
Sore hari, di sebuah daerah selatan Ibukota. Mobil Setya terparkir di sebuah mini market. Lea yang menunggu suaminya, yang tampak membeli minuman di mini market.
Setya yang telah kembali, ia berkata "Sayang, ayo turun."
"Heems?"
"Katanya mau ikut ke kost."
"Owh, kostnya Mas Setya disini?" Tanya Lea, yang melihat sekitar tempat itu.
Di kelilingi bangunan ruko dan juga mini market. Begitu luas parkiran itu dan Setya tampak mengenal penjaga parkir.
Lea turun dari mobil, setelah Setya mematikan mesin mobilnya. Lea tampak menjijing tas mukena warna putih, telihat bordiran bunga-bunga.
"Sayang, ayo." Setya menggandeng tangan Lea.
"Mas Setya kalau kerja ke hotel naik apa?" Tanya Lea, setelah mereka berjalan di gang sebelah mini market.
Gang kecil yang hanya bisa dilewati motor dan padat akan bangunan sewaan, seperti kontrakan.
Ternyata kost khusus putra itu. Tidak jauh dari mini market yang tadi. Jarak dari jalan raya, ke kost hanya sekitar 100 meter.
Kost putra yang terlihat bangunan dua lantai, dengan cat tembok warna abu-abu muda. Ada pintu pagar besi minimalis, papan tulisan kos-kosan putra Arjuna.
Sama persisnya, dengan nama Papanya Lea. Eitz, karena kost ini masuk jalan Gang Arjuna. Makanya, kos-kosan itu juga diberi nama kost putra Arjuna.
"Ini ada nama Papa." Tengilnya.
"Iya." Setya tersenyum dan Lea jalan masuk ke dalam.
Setya masih menggandeng Lea. Istrinya ini, tidak seheboh biasanya. Cukup alim dan menurut saja, akan perlakuan sang suami tampannya itu.
Biaya bulan di kost ini sekitar 800-2000. Tergantung biaya penggunaan alat elektronik dan semacamnya. Kalau tidak pakai AC dan apa adanya, hanya merogoh kocek sekitar 800 ribu.
Kost ini sangat bersih dan nyaman. Apalagi di wilayah kota dan dekat gedung perkantoran.
Harga dan kualitas bersaing. Eh jadi seperti beli barang saja. Maksudnya, kost ini termasuk murah, dibandingkan yang lainnya dan untuk Setya tidak dipungut biaya. Karena sang pemilik adalah orang tua, sahabatnya. Setya hanya bertugas mengawasi para penghuni kost.
"Lumayan rapi." Batin Lea dan kamar Setya itu ada di lantai dua.
Ada 12 kamar dan semuanya sudah dipenuhi oleh penghuni kamar. Mereka, para cowok, hampir seusia Setya, ada yang bekerja di kantor, hotel dan ada pula yang tampak menganggur.
"Mas Setya aku mau sholat dulu."
"Kamar mandinya disana." Setya yang menunjuk ke arah kamar mandi dalam.
Ruangan kamar 3×3 dan di dalamnya hanya ada kasur ukuran single. Itupun, hanya kasur saja, tidak ada ranjang.
Setya tampak merapikan meja. Ternyata, ada bekas sisa makanan. Membuat aroma kamar tidak sedap. Soalnya, sering dipakai rebahan sama Riko dan ingin ngadem santuy.
"Kenapa aku bisa bawa Lea kemari?" Batin Setya.
Pikiran Setya saat ini, hanya ingin mengajak istrinya kemanapun ia pergi. Agar tidak lagi, terjadi seperti kejadian kemarin.
Setya di seberang benua baru saja menikmati makan malam, dan bertanya kepada Zio, tentang keadaan Lea selama di kampus. Zio mengatakan, kalau Lea sudah disamperin sang mantan.
Setya tidak pikir panjang, langsung pulang dan ingin bersama istrinya.
Mungkin, orang berfikir kalau Setya itu sosok cemburuan akut. Tapi, Setya juga memikirkan lawannya Lea. Apa saja yang Lea sering lakukan, Papa Arjuna sudah pernah cerita sama Setya. Contohnya pagi tadi, lengan tangan Setya sampai dipelintir, seperti memeras cucian baju.
Bisa jadi, Setya sudah menaruh hati pada Lea. Setelah mereka saling kenal satu sama lain, dan Lea mau menerima keadaannya.
__ADS_1
20 menit kemudian.
Setelah selesai sholat ashar, Lea hanya sibuk telephone Yuna di teras kamar dan sudah ada yang melihatnya.
"Mas Setya. Apa semua ini akan dibawa pulang?" Lea yang melihat dua box kontainer dan satu tas ransel.
"Tidak."
"Terus, itu yang di dalam box apaan?" Tanya Lea.
"Itu semua barang-barangku. Sepatu, alat masak, sama PS 5. Tapi, nanti mau dipakai sama Riko." Jawab Setya.
"Mas, ini dibawa tidak?" Tanya Lea, yang memegang gitar.
"Itu punya anak kost."
Lea yang tampak tersenyum dan Setya beranjak untuk sholat. Lea perlahan jadi rebahan manja di kasur.
"Lumayan empuk." Gumam Lea.
Setelah selesai sholat, Setya turut berbaring, tapi hanya bagian kepalanya yang bersandar kasur.
"Mas Setya, disini enak. Aku jadi ngantuk."
"Jangan tidur disini. Kita bisa digrebek anak-anak kost."
"Aku istrimu. Kenapa takut?"
"Bukannya takut. Mereka tidak tahu, kalau aku sudah menikah."
"Aku ngantuk, mau bobok." Ucap Lea dan memeluk erat, guling empuk bau keringat.
Bisa jadi, itu bau keringat Riko. Tetapi, Lea sudah PW. Lea itu, kalau di tempat menantang malah nyaman. Baginya, kos-kosan khusus putra ini, adalah tempat terlarang bagi para cewek.
Setya menoleh ke atas, ternyata istrinya beneran sudah tertidur pulas.
"Apa yang harus aku katakan sama Jonathan? Grup Alumni bakalan ramai, kalau mereka tahu aku putus dari Micheel." Batin Setya.
Setya mencari tangan Lea dan memegangnya. Perlahan ia memejamkan mata.
Haish, bilangnya jangan tidur disini. Eh, malah ikutan tidur pulas.
Setya tidak banyak cerita tentang pribadinya. Bahkan, sudah beberapa bulan tinggal di kost ini.
Hampir setiap hari, Setya berkumpul dengan para penghuni lain. Tetapi, ia masih tertutup, tidak banyak cerita tentang keluarganya, apalagi soal romansa pribadinya.
Sahabatnya Setya, putra sang pemilik kost. Namanya Jonathan, ia masih kuliah di negeri singa dan belum kembali. Setya juga tidak berkata banyak padanya.
Setya hanya mengatakan, kalau sedang ribut dengan kedua orang tuanya, demi sang pacar.
"Setya udah balik lagi." Riko yang datang dengan wajah begitu senang. Setibanya di parkiran motor, ada teman yang sudah di dekat motor gantengnya.
"Rik. Setya balik. Dia bawa cewek ke kamar." Ucapnya ngeselin.
"Mana mungkin. Aku tahu, Setya nggak punya cewek." Balas Riko, sambil melepas helm.
"Coba saja lihat sendiri, jendelanya juga terbuka."
"Bentar. Rambutku masih lepek." Riko yang memang begitu adanya. Menjaga penampilan luar itu sangat penting.
Menatap spion motornya dan rambut itu jadi klimis dan rapi. Anehnya, tapi Riko lebih suka tidur di tempat istirahat para pegawai The Queen's Hotel.
__ADS_1
Sekarang pulang ke kost, karena Setya yang menghubungi agar segera datang. Untuk mengambil barang-barang, yang Setya siapkan untuknya.
"Guanteng"
Teman kostnya Riko tadi, sudah terbiasa melihat kepercayaan diri Riko.
Setelah tiba di depan kamar Setya, Riko mengintip dari celah jendela.
"Buseet dah. Tidurnya pelukan." Riko tidak melihat wajah si perempuan. Soalnya, Lea menghadap ke tembok dan tampak memeluk guling. Setya, saat ini memeluk istrinya dari belakang, membuat Riko terheran.
"Sekalinya bawa cewek. Malah tidur pelukan. Gila bener Setya. Nanti kalau ketahuan Bu kost, bisa di arak itu." Gumam Riko.
Riko antara berani dan tidak, tapi ia memikirkan Setya kalau sampai di grebek oleh Bu Kost. Soalnya, pernah ada kasus dari penghuni kost, yang nekat membawa gadis bermalam di kamar.
Tok tok tok tok.
Setya terbangun dan ia tahu kalau itu pasti Riko. Tapi, Lea sudah terbiasa begitu, soalnya kebiasan di hotel. Kalau ada orang datang, seringnya Yuna yang menyambutnya.
"Rik, kamu sudah datang." Setya yang masih ngantuk.
Riko menarik tangan Setya, sampai ke sisi depan kamar lainnya. "Setya, kamu nekat bawa pacar kamu kemari."
"Owh, itu. Aku cuma packing. Itu semua yang box, buat kamu. Aku juga akan pergi dari sini." Ucap Setya.
"Kamu mau pindah?"
"Iya. Aku sudah menikah. Makanya, aku kembali ke rumah ke orang tuaku."
"Jadi, cewek yang tidur itu? Istri kamu?!" Tanya Riko penasaran.
"Iya, dia istriku." Jawab Setya.
Riko jadi tersenyum aneh, ia berkata "Ya sudah, keluarin boxnya. Aku disini saja. Takut ganggu."
"Oke."
Setya kembali kamar dan mendorong kontainer box ukuran 150 dan 75, ke arah depan pintu.
"Ini semua buat aku??" Tanya Riko dan ia sudah memegang box ukuran besar.
"Iya. Itu, masih ada PS5 dan lainnya."
"Serius, PS5nya buat aku juga?"
Setya tampak mengangguk dan ia kembali ke masuk, lalu mengeluarkan kontainer box ukuran 75 itu.
Riko yang merasa senang sekali, ia berkata "Thank's brother."
"Jangan lupa, dipelihara sebaik mungkin. Dibersihin, jangan jorok."
"Owh, soal itu. Gampang."
"Gampang apanya, kamarku bau mie instan." Tatapan Setya yang seolah menasehatinya.
"Sorry, kemarin aku dapat panggilan penting dari hotel. Jadinya, nggak keburu beresin."
Panggilan penting itu, dari Yuna.
Riko menarik bahu Setya, ia berbisik "Setya, apa kamu sudah menghamili pacarmu?"
"Aku belum menghamilinya."
__ADS_1