Permen Kapas

Permen Kapas
Pabrik Permen


__ADS_3

Permen kapas buatan Lea, ternyata sudah mengeras dan menjadi permen manis, yang disukai suami tampannya.


Lea yang masih menatap Riko dan yang lainnya. Menoleh ke arah sang suami yang telah memanggilnya.


"Sayang, mana permennya?" Tanya Setya, yang telah duduk bersandar.


Lea mendekat dan mereka empat orang terkait permen kapas itu. Masih tampak menatap wajah Setya.


"Mas Setya, permen yang kamu maksud itu? Kaya begini bukan?" Tanya Lea dan ia mengambil dari permen sisa yang ada di dalam tasnya. Beberapa hari lalu, Lea uji rasa baru dan membagikan kepada Riko, ternyata Riko tidak suka akan rasanya. Yang menurut lidah Riko, itu rasanya aneh sekali. Bukan cuma manis, ada rasa asam pedas.


"Kamu sudah membelinya? Dimana belinya?" Tanya Setya. Segera meraih permen kapas mini yang sudah mengeras.


"Ini aku buat sendiri. Itu Bang Riko. Biang keladinya." Jawab istrinya.


Lea menunjuk Riko dengan jari telunjuknya. Perlahan Setya menoleh ke wajah Riko.


"Nona Allea, aku sudah menjelaskan. Aku tidak meracuni Setya. Mana mungkin, aku sekejam itu kepada sahabatku sendiri." Riko membela dirinya dari tuduhan.


"Aku tidak bilang meracuni. Suamiku, memang menginginkan permen pemberian Kevin. Yang bermula dari Bang Riko."


"Itu dari Micheel bukan aku." Ucap Kevin yang membela diri.


Micheel menoleh ke Kevin "Hei, bos! Aku juga dapat dari OB kamu ini. Aku bukan tersangka utama. Jangan lagi menuduhku."


Sony berkata "Riko, ini gara-gara kamu. Aku jadi terseret kemari. Mana aku sedang ada kencan. Pasti pacarku nungguin aku."


Riko membalasnya, "Yang meracuni Setya, itu istrinya sendiri. Bukan kita."


Lea tersenyum, dan kembali menghadap mereka berempat. Lea perlahan sudah membungkukkan badannya.


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menuduh kalian."


"Nona Allea, saya juga minta maaf. Saya memang sudah tidak doyan permen itu. Jangan libatkan saya lagi, untuk mencicipi permen kapas buatan anda." Balas Riko.


Lea menatap Riko, "Aku tidak akan lagi memberikan permenku sama Bang Riko. Soalnya, suamiku menyukainya. Aku akan membuatkan khusus untuknya."


Semua menatap Setya, yang tampak menikmati permen itu. Setya seakan sudah melayang di udara dan memeluk hangat permen kapasnya Lea.


"Jadi, kita tidak bersalah?" Tanya Kevin, untuk memastikan nasibnya sendiri.


Lea menjawab "Tidak. Aku tidak menyalahkan kalian. Suamiku sakit karena mengidam. Dia ingin permen yang Bang Kevin kasih, katanya dari Micheel. Ya seperti itu kejadiannya."


"Ngidam?" Tanya Micheel yang penasaran.


Lea menjawab "Iya, aku hamil. Tapi, Mas Setya yang mengidam."


Riko berkacak pinggang dan berkata "Brother. Kamu bisa kena diabetes."


Lea dengan spontan menendang kakinya.


"Nona Allea, saya berkata benar."


"Suamiku rendah gula. Biarkan saja dia begitu, lagian demi bayiku." Lea jadi mengelus perutnya sendiri.


Sony mendekat ke arah Setya "Setya, selamat. Atas kehamilan istrimu."


"Kak Sony, aku disini. Aku yang hamil. Kenapa ngucapinnya sama Mas Setya?" Lea tidak terima.


Lalu, mereka bertiga juga berjalan ke arah Setya. Mereka secara bergantian. Memberikan ucapan selamat mengidam.

__ADS_1


"Selamat mengidam 9 bulan." Ucap Micheel.


"Terima kasih." Balas Setya.


Kevin yang berdiri di sebelah Micheel, ia berkata "Selamat menjadi Bapak. Semoga cepat menular ke aku."


"Memangnya Bos punya istri?" Tanya Micheel. Dengan lirikan mata yang cantik dan sangat penasaran.


"Belum sih, aku baru nyari."


Riko berkata "Setya, selamat atas keberhasilanmu yang tokcer. Aku turut senang mendengarnya. Aku akan buatin rujak mangga muda."


Setya membalasnya, "Aku tidak mau rujak mangga. Aku cuma mau permen ini."


Lea mendekat ia berkata "Aku akan buatkan pabriknya. Biar Bang Riko dan Kak Sony yang mengurusnya."


"Kita?? Maksud Nona Allea? Aku disuruh mengurus pabrik permen?" Tanya Riko yang sudah terheran.


Lea dengan santai berkata "Iya, pabrik permen ini. Aku mana bisa membuat sendiri. Aku akan buatkan pabriknya. Bang Riko dan Kak Sony yang mengurus pabrikku?"


"Tidak, aku tidak mau." Jawab Riko.


"Beneran, Bang Riko tidak mau jadi pimpinan pabrik permen??"


Sony menepuk bahu Riko, "Sadarlah. Jangan melamun, nanti kamu kesurupan."


"Oh, oke. Aku mau jadi bosnya. Dimana pabriknya?" Tanya Riko. Tatapan Riko sudah antusias dan berharap ini bukan mimpi tidurnya.


"Besok, aku hubungi Bang Riko, untuk membahas lebih detailnya." Jawab Lea dengan manis sekali.


