Permen Kapas

Permen Kapas
Adiknya Pulang


__ADS_3

"Mama, aku sudah berusaha untuk mendekati Raja. Tapi Raja selalu menyakiti aku. Aku juga ingin dicintai, bukan cuma makan ati."


Saat ini, di kamar asrama. Ratu sedang menghubungi orang tuanya, melalui panggilan telephone.


"Sayang, Mama sering kali mengatakan sama kamu. Jangan pikirkan cinta. Raja punya segalanya, kamu nggak harus bekerja keras seperti Mama."


"Mama, aku lelah. Aku bosan. Aku juga ingin merasakan masa mudaku. Bukannya, terbuang sia-sia." Rengekan Ratu, terdengar kesal. Yang tadinya masih rebahan di atas tempat tidur. Perlahan bangun dan masih mendengarkan ucapan sang Mama.


"Ratu, ingat pesan Nenek. Cinta akan muncul seiring berjalannya waktu. Papa sama Mama juga begitu, kita awalnya tidak saling mencintai, lambat laun kita mulai menyadari tentang cinta kita. Pernikahan bukan hanya sekedar cinta. Mereka yang saling mencintai, setelah menikah bisa bercerai. Sayang, kamu harus lebih dewasa." Ucapan sang Mama, terkesan menasehati putrinya.


"Mama, tapi Raja semakin membuat aku kesal. Aku nggak sanggup lagi." Balasnya dengan rengekan manja.


"Kamu sudah 20 tahun. Kamu harus sadar. Lupakan tentang cinta. Kamu harus hidup layaknya Nyonya. Kamu mengerti sayang?" Perasaan sang Mama juga tidak tega, tapi apa boleh buat. Dari awal, suaminya yang sudah membual, nantinya akan berbesanan dengan mantan kekasihnya.


"Mama, enak banget ngomongnya. Aku yang ngejalani hidupku, bukan Mama." Keluh Ratu dengan bibir cemberut.


"Sayang, Mama mau syuting lagi. Baik-baik disana. Jaga diri kamu. Love you sayang. Muuaaach!"


Mama Micheel sudah menutup panggilan Ratu. Mamanya memang sedang sibuk.


Ratu semakin sebal, "Padahal aku mau mengadu. Malah dinasehatin Mama."


Sudah sangat sore dan rintik gerimis masih menemani sang Ratu.


Tok tok tok


Menoleh ke arah pintu, Ratu jadi penasaran. Jarang sekali tamu mendatangi kamarnya.


Ratu tinggal di kamar sendirian, pernah ada yang sekamar dengannya, tapi perlahan gadis itu pergi dan menganggapnya begitu aneh.


Ratu memang membuat ulah, agar dia tetap bisa tinggal sendirian di kamar itu. Kalau ada yang tinggal bersamanya, nanti bisa ketahuan. Kalau Ratu hanya berpura-pura oneng. Cuma Raja yang tahu, kalau Ratu bukan gadis cupu nan oneng. Itulah kenapa, Raja selalu memarahinya, bila Ratu tampak menampilkan kemolekan luarnya.


"Silakan masuk."


Seorang ibu penjaga asrama dan hendak merapikan tempat tidur yang ada di ranjang atas. Tempat tidur tingkat yang berbahan kayu.


Ratu masih berdiri di sisi pintu, saat ibu paruh baya itu merapikan kasur dan memasangkan sprei warna merah muda kalem.


Setelah selesai, si ibu itu berkata "Ratu, nanti malam ada mahasiswi yang menempati kasur atas."


"Iya Bu Darsih."


"Bertemanlah yang akur. Nanti setelah makan malam, dia akan tinggal bersama kamu."


"Iya Bu Darsih. Saya mengerti."


Ibu itu pergi dan Ratu menoleh ke kasur atas. Akan ada teman lagi, tapi dirinya sudah lelah untuk berakting gila.


