
Pagi kembali dengan romansa yang bertahta di singgasana.
Bercumbu mesra dengan rasa manja tanpa sehelai busana.
Rona wajah kemerahan saat si gagah menjelajah ke pusatnya.
Kedua insan yang menggapai nikmat sampai ke ujung nirwana.
"Mas Setya."
"Iya. Ada apa?"
Kedua orang yang terbalut selimut tebal berwarna merah dan masih berpelukan, di atas ranjang besar yang berspreikan, kain katun Jepang bermotif bunga mawar.
"Aku malu bilangnya." Jemari Lea tampak menari-nari di dada Setya.
Setya yang mengarangkul Lea dalam dekapannya, tampak menawan. Ia bertanya "Kenapa malu?"
"Ya, malu aja." Jawabnya lembut.
"Memangnya soal apa?" Tanya Setya.
Lea senyam-senyum, perlahan ia memegang benda menggemaskan, yang bersembunyi di dalam boxxer sang suami.
"Kamu ini. Nakal."
"Aku cuma penasaran. Dari pada tanya, aku coba saja."
Mmuuach.
Lea ini ada-ada saja. Meski di sekolah sudah mendapatkan pelajaran tentang alat kelam!n pria, tapi dia tetap ingin mengetahui sendiri, tentang proses dan kekuatannya. Bagaimana caranya, membuat si junossnya Setya ini, bisa berdiri tegak dan membesar keras.
Saat ini, Lea telah mempraktekkan dengan caranya.
Nyeess!
Lea bisa jadi keasyikan. Yang telentang merasa kebingungan. Sudah pagi dan mentari menyapa dari balik tirai jendela. Sebentar lagi, pasti akan ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
Pagi setelah bangun tidur, hanya subuhan. Setelah itu, lanjut saling merayu. Bahkan, sudah 3 kali dalam permainan di pagi ini.
Semalam saja dua kali main, bilangnya perih-perih. Giliran pagi, malah merayu dan melummat gemas bibir suaminya. Lalu, sang suami tampannya itu, asyik bermain ke gundukan the twins Lea. Sampai diberi julukan My Sweetie, oleh sang suami tampannya.
"Junnossku sayang. Kamu bobok lagi ya." Lea yang semakin gemas.
"Nggak begitu dong. Udah begini, ya harus masuk ke rumahnya." Suaminya tidak terima begitu saja.
"Mas, ini Junnossku sudah aku bobok-bobokin." Ucapnya dengan santai, tapi masih di elus-elus.
Lea, Lea, itu di elus-elus bukannya tidur tapi malah terbangun dan fresh. Tidak bisa di rebahin begitu saja.
Sang suami berkata "Ya sudah, aku mandi duluan."
Setya yang berusaha untuk meredam. Eh, istrinya malah menariknya. Semakin bringas saat menyentuhnya. Bahkan, Lea tidak takut maupun jijik.
Lea yang sudah terlajur gemas dengan Junnosnya Setya. Akhirnya, bermain lagi untuk kesekian kalinya, di pagi yang mesra ini.
Suara desaaahan manja dan deru nasfas mesra, mengiringi percumbuan mereka.
Keringat mengalir lembut, membasahi leher dan sekujur tubuh indahnya. Paras menawan, yang tampak kekar, seakan menuntaskan rasa dahaga.
Lea memegang dada itu. Aaahgk!
Kedua orang ini memang sedang tergila-gila, karena candu di malam pertama.
30 menit kemudian.
Memulai aktivitas pagi dengan energi dan tenaga yang tersisa. Bukannya lelah dan merasa pegal linu, setelah malam pertama dan paginya bercumbu mesra. Sepasang pengantin baru ini, terlihat sangat bersemangat dan semakin mesra.
"Suamiku, memang tampan." Lea yang mengancingkan kemeja hitam di badan suaminya. Lea berusaha untuk menjadi istri yang jago untuk suaminya.
"Aku cinta kamu." Ucapan sang suami yang terasa kaku, dengan suara merdu mengucap kalimat itu.
__ADS_1
Hanya tiga kata, yang sangat bermakna, dan membawa rasa untuk istrinya yang ada di hadapannya.
Kedua mata yang saling memandang, senyuman secerah mentari di pagi ini. Seakan sudah membalas ucapannya.
Setya mengecup kening istrinya dengan segenap perasaan yang ada. Lea merasa bahagia, lahir dan batin.
Tok Tok Tok
"Mas, tolong bukain pintunya. Aku mau pakai baju dulu."
Setya yang masih memegang pinggang dan kepalanya, kembali mengecup gemas, tapi ke bibir imut yang suka nyerocos itu.
Mmuaach
"Dasar, suami nakal."
Setya pergi meninggalkan ruang ganti dan berjalan ke arah pintu kamar.
Setya membuka pintu kamar dan yang datang pastilah Yuna.
"Tuan muda, sudah tampil menawan." Yuna datang langsung menggoda.
Setya menggeleng, ia membalas, "Untung saja kesayangan istriku. Kalau tidak, sudah aku pulangkan kamu ke tempat asalmu."
Yuna yang melangkah masuk, berkata "Tuan Muda memang kejam. Kenapa bisa, Nonaku jadi tersayang-sayang?"
Setya menutup pintu, ia menjawab "Karena aku, pria menawan." Setya telah mengeluarkan senyuman anehnya dan Yuna tidak lagi menggodanya.
Yuna membatin "Apa mereka sudah MP??" Yuna tertuju pada sprei yang sudah berganti. Semalam, jelas-jelas sprei warna putih keemasan. Pagi ini, sudah berganti berbunga merah.
