
Tengah malam, Zio kembali ke rumah bersama Papanya. Presdir Hendri tetap membawa putranya pulang, selagi menunggu kabar tentang Yuna.
"Dari mana saja kalian berdua?"
"Harusnya aku yang tanya, dari mana saja kamu sampai tidak pulang ke rumah?" Tatapan mata Presdir Hendri, saat ini lebih menakutkan dari istrinya.
Mama Jenny jadi terdiam dan Zio melangkah pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"Papa, Zio putraku. Aku yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Bukan Papa." Istrinya sampai menunjuk ke wajah sang suami.
Presdir Hendri berkata "Terserah. Kamu mau berbuat apa. Zio sendiri, sudah resmi menikahi gadis itu. Zio sendiri sudah mengakui dan bertanggung jawab. Aku juga tidak memaksa dia."
Perasaan ibu satu ini, telah runtuh. Harapan dan semua angannya sirna di depan mata. Bagaimana bisa, Putranya menikahi seorang pembantu. Baginya, Yuna hanya seorang pembantu dari Tuan putri Allea.
Air mata seorang ibu yang luruh begitu saja. Jantungnya berdenyut lebih cepat dari biasanya. Sangat kesakitan, dada terasa sesak sekali.
"Kamu mau membawa putramu silakan. Yang jelas, aku tidak seperti kamu. Aku masih punya malu, apalagi dihadapan Arjuna dan istrinya." Ucap Presdir Hendri.
Mama Jenny terduduk di sofa. Padahal, tadi sudah berdiri tegar untuk menolak semua rencana suaminya. Sayangnya, pernikahan itu terjadi lebih dulu.
"Zio, menikahinya?" Tanyanya dalam benak pikirannya sendiri. Tak sanggup lagi untuk menatap suaminya.
"Arjuna harus bertanggung jawab atas kehidupan putraku." Ucapnya begitu saja dan sang suami yang hendak berjalan pergi, menoleh ke arah istrinya.
Presdir Hendri berkata "Putramu sendiri yang berbuat ulah, aku bahkan malu dihadapan besanku."
"Kamu masih membelanya. Hanya karena Setya menikahi Lea."
"Jenny, sadarlah. Kita bisa hidup seperti ini berkat Arjuna. Kalau aku tidak bertemu dia, kamu pasti sudah hidup dalam kemiskinan."
Presdir Hendri berjalan pergi ke arah kamarnya dan Jenny duduk bersandar di sofa ruang tengah.
"Aku tidak akan menerima dia sebagai menantu. Tidak akan pernah."
Presdir Hendri, dulunya sempat menangani proyek bernilai ratusan milyar. Bukannya untung yang dia dapatkan, malah kerugian besar.
Sulit untuk menutup hutang dan denda. Bahkan, satu pabrik sudah dijual untuk melunasi pinjamannya. Pabrik itu dibeli Papa Arjuna untuk mengembangkan bisnis Mama Beby di dunia fashion.
Setelah beberapa kali pertemuan, Presdir Hendri, memberanikan diri. Untuk meminjam sejumlah modal, bahkan hanya berjaminan nyawa. Presdir Hendri mengatakan, kalau proyeknya gagal lagi, dirinya meminta Papa Arjuna untuk membunuhnya.
Di mata Papa Arjuna, Presdir Hendri memang penggila kerja. Papa Arjuna memberikan sejumlah modal, hanya satu pesannya. Ingatlah, Papa Arjuna sebagai sahabat. Seorang sahabat yang telah membantunya. Meski mereka ini, tadinya tidak saling kenal satu sama lain.
Untuk saat ini, Zio tidak mau diganggu oleh Mamanya.
"Kalian bertiga dimana? Apa kalian tidak merindukan aku?" Batin Zio.
Zio menatap layar ponselnya. Melihat ke beberapa foto, terutama foto mereka berempat. Saat, Lea dan Setya akad nikah. Zio dan Yuna juga turut berselfie. Meski saat dipelaminan, Yuna sempat berpasangan dengan Kevin.
"Aku akan mencari kalian. Ada banyak hal, yang ingin aku katakan padamu. Yuna." Batin Zio yang gelisah.
Di tempat jauh, Setya yang mengangkat istrinya dari kamar Yuna.
"Apa aku harus sendirian lagi?" Tanya Yuna yang menatap Setya.
