Permen Kapas

Permen Kapas
Makan Malam Special


__ADS_3


Rumah mewah yang tak terlihat. Rumah depan di tempati para pengawal dan juga pekerja rumah.


Sedangkan sang pemilik rumah dan keluarga kecilnya, tinggal di rumah belakang.


Sebelah kanan, ada kamar para putra dan kamar orang tua. Lalu, di lantai atas ada kamar tuan putri dan ruang kerja Ayah-Bunda.


Terletak di wilayah Jakarta Selatan dan kawasan ini memang terkenal elit. Rumah ini, full bangunan dan tidak terlihat menonjol dari rumah mewah lainnya, meski dibangun di atas tanah seluas 1500 meter persegi.


Di lingkungan sekitar rumah menawan ini, ada beberapa rumah mewah dengan halaman yang luas. Bahkan, pilar-pilar penyangga rumah terlihat bergaya klasik, layaknya istana.


Hanya rumah ini, yang terlihat gaya modern dan hanya menyisakan sedikit halaman, yang ditanami pepohonan dari pucuk merah serta cemara udang. Ada pula tanaman hias, yang menghiasi sekeliling rumah ini.


"Masakan Ayah, tiada duanya." Ucap Zyan dan memberikan jempol kanannya.


Sang Ayah mengusap rambutnya, "Harus dihabiskan."


"Pasti Ayah." Zyan yang menikmati steak tenderloin. Ayahnya, menyiapkan dua porsi khusus untuk Zyan. Karena, dia dari siang nggak mau makan di sekolah. Baper, gara-gara Cassandra nggak masuk sekolah. Pulangnya, mewek manja. Hanya Ayahnya, yang bisa merayu dia.


Saat para adik-adik, tampak menikmati makan malamnya di meja makan. Raja, Ratu dan kedua kesayangan Raja, tampak menggelar karpet lantai. Makan malamnya, di pinggir kolam renang.


Bunda Lea, turut gabung bersama putra pertamanya dan menantu cantiknya itu.


Ayah Setya, tetap melayani putra dan putrinya yang makan di meja makan.


Perbedaannya adalah, yang duduk di meja makan, mereka memilih menu barat. Sedangkan, yang duduk di karpet dan tampak bersila, mereka semua menikmati masakan koki, dengan sajian menu bakar-bakaran.


Dua koki handal, terlihat begitu senang memanjakan lidahnya Raja.


"Pakde, satenya lagi. Bumbunya yang pedas." Ucap Lionel yang mendekati koki. Sang koki mengipas sate kambing dan sate ayam, favorite trio RL.


"Den, ini yang pedas sudah ada." Ucapnya salah satu koki, yang menyiram kecap dan sambal.


"Wah, Pakde memang jempolan. Mantabs."


Kai menoleh ke belakang, "Hish, Lionel ngeselin, bau asapnya ngepul sampai kesini."


"Kai, ayo makan." Ajak Aull yang tampak memperhatikan adik perempuannya ini. Sebenarnya, Aull ingin bersama Kakak tampannya, tetapi Kai tidak mau duduk di atas karpet.


"Bunda, Bunda. Aku juga mau ikan bakarnya." Ucap Lean, yang berlari mendekat.


"Sayang, sebentar ya. Ikan bakarnya masih panas banget."


"Mas Raja, aku mau itu." Ucap Lean, yang menunjuk makanan Raja.


"Kamu mau sate ayam?" Tanya Raja.


Lean sudah tampak mengangguk gemas, dan mendekati Raja. Tangan kanannya memegang bahu Kakak tampannya ini. Memakan sate ayam dari tangannya Raja.


"Gimana? Enak satenya?" Tanya Raja dan Lean tersenyum saja.


Hanya bocah ini yang berjalan kesana kemari. Sang Ayah duduk di sebelah Zyan dan mengamati kedua putrinya, yang sudah tampak anteng.


