Permen Kapas

Permen Kapas
Permen Idaman


__ADS_3

Sore hari di sebuah rumah sakit swasta.


Setelah siang tadi, Setya makan siang bersama istrinya tercinta. Setya memuntahkan semua makanannya, sampai berujung di ranjang pasien.


"Sayang, aku masih mual." Ucapnya dan Lea bingung sendiri. Padahal, sudah diberi suntikan pereda mual.


Entah, apa penyebabnya tadi. Setya yang meminta istrinya untuk memesan makan siang di hotel. Setelah makan siang, bukannya kenyang, malah Setya mual dan bolak balik ke kamar mandi, karena rasa mualnya yang tak kunjung reda. Kepala pusing, tubuhnya semakin melemas.


"Mas Setya, yang sabar." Ucapnya Lea dan ia mengelus rambut suaminya.


Merasa masam di liddah, dan seperti ingin sesuatu, yang susah untuk di sebutkan, di depan istrinya.


"Mas ingin apa?" Tanya istrinya.


Setya menjawab "Aku mau permen."


"Permen??" Tanya Lea.


"Iya, permen." Wajah Setya seketika berubah kekanakan. Antara takut kepada istrinya, tapi ingin segera mengemmut permen itu.


Lea bertanya dengan mimik wajah yang panik, "Permen yang seperti diberikan Micheel? Apa nama permennya Mas? Aku akan minta sama pengawal untuk membelikannya."


"Aku tidak tahu." Jawab Setya. Yang memang tidak melihat mereknya.


Lea secepatnya menghubungi Kevin, untuk menanyakan nama permen yang tadi di berikan oleh Micheel kepada suaminya.


"Assh, Kevin malah mengalihkan panggilanku. Awas saja kalau bertemu."


Lea yang sudah tidak sabar, meminta pengawal untuk membelikan semua macam permen.


10 menit kemudian.


Para pengawal sudah membeli aneka jenis permen, di mini market rumah sakit dan ada pula yang pergi ke supermarket besar, untuk mencari permennya.


"Bukan." Wajah itu terlihat lesu layu.


"Yang ini Mas?" Lea memperlihatkan permen bungkus biru.


"Tidak seperti itu." Jawabnya dan semakin kepingin permennya.


"Terus, yang mana? Ini bukan? Ini manis buah." Permen aneka rasa buah dan begitu imut bentuknya. Ada yang rasa jeruk, strawberry juga anggur.


"Bukan sayang." Jawab Setya. Mulutnya, bersama semakin aneh. Berliur dan ingin segera mengemmut permen itu.


"Oke, aku tanyain sama Micheel." Ucap Lea.


Berbagai jenis permen sudah ada di meja, tapi tidak ada satupun dari aneka jenis permen itu yang diinginkan suami tampannya.


Padahal, istrinya yang hamil. Tapi Setya yang ngeces seperti bayi.


"Aku yang hamil. Tapi aku yang sibuk menuruti keinginan suamiku." Gumam Lea, dan ia mencari tahu nomor Micheel dari ponsel suaminya.


"Owh, diberi nama Micheel doang. Aku pikir mantan kekasih atau mantan terindah." Gerutunya gemas.


Lea menekan nomor yang tercantum dan memanggil mantan kekasih suaminya.


"Hallo, selamat sore." Suara Lea terdengar merdu sekali.


"Iya, Hallo selamat sore." Micheel biasa saja dan santai.


"Apa benar, ini nomor Micheel?" Tanya Lea dengan manis sekali.


Micheel sepertinya sedikit berdebar, bertanya "Ini siapa ya?"


"Aku, Allea. Istrinya Mas Setya." Jawab Lea dengan manis sekali.


Degh!


Micheel menjauhkan ponselnya dan melihat nomor yang tertera. Micheel merasa aneh, saat menerima panggilan itu.


"Kenapa dia menghubungi aku?" Micheel bingung, antara takut di salah pahami sama istri mantannya. Tapi, dia malah menantang dirinya.


"Hallo Micheel. Kamu masih mendengarkan aku?" Suara Lea menaggil-manggil Micheel, tapi tidak dihiraukan malah melamun.