"Nona Allea, apa ini serius?" Tanya Riko, yang memastikan lagi. Kalau dirinya tidak akan dibohongi dan ini memang nyata adanya.


"Iya Bang Riko. Aku serius. Demi Mas Setya dan bayi dalam kandunganku ini. Aku akan mendirikan pabrik permen kapas." Jawab Lea.


Micheel menoleh ke sisih Lea dan Riko yang tampak mengobrol, Micheel jadi membatin "Allea memang tidak seperti Aku. Setya sepertinya memang sangat mencintai istrinya."


Kevin berkata kepada Setya, "Semoga kita bisa menjadi besan."


"Apa maksud kamu? Memangnya kamu mau punya anak?" Setya menatapnya aneh.


Kevin tersenyum, dan berkata "Nanti kalau aku sudah menikah. Pasti, aku akan punya anak. Kita bisa menjodohkan anakmu dengan anakku."


"Enak saja. Nggak ada perjodohan." Balasnya terdengar sensi saat membalasnya.


Lea menyela "Mas Setya sayang, nggak perlu meladeni Bang Kevin. Dia itu, lagi kebelet kawin. Makanya, omongannya jadi ngalor ngidul."


"Siapa bilang kebelet kawin." Balas Kevin yang tidak terima.


Micheel ikut menyela obrolan "Allea, kamu benar. Tadi saja, aku dimobil sama Kevin. Aku diajak nikah."


"Kapan bilangnya?" Tanya Kevin, dengan tatapan membantah perkataan Micheel itu.


"Tadi bilang begitu. Emh, mungkin karena Bos Kevin di depan Setya dan Allea. Bos jadi takut??" Micheel yang semakin menggoda.


"Tidak, aku tidak takut." Jawabnya.


Lea berkata "Bang Kevin, itu udah ada kode penerimaan. Sana buruan ke KUA."


Setya tersenyum, ia berkata "Meski kamu menikah dengan Micheel. Aku tidak mau berbesanan sama kamu."

__ADS_1


"Kenapa? Aku jadi dibawa-bawa?" Tanya Micheel.


Setya menjawab "Hanya saja, aku tidak berniat menjodohkan anak-anakku."


Lea merangkul lengan tangan suaminya, berkata "Mas Setya, sudah dong. Bang Kevin mulutnya emang emmmber."


Kevin berkata "Aku beneran, aku mau besanan sama Setya."


"Sana, sama Zio dan Yuna. Aku nggak mau besanan sama kamu."


"Jujur saja, aku iri sama kamu. Kamu bisa jadi suami Lea. Aku sampai kaget. Makanya, aku ingin kita besanan. Aku akan segera mencari istri dan menikah. Nanti, anakmu dan anakku. Kita bisa jodohin. Lea, gimana?"


Setya berkata "Sayang, jangan mau."


Lea menjawab "Anakku, punya pilihan sendiri. Meski aku dijodohin. Tapi, Mas Setya pilihanku sendiri."


"Heems, bilangnya begitu. Aku tetap mau anak kita di jodohin. Aku akan bilang sama Papa kamu."


"Bang Kevin, itu namanya memaksa kehendak. Kawin aja belum. Yakin banget kalau punya anak."


Setya mengelus perut istrinya "Ini anakku nanti malah nangis. Belum lahir malah dijodoh-jodohin."


"Oke, aku pulang dulu. Dada anak menantu Om. Nanti, kalau sudah lahir. Om akan siapkan jodohmu ya."


"Om gila." Desis Micheel.


Kevin menarik tangan Micheel, "Gila-gila begini, kamu nanti tergila-gila."


Lea tersenyum dan Setya berkata "Sana pergi, aku mau istirahat."


"Waah, ngusir. Tadi ada maunya, sampai pengawal nyeret kita kesini." Ucap Kevin dan yang lain juga menatap ke wajah Setya.


Riko tersenyum, ia berkata "Silakan, Tuan Muda istirahat. Saya juga masih ada pekerjaan di hotel."


Sony mendekat "Setya, semangat. Cepat pulihkan tenaga kamu. Aku juga mau pergi, masih ada janji sama pacarku. Aku pamit dulu."


"Iya, terima kasih. Aku sudah merepotkan kalian semua." Ucap Setya.


Disaat mereka berempat pergi dan kedua orang tua datang.


"Sayang, gimana keadaan kamu?" Tanya Mama Beby.


"Mama, aku baik-baik saja. Itu, Mas Setya yang lemes." Jawab Lea dengan gemas.


Papa Arjuna menepuk bahu Setya dan berkata "Kamu harus kuat. Papa dulu juga begitu. Sewaktu, Mama hamil Lea, Papa teler."


"Hems, itu mah emang kepinginnya Papa saja. Biar bisa manja sama Mama." Balasan Lea yang menggoda Papanya.


"Bener, Papa dulu begitu. Mual-mual juga." Ucap Papa Arjuna


Lea berkata "Iya, iya. Aku percaya saja deh."


Mama Beby berkata "Papa kamu beneran mengidam dulu, sampai pingsan malahan. Mama yang bebas bergerak dan suka jalan-jalan."


"Uwuw, Papaku. Terima kasih. Sudah mengidam buat aku."


"Iya, tapi yang mengandung kamu itu Mama kamu. Perut Mama kamu besar dan doyan makan. Sampai gendut banget." Ucap Papa gemas sekali.


"Emh, Mama pelukan. Terima kasih sudah mengandung aku. Sekarang, aku jadi merasakan seperti Mama."

__ADS_1


"Kamu ingin sesuatu?" Tanya Mama.


Lea menjawab "Aku mau bikin pabrik permen."


__ADS_2