
Marla semakin terpesona akan sosok Raja. Kedua matanya, sampai tidak berkedip. Tatapan Raja saat ini, juga telah menyentuh perasaan Marla.
Clees!
Marla sempat berfikir buruk tentang sosok Raja yang telah membahas Kakak tampannya. Setelah melihat senyuman nakal Raja, Marla jadi klepek-klepek.
"Marla, aku pergi dulu."
"Raja, tunggu."
Raja yang hendak beranjak pergi, jadi menoleh ke arah Marla.
Marla menatapnya dengan rasa gelisah, "Raja, apa kamu beneran menikahi si cupu?"
Raja menekan pertanyaan Marla, "Maksud kamu si cupu itu, Ratu?"
Marla berkata "Iya, siapa lagi. Lagian orang-orang memang menyebutnya begitu."
"Aneh, istriku tidak cupu." Desis Raja dengan suara pelan.
Namun, Marla mendengarnya "Tidak cupu??"
"Raja, aku hanya ingin memastikan soal kita. Kita berdua pernah berkencan. Aku tidak mau dibohongi."
"Kita berdua berkencan?" Raja lupa.
Marla berkata "Iya, kita memang pernah berkencan."
Raja tersenyum, ia berkata "Owh, yang waktu itu. Iya, aku sudah terbiasa begitu dengan yang lainnya. Aku mengingatnya."
"Raja, apa hubungan kita masih bisa berlanjut?" Tatapan Marla berharap.
"Tidak bisa. Dulu aku memang suka berkencan. Tapi sekarang aku sudah menikah. Tidak mau berkencan lagi." Jawab Raja dengan tengilnya.
Marla berubah muram dan tampak terdiam. Raja masih menatap Marla.
"Kamu cantik, banyak orang yang tertarik padamu. Sorry, aku bukan lagi lelaki yang bisa kamu jamah." Ucapnya Raja. Biasanya menikmati belaian Marla, meski sudah lupa. Sekarang, Raja sudah berubah baik. Namun, Marla semakin ingin meraihnya.
"Raja, aku akan membuatmu takluk."
Raja tersenyum saat berjalan pergi, ia membatin. "Kakak beradik ternyata sama saja. Marvin, tunggulah kehancuranmu."
Raja malah mencari masalah, tapi dia senang. Raja memang begitu, apapun kemauannya harus dituruti oleh kedua pengawalnya. Meladeni dan mengerjai seseorang yang membuat masalah dengannya. Padahal, Marvin sudah diperingatkan oleh Raja. Tetapi, malah semakin nekat.
Raja melihat foto itu, dan menyobeknya kasar. Menginjak-injaknya di atas tanah. Entah kenapa, Raja membenci Marvin. Padahal yang sebenarnya, Marvin hanya menolong El, saat El terpleset. Tidak disangka, El yang dalam dekapan Marvin, terhendus oleh Raja.
"Berani menyentuh kesayanganku, aku pastikan, kamu akan hancur."
"Sayang, kamu masih sibuk?" Tanya Raja.
Ratu dengan mimik wajah manja, ia menjawab "Iya sayang."
"Sayang, aku masih ada urusan penting. Aku tinggal sebentar gimana?"
"Mau kemana?" Tanya Ratu.
Revan dan kedua teman lainnya, jadi menatap Ratu yang terlihat penasaran.
Raja memegang pipi kanan Ratu, dan menatapnya lekat. Raja berkata "Aku mau pulang ke rumah. Mau ambil dokumen penting yang tertinggal di rumah."
"Emh, baiklah. Aku akan menunggu disini."
Raja mengelus rambutnya, ia berkata "Istriku memang pengertian."
Raja mengecup kening Ratu dihadapan mereka semua, lalu berkata "Aku pergi dulu ya. Pengawalku akan tetap mengawasi kamu."
"Iya tidak masalah. Hati-hati."
__ADS_1
"Baik sayangku. Aku segera kembali."
Ratu tersenyum senang, entah Raja sudah mencintainya atau belum. Ratu merasa bahagia akan perhatian Raja di tempat terbuka seperti ini.
Ternyata, Raja tidak malu akan sikap Ratu yang terlihat aneh dimata orang lain. Raja tetap memperhatikan dan bersikap lembut padanya.
Revan bisa melihat, rona merah merona dari wajah Ratu. Kedua teman yang duduk di depan Ratu, juga bisa melihat kebahagiannya.
30 menit kemudian.
Raja sudah berada di kamar El yang ada di rumahnya. Menelusuri semua loker dan tempat-tempat penyimpanan barang pribadi El.
"Foto ini?!"
Raja menatap foto yang ada wajah dirinya, El dan Lionel. Lalu, ada satu foto lagi yang ditangan kanannya. Ada foto pria tampan, pengawal dingin penuh mempesona. Dia adalah, Singa.
Leo Armando, yang sering dipanggil Singa. Putra bungsu dari pimpinan pengawal, Roberto Armando. Singa sosok dingin nan kejam, lebih kejam dari Bapaknya, yang sudah berpuluh tahun menjadi pengawal Eyang Arjuna.
"Singa?" Raja masih memandangi foto itu.
"Apa El beneran suka sama dia?" Raja jadi penasaran sendiri.
Raja tidak melihat, sikap El saat bersama Singa sewaktu di lamaran Adiknya. Hanya tahu, dari pembicaraan para orang tua, yang mengatakan kalau El ingin menikah dengan Singa. Meski, ucapan El saat itu, terdengar seperti ancaman saja. Namun, Raja jadi memikirkannya.
"Sayangku, kalau itu mau kamu. Aku akan membantumu." Ucap Raja dan tersenyum gemas. Ia mengembalikan foto itu ke laci yang ada di meja rias El.
