Permen Kapas

Permen Kapas
Pengakuan Kesalahan


__ADS_3

"Yunaku sayang. Bikin jantungan aja." Lea yang terkaget saat Yuna berdiri di kegelapan. Anak tangga menuju pintu samping, lampunya sengaja dimatikan oleh Yuna. Agar Lea terkejut dan tidak lagi berani melewati pintu itu.


"Takut nggak?"


"Nggak. Tapi aku terkejut."


"Wah, aku kirain kamu jadi merinding."


"Yunaku sayang. Kenapa kamu disini?"


"Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik saja."


Keduanya lantas berjalan pergi dari tempat itu. Yuna yang tersenyum manis dan Lea merasa curiga padanya.


"Ciee yang udah punya pacar. Sekarang usil sama aku."


"Iih, bukan begitu."


"Terus, ada apaan?"


"Zio nungguin kamu. Aku bilang kamu ada urusan keluarga."


"Dia sekarang dimana?"


"Di restoran."


Lea berlari cepat dan masuk dari pintu samping. Lalu menuju Lift dengan cepat ia menekan nomor di layar itu. Entah apa yang Lea rasakan saat ini, yang jelas dia sudah merasa telah selingkuh dari pacarnya.


Yuna melihatnya tadi, dia juga merasa hal ini semakin kacau dan berharap kalau Lea akan membuat keputusan yang benar.


Setelah satu jam Zio menunggu dan akhirya Tuan putri Allea Gita Madaharsa sudah ada dihadapannya.


"Zio."


"Honey."


Lea duduk di sebelahnya dan memegang tangannya.


"Kamu kenapa? Apa kamu masih sakit?" Lea juga memandangi wajah sang pacar imutnya dan memegang dahinya, untuk memastikan kalau Zio tidak demam.


"Aku baik-baik saja.".


Zio merangkul lengan tangannya dan menyandarkan kepalanya di dada Zio.


Sofa restoran yang sangat nyaman dan Lea sudah terbiasa begitu kepada Zio. Begitu pula dengan Zio yang sering berlaku manja pada kekasihnya.


"Kamu dari mana?"


"Makan malam." Jawab Lea.


Zio tersenyum dan memegang tangan sang pacar cubbynya. "Kamu makan malam. Tapi tidak ajak aku."


Lea menatap Zio, "Kamu belum makan?"


Zio tampak menggeleng. Lea mengerti, lalu memanggil pelayan dan memesan menu kesukaan Zio.


Lea kembali bersandar dada Zio. "Jangan begitu lagi. Aku bisa sedih kalau susah makan."


"Makanya aku kesini." Balasnya dengan senyuman manis.


Lea merasakan jantungnya yang tadi berdebar kencang saat berlari, dan saat ini perlahan sudah mulai santai.


"Honey."


"Apa?"


"Tadi, Revan sama Tommy ajak aku berpesta."


"Terus kenapa?" Lea masih merasa nyaman saat bersandar dada Zio.


"Ada perempuan cantik disana."


"Kamu suka?"


"Tidak. Tapinya, perempuan itu sangat memperhatikan aku."


"Pasti, dia perempuan sexy."


"Honey."

__ADS_1


Zio merasa kalau perempuan itu, memang sosok yang lebih dewasa. Bahkan sangat memperhatikan dirinya. Perlakuannya begitu manis padanya.


"Aku juga bisa cemburu." Ucap Lea.


"Kamu cemburu?" Zio mendengar hal itu, malah semakin terpancing. Mungkin cara ini akan ampuh, bila Lea semakin cemburu padanya.


"Aku pacar kamu. Jelas, aku bisa cemburu. Dia siapa?"


"Ya ada. Dia teman kampus kita juga."


"Teman kampus?"


Zio memperjelas "Senior kita."


Lea sudah bisa menebak siapa orang yang dikatakan sang pacar.


"Clarissa?"


"Iya."


Lea memandang, Clarissa itu bagaikan sosok Tuan Putri yang sesungguhnya. Cantik, anggun dan parasnya yang indah. Begitu menawan dengan pancaran mata yang berkilau kecoklatan.


"Kamu mau kencan sama dia?"


"Honey."


"Aku tahu, pastinya Revan sama Tommy sudah menegur kamu lagi."


"Tidak begitu honey. Mereka memang usil biar kita putus." Membela temannya.


Lea menjauh dari dada Zio dan menatap Zio dengan tatapan tajam "Iya, kamu memang berteman sama mereka berdua. Tapi, kamu itu pacar aku."


"Honey, mereka memang begitu. Mereka juga bilang kalau kamu bisa saja selingkuh dari aku." Zio dengan senyuman tapi dia merasakan hal seperti yang dikatakan para temannya.


Lea berkata "Aku memang lagi dekat sama seseorang. Tapi aku tidak begitu. Aku hanya memperbaiki kesalahan aku."


"Aku tahu, pacarku tidak akan serius untuk berselingkuh dari aku."


Lea tersenyum, "Kamu sangat mengenal aku. Mana bisa aku tergoda dengan yang lainnya. Apalagi, kita 4 tahun selalu bersama."


"Tapi kamu selalu putusin aku. Kalau kamu sekali lagi bilang begitu. Aku anggap kita putus untuk selamanya."


"Zio."


"Baik, aku tidak akan bilang begitu."


Setelah itu, menu pesanan Lea sudah tiba dan Zio siap untuk menikmati makan malamnya. Meskipun, jam dinding sudah menunjukan waktu 9 malam. Tetapi, Lea sangat mengerti tentang perasaan sang pacar imutnya ini.


