang beneran istrinya Raja? Apa mereka beneran suami istri?"
__ADS_1
Di meja bundar ini, Raja juga telah menyiapkan makanan ringan dan minuman. Raja hanya ingin membuktikan, bahwa dia suami idaman.
"Ratu, kalau kamu capek ngetiknya. Sini, aku saja." Ucap Rere yang sudah selesai mengedit foto.
"Tidak perlu, ini sudah hampir selesai."
"Revan, ini data pemasukan restoran dan omset perbulannya." Ucap Bara.
"Baik. Aku periksa dulu." Balas Revan dan dia sudah mendapat perhitungan dari restoran pusat.
Raja menggeleng melihat kesibukan Revan yang hanya berpura-pura.
"Ckck, anak kecil saja juga bisa menyalin data." Ucap Raja.
Ratu berkata "Sayang, aku lagi mengetik. Bukan menyalin data."
"Maaf sayang, bukan kamu. Tapi, El. Ini aku baca pesan dari dia."
Raja membaca pesan dari pemilik restoran. Semuanya sudah beres, tinggal membuat laporan untuk dosen. Namun, Revan masih tampak sok sibuk. Menghitung ulang semua data yang tertulis dengan angka belakang nol, nol dan nol, sekian juta.
Marla, dari kejauhan melihat Raja yang bersikap lembut kepada Ratu. Membuat Marla semakin dongkol dan ingin segera meluapkan masalah hatinya.
Raja berkata "Sayang, sebentar ya. Aku mau ke toilet."
Ratu dengan sikap imutnya, ia berkata "Oke sayang. Cepat kembali ya."
Marla mengikuti Raja yang pergi, tampak melihat ke sekitar dan Raja sepertinya akan pergi ke tempat yang sepi. Marla sudah mengejarnya dan Raja tidak terlihat.
"Kemana pergi? Cepat sekali jalannya."
Marla mengenal dua pengawal Raja dan ia menoleh ke arah lain. Terlihat satu pengawal Raja yang masih stay di dekat taman dan yang satunya tidak terlihat.
"Aku harus kesana." Marla yang berjalan masuk ke gedung fakultas sastra. Raja tadi masuk ke gedung ini dan tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Raja telah mengobrol dengan seseorang di lorong dekat toilet pria. Marla kembali melihat Raja, yang bersama pengawal.
"Apa yang dibicarakan mereka?"
Marla mendekat dan semakin dekat. Tampak menguping dari balik dinding.
"Awasi terus. Jangan sampai Marvin bertindak lebih jauh." Perintahnya.
"Marvin?? Abangku?!" Batin Marla, saat menguping.
"Baik Tuan Muda. Malam ini, saya akan mengawasinya."
"Aku juga mau perusahaannya." Ucap Raja.
"Baik Tuan Muda."
Raja menyunggingkan bibirnya dan Marla semakin berdebar.
"Abang? Apa masalahnya Raja dengan Abangku??"
"Berani-beraninya Marvin mendekati kesayanganku?"
Raja yang geram dan rasanya tidak senang akan sikap Marvin yang mengejar sepupu cantiknya itu.
"Singa tidak becus." Gumam Raja.
Seketika, Raja dan Marla bertabrakan. Marla memang sengaja menabrakan dirinya. Map yang dipegang Marla, tampak jatuh dan lembaran-lembaran tugas kuliahnya, sudah berserekan di lantai.
"Sorry, aku nggak sengaja." Ucap Raja dan ia memunguti kertas itu.
Marla menatap Raja. Melihat perubahan sikap Raja, yang tidak lagi sedingin es batu. Bahkan, mengatakan sorry. Marla berkata "Tidak masalah. Aku juga salah. Aku buru-buru mau menemui Profesor Ilham."
"Marla. Lain kali, harus hati-hati." Raja yang menatap Marla dan memberikan dokumen itu.
__ADS_1
"Baik, aku akan berhati-hati."
Raja menatapnya, dengan senyuman nakal.