
Lobby gedung kantor ini. Terlihat, para staff yang berhamburan keluar gedung. Ada yang mengatakan kalau di gedung ini akan meledak. Lalu ada yang bilang, kalau ada kejutan dari pemilik gedung. Lalu, ada yang menatap bodyguard yang berdatangan.
Dari kubu Madam Marisa, telihat pengawal yang berbadan besar. Sedangkan, pengawal dari markas Roberto terlihar muda nan tampan.
Bak bodyguard VIP, yang tampan dan membawa senjata api.
"Mama, baik-baik saja??" Tanya Marvin yang datang mendekat.
Mamanya terduduk di lantai, karena terkaget. Mamanya pikir, kalau senjata api yang dibawa Redi itu hanya mainan.
"Madam, anda menembak saya??"
Redi sudah memegang lengan tangan kirinya, ada darah yang mengalir lembut, membasahi lengan kekarnya itu. Pakaian lengan pendek terlihat lipatan lengan baju yang menyelinap keluar. Tangan kekar sebelahnya, masih menutup lukanya.
Untungnya tidak terlalu dalam. Tembakan Madam Marisa sempat mengarah ke dadanya, dengan cepat Redi mengindari arah pistol yang ada di tangan Madam Marisa.
Akan tetapi, peluru logam itu berhasil melukai lengan tangan kirinya. Meski hanya bagian luar dan tidak sampai ke tulang, tetap merasakan sakitnya.
Ada dua pengawal dan dua staff yang melihat kejadian itu. Sewaktu mencakar Redi, Madam Marisa meraih pistol Redi dan menembaknya.
"Redi, ayo kita pergi."
"Tunggu."
Redi akhirnya meraih kembali pistol yang tergeletak di lantai. Madam Marisa masih tersentak kaget. Marvin yang tadinya sudah menuruni anak tangga, jadi kembali ke ruangan itu, setelah mendengar suara tembakan.
"Aku tidak sengaja menembakmu."
"Saya tahu."
"Redi, ayo pergi."
"Tunggu dulu. Aku harus memeriksa ke atas."
"Apa lagi yang kamu cari?"
"Bukti. Bukti yang akan membawa Madam Marisa ke penjara."
Marvin mendengar itu, ia mendekati Redi dan meraih kerah leher Redi.
"Apa maksud kamu?" Tatapan Marvin sudah bagaikan harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Lepaskan saya, Tuan Marvin." Tatapan Redi lebih kejam dari Marvin.
Perlahan, Marvin melepaskan kerah kemeja Redi, ia berkata "Pergilah. Kalian semua, sudah tidak sopan."
"Kami sudah sopan, tetapi Madam Marisa yang menghalangi."
"Kalian bukan polisi. Untuk apa berusaha menyeret Mamaku ke dalam penjara."
"Kami memang bukan polisi. Tapi, Madam Marisa, sudah punya rencana busuk. Silakan anda ke atap. Dua orang, telah menyiramkan bahan bakar dan akan membakar gedung ini. Mereka suruhan Madam Marisa."
"Jaga bicaramu."
"Periksalah sendiri."
Redi juga malas, ia mengamankan kembali senjatanya dan kedua pengawal dari Tim Charlie tetap bersamanya.
Sebelum pergi, Redi berkata "Tuan Marvin, anda tidak pantas mendekati Nona kami."
Redi menyunggingkan bibirnya. Pengawal ganteng ini. Sudah berkeluarga dan ia seusia Singa. Mungkin, keluarganya sudah menunggunya di rumah.
Sudah hampir jam 3 sore, El yang sudah di lobby mendapat pertolongan medis. Semua orang yang ada di lobby tampak menatap El.
Singa yang masih memegang tangan El, ia berkata "Nona El, ayo sadar. Saya mohon."
El sudah menerima oksigen dengan bantuan alat medis. Kedua teman El mengikuti Singa, dan tampak menemani El.
"Singa, lebih baik kamu ikuti Nonamu. Aku akan tetap disini." Ucap ketua Tim Alpha.
"Baik. Aku akan menamani Nonaku."