"Ayah, ajarin aku masak. Biar nanti aku nggak bingung, kalau kumpul bersama keluarganya Mas Rangga."


"Boleh juga. Ayah nggak ada jadwal penting. Besok pagi kita pergi ke pasar belanja bahan-bahannya. Kamu harus masak yang enak. Nanti, Ayah ajarin bikin bumbunya."


"Siap Ayah. Muuach. Muach." Aull tampak memberikan kiss-kiss dengan bibirnya yang mengerucut gemas manis.


"Kalau aku, gimana ya. Calvin Oppa nggak tertarik masakan rumahan." Ucap Kai, sudah PD sekali. Padahal, disitu ada Ratu. Yang tidak lain, saudara dekat dari pak guru tampannya itu.


Ayah Setya, yang duduk dihadapan Kai, hanya tampak menggeleng kepala.


Bunda Lea hanya bikin sambal dan ayam goreng untuk menantunya.


"Bunda, aku suka ayam goreng lengkuasnya. Enak."


"Wah, selera kita sama dong."


"Bunda. Tapi, aku nggak bisa masak."


"Bunda juga nggak bisa masak. Ini, tadi yang bikin bumbunya, Ayah mertuamu."

__ADS_1


Ratu jadi tersenyum manis. El tampak menatap layar ponselnya. Raja yang duduk di sebelahnya, tampak menyuapinya.


"Aakkk?!" El yang meminta dan sudah mangap.


"Satenya habis."


"Kok habis?" Tanya El yang sudah terlanjur keasyikan. Main game sambil disuapin.


"Ini, bocil disebelahmu."


"Lean, uuwuh, sini Kakak pangku."


"Kak El, mainan Hp terus."


"Kakak lagi bette."


"Kata Ayah, kalau lagi makan nggak boleh mainan ponsel."


El tersenyum gemas dan memeluknya. Lean di atas pangkuannya, malah jadi melihat game yang dimainkan Kakak sepupu cantiknya.


"Ratu, kamu nggak cemburu sama El?"


Ratu berkata "Bunda, aku sebenarnya cemburu. Tapi, mau gimana lagi. Mereka memang begitu."


"Uwuh, sayangku cemburu. Sebentar ya. Aku ambil nasi dulu, aku masih lapar."


Raja dari tadi sibuk nyuapin El dan Lean. Dirinya malah baru makan sedikit.


Raja mendekat ke meja makan dan merengek kepada Ayahnya. "Ayah, ambilin nasi."


Aull yang berdiri "Sini, aku yang ambilin."


"Thank you adikku."


Raja yang melewati Kai, menarik ikat rambut Kai, rambut panjang adiknya jadi tergerai berantakan.


"Ayah, ini Mas Raja usil." Kai mengadu.


Ayahnya berkata "Kamu tadi juga bandel sama Masmu."


Ribut-ribut kecil, tapi nantinya jadi ribut besar sampai menangis.


"Pakde, satenya laris manis." Ucap Raja dan sudah mendekati dua koki handalnya. Yang selalu memanjakan lidahnya.


"Iya Den. Tadi dadakan, Pakde jadi nggak bisa potong kambing, ini tadi Pakde dapatnya dari tukang sate."


"Tetap mantabs, kalau Pakde yang bikin." Balas Raja dan sudah terkekeh.


"Den Raja, Kapan-kapan bilangnya jangan dadakan, biar Pakde cariin kambing yang super. Pasti makin mantabs."


"Begini malah asyik Pakde. Jadi rebutan sama Lionel."


Raja mengambil sate kambing yang dia pesan. El dari kejauhan sudah menatapnya. Wajahnya muram masam, tak bergairah.


"Aaak?" El, mulai lagi deh.


"Aku dulu, baru nanti aku suapin lagi."


"Sini, Bunda suapin. Pakai ayam goreng mau?"


"Mau Bunda. El masih lapar." Jawabnya.


Lean malah asyik melihat game yang dimainkan El. Lionel asyik sendiri, tanpa memperhatikan yang lainnya.


