Permen Kapas

Permen Kapas
Belum Terbiasa


__ADS_3

Siang hari dengan langit cerah benderang.


Seorang istri yang masih asyik berdendang.


Melihat suami sudah digoda bintang terang.


Perasaan manis berubah dan siap berperang.


"Sayang


Opo kowe krungu


Jerit e ati ku


Mengharap engkau kembali


Sayang


Nganti memutih rambut ku


Ra bakal luntur tresno ku"


Padahal lagi asyik-asyiknya berduaan sama Papa, di tempat karaoke. Eh, dapat kiriman dari Kevin.


Treett trreeet..


Lea masih asyik menyanyikan lagu yang berjudul, SAYANG lagunya Via Vallen.


"Kevin" Papa Arjuna sekilas melihat ke layar ponsel putrinya dan tertera nama Kevin.


"Sayang" Suara Lea bak biduan dari pantura.


Papa Arjuna turut asyik di sofa. Baru kali ini, kencan berduaan dengan putrinya dan ternyata Lea mengajak Papanya jalan-jalan ke Mall milik Mamanya sendiri.


"Papa, gimana? Mau nyanyi lagi?" Tanya Lea.


Anak perempuan yang menggemaskan. Ternyata sudah dewasa, bahkan sudah bersuami.


Papanya, merasa senang dan masih ingin berlama-lama di tempat ini. Sayangnya, Lea membuka pesan dari ponsel canggihnya.


"Emh, Mas Setya di A. J." Gumam Lea.


Tangan kirinya masih memegang mic dan perlahan duduk di sofa. Lea masih memperhatikan fotonya. Ada Micheel juga di ruangan itu.


Lea menoleh ke sang Papa "Papa ingin suamiku turut andil, seperti Bang Kevin."


"Papa hanya menyuruhnya bekerja." Balas sang Papa dan terlihat santai.


Duduk bersilang kaki dan senyuman menawan tersemat di wajah tampan sang Papa. Lea bisa melihat arti dari senyuman itu.


Lea jadi berdecak kesal, ia berkata "Aku tahu, aku paham. Tapi, Mas Setya tidak seperti Papa. Papa bisa saja dekat dengan banyak perempuan, tapi Papa sangat mencintai Mama. Kalau Mas Setya. Dia masih memikirkan mantannya."


Papa merangkul bahunya, kemudian bertanya dengan santai "Apa Setya berani??"


"Mana aku tahu. Yang jelas, aku bisa cemburu." Ketusnya Lea.


Lea tanpa membalas pesan dari Kevin. Malah mematikan ponselnya. Lea yang terlihat kesal dan tampak bersedekap.


Lea yang duduk bersandar, sudah tampak cemberut. Ia berkata "Aku tidak seperti Mama. Yang bisa mencintai Papa sepenuh hati."


"Papa tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Papa hanya ingin, kamu bersikap dewasa." Papa Arjuna mengelus rambut putrinya dengan rasa sayang.


Lea memang sangat berbeda dengan Nada. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah percintaan. Pastinya, tidak akan semudah merayu Nada.


"Kalau suami kamu sudah terbiasa bertemu mantannya dan hanya menangani masalah pekerjaannya. Setya pasti akan melupakan isi hatinya. Dengan begitu, tidak akan menyimpan luka dan kenangan manis di dalam hatinya.


Papa Arjuna hanya memberikan nasehat kepada putrinya. Tidak akan mudah menasehati putrinya ini. Setya juga harus bekerja. Nantinya, juga akan ada banyak perempuan yang selalu ada di setiap pertemuan pentingnya.


"Tapi aku bukan Mbak Nada. Aku juga bukan Mama." Ucap Lea, yang masih kesal pada Papanya.


Tadi masalah kehamilan Yuna dan sekarang tentang sang suami.

__ADS_1


Papa bertanya "Apa mau kamu?"


"Aku tidak mau apa-apa." Balas Lea yang masih sewot.


"Apa kamu mau, Setya menganggur dan hanya menemani keseharian kamu?"


"Tidak juga, aku hanya belum terbiasa."


Papa Arjuna memeluk putrinya dan mengelus rambutnya "Papa hanya ingin, kamu bersikap dewasa. Begitu juga dengan Setya. Dia harus bisa memilah antara bisnis dan masalah pribadinya. Kelak, kalau Papa sudah tiada, siapa yang akan menjaga kamu, kalau bukan suami kamu."


"Papa jangan bilang begitu. Aku nggak suka." Perlahan, luruh sudah air matanya.


Lea memang terkadang sesuka hati, tapi dia mempunyai cinta yang tulus untuk kedua orang tuanya. Air mata cinta, dengan segenap perasaan untuk Papanya.


"Aku sayang Papa. Aku akan selalu ingat nasehat Papa." Ucapnya dan masih terus menangis.


"Papa sangat menyayangi kamu. Papa juga ingin melihat kamu bahagia." Sang Papa juga turut larut dalam perasaan untuk putrinya tercinta.


Benar ucapan istrinya, dulu sewaktu Papa Arjuna masih muda. Papa Arjuna yang takut kepada Bundanya dan istrinya. Nantinya, akan lebih takut kepada putrinya.


Mama Beby pernah berkata "Aku akan memberikanmu putri lagi. Biar kamu selalu takut sama putrimu dan tidak akan genit dengan perempuan lain."


"Aku maunya anak laki-laki, biar aku ngerasain jadi Bunda. Seperti aku, anak laki-laki yang sesuka hatiku, sampai aku jadi aktor. Kalau anakku mau jadi aktor, aku tidak akan menghalanginya seperti Bunda."


"Belum puas kamu menciumi banyak perempuan sampai kamu ingin anakmu menjadi aktor. Baik! Semoga perkataan kamu menjadi do'a." Balasnya Mama Beby waktu itu.


Ternyata, yang lahir anak perempuan lagi dan sikapnya seperti anak laki-laki. Lebih membangkang dari Arjuna muda. Lebih nekatan dari Arjuna muda. Suka melawan perkataan seperti Beby muda.


"Papa jangan menangis." Ucap Lea.


Perlahan menyeka air matanya sendiri, Lea berkata "Papa selalu nggak sabaran. Sampai ingin mati duluan."


"Siapa yang ingin mati duluan?"


"Itu, tadi, barusan. Papa bilang kalau kelak Papa sudah tiada."


"Kelak ya kelak, masih lama, nggak sekarang. Papa ingin panjang umur, Papa ingin menjaga kamu dan cucu Papa sampai mereka dewasa nanti." Ucapnya yang menjelaskan.


"Ini anak, malah ngelawan orang tua."


"Memang aku begini. Papa juga yang ngajari aku." Balasnya dan semakin gemas.


Papa tersenyum "Kamu memang seperti Mama kamu."


"Memangnya, Mama begini?"


"Dulu, sewaktu muda. Mama kamu selalu melawan ucapan orang tua. Sampai Eyang kamu menyerahkan sama Papa. Eyang bilang, Papa harus sabar bila menghadapi Mama kamu."


"Terus, buktiinnya gimana? Papa bisa sabar?" Tanya Lea dan berkedip-kedip matanya.


"Papa selalu nekat, Papa nggak bisa sabar. Tapi, kalau Mama kamu sudah bla-bla-bla, Papa cuma dengerin saja. Biar dia puas bawelnya." Jawabnya santai.


"Papa, aku akan berusaha semampu aku. Aku tidak akan memarahi Mas Setya dan aku akan menerima semua perasaan aku dengan segenap cinta. Aku ingin seperti Mama, tidak peduli orang bilang apa. Aku akan tetap mencintainya."


"Bagus. Papa akan selalu mendukung kamu." Ucap Papanya dengan senang.


Lea akhirnya mengantar Papanya kembali ke A. J. Sekalian menjemput sang suami tercinta.


Sudah jam 4 sore, Lea tiba-tiba nongol di depan suaminya.


Setya yang baru keluar dari pintu utama A. J dan Lea berdiri di samping mobilnya.


"Sayang." Panggilan Setya.


"Mas Setya." Lea melambaikan tangannya.


Kevin cemberut gemas dan merasa gagal, saat melihat respon Lea.


Pengawal tidak mengikuti Setya yang berjalan menghampiri istrinya. Papa Arjuna sudah masuk ke kantor A.J lewat pintu gedung sebelahnya.


Lea merentangkan kedua tangannya. Setya semakin mendekat dan segera memeluknya.

__ADS_1


"Aku kangen sama kamu." Ucap Setya.


"Hem, bo'ong," Balas istrinya gemas.


"Beneran. Aku kangen."


Dari sisi gedung sebelah, tempat para bintang berkumpul. Mereka melihat Tuan Muda yang memeluk perempuan.


"Salsa, dia istrinya Kakak kamu?"


Micheel juga melihat dari ruangan khususnya. "Allea putrinya Mr. Arjuna?? Mereka semua penanam modal utama??"


"Salsa, itu beneran istrinya Abangmu?"


Salsa mendekati temannya dan melihat dari jendela kaca. Salsa berkata "Iya. Dia istrinya Mas Setya."


"Wah, aku pikir tadi bercanda. Ternyata beneran."


"Mas Setya sudah menikah. Dua bulan yang lalu." Balas Salsa, kemudian berjalan pergi.


Kemesraan yang berpayungkan awan. Tidak peduli di tempat mana mereka bertemu. Lea dan Setya masih sempat berciuman dengan manisnya.


Emmh!


"OMG." Dia yang melihatnya dan di ruangan sebelahnya, ada sang mantan yang masih menatap mereka.


Kevin menyuruh pengawal Setya pergi dan ia kembali masuk ke ruangan.


"Mentang-mentang tempat ini miliknya. Menganggap dunia ini hanya miliknya." Kevin jadi menggerutu gemas.


Lea berkata "Aku juga kangen."


Lea siap menjadi sopir cantiknya dan sang suami merasa termanjakan.


Micheel sudah panas dingin di ruangannya dan masih menatap mereka.


Yuk, beralih ke Yuna yang berada di kantor I.A.


"Mrs. Yuna, sudah ada yang menjemput anda." Ucap Jejen.


"Siapa?" Tanya Yuna dan masih fokus pada layar komputernya. Bermain game.


Jejen menjawab "Suami anda."


Yuna bisa saja secepat kilat keluar kantor, tapi masih asyik bermain game.


"Bilangin sama Zio, tunggu 1 jam."


Tuing!


"Owh, namanya Zio." Batin Jejen. Dia lanjut berkata "Baik Mrs. Yuna."


Zio tahu kalau Yuna tidak ada hal yang penting, dia menyusul ke ruangannya.


"Silakan Tuan. Di dalam sana. Mrs. Yuna bekerja keras."


"Baik, terima kasih."


Tanpa mengetuk pintu, Zio membuka pintu, "Yunaku sayang."


Jejen yang masih disitu, bisa melihat ekspresi uangkapan mesra dari Zio.


"Uu, masih muda, tampan, gemesin, mana mobilnya keren banget. Anak orang kaya ketemunya sama orang kaya." Batin Jejen.


Pemaksaan pulang bersama, telah terjadi. Setibanya di mobil, Zio memperhatikannya.


"Yunaku sayang." Zio memakaikan sabuk pengaman dan mengatur duduknya.


Yuna terlihat sebal, "Aku tidak hamil, buat apa kamu peduli."


Dari kursi belakang, "Tidak hamil??!"

__ADS_1


__ADS_2