Permen Kapas

Permen Kapas
Tamparan Manis


__ADS_3

Lea yang berjalan dengan gaya yang begitulah, sesuai tingkah anehnya, ia berkata "Yuna, aku mau pulang."


"Lea. Tapi aku harus mampir ke A.J." Balas Yuna dan ia juga mengiringi langkah kali Lea.


Lea berkata lagi "Yunaku sayang, kamu tahu sendiri aku sudah menikah. Suamiku bisa mengawasiku, meskipun matanya jauh di seberang benua."


"Ya sudah. Aku akan mengantar kamu pulang ke hotel, nanti urusanku bisa belakangan." Pungkas Yuna dan mereka sudah menuju ke parkiran kampus.


Setibanya di parkiran kampus, Lea dan Yuna sudah menatap Zio and the genk, yang bersandar di sisi mobilnya Zio.


"Ada apa dengan mereka?"


"Sepertinya menunggu kamu."


Lea tetap berjalan dan tidak lagi mempedulikan mereka bertiga.


"Lea." Panggilan Tommy yang merdu.


Lea seketika menoleh ke arah Tommy, ia bertanya "Kenapa memanggilku?"


Tommy mendekat dengan senyuman aneh, ia berkata "Selamat atas keputusanmu."


Zio menggeleng dan Lea berkata "Owh. Kalian tetap ingin mengurusi hubungan aku dan Zio."


"Iya, aku dengar dari Zio, kamu sudah memilih pria lain. Aku turut senang akan hal itu, tapi aku merasa sedih sekali. Di dalam sini." Tommy menunjuk ke arah dadanya sendiri


"Sedih?" Tatapan Lea yang menohok sekali. Lea sepertinya tidak terima akan ucapan Tommy, yang seolah meledeknya.


"Iya. Zio sudah berpaling. Kamu juga punya pilihan lain. Berarti, tidak ada lagi couple imut yang menggemaskan di kampus. Aku turut berduka, atas hubungan kalian."


Yuna memegang tangan Lea, ia berbisik "Jangan ladeni dia."


"Aku heran, kenapa Zio bisa berteman dengan cowok tidak tahu adab?!"


Lea berkata "Tommy. Kamu juga bisa menabur mawar di kampus ini."


"Kamu mau itu?"


"Tommy. Aka akan menerimanya dengan penuh perasaan." Jawabnya.


Zio mendekat "Lea, pergilah."


"Kamu juga. Bisa-bisanya bergaul dengan mereka. Karena sahabatmu, aku semakin muak sama kamu."


Zio kali ini harus bersikap jantan, hanya demi Lea. Semuanya harus berakhir di depan mata Tommy dan Revan.


"Benar. Aku juga sudah muak sama kamu. Kamu pernah bertanya, aku memilih kamu atau mereka. Aku jelas akan memilih mereka berdua, sahabatku."


Lea yang semakin tidak senang akan ucapan Zio, ia sudah tampak menatap kesal. Yuna mengerti keadaan ini, hanya untuk memancing emosi Lea.


Yuna berkata "Zio, kamu tega sekali bicara begitu sama Lea."


Zio yang menatap tajam, ia berkata "Aku tega, siapa yang lebih tega menduakan aku. Aku atau dia? Perempuan yang selalu kamu dukung. Yuna, kamu juga hanya bayangan Lea."


Mendengar hal itu, Lea seakan tersulut api dan sudah membara. Revan juga sudah mendekat.


Yuna berkata "Zio, kamu sudah dibutakan oleh mereka berdua."


"Aku sudah dibutakan oleh mereka, terus kamu itu apa? Bayangan gelapnya?"


Plaaak!!

__ADS_1


Lea dengan keras menampar pipi kanan sang mantan kekasih imutnya. Tatapan dan raut wajah Lea sudah tampak sadis.


Yuna memegang tangan Lea, "Sayang, hentikan."


Zio memegang pipinya yang tertampar, ia tersenyum, "Akhirnya, kamu bisa menampar aku."


"Zio. Aku sudah memutuskan hubungan denganmu. Selamat tinggal." Ucap Lea dan ia berlari ke mobilnya. Yuna merasa kesal kepada dua teman Zio.


Setelah mobil Lea pergi dari tempat parkiran itu. Ketiga orang itu masih berada di situ.


Revan berkata "Wow, sadis."


Tommy bertanya "Perih nggak?"


"Tidak apa-apa."


"Rekamannya oke."


Zio masih mengelus-elus pipinya.


"Brother. Sekarang kamu benar-benar jomblo. Harus kita rayakan." Ujar Revan.


"Aku masih ada urusan lain." Balasan Zio dan dia tetap saja polos. Hanya saja, tadi itu mereka bertiga cuma akting. Demi nama Lea, dan status Lea. Tetapi, Zio tidak terus terang kepada sahabatnya.


Zio berkata "Aku pergi dulu. Besok aku traktir kalian berdua."


"Oke, siap." Balas kedua sohibnya


Di dalam mobil, Lea duduk bersandar dan rasanya begitu malas. Meskipun, dirinya mengerti, kalau Zio tidak berniat menjatuhkannya, tapi dia sangat kesal.


"Lea. Gimana, jadi pulang ke hotel?"


Lea yang melihat ke layar ponselnya dan akhirnya memadamkan poselnya.


"Lea sayang. Kamu kenapa kesal begitu? Bukannya, kamu sudah terbiasa ribut sama Zio?" Tanya Yuna.


"Aku kesal, karena tidak bisa pamer sama mereka semua. Seandainya saja, Mas Setya tidak pergi. Aku pasti bisa menunjukan suamiku, kepada semua orang." Jawab Lea.


"Tunjukin aja photo pernikahan kalian."