Salah satu teman El berkata kepada pengawal itu. "Pak. Ini tasnya El. Ponselnya dari tadi berbunyi."
"Terima kasih." Balas ketua Tim Alpha.
"El??" Dua teman cowok datang mendekat.
"El kenapa?" Tanya mereka.
"El terjebak di lift. Dia pingsan."
"Itu tadi siapanya El?"
"Mereka pengawal El."
"Di atas serem, ada suara tembakan."
"Benarkah?!" Mereka cemas, ia tadi juga melihat Madam Marisa dan pengawal El yang terlihat adu mulut. Mereka terlihat begitu sengit.
"Aku takut." Ucap, salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Lebih baik, kita ikuti pengawalnya El."
"Kamu benar."
Keempat teman El sudah mendekati ketua Tim Alpha dan mereka ingin ikut bersamanya. Namun, salah satu teman belum ditemukan.
Jelas saja belum ditemukan, ia ketakutan di ruang kerja.
"Kamu siapa?" Tanya pengawal dari tim Alpha.
"Bapak sendiri siapa?" Tanya balik.
"Aku pengawal ganteng." Jawabnya datar.
"Pak, ampun. Jangan tembak saya Pak."
"Kamu kenapa masih disini?"
"Saya takut keluar Pak. Tadi saya melihat ibuk tua main tembak-tembakan. Saya jadi ngumpet disini. Biar tidak kena tembak."
Pengawal itu tampak menggeleng, "Ayo cepat keluar. Aku akan mengawalmu sampai ke lobby."
"Pak, anterin saya pulang. Saya ingin pulang."
Pemuda gempal dan berperut buncit. Tampak rambut ikal dan berkulit hitam manis. Tampaknya, dia sudah ngompol di celana bahan, yang ia kenakan saat ini.
"Baik, saya akan mengantarmu sampai rumah. Ayo sana, berjalan di depan saya."
"Pak, jangan tembak saya."
"Tidak akan. Ini hanya untuk berjaga-jaga."
Teman El yang satu ini, memang unik. Wajah dan lehernya sudah terlihat basah karena keringat. Bagian bawah, basah karena ompol. Setelan jas warna hitam yang tadinya rapi, sekarang terlihat berantakan.
Sesampainya di lobby, teman-teman yang lain melihat si gempal.
Di kampus, Raja sudah mendapatkan berita ini. Raja berkata "Aku akan segera kesana."
Lionel yang berlari, tampak ngos-ngosan.
"Raja."
Raja yang sudah berwajah muram, ia menoleh ke arah Lionel.
"El ki-ta. El dalam bahaya." Ucap Lionel terbata-bata.
Ratu, Revan dan kedua temannya Ratu menoleh ke arah Lionel.
"Sayang, El kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Ratu, dan sudah memegang lengan tangan sang suami.
"El pingsan. Tadi, dia terjebak di lift." Jawab Raja, dan menutupi masalah sebenarnya.
Bara berdiri, "Pacarku juga bersama El. Apa yang terjadi? Apa pacarku terluka?"
Bara dari tadi juga sibuk dengan tugas kuliahnya, sampai lupa bertukar kabar dengan kekasihnya. Dia segera menekan nomor ponsel kekasihnya.
Revan bertanya "Memangnya, mereka tugas dimana?"
"Di kantor majalah Zii Ziie." Jawab Rere.
Ratu memandangi wajah Raja, ia berkata "Aku akan menemani kamu."
"Sayang, kamu disini saja. Aku sama Lionel harus pergi."
"Tapi, aku mencemaskan El."
Tangan Raja menyentuh pipi kanannya, "Pengawal akan menjaga kamu disini. Aku akan segera kembali."
"Berjanjilah padaku. Kalau kamu akan baik-baik saja."
"Iya, aku janji. Aku akan baik-baik saja."
Lionel yang cengeng, ia sudah menangis dan Raja meraih tangannya.
"Lionel, jangan menangis. Aku yakin, El akan segera sadar."
"Gimana kalau El sampai mati?"