"Mama, aku harus gimana?" Batinnya yang meronta, sepertinya akan pasrah. Ratu kembali merebahkan badan di atas kasur dan menatap kasur yang ada di atasnya. Ratu tidak suka, bila ada yang tinggal bersamanya, bukan hanya takut ketahuan tentang dirinya yang tidak cupu nan oneng. Hanya saja, dia memang lebih suka menyendiri.


Di tempat lain, seorang Ayah menjemput putrinya di bandara internasional.


Begitu tiba, melihat sang Ayah dan terus berjalan mendekati Ayahnya tercinta. "Ayah. Aku kangen banget."


"Ayah juga kangen banget sama kamu."


Keduanya orang yang lama tidak bertemu, saling melepas rindu.

__ADS_1


Seorang Ayah yang sangat mencintai putrinya dan sudah beberapa tahun tidak bertemu, karena sang putri menimba ilmu di negeri yang terkenal dengan Kanguru.


"Kamu semakin gemukan." Ucap sang Ayah dan memegang gemas kedua pipi gemoy putrinya.


"Ayah gitu, padahal aku sudah diet." Balasnya dan bibirnya membulat gemas.


"Nggak perlu diet. Kamu begini, Ayah malah senang. Ayah nggak sia-sia, kerja keras buat nyenyengin kamu. Sampai pergi jauh ninggalin Ayah."


"Emh, cuma sebentar doang."


3 tahun bilangnya sebentar, Ayahnya kalau mau jenguk selalu dilarang. Bilangnya, nanti takutnya semakin kangen.


Setelah saling melepas rindu, Ayah menoleh ke sekitarnya, tidak melihat istrinya. "Sayang, Bunda kamu dimana?"


"Masih ngurus koper. Aku kangen sama Ayah. Giliran aku minta dijemput Ayah, tapi yang datang Bunda." Keluhnya manja. Masih memegang lengan tangan Ayahnya.


"Ayah sibuk." Balasnya gemas.


Mencubit pipi bakpao putrinya dengan gemas dan kembali memeluknya.


"Sayang, jangan tinggalin Ayah lagi."


"Emh, lihat nanti." Balasnya dan tersenyum.


Dua pengawal perempuan sudah tampak mendekat, dengan bawaannya yang rempong.


Bunda berkata "Ayo jalan, pelukannya nanti lagi."


"Aaa... Bunda mulai deh." Rengeknya manja.


Terlihat wajah kucel sang istri, suami tampan ini bertanya, "Bunda. Ada apa?"


Sang Ayah berdebar dan putri cantiknya berkata "Ayah, aku hamil."


Duueer!!


"Sayang. Kamu hamil?" Tatapan sang Ayah semakin gelisah. Mana mungkin masalah sebesar ini, istrinya tidak mau menceritakan kepada suaminya. Minggu lalu berangkatnya juga buru-buru, disuruh nungguin suaminya selesai kerja. Malah pergi begitu saja dan tahu-tahu sudah tiba di apartemen putrinya ini.


Bunda berkata "Sudah bengongnya, putrimu cuma bercanda. Ayo pulang."


"Bunda, tapi." Suaminya masih gelisah dan penasaran.


"Ayah, putrimu hanya bercanda." Balas istrinya, terlihat gemas.


Putri kalem nan lembut tutur katanya, bisa-bisanya begitu, membuat Ayahnya syok.


"Sayang, kamu cuma bercanda?" Tanya sang Ayah dan tidak beranjak pergi.


Putrinya berkata "Ayah, aku."


Sang istri menyerocos "Putrimu sudah lulus kuliahnya. Secepatnya mau aku nikahkan. Biar putrimu cepat hamil."


"Bunda. Ayah serius." Ayahnya panik dan sang Bunda pergi begitu saja. Karena masih malas, menjelaskan kepada suaminya ini.


"Ayah terlalu serius. Makanya cepat tua."


"Emang iya, Ayah tua? Mana ubannya??"