"Lea istriku. Harusnya tidur denganku. Bukan denganmu." Jawab Setya dan segera pergi meninggalkan kamar Yuna.
"Huh, menyebalkan. Dari dulu, Lea milikku. Bukan milikmu."
Jedeer!
Yuna membating pintu kamarnya. Lea jadi terkaget dan terbangun di dalam dekapan suaminya.
"Mas Setya." Lirihnya.
__ADS_1
"Aku ingin tidur bersamamu." Balasnya.
Lea pasrah, karena mengantuk berat. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke dada sang suami tampannya ini.
"Yes! Istriku memang ingin tidur bersamaku. Aku harus cari cara. Agar Zio segera membawa Yuna pergi dari hadapanku." Batin Setya.
Haish, pria menawan nan rupawan ini. Meski terkadang terlihat kaku, tapi semakin hari sensinya nggak ketulungan.
Cemburunya juga sudah kelewat batas. Tidak peduli kesayangan Lea. Niatnya untuk menyingkirkan Yuna, sepertinya memang serius.
"Sayang, kamu harus bobok sama aku. Masa' iya. Sudah tiga malam disini, aku tidur sendirian." Ucap Setya gemas manis manja.
Semenjak di rumah ini, Lea juga lebih memperhatikan bumilnya. Apa-apa Yunaku sayang, bentar-bentar Yunaku sayang. Lalu suaminya bagaimana?
Setya tetap nekat, meski harus berebut dengan kesayangan istri gemasnya.
Keesokan hari dan masih tinggal di bumi. 3 kesayangan gemas manja itu sedang menyambut pagi. Tampak, berpiknik di sawah tetangga.
Bukannya piknik ini mah, orang sawah tentangga tepatnya di depan rumah mereka.
"Yunaku sayang. Makan buahnya. Aaak." Lea tampak menyuapi Yuna.
Setya hanya bisa berdiam saja dan tidak menghiraukan mereka. Hanya, sempat memotret istri cantiknya.
Yuna yang sedang berjemur mentari pagi bersama Lea, dan menikmati suapan anggur hijau juga strawberry dari tangan Lea, ia berkata pelan, "Lea, aku tiba-tiba kepingin mangga harum manis."
Lea dengan spontan, berucap "Hah? Mangga harum manis? Apa ini musim mangga??" Lea yang bingung sendiri.
Setya pura-pura saja, tidak mendengar. Biar tidak disuruh istrinya ke pasar. Apalagi harus mencari buah musiman dan sekarang jauh dari Ibukota. Tidak ada supermarket besar di daerah ini.
"Lea." Bibir Yuna, tampak cemberut manja.
Sang suami dari halaman rumah, sudah cukup mendengarkan obrolan kedua perempuan ini.
Setya yang memicingkan matanya, ia membatin "Pastinya, aku lagi yang harus bekerja keras demi sebuah mangga."
"Lea, tapi aku maunya yang masih menggelantung di pohon. Mangganya harus mengkel, bukan mangga mateng."
Gubraaak!
Baru saja Setya membatin, Lea juga sudah tampak menyengir. Lea menoleh ke sang suami, yang duduk di atas kursi bambu di halaman depan rumah.
"Yunaku sayang. Aku akan berusaha mencarinya. Meski aku harus kembali ke kebun rumah Papa dan pastinya bertemu penjaga kebunnya. Aku akan berusaha demi mangga itu."
"Jangan kesana. Nanti Ayahku pasti akan menangkap kamu." Ucap Yuna.
Lea dengan cemberut gemas dan sudah seperti wajah anak kecil. Cute, Lea jadi berkata "Apapun, akan aku lakukan demi bayi kita ini. Aku bisa mencuri di kebun Papa."
"Terus, aku gimana? Aku sendirian disini?" Yuna yang bingung. Kalau Lea harus ke kebun itu, nantinya bakalan bertemu tukang kebunnya, yang tidak lain adalah Ayah kandung Yuna. Nanti kalau Lea ketahuan, pastinya akan disuruh pulang. Yuna harus bilang apa sama Ayahnya. Meski nantinya tidak akan memukulnya, tapi Yuna sangat takut sama Ayahnya.
"Lea, aku tidak jadi ngidam itu." Ucapnya dan berubah muram.
