Permen Kapas

Permen Kapas
Ketiban Sial


__ADS_3

Saat Singa menyadari kalau tadi El menaiki lift itu, tiba-tiba listrik juga padam. Bodyguard yang bertugas menjaga keamanan kantor Marvin, tampaknya sangat serius.


Singa mencari tahu, apa yang terjadi. Gedung ini, ada yang menyabotase. Ada konsleting listrik ungkapnya, sehingga semua perangkat yang bekerja dengan menggunakan aliran listrik harus dipadamkan.


"Ada apa ini? Kenapa listriknya juga mati?" Kepanikan terjadi oleh mereka, para staff yang masih bekerja.


Singa mencari El dan ia berlari melalui tangga darurat. Dua lift dengan kompak mati. El sendirian di lift sebelah kiri dan lift di sisi kanan, ada 2 staff kantor yang hendak mengantar arsip penting.


"Aaa, siall." Gumam Singa.


Dia tidak tahu, dimana El saat ini. Pihak keamanan kantor, juga tidak bisa melihat ke cctv. Karena semuanya jadi mati total.


"Aku kehilangan Nona El." Ucap Singa, saat tangannya menekan earphone, yang menempel di telinga kanannya.


"Siap!" Sambungnya, dari markas Roberto, tim A segera dikerahkan mencari keberadaan tuan putri El.


8 pengawal sudah siap bertugas, ada ketua dari tim Alpha yang memberikan instruksi kepada para pengawal.


"Siap laksanakan." Ucap mereka setelah mendepatkan tugas. Layar ponsel mereka sudah tersambung dengan GPS chip yang ada di kalung El.


"Singa, Nona El tertahan di lantai 5." Ucap seorang wanita, yang bekerja di markas Roberto. Dia tampak menatap layar komputer.


"Oke. Aku sekarang menuju kesana."


Singa yang berlari menaiki anak tangga dan pengawal yang memantau dari markas Roberto, melihat ada dua orang yang berada di atap gedung perkantoran ini.


"Apa yang mereka lalukan?? Menyiram bahan bakar???" Wanita itu terperanjat. Segera memberitahu Tim lainnya.


"Singa, ada yang tidak beres. Cepat keluarkan Nona El dari sana."


"Panda, apa yang kamu katakan?"


"Ada dua orang yang sengaja menyiramkan sesuatu. Sepertinya, gedung itu akan dibakar oleh mereka."


"Di bakar???" Singa semakin berdebar. Sektika, langkah kakinya malah jadi terasa berat.


"Kenapa aku jadi berbedar? Nona El, aku akan segera mengeluarkanmu dari sini." Batin Singa gelisah.


Singa masih berlari menaiki tangga darurat, yang berada di sisi kanan gedung perkantoran ini.


"Bisnis hitam?" Pengawal Raja syok, saat menyelidiki tentang perusahaan milik Marisa.


"Orang ini, musuh Madam Marisa." Ucap seseorang, yang bersama pengawal Raja.


"Cari tahu semuanya." Perintah pengawal Raja, kepada pria muda yang tampak bersembunyi dari balik masker hitam dan kacamata warna hitam. Tampak, memakai topi hitam dan gaya luarnya terlihat casual.


"Saat ini, perang mereka sudah dimulai."


"Perang?"


"Bisa jadi, Madam Marisa akan menyingkirkan beberapa bukti dunia hitamnya itu."


"Menyingkirkan?" Pengawal itu penasaran.


"Membakar." Jawabnya dan ia beranjak pergi dari hadapan pengawal Raja.


"Membakar??" Dia terkaget.


Pengawal Raja, segera pergi menemui Raja dan ingin menyampaikan semua bukti yang ada di tangannya.


"Duuaar!" Ucapnya dengan gaya aneh dan ia menyeringai dalam hati. "Ini belum seberapa, Madam Marisa."


Pria misterius itu pergi dengan motornya dan masuk ke sebuah rumah. Tampaknya, ia berganti pakaian. Lantas berjalan kaki dan melewati beberapa gank dari rumah sederhana yang ada di tengah kota.