Lea hanya memandangi wajah sang pacar itu dan tidak ada perasaan menyesal telah membohongi Zio.


"Zio, kamu bisa berpasangan dengan Clarissa saat pesta tahunan nanti."


Zio langsung tersedak dan tangan Lea gerak cepat memberikan minumnya Zio.


"Pelan-pelan makannya."


"Honey. Aku terkejut."


"Terkejut?" Tatapan Lea yang merasa kalau dirinya tidak membuat Zio terkejut.


"Aku lagi makan. Kamu bilang begitu sama aku."


"Aku bilang apaan?"


"Itu tadi barusan. Kamu malah bilang aku harus berpasangan dengan Clarissa."


"Owh itu. Iya, itu kalau kamu menginginkannya. Lagian, aku sudah terlalu sering menunjukan diriku di atas panggung. Sepertinya, malam nanti aku akan menjadi penonton saja."


"Lea."


"Aku tidak apa-apa. Biar imeg kamu jadi bagus lagi di depan Revan dan Tommy. Mahasiswa lain juga sepertinya ingin kita putus. Tapi, aku tidak akan bilang kalau kita putus. Kamu bisa bebas dan aku tidak akan menghalangi kamu."


"Honey."


Lea memegang tangan Zio, ia berkata "Aku tahu. Aku percaya sama kamu. Kecuali, kalau sudah menikah. Aku pastinya tidak suka bila suamiku bersama perempuan selain aku."


Zio yang telah menelan salivanya sendiri, dia memandangi wajah Lea.


Zio bertanya "Kamu ingin kita menikah?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Jangan berfikir begitu lagi, aku hanya membuat pernyataan bila aku sudah bersuami. Bukan kita yang sedang pacaran. Lagian yang menikah bisa cerai, apalagi kita yang pacaran. Makanya, aku nggak akan mempersulit kamu. Revan sama Tommy berkata benar adanya. Kamu terlalu takut sama aku."


"Allea."


"Jangan panggil aku begitu. Aku jadi merasa aneh."


"Allea."


"Zio!"


Zio memang suka menggoda Lea dengan memanggil nama Allea dan ia berlanjut menikmati makan malamnya.


Zio tidak mempedulikan perkataan sang Papa dan Mamanya, tentang Zio yang hanya sibuk memikirkan tentang Lea. Tetapi, kalau para teman cowok itu sudah mengajaknya ke hal lain, Zio tidak bisa menolak mereka.


Bergaul dengan para gadis lainnya dan membawa ke rasa dewasa. Seperti itu, Zio tetap bisa menahan diri. Sayangnya, pesta tadi sore itu, Zio terbawa suasana, akhirnya berciuman mesra dengan Clarissa.


"Honey."


"Iya. Ada apa?" Lea menatapnya dengan gemas dan Zio juga merasa sudah bersalah kepada sang pacar.


"Aku dan Clarissa."


"Iya. Kenapa kamu dengan dia?"


"Aku sudah khilaf. Aku tadi berciuman sama dia."


Degh!


Lea yang seketika terdiam dan Zio sudah mulai menunduk saja.


Lea berkata "A, kamu anak laki-laki. Aku mengerti, pastinya suasana tadi membawa perasaan buat kamu."


Zio yang masih saja menunduk dalam rasa menyesal.


"Zio, angkat wajahmu."


"Lea."


"Tatap aku." Suara pelan dari Lea itu, seolah sudah menampar wajah Zio.


Zio perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Lea sang pacar yang sangat dia sayang. Meskipun, bibir itu sudah bersalah dan ciumannya lebih hot dari sekedar kecupan manis untuk Lea. Tapi, Zio sudah menyesal.


"Aku salah."


"Demi harga dirimu di depan mereka. Aku anggap ini hanya hiburan kamu."


"Lea."


"Aku tidak apa-apa."


Lea beranjak dari sofa dan menatap Zio dengan tatapan sendu, ia berkata "Aku sudah mengantuk. Aku mau tidur."


"Honey. Kamu marah sama aku?"


"Zio, aku tidak ingin membahasnya."


"Aku sudah berkata jujur. Aku tidak mau kamu mendengar dari yang lainnya."


"Percuma aku mendengar sendiri dari kamu. Aku sangat tidak suka."


Lea yang berlari pergi dan rasanya sudah kecewa. Entah kenapa, baru sekalinya ini Lea merasa tersakiti.


Meski biasanya, Zio seakan menyebar roman asmara kepada yang lainnya. Tetapi perasaan Lea telah menganggap kalau Zio hanya bermain-main saja. Mungkin, karena sosok Clarissa. Gadis itu memang lebih unggul dari Lea.


Akademi oke, parasnya indah, dengan wajah cantik dengan penilaian sempurna. Meski Lea sosok yang terkenal di kampus, tapi dia tidak ada hal yang special. Itu hanya penilaian dari sebagian mahasiswa di kampus Glory.




"Lea."


Zio tetap mengejarnya dan tidak melepaskan. Memeluknya dari belakang.


Di restoran, hotel dimana Lea tinggal saat ini. Semua pelayan juga telah mengenal Lea sebagai putri pemilik hotel. Ada dari para pelayan itu, melihat ke arah mereka berdua. Sudah terlalu malam untuk jam makan malam, jadi restoran ini sudah terlihat sepi. Hanya ada dua pengunjung dari tamu hotel, yang menikmati kopi malam sibuk menatap layar pintar.


"Aku salah, aku menyesal."


Dengan pelan berkata "Lepasin aku."

__ADS_1


"Lea, aku minta maaf."


__ADS_2