Lea mendekat dan mengelus rambut Yuna, ia berkata "Kamu tenang saja, aku akan tanya dulu sama Pak RT. Siapa tahu ada tetangga kampung yang punya pohon mangga harum manis itu."
"Bukan pohonnya, tapi mangga harum manis. Maksud aku itu. Mangga yang masih di tangkai pohon." Lea sendiri bingung, mana pernah dirinya mengalami ngidam. Tapi, Lea berusaha untuk belajar mengenal ibu hamil. Dari media sosial dan dokter. Lea yang malah banyak belajar dan ia juga konsultasi dengan dokter kandungan sewaktu Yuna pingsan. Meski hanya sekedar teori baginya, Lea mencoba memahami kesayangannya.
Hormon yang naik turun secara tiba-tiba. Keinginan yang aneh-aneh. Perubahan sikap di kesehariannya dan Yuna kemarin seharian selalu ingin dimanja. Meminta di kutekin, meminta dibacain dongeng sebelum tidur. Padahal, biasanya itu sifatnya Lea dan Yuna yang bertugas disetiap harinya. Tapi, kali ini Lea berusaha untuk selalu menyenangkan Yuna.
Sudah jam 8 pagi. Setelah sarapan pagi, Yuna dan Lea bersantai di teras rumah.
Setya yang hendak pergi, ia sudah memakai jaket dan helm. Tampak ganteng dan Lea tersenyum gemas.
__ADS_1
"Mas Bojoku, kamu mau kemana?"
"Jalan-jalan, sekalian keliling kampung cari mangga muda."
Mendengar hal itu, Lea berbinar. Perasaannya berubah, seketika mendengar ucapan suaminya.
Lea mendekat dan memegang kedua bahu suaminya, berkata "Suamiku memang TOP BGT. Aku merasa dicintai."
Suami mana, yang bisa tega melihat istrinya dari tadi manyun.
Sudah 1 jam lebih, Lea hanya gigit jari dan tidak nafsu makan saat sarapan. Padahal, dirinya akan berbuat apapun untuk kesayangannya. Hanya, dimintain mangga harum manis saja, tidak bisa Lea dapatkan.
"Aku mau ikut kamu Mas."
"Terus, kesayangan kamu gimana?" Setya dan Lea, menoleh ke arah Yuna.
"Benar juga, siapa yang akan jagain Yunaku sayang."
Lea mendekatinya, berkata "Yuna, kamu masuk ke dalam. Kunci pintu rumahnya. Aku akan mencarikan mangga mudanya."
"Iya."
Yuna terlihat muram, karena ngidamnya belum kesampaian juga.
Lea dan Setya berjalan pergi. Suasana kampung ini, begitu asri nan sejuk. Tampak pemandangan indah dari pegunungan.
"Mas Setya, kenapa pelan-pelan?" Tanya Lea.
"Kamu tugasnya lihat kanan-kiri, siapa tahu ada yang punya mangga itu." Jawab Setya.
Lea berkata "Benar."
Lea berusaha melihat-lihat, ia berkata "Mas, kemarin waktu ke Pak RT, sebelah rumahnya bukannya ada yang punya mangga ya?"
"Yang mana??"
"Sebelum pertigaan, yang rumah cream pagar coklat. Depan rumahnya, ada dua pohon mangga."
"Coba aku lewatin sana"
20 menit kemudian.
"Mas Setya, kanan lagi." Teriaknya dengan suara gemas manisnya.
Setya yang sudah nangkring di pohon mangga harum manis, ia tidak melihatnya mangganya. Setya berkata "Dari tadi kanan terus"
Daunnya yang lebat, tapi buahnya hanya 1 atau dua saja yang terlihat menggelantung di tangkai.
"Itu, di kanan kamu." Teriakannya begitu gemas dan ingin segera memanjat sendiri. Tapi, tadi sudah dilarang sama suaminya. Apalagi, ini di kebunnya Pak RT. Tidak enak, kalau dilihat yang manjat malah istrinya, bukan suaminya.
Setya mulai merasa gatal-gatal dan berusaha untuk meraih mangga yang terlihat jelas di sisi kanannya. "Sayang, aku dikeroyok rang-rang."
Geddebuuk!
"Aaaa suamiku!"
"Huh, Zio yang berbuat. Aku yang harus begini-begitu. Demi istriku."
Lea menangis, memeluk suaminya "Aaa suamiku."
"Sayang."
__ADS_1