"Menyenangkan." Gumamnya santai dan ia menatap ke gedung besar, yang terlihat di seberang jalan raya.


"Gedung, MM. Sudah terlihat tua."


Kembali kepada Singa, yang sudah berusaha membuka pintu lift. Ada dua teman kelompok El, yang ada di depan lift itu.


Dua keamanan kantor sudah membuat instruksi, agar para staff segera keluar dari gedung perkantoran ini.


"Nona, Nona masih bisa mendengarkan saya??"


"Singa, aku lelah."


"Nona jangan tertidur."


"Aku takut. Disini gelap sekali."

__ADS_1


"Nona, saya ada disini."


Wiings,


Helikopter dari markas Roberto sudah tiba lebih dulu. Tim Charlie yang datang dan turun menggunakan tali. Karena, di beberapa titik tempat itu sudah tersiram bahan bakar. Dua orang itu jadi terkaget dan mereka telah melemparkan jerigen bahan bakar warna merah.


Mereka berlari dan dua pengawal mengejarnya. Tiga pengawal, memasuki gedung, melalui pintu darurat.


Bau bahan bakar telah mengenyat hidung mereka. Pengawal tim Alpha sepertinya juga sudah tiba.


Dua orang tadi bersenyembunyi di sebuah gudang.


"Apa kita harus membakar dari sini?"


"Jangan, kita bisa ikutan mati."


"Tapi, kita sudah dibayar untuk membakar gedung ini."


"Bodoh! Kita harus segera pergi."


"Kalau Bos tua itu tahu bagaimana?"


"Lebih baik kita belanjakan duitnya dulu. Urusan mati, kita atur nanti."


"Kalau kita tertangkap?"


"Bilang saja, kalau pemilik gedung ini yang menyuruh kita."


"Kamu gila?"


"Biarkan saja. Lagian, kita hanya dibayar 10 juta."


"Iya, harusnya kita memintanya 100 juta."


"Ssttt, ada yang mendekat." Bisiknya.


Kedua orang itu, jadi terdiam.


Singa berusaha melebarkan pintu itu, hanya ada tongkat besi, yang membelah kedua sisi pintu lift.


"Nona El, bisa mendengar saya?"


Tampak cucuran keringat di wajah dan lehernya Singa. Beberapa staff berlari menuruni anak tangga darurat. Kedua teman El masih terdiam dan tak beranjak pergi.


Salah satu teman El, tampak peduli. Lalu, beberapa staff dari ruangan Bos Marvin bertemu mereka.


"Kenapa kalian disini? Ayo turun."


"Sebentar Bu., Di dalam sana ada El. Kita masih menunggunya."


"Ya sudah, saya turun duluan."


Bos Marvin dan Mamanya juga turun melewati tangga darurat itu.


"Nona El, masih mendengar saya?"


Singa semakin gelisah, saat tidak ada lagi sahutan suara dari El. Dirinya, semakin tak bertenaga, ketika tidak mendengar suara El.


"Nona El?" Batin Marvin, mendekat.


"Bos." Panggilan dari kedua teman El.


"Ada apa? Kenapa kalian berdua tidak segera turun?" Tanya Marvin dan Mamanya masih tampak memegang lengan tangan kiri Marvin.


"Itu Bos. El terjebak di dalam sana. Sudah 30 menit. Tapi, pintu liftnya susah dibuka. Itu, petugas dan pengawalnya El berusaha membuka pintunya.


Dua orang staff yang terjebak di lantai 7 juga belum bisa keluar. Mamanya Marvin, menatap ke arah wajah putranya yang terlihat gelisah.


"Marvin, ayo kita turun."


"Mama bisa turun dulu dengan Zoya."


Zoya sekretarisnya Marvin.


"Marvin, kamu kenapa? Apa dia penting untukmu?" Mamanya jadi menoleh ke arah lift yang sedang bermasalah itu.


"Mama, dia gadis yang aku ceritain sama Mama."


"Gadis??" Mamanya semakin penasaran.

__ADS_1


Meskipun, putranya semalam bercerita panjang lebar tentang masalah pribadinya, Mamanya tidak mendengar jelas, dan malah sibuk dengan ponselnya.


"Sudah ada tim keamanan. Lebih baik kita turun dulu." Ucap sang Mama dan Marvin mengangguk.


Sebelum mereka beranjak pergi, ada beberapa pengawal yang berseragam abu-abu, sudah menuruni tangga darurat ini dan tampak membawa senjata api.


"Singa!, Bagaimana keadaan Nona?"


"Redi, Nona tidak lagi menjawab panggilanku."


"Kalian berdua, bantu Singa. Aku harus kembali ke atas.


Mamanya Marvin terlihat raut wajah tidak senang, "Hai, siapa kalian semua??"


Redi ketua Tim Charlie, ia menoleh ke arah Madam Marisa, ia menunjukan kartu golden.


"Sayang pengawal dari golden A.M. Saya kemari, untuk menyelamatkan Nona kami." Ucap Redi tegas.


"Nona? Apa maksudnya?" Marisa semakin emosi dan merasa ada kekacauan.


"Mama yang tenang, mereka pengawal El. Gadis yang aku ceritakan sama Mama."


"Diam kamu Marvin!!" Bentaknya dan kasar sekali.


Kedua teman El, jadi semakin takut. Mereka tampak mundur, sampai ke sudut ruangan yang dekat tangga.


"Kami tidak berniat untuk menyusup gedung ini. Kami hanya ingin menyelamatkan Nona kami." Balasnya Redi.


"Itu, kalian bersenjata. Kalian seperti perampok."


"Madam, jaga ucapan anda."


"Kamu berani melawan aku??!" Suaranya semakin meminggi.


Ketua tim charlie merasa malas, bila harus berhadapan dengan wanita. Apalagi, seorang Nyonya, yang tidak paham etika pekerjaannya.


"Saya sudah sopan. Tapi, Nyonya sudah menggertak saya. Saya akan membawa anda ke Markas Reberto."


"Kamu menggertak aku?"


"Saya harus menangkap anda."


Tim Alpha datang.


Saat itu pula, pintu lift telah terbuka. Sudah hampir satu jam. Singa berlari mendekati El. Singa, melepaskan jaket untuk membalut bagian bawah yang terlihat sexy.


"Nona, bertahanlah." Ucap Singa, yang semakin gelisah, tampak bercucuran keringat.


Kedua tangan kekarnya sudah mengangkat El. Mendekapnya dalam dada dan jantungnya berdetak cepat. Seorang pengawal mengambil tas laptop El.


Tim Alpha mendekati sang Nona dan membuat pengawalan. Dua orang pengawal masih menyelusuri setiap ruangan. Meski mereka dilarang melakukan tindakan.


"Nonamu sudah keluar, pergilah dari sini." Tegurnya sekali lagi dan terlihat marah.


Wajah El sudah sangat pucat, ada keringat yang mengalir di pelipis dan lehernya. Singa membawanya pergi dari tempat itu dengan tatap tidak senang.


Marvin menatap wajah El, dan Singa secepatnya menuruni anak tangga darurat. Kedua teman El, juga mengikutinya dari belakang.


"Kamu masih ingin menangkapku? Hah??! Kamu berani manangkap aku??"


Wanita berusia 50 tahun itu, terlihat ganas dan tidak tahu malu. Redi, sang ketua tim C, ia menyunggingkan bibir manisnya.


Redi berkata "Madam Marisa, saya tidak akan menangkap anda. Tapi, dua orang suruhan anda, sudah ada ditangan saya."


"Oke. Bawa mereka ke markas." Ucap Redi melalui earphone, yang menempel di telinga kirinya.


"Kalian!! Pengacau!" Pekiknya dan meraih Redi dalam emosinya.


Aaauww!


"Pergilah. Pergi!!! Kalian semua pengacau!!"


Redi ketiban sial. Musuhnya emak-emak yang mengeluarkan jurus ampuhnya. Mencakar dan menjabaknya.


Marvin punya kesempatan kabur dari Mamanya dan pergi mengejar El.


Doorr!


Suara senjata api,,

__ADS_1


"Mama??!"



__ADS_2