Raja pergi meninggalkan kamar El dan tidak meninggalkan jejak. Tapi, ada hal yang salah, saat meletakan fotonya itu.
Raja lupa menyusunnya di dalam buku harian. Meski ada buku harian, tulisan El hanya mengadu kepada Mamanya.
Mengatakan yang begini begitu, Raja juga sudah menghafal rengekan El.
Berganti ke kamar Lionel, Raja tanpa sadar melihat mainan baru.
"Bocah ini, dapat duit dari mana?" Batin Raja, karena semua card di blokir sama Mamminya. Bahkan, dua bulan ini Lionel meminta uang dari Raja dan El.
"Hemms, Hanni bikin Lionel kesemsem. Pantas saja, kemarin cuek bebek. Nggak gangguin aku sama Ratu."
Raja jadi terpesona, akan mainan seri terbaru ini. Karakter dari game yang dibuat bentuk robot. Lionel pandai merakit mainannya sendiri.
"Apa aku harus honeymoon dengan Ratu. Agar mereka bebas pacaran?"
Raja berjalan melewati pintu terbuka dan kembali senang akan apa yang di rasakannya saat ini. Sepertinya, ada jalan untuk dirinya, berduaan dengan istrinya tercinta.
Raja tak butuh waktu lama, untuk menempuh perjalanannya, dari rumah ke kampus tercinta ini.
"Istriku sayang."
Raja sudah kembali ke hadapan sang istri cantiknya itu.
"Sayang."
Raja duduk di sebelahnya, karena Revan tidak ada di meja itu. Kedua teman Ratu tampak sibuk dengan tugas lain.
"Revan kemana?" Tanya Raja.
"Owh, dia lagi pergi ke ruang dosen."
Raja melihat tugas kampus yang seabrek. Raja tidak pernah sesibuk mahasiswa lainnya. Mungkin, karena semuanya dikerjakan oleh pengawal.
"Ratu, kamu tidak capek?"
"Tidak. Aku tidak capek. Ini hanya laporan ringan. Tidak seberat tugas yang lainnya." Jawab Ratu, dan ia tampak tersenyum manis.
Tangan Raja memegang telapak tangan Ratu. Ia berkata "Kamu jangan terlalu capek. Aku akan membantu kamu menyelesaikan tugasmu."
__ADS_1
Wajah Ratu sudah tampak berseri-seri. Melihat keseriusan sang suami, Ratu semakin senang. Apa yang Ratu harapkan, seolah sudah ia dapatkan dari seorang Raja.
Kembali pada El, yang berada di kantor majalah Ziie Ziie.
"Kenapa Singa tidak melihat ke arahku?"
El yang berjalan bersama Marvin, dan melewati lobby. Mereka mengobrol manis dan Singa terlihat santai. Tidak memperhatikan tingkah Nona cantiknya.
"Huh! Singa tidak mempedulikan aku."
El sudah lama menarik perhatian Singa. Namun, Singa selalu profesional dalam bekerja. Mungkin dari semasa SMA, dan sampai sekarang. El menjatuhkan dirinya ke tangan pria nakal. Sayangnya, Singa terkesan cuek dan tidak mempedulikan dirinya.
"Menyebalkan."
Ada sekretaris cantik nan sexy, datang mendekati Marvin. Ia berkata "Bos. Ada Nyonya Marisa yang sudah lama menunggu di ruangan Bos."
"Mama? Tumben Mama datang kemari." Batin Marvin penasaran.
Semenjak Marvin yang memimpin kantor ini, Mamanya tidak pernah kemari, meski ada masalah di kantornya, Marvin selalu membahasnya di ruang kerja Mamanya, yang ada di rumah.
El jadi terdiam, saat Marvin melangkah bersama sekretarisnya.
"Mungkin, Marvin tidak menusuk hatinya Singa?" El merasa penasaran dan ia berjalan ke arah lift.
Marvin sudah memasuki lift itu dan tampak menunggu El.
"Silakan Bos duluan." Ucap El, tampak senyuman.
"Baiklah." Balasnya Marvin, lalu sang sekretarisnya menekan pada tombol lift itu.
El merasa lega, entah kenapa perasaan El hanya tertuju kepada Singa. Namun, ia malah membawa Marvin ke dalam perasaan pribadinya.
Pintu lift yang satunya telah terbuka dan El menaiki lift itu, ia tampak sendirian.
"Aku akan membiarkan Singa pergi." Batin El.
Baru beberapa saat, menaiki lift.
Glek!
"Hoh, kenapa liftnya mati?"
El panik dan sudah berdebar. Liftnya tertahan di lantai 5. El meremas sisi dress yang ia kenakan saat ini.
Dengan gugup, dia melihat ke seketarnya. Monoleh ke cctv dan melambaikan tangannya.
"Mama, aku takut." Meraba dinding lift dan perasaannya semakin cemas.
El yang memegang tas laptopnya dan beranjak duduk di sisi pojok kanan.
"Raja, Lionel. Aku terjebak disini." Hiks, El yang sudah berkaca-kaca dan mau menangis.
El semakin bingung, ia berteriak. "Tolong!!
"Tolong!!"
"Tolongin saya!!"
El memegang erat tas laptopnya dan duduk di atas lantai lift itu.
Marvin yang sudah keluar lebih dulu, dia juga masih berada di depan lift yang ia naiki barusan.
Gedung kantor ini, ada dua perusahaan dengan bidang bisnis yang berbeda.
"Bos, liftnya rusak."
"Apa??!"
__ADS_1
Marvin mendekat ke arah lift, meraba pintu lift tadi. Marvin membatin, "Untung saja aku sudah keluar."
Singa melihat keriuhan di depan lift. "Liftnya mati?"