Yuna perlahan duduk di ruang makan dan menunggu Lea. Setya duduk di sofa dan menatap layar pintarnya.
"Tuan Muda. Apa Nonaku semalam menangis?" Tanya Yuna.
"Iya." Jawab Setya.
"Owh, berarti mereka berdua ribut besar. Terus itu, kenapa ganti sprei? Apa mereka sampai merobek kain sprei??"
Yuna malas berbasi-basi dengan Setya, ia tak lagi bertanya ini dan itu. Begitupun dengan Setya, malas mendengar mulut tajam sang asisten pribadi, yang suka mengoreksi suami dari Nona kesayangannya.
Tok tok tok
"Tuan, itu ada tamu."
"Sana, kamu yang buka pintunya."
Melihat tatapan sinis Setya, Yuna langsung beranjak pergi, ke arah pintu.
"Hem, dimana-mana memang Tuan lebih berkuasa dari pada Nyonya. Eh, ngomongin soal Nyonya. Apa beneran udah MP?" Sekilas melihat ke arah pintu ruang ganti dan melihat ekspresi datar Setya. Perlahan, tangannya memegang gagang pintu. "Aku penasaran."
"Door!!" Suara kejutan dari si ganteng Riko.
"Riko. Kirain siapa." Yuna selalu tersenyum ramah, bila berhadapan dengan si ganteng ini.
Riko dengan tatapan menawan, berkata "Nona Yuna. Selamat pagi. Semoga pagi anda secerah sinar mentari pagi."
"Bisa saja kamu. Sampai bikin perasaan aku, jadi senang lagi." Balas Yuna dan semakin senang.
"Memangnya, Nona kemarin tidak senang?" Tanya Riko yang sedikit penasaran.
"Ya begitu. Trouble loving." Bisik Yuna, dan Riko mengerti.
"Saya akan menyajikan menu pagi untuk Nona-nona." Ucapnya Riko dan ia sudah membawakan menu pagi untuk tuan putri dan Yuna. Eit, dari kemarin Riko belum melihat Setya.
Setya kali ini, sedang berada di kamar mandi. Yuna melihat ke sekitar ruangan tidak melihatnya, apalagi Riko.
Riko dengan menawan, tangannya bergerak menata beberapa piring cantik dan menu sarapan pagi ini, hidangan khas Jogja.
Entah kenapa, Lea memesan Gudeg Jogja berserta menu pelengkapnya. Lea juga meminta nasi dan lontong. Membuat Yuna, sampai terbelalak saat melihatnya.
"Tumben sekali, Lea ingin makan lontong." Gumamnya.
__ADS_1
Biasanya juga roti-rotian, semisal nasi, paling biasa dipesan nasi goreng mentega dengan daging cincang.
Pagi ini, seleranya sangat berbeda. Yuna malah merasa, besok akan ada kuliner nusantara di meja makannya. Mengingat semalam, Lea juga memesan Tongseng dan Sate kambing.
"Nona Yuna, silakan menikmati sarapan pagi anda."
"Riko, terima kasih."
Lea yang baru keluar, langsung menatap meja makan yang penuh makanan. Ia jadi senyam-senyum.
Lea menyapa Riko, "Selamat pagi Bang Riko."
Riko masih berdiri di sisi meja, ia juga tampak senang "Selamat pagi Nona Allea."
Selalu sopan dan ramah. Lea sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Bang Riko sudah sarapan?"
"Belum Nona. Saya begitu sampai, langsung mengantar menu sarapan Nona."
"Duduk saja disini. Sekalian menamani suamiku." Pinta Lea.
"Suami??" Riko yang bingung.
Lea berkata "Iya. Bukannya, kalian teman dekat."
"Teman dekat??" Riko semakin berdebar, sampai dibilang teman dekatnya.
Suaminya membawa namanya dan mengenalkan ke istrinya, siapa sosok suaminya Nona Allea. Pastinya, Riko jadi merasa sangat bangga, bila mempunyai teman dekat, yang beristri Nona besarnya ini.
"Mas Setya. Kemana?" Tanya Lea.
Cleguuk
Bibir Riko bergetar dan merasa gagap "Se-t-ya?"
"Bang Riko kenapa?"
Setya yang datang mendekat dan Riko semakin gemetar saat melihatnya.
"Set-ya." Riko yang mematung, tapi tubuhnya sampai bergetar-getar.
Setya menyambar gelas, "Sayang, minuman buat Riko."
Setya mendekat, memberikan minum dan menepuk punggungnya, "Sadar. Ini aku."
"A-ku. Ta-hu." Semakin kacau, pandangannya buram.
"Riko, sadar. Jangan kesurupan disini."
Lea dan Yuna bangkit dari kursi. Mereka masih menatap ke wajah Riko.
Lea panik, mendekat dan melihat ke wajah Riko yang aneh "Mas Setya, dia kenapa bisa begitu?"
"Biasa begini kalau dia syok." Jawab Setya.
Lea tampak gelisah, sampai meremas jemari tangannya sendiri. Semakin panik saat melihat Riko, "Mas Setya. Apa Bang Riko beneran kesurupan?"
Yuna mendekat, dengan cepat menyeburkan air dari mulutnya.
Buuuhhre!
"Yuna!!" Teriakan Lea.
"Owh, salah ya?" Ekspresi Yuna, kelewat sesat, dia menyembur ke wajah Setya.
Setya perlahan membuka mata, setelah menyapu airnya.
Laerrrri!!
__ADS_1