"Ya nggak begitu juga, Yunaku sayang." Cebiknya dengan suara gemas.


Yuna melajukan mobil itu dengan santai.


Lea masih membayangkan dirinya. Saat ia menikah. Lea sama sekali belum tidur dalam satu ruangan dengan suaminya. Pernikahan mereka itu, terjadi seminggu yang lalu.


"Lea, aku masih penasaran. Kenapa kamu bisa milih Setya? Bukannya kamu masih ragu. Waktu itu saja, pagi-pagi langsung ke rumah Zio."


"Aku juga tidak mengerti. Aku hanya berfikir, kalau keputusan Papa untuk menikahkan aku dengan Mas Setya, sudah tepat." Jawab Lea dan tidak mengaku.


Sebulan lalu, pikiran Lea hanya tertuju pada Zio, meskipun Zio merelakannya, Lea juga ingin melepaskannya.


"Dulu, Zio masih remaja. Sekarang, dia sudah dewasa. Aku ingin, masa-masa dia jomblo, dia bisa bersenang-senang dengan perempuan lain. Tapi, aku tetap cemas, dia mudah terpengaruh." Ucap Lea.


Yuna menoleh, ia berkata "Aku pernah bawa Zio ke hotel."


"Apa??"


"Setelah pertunangan kamu. Zio pergi ke club malam. Aku mengikutinya. Aku tidak tega. Aku jadi menemaninya di hotel. Tapi, aku nggak apa-apain dia. Sumpah." Ekspresi Yuna yang datar.


"Owh, bagus kalau begitu. Kamu saja yang jadi kekasihnya. Aku langsung merestui hubungan kalian berdua."

__ADS_1


"Mana bisa begitu. Aku tetap suka Kevin yang galak. Meski pacarku galak, tapi aku menyukainya." Yuna yang senyam-senyum nakal.


"Eithz, apa kalian sudah?!"


"Tidak. Mana mungkin kita begitu." Balasnya dengan suara cepat.


Lea tersenyum, ia berkata "Kalau bang kevin begituin kamu. Aku akan seret kalian ke penghulu."


Yuna tersenyum getir, jadi mengalihkan pembahasan, "Lea, apa kita carikan saja, cewek yang sesuai tipenya Zio?"


"Jangan!"


"Kenapa? Kamu cemburu?"


Lea dengan wajah senang, berkata "Yunaku sayang. Aku tidak mau lagi mengatur kehidupan Zio, apalagi soal kekasih. Aku sudah bersuami. Mas Setya posesif. Apa jadinya aku? Kalau dia sampai tahu, aku masih mengurus asmaranya Zio. Bisa-bisa dia langsung meluncur di hadapanku."


"Bagus dong. Jadinya kamu nggak nganggur lagi. Ada yang harus kamu urusin. Apalagi, urusan ranjang."


Lea menutup kedua telinganya, "Stop!! Jangan godain aku soal itu."


Yuna semakin gemas, ia mencolek pinggang Lea. "Ciee, heem...gimana kalau nantinya pulang. Uuuwuh, aku siap-siap ditendang keluar kamar."


Lea berkata "Aku tetap maunya sama kamu. Aku lagi mikirin ini. Nanti gimana aku bisa mengurus kesehariannya. Aku melihat Mbak Nada yang sekarang. Aku semakin gelisah. Aku mana bisa seperti Mbak Nada. Semua keperluanku saja, kamu yang selalu nyiapin."


"Benar juga. Kalau begitu, kita harus berpisah sementara waktu. Kamu bisa latihan, biar nantinya nggak kaget."


"Kamu ini. Bilang aja mau berduaan sama Bang Kevin. Awas saja ya, kalau nantinya kamu tinggal sendirian, aku nggak mau kamu mengundang Bang Kevin ke rumahmu." Ujar Lea.


Yuna berkata "Disini, aku mana ada rumah. Nantinya, kamu yang pergi ke rumah Setya. Aku akan tetap di hotel."


"Aaaa, Yuna. Jangan bilang begitu. Aku takut tinggal di rumah sana."


"Hororr, kikiik kiik kiik." Yuna yang menggoda.


Rumah yang dimaksud adalah rumah lama Setya dengan sang Bunda.


Sebelum Setya memutuskan untuk datang ke restoran malam perjodohan itu. Setya membuat kesepakatan dengan ayahnya. Setya mau datang ke perjodohan, kalau rumah Bundanya dikembalikan lagi. Akhirnya, rumah itu dibeli lagi oleh Presdir Hendri dan langsung atas nama Setya Yuda Wardhana.


Setibanya di A.J. Lea yang sangat malas, tapi apa boleh buat. Demi Yuna, ia juga harus melihat sendiri, sejauh mana hubungan Yuna dengan Kevin.


"Bang Kevin." Begitu datang langsung saja masuk, tanpa mengetuk pintu. Itu sudah terbiasa ia lakukan.


Kebetulan sekali, ada Micheel yang berduan dengan Kevin.


Yuna bisa melihat sendiri, kedua orang itu tampak duduk berdekatan di sofa.


"Oops, sorry. Sepertinya, aku menganggu."


Kevin dengan santai membenahi jasnya, dan secepat mungkin mendekati Lea.


"Lea. Kamu tidak mengganggu aku."


Micheel menatap wajah Lea, ia seperti pernah melihat dan ia berusaha untuk mengingat "Dia, yang bersama Setya."


"Bang Kevin. Bisa kita bicara berdua saja." Ucap Lea dengan tengil. Tapi dari sorot mata Lea. Kevin sangat tahu, kalau Lea akan memarahinya.


"Oke." Kevin lantas mengajak Lea pergi, dari ruang kerjanya.


Micheel, tetap saja duduk di sofa.


__ADS_1


__ADS_2