"Hallo Micheel."


"Hallo, iya. Aku masih mendengar. Maaf, aku lagi di luar. Soalnya lagi break syuting. Disini ramai sekali. Aku nggak bisa mendengar jelas." Ucap Micheel yang begitu adanya.


"Oh, kamu lagi sibuk syuting."

__ADS_1


"Iya."


"Nanti, ada pengawal yang kesitu."


"Apa?? Aku tidak mendengarnya."


Lea juga bingung, Micheel tidak mengerti perkataannya. Padahal, tadi sudah jelas, kalau Lea menanyakan nama permen yang diberikan kepada Kevin. Tapi, Micheel malah menjauhkan ponsel, dari telinganya. Alhasil, malah holla-hallo doang.


"Aneh! Dia kenapa?" Desis Micheel dan ia menyimpan nomor itu, dengan tulisan Allea.


Tidak lama, sekitar 15 menit. Dua pengawal berbadan kekar, sudah menemui Micheel.


"Mari ikut saya."


"Aku lagi syuting."


"Sebaiknya ditunda dulu. Ini perintah Nona Besar."


Kevin kebetulan baru tiba, ia mendekat dan merasa gelisah. Apalagi, tadi Kevin juga mengalihkan panggilan Lea. Giliran hendak mengubungi Lea. Nomor Lea tidak bisa dihubungi.


"Hentikan!" Tegur Kevin kepada pengawal.


"Tuan, saya hanya diperintah Nona Besar. Untuk membawa Nona Micheel."


Kevin berkacak pinggang, ia bertanya "Ada urusan apa? Sampai kalian ingin membawa bintang terangku pergi?"


"Masalah penting Tuan. Ini tentang masa depan Nona Besar Allea."


Kevin menoleh ke Micheel, ia bertanya "Micheel, kamu membuat masalah?"


"Tidak, aku tidak tahu. Allea telephone aku dan mengatakan kalau akan ada pengawal yang menjemputku."


Kevin sudah meremas keras kepalanya sendiri, "Micheel, kenapa tidak bilang."


"Harus ya, aku bilang kamu."


"Gawat!! Apa ini urusan perasaannya?"


Kevin menatap Micheel dengan tatapan teduh, ia berkata "Ikutlah mereka, aku juga akan menemani kamu."


"Kevin, aku takut." Ucap Micheel.


Kevin menoleh ke arah pengawal, ia berkata "Aku akan mengantar Micheel ke hadapan Nona kalian."


Saat itu juga, 8 pengawal mendekat. Micheel yang tersentak kaget. Spontan memegang lengan tangan Kevin.


"Kevin, kenapa banyak pengawal?" Tanya Micheel yang berbisik kepada Kevin.


"Tenanglah, mereka tidak akan menyakitimu."


Micheel akhirnya mengikuti langkah kaki Kevin dan pergi bersamanya. Satu mobil di depan memandu jalannya. Sedangkan satu mobil lagi, tepat di belakang mobilnya Kevin.


"Mereka menakutkan." Ucap Micheel dengan lembut.


"Aku sudah bilang sama kamu. Jangan buat masalah sama Lea."


"Aku tidak membuat masalah." Balas Micheel, yang tampak membela diri.


"Tadi, waktu di A. J. Kamu sudah membuat Lea salah paham."


"Aku tidak ngapa-ngapain, cuma ngobrol doang. Kecuali, aku nyium suami dia. Itu bermasalah." Ucap Micheel dengan santai sekali.


Kevin menoleh ke arah Micheel, ia berkata "Kalau kamu nekat, aku nikahi kamu."


"Hah? Bos? Apa masalahnya? Aku nekat gimana?" Tatapan Micheel tidak mau disalahkan.


"Sudahlah. Lain, kali jangan ngobrol berduaan sama Setya. Lea bukan gadis biasa, yang akan menampar kamu di depan umum. Lea punya cara sendiri untuk membalasnya."


"Sumpah! Aku nggak ngapa-ngapain suaminya dia. Nyolek aja nggak."


Micheel terdiam dengan pikirannya