Permen Kapas

Permen Kapas
Membayar Hutang


__ADS_3

Romantika baru tampak menjadi pusat perhatian, oleh para warga kampus Glory tentunya.


Tampil mesra di bawah rintikan air hujan. Yuna dan Zio, tiba lebih dulu, karena mereka berlari. Tangan Yuna masih merangkul pinggang Zio. Romantisnya membuat para gadis iri.


Di teras gedung baru, tempat Yuna menimba ilmu. Yuna telah melepaskan tangannya dan seketika merasa aneh.


Zio menatapnya, ia berkata "Nanti makan siang, kita barengan."


"Lea gimana?" Tanya Yuna.


"Carikan meja khusus untuknya. Lagian, Mas Setya semakin posesif. Apalagi sama aku, di rumah Ayah saja, aku harus jaga jarak sama istrinya." Jawab Zio.


"Oke. Nanti aku akan bilang sama Lea."


Setya mendekat, dan berkata "Kalian nggak perlu mencemaskan istriku. Kita sudah dengar."


"Mas Setya. Sudah dong, nggak enak sama yang lainnya." Ucap Lea berbisik.


Zio berkata "Mas Setya, kenapa lagi? Mau kasih batas pengukur buat aku sama istrimu?" suara Zio terdengar kencang.


Zio membatin "Aku hanya membayar hutangku."


"Apa dia suaminya Lea?" Batin para mahasiswa, yang sudah mendengar ucapan dari mantannya Lea.


"Wah, dia suaminya. Apa mereka sudah menikah?"


"Aku jadi penasaran. Zio juga barengan sama Yuna." Lirikan matanya mengintai, ia penasaran.


Genknya Clarissa juga sudah ada yang berbisik. Malahan, fokus pada Zio yang terlihat memperhatikan Yuna.


"Apa Zio jadian sama Yuna?"


"Bekas sohibnya dilahab juga."


"Wah, dari ciuman pesta tahunan, eh mereka langsung jadian."


"Itu, beneran suaminya Lea?"


"Sepertinya begitu."


Clarissa yang baru datang, mendekat. Dia melihat suasana teras gedung, ada romantika baru, yang telah terjadi antara Yuna dan Zio.


"Ada apa dengan mereka semua?" Clarissa, juga tertuju pada sosok Setya. Yang akhir-akhir selalu menemani Lea. Antar jemput setiap ke kampus dan sudah terbiasa.


Lantai licin membuat Clarissa hampir saja terpeleset, ada Revan yang datang menopangnya. Tampak sigap saat tangan kanannya mendekap Clarissa.


"Wow, mereka lebih manis." Ucap Lea.


Setya jadi menoleh ke arah istrinya, padahal tadi ribut sendiri dengan adiknya.


Setya bertanya "Seperti itu romantis?"


"Iya Mas, bagiku romantis." Jawab Lea, kemudian berjalan pergi.


"Sayang, kembali. Kamu belum cium tanganku." Ucap Setya.


Yuna menarik Lea, ia berkata "Semalam ada apaan? Suamimu makin mengerikan."


"Ada prahara cinta segitiga." Balasnya.


Yuna tersentak kaget, dengan spontan bertanya "Lea. Kamu selingkuh lagi??"


Lea langsung membekap mulut Yuna dan suaminya mendekat, Setya bertanya "Siapa yang selingkuh? Yuna, jawab!"


Lea melotot kesal dan perlahan melepas mulutnya, Yuna berkata "Kevin."


Zio tidak mau kalah, tampak tersenyum. Ia berkata "Mas Setya. Istrimu dulu bisa selingkuh dibelakangku. Mas Setya juga harus waspada. Jangan sampai, istrimu berpaling darimu."


Yuna menginjak kaki Zio dan tampak melotot, "Zio! Diam!"


"Kenapa kamu ngebelain dia? Memang kenyataannya begitu."


Lea ingin sekali menjitak kepala Zio dan menonjok bibir yang berani menghasut suaminya.


"Sayang, aku pulang dulu. Nanti aku jemput kamu." Ucap Setya.

__ADS_1


Lea mencium tangannya, lalu berkata "Aku kuliah dulu. Nanti aku telephone."