__ADS_1


Putrinya tersenyum dan berkata "Itu satu uban kelihatan."


"Mana?? Nggak ada?" Sampai menundukan kepala dan putrinya menjadi gemas melihat tingkah Ayahnya.


"Ayah, Ayah. Masa iya, aku hamil. Aku sibuk kuliah bukan pacaran, aku tidak seperti Mas Raja." Ucap putrinya.


"Sayang, jangan bilang begitu. Masmu sudah berusaha keras." Balas sang Ayah.


Bukannya membela putra pertamanya, tapi sang Ayah ini selalu ingin membanggakan semua anak-anaknya.


Aullia Ganeeta Adhisti, anak kedua Lea dan Setya.


Hal, yang tidak diharapkan kejadian juga. Disaat usia Raja baru genap 3 bulan. Bunda Lea kembali hamil dan selisih umur Raja dengan adiknya ini, tidak sampai 1 tahun.


Dari situlah, Raja menjadi kesayangan Eyang Arjuna. Eyang Arjuna yang merawat dan membesarkan cucu tampannya. Karena, dikehamilan keduanya itu, Lea diharuskan bedrest. Yang tadinya masih menyusui, jadinya menyapih dini.


Raja dibawa ke rumah kedua orang tuanya setelah umur 5 tahun, baru tinggal bersama dengan Ayah dan Bundanya. Tetap saja, Raja sudah nyangkut di hati Eyangnya.


Dan ternyata, usia Aullia dengan Ratu, hanya selisih hitungan hari.



"Mas. Mbak Aull pulang, kamu sudah tahu belum?" Tanya Lionel, kepada Raja.


"Aku tidak tahu." Jawab Raja. Karena, dari dulu dirinya tidak suka dengan adik perempuannya ini. Selalu menganggap, kalau Aullia sudah mengambil alih Bundanya.


"Ini, tadi kirim foto sebelum terbang."


"Eyang tadi nggak cerita. Aku juga nggak peduli, dia mau pulang apa nggak."


Sedari dulu, Raja tidak mau satu tempat belajar dengan Aul. Karena, bukan hanya masalah perebutan orang tua. Melainkan, adiknya memiliki otak encer dan lebih rajin. Tidak seperti dirinya, yang semuanya dikerjakan pengawal.


"Eh, Mbak Aull. Makin dewasa. Makin cantik." Lionel masih menatap Aullia dari layar ponselnya.


"Hemms, itu matamu perlu dicuci." Raja melemparkan boxerrnya dan Lionel kembali packing.


"Bilangnya mandiri, mandi sendiri sana." Lionel omongannya saja begitu. Tetapi, dia selalu menuruti kemauan Raja.


Lionel dan Raja sudah packing, dua koper besar berisi pakaian dalam. Soalnya, Raja tidak mau mencuci disana. Semuanya harus baru dan nanti tinggal membuangnya.


"Lionel, kita perlu komputer baru."


"Cuma sebulan, laptop sudah cukup."


"Game kita gimana? Nggak seru kalau nggak bisa main game."


"Listrik asrama bisa jebol kalau kita mainan game disana. Bisa-bisa kita kena teguran dan dilarang tinggal disana."


"Benar juga. Itu bukan kampus Glory."


Selama di SMA Star milik Bundanya, Raja bisa berbuat bebas. Raja sempat ingin kuliah di Glory milik Eyang putrinya. Sayangnya, malah di larang Eyang Arjuna dan dibawa ke kampus ini.


"Mas, sudahlah. Kita cuma sebulan. Ingat, sebulan."


"Yakin sebulan?!"


"Hemms, pasti sehari saja nggak betah." Lionel membatin "Semoga, nggak sampai seminggu."

__ADS_1


Raja memegang bahu kanannya, ia berkata "Kalau perlu, satu semester. Eyang pasti bangga sama aku."


"Semoga saja begitu." Pungkasnya.


__ADS_2