"Hust! Kamu jangan bilang begitu."
"Tuan Muda. Mari ikut saya." Ucap pengawal pribadinya Raja.
Tim pengawal khusus perempuan, sudah mendekati sang Ratu dan mengamankan Nonanya.
"Nona Ratu, kami akan disini."
"Baik. Tapi, aku masih menyelesaikan tugas kuliahku."
"Silakan Nona Ratu menyelesaikannya, kami akan tetap disini."
Revan sebenarnya merasa risih, bila ada orang yang mengawasi kelompoknya. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau dia mengajak pergi Ratu, malah akan menggali masalah baru. Apalagi, dengan para pengawal perempuan ini.
__ADS_1
Lionel duduk di belakang dan Raja duduk di sebelah pengawalnya.
Sang pengawal mengendarai mobil sedan mewah. Raja melihat beberapa bukti bisnis hitam dari Perusahaan Madam Marisa.
"Apa semua ini, bisa menjatuhkannya?"
"Apa Tuan Muda masih menginginkan perusahaan itu?"
"Emh, tidak. Ini sangat memusingkan."
"Gedung kantor itu, hanya sebuah pengalihan kejahatannya."
"Meskipun pandai menyimpan abu kelamnya. Tapi, abu itu sudah tersebar."
Di rumah sakit, El telah mendapat perawatan. Singa tetap menemaninya. Kedua tangan Singa masih memegang tangannya El.
Meski belum membuka mata, nafas El sudah teratur. Bisa jadi, El sudah sadar. Namun, dia masih dalam ketakutan.
Singa bisa merasakan ketakutan El saat ini. Masih terasa telapak tangan El yang begitu dingin.
"Nona tidak perlu cemas. Saya tidak akan meninggalkan Nona sendirian."
Meskipun, El sosok yang nekatan, tapi kejadian ini membuatnya takut.
Kedua mata El yang masih terpejam, telah mengeluarkan air mata dari sudut kelopaknya.
"Nona sudah sadar?? Nona bisa mendengar saya?"
Singa masih terus menatap wajahnya, dan memegang tangan kanannya.
"Ma-ma."
Singa mendengar kata Mama.
"Mama??"
"Nona El, ini saya Singa."
"Mam-ma." Lirihnya jelas.
Singa sekali lagi, mendengar kata Mama.
Singa mengerti, ia mencium punggung tangan El. "Nona ingin bertemu Madam? Saya akan mengantar Nona kesana."
"Mamma." Panggilnya dan ia membuka kedua matanya.
"Nona sudah sadar."
"Mama." El jadi menangis dan wajah El terlihat begitu sendu.
"Baik, saya akan menemani Nona bertemu Madam Nada."
"Mama, aku hampir mati." Ucapnya El dan tangisannya jadi tersedu-sedu.
Singa mengerti akan hal ini, dia mendekat dan meraih El dalam pelukannya.
"Nona, saya yang salah. Saya minta maaf."
"Mama aku hampir mati disana."
"Nona El bisa menyalahkan saya."
El berucap dan tampak tersengal-sengal, "Singa, jangan tinggalin aku. Aku takut. Disana gelap. Disana pengap. Aku takut."
"Nona, maafkan saya. Saya janji, akan menjaga Nona. Saya tidak akan lalai."
El memeluk singa dan tangisannya semakin membuat sesak, sampai El terbatuk-batuk.
"Nona saya ambilan minum."
"Jangan pergi."
"Cuma mau ambil minum."
El, jadi mengangguk.
Di apartemen, seorang pria menawan melepaskan masker dan topinya.
"Aku lelah. Aku butuh juss."
"Om, ini jusnya. Special buat Om."
"Terima kasih sayangnya Om." Ia mencebikan bibirnya ke kanan dan menatap jus buatan keponakan tercinta.
"Apa ada obat tidurnya??"
"Zyan. Om Calvin sudah pulang. Gimana kalau dia tahu kamu disini??!"
"Cassandra, aku akan menunggunya sampai tertidur."
"Kalau tidak berhasil?"
__ADS_1
Hikks!