Setya mencium keningnya dan ia berkata "Jaga diri kamu."


"Iya Mas."


Zio tidak mau kalah, Yuna disuruh mencium tangannya. Sayangnya, Setya merangkul Zio lebih dulu "Belum halal."


Zio tidak terima akan sikap Kakaknya, "Cium tangan doang."


"Nanti kalau sudah halal." Setya tetap mengajaknya pergi.


"Yuna darling, aku pergi dulu." Teriak Zio, sambil melambaikan tangannya.


Yuna terkekeh sendiri, Lea menyenggol perut Yuna dengan sikut tangan kanannya, ia bertanya "Hemms, itu si imut kamu racuni pakai apa? Sampai bisa romantis begitu?"


"Aku tidak meracuninya. Mungkin, sudah tambah pengalaman setelah kamu tinggalkan." Jawab Yuna tidak pakai mikir.


Lea merangkul lengan tangan Yuna, ia berkata "Semalam ada badai besar. Aku sampai takut."


Yuna bertanya "Memangnya ada apa? Kenapa, Tuan Muda semakin posesif begitu?"


"Mas Setya nonjok Bang Jojo. Aku juga dimarahin." Jawab Lea. Terdengar suara pelan dan gemas.


"Hah? Kok bisa?" Yuna penasaran.


"Mas Setya cemburu, waktu Bang Jojo merangkul aku di depan Micheel dan teman-teman SMAnya."


"Wah, suami kamu cemburu akut. Pasti sudah terpapar v!rus bucin." Ujar Yuna.


"Bucin apaan? Kalau bucin di sayang-sayang dong." Balasnya.


Yuna jadi merasa bersalah. "Sorry, tadi aku cuma bercanda."


"Makanya itu, jangan bilang selingkuh gitu di depan Mas Setya." Ucap Lea dengan suara lembut.


Clarissa dan genknya berjalan di belakang mereka. Tampak berbisik dan mereka membicarakan sosok Yuna Kartika.


Lea seketika menghentikan langkahnya di tengah anak tangga. Ia berkata kencang "Yunaku sayang. Nanti kita ke mall yuk. Double date. Aku sama suamiku. Kamu sama pacarmu."


"Aku merestuimu sama adik iparku." Ucap Lea dengan gaya tengilnya.


"Apa?? Adik ipar?!!" Tatapan mereka bertiga yang terlihat kaget banget.


"Kalau kamu sama Zio, sudah aku anggap saudaraku sendiri. Aku akan bilang sama Ayah mertuaku, agar segera menikahkan kalian berdua." Ucap Lea gemas.


"Lea, kamu waras?!" Yuna memegang dahi Lea, masih normal suhu badan Lea.


"Yunaku sayang, apa kamu takut menikah muda??" Tatapan Lea menyelidik. Sambil berkedip-kedip manis manja.


Yuna mengerti kode itu, ia jadi tersenyum dan berkata manis "Aku siap menikah muda. Apalagi dengan adik iparmu yang imutnya kebanyakannya. Aku tidak akan menolak."


"Wah, bagus sekali ucapanmu. Nanti aku akan bilang sama Ayah, agar Zio segera meminang kamu. Zio saja, tadi sudah minta dicium tangannya. Uwu, dia pasti sudah tidak tahan godaan dewasa."


"Lea, aku mana pernah begitu. Kecuali, orang yang sengaja membuat Zio jadi dewasa sebelum waktunya."


"Emmberr."


Mereka berdua jadi terkekeh. Salah satu dari genknya Clarissa mendekat, ia berkata "Mentang-mentang anak pemilik kampus, menghalangi jalan kita."


"Ops, sorry. Aku cuma keasyikan ngobrolin soal keluargaku, jadi lupa kalau ini tangga umum."


Lea menarik tangan Yuna dan mereka tampak minggir di sisi kiri anak tangga yang menuju ke lantai 3.


Mereka berdua, memang sengaja menghalangi genknya Clarissa.


Lea masih menganggap kalau genknya Clarissa itu, yang telah mengajari Zio, agar pergi ke club dengan Revan dan juga Tommy.


Clarissa menoleh ke arah Lea "Zio, jadi adik iparnya. Gila."


Setelah sesi pertama perkuliahan selesai. Di gedung tempat Zio mengikuti perkuliahan. Banyak mata yang telah menatap ke arah Zio. Mereka tampak menggosipkan Zio dan Lea.


"Heh, beneran gosipnya? Kamu jadi adik iparnya Lea?" Tanya Tommy, yang tidak bisa basi-basi.


Zio menoleh ke arah pemuda yang merangkul bahunya, ia berkata "Iya. Aku adik iparnya Lea. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Tommy berkata "Kamu yang menjaga, Abangmu yang menikahinya."


Revan mendekat ia berkata "Tommy, kamu sudah bisa move on? Syukurlah, mulutmu bisa kembali aktif.


"Aku ganteng begini. Mantan harus segera dilupakan, yang baru wajib diperhatikan."


Revan berkata "Mau baru atau mantan sekalipun, yang namanya perempuan itu, semua sama saja."


Zio merangkul bahu Revan yang ada di sebelah kirinya, Zio bertanya, "Revan, memangnya kamu sudah pernah mencobanya? Apakah, sama semua?"


Zio tampak menyudutkan Revan, dengan manis Zio tersenyum, lalu berjalan pergi, meninggalkan kedua sahabatnya itu.


Tommy yang menatap punggung Zio, ia jadi bertanya kepada Revan, "Apa dia kesambet?"


Revan menjawab. "Dia sudah move on dari Lea, sekarang pindah ke Yuna.


"Berarti, sama seperti aku." Ucap Tommy, lalu ia menepuk bahu Revan, berkata dengan menggoda "Sekarang, giliran kamu. Dorr Dorr Dorr."


Kampus Glory, jam siang. Di kantin kampus sudah begitu penuh. Meja kursi sudah dipenuhi para mahasiswa, Lea, Yuna hanya berdiri memandang ke arah semua meja.


"Lea, sorry. Aku kurang gercep."


"Tidak masalah. Kita bisa makan di luar."


"Kursi taman basah."


Karena tadi hujannya deras. Kursi taman depan kantin, masih tampak basah.


"Ayo, kita keluar saja."


Saat jalan keluar, bersamaan Zio dan genknya masuk ke kantin.


"Yuna Darling, kamu kenapa jalan keluar?" Tanya Zio.


"Semua meja penuh. Lea mengajak aku keluar."


Lea tidak menghiraukannya, ia berjalan lebih dulu dan sudah tampak mengelap kursi taman dengan tisue yang ada di dalam tasnya.


Yuna berkata "Aku pergi dulu."


"Aku akan menyusul kamu." Balasnya.


Tommy dan Revan tampak cengengesan di belakang Zio.


Tommy merangkul Zio, "Jadi, kalian berdua beneran naik ranjang?"


Revan menyela, "Lea dapat abangnya. Eh, adik iparnya dapat Kakak asuhnya Lea. Wkwkwk."


Sudah tidak ada yang bisa ditutupi Zio, ia berkata "Kalian ngerti apa soal cinta."


Zio berjalan pergi dan mereka tampak diam. Kedua cowok ini, pandangan matanya hanya tertuju pada gadis idealnya mereka, cantik dan sexy.


"Zio jadi sensian."


"Kita harus hati-hati sama dia."


"Gimana, kalau kita ajak main lagi?"


"Siapa takut. Aku akan hubungi Clarissa."


"Oke." Keduanya membuat kesepakatan.


Di luar, Lea melihat gerak-gerik dua pemuda itu dari kaca kantin yang terlihat terang.


"Yunaku sayang, kamu harus jagain imut. Aku masih cemas sama Revan."


"Lea. Aku dua hari ini, sudah maksimal menjaganya. Bahkan dihari mingguku kemarin, aku seharian sudah sama Zio." Balas Yuna.


Lea menatap ke arah Zio, ia berkata "Aku serius, aku ingin kamu menikah dengan Zio."


Uhuk, uhuk, uhuk. Yuna tersedak makanan. Lea segera memberikan minumannya dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Yunaku sayang, kunyah dulu. Makannya nggak main telen gitu."


"Kamu bilang apa? Aku harus menikah dengannya??"

__ADS_1



__ADS_2