"Pakai sambal nggak?"


"Iya Bunda." Jawab El.


Kai dan Aull yang ada di meja makan. Juga masih menikmati, masakan Ayahnya.


"Sayang, kamu mau?" Tanya Raja kepada Ratu dan tampak duduk bersebelahan.


"Aku nggak suka sate kambing." Jawab Ratu.

__ADS_1


"Tapi, kamu doyan sate?"


"Doyan sate, tapi aku nggak terlalu suka."


Ratu berganti menikmati ikan bakar bumbu kecap manis. Kedua koki sudah tampak selesai membakar sate-sate itu, dan menyajikan dua porsi sate ayam.


"Bunda aku mau itu." Ucap Lean, dan ia sudah menunjuk ke piring sate ayam.


"Lean, sini sama Mas Raja." Panggilnya Raja kepada adiknya.


Lean bangkit dari pangkuan El dan El sendiri kedua tangannya sibuk. Masih disuapin Bunda Lea.


Lean duduk di atas pangkuan Raja, dan menikmati sate ayam bersama Kakak tampannya ini.


Ratu jadi tersenyum, ia malah jadi membayangkan kalau Raja nanti jadi Papa.


"Cute." Batin Ratu gemas.


Tuan muda kecil ini, juga sangat senang ketika bersama Raja.


"Mas Raja, aku haus."


"Ini, minumannya." Ucapnya sang Kakak cantiknya.


Aull yang mendekat, membawakan minuman untuk adik bungsunya.


"Terima kasih Mbak Aull."


"Iya sayang, sama-sama."


Aull tersenyum gemas dan Kai menatap dari kejauhan.


"Sorry, aku nggak bisa duduk di lantai." Gumamnya Kai, dalam hati.


Kai tampil fiminine memakai rok dan tampak manis dengan rambut yang di kuncir seperti bun, tampak menonjol ke atas kepala.


"Bunda, aku sudah kenyang." Ucap El


"Sesuap lagi ya." Balas Bunda.


Setelah menghabiskan suapan terakhir dan tangan kanannya meraih gelas bening, terisi es teh manis yang menyegarkan.


El menepuk bahu Lionel yang ada di sebelah kirinya "Lionel, kamu betah banget?"


"Emh, iya. Aku menghabiskan dua piring sate. Sepiring sate kambing 25 tusuk dan 10 tusuk sate ayam."


"Ckckck, itu perut apa gentong?" Tatapan El. Padahal dia sendiri juga makannya banyak.


"Sayangku, menurut kamu?"


"Yang pasti, bukan guci mahalnya Eyang." Jawabnya dan El beranjak pergi untuk mencuci mulutnya. El juga rajin gosok gigi setelah setelah makan. Eits! Tapi sebelum itu, El mampir ke meja makan, nyomot buah anggur hijau.


"Kai, kamu pacaran sama Calvin?"


"Menurut Kakak gimana? Apa aku sama Calvin Oppa, terlihat seperti sepasang kekasih?"


"Emh, menurut penghilatan mata buremku, kamu sama dia, cocok." Jawabnya dan pergi meninggalkan Kai.


"Mata burem? Memangnya, kalau mata beningnya gimana?"


Zyan menyela kakaknya "Kalau mata beningnya aku. Kak Kai sama Pak guru tampanku, tidak cocok."


"Yee, kok malah kamu yang menilai."


Zyan mulai bangkit dari kursinya, ia berkata "Emh, memang itu faktanya. Pak Calvin, jelas-jelas sudah menolak Kak Kai."


"Siapa juga yang ditolak?"


Zyan tak lagi menggubrisnya, lalu pergi meninggalkan ruang makannya.


Zyan hendak menghubungi ayanknya yang seharian susah ditelephone.


"Bilang saja, kamu yang ditolak Cassandra."

__ADS_1


Raja tertawa senang, Kai berteriak, "Mas Rajjaaa!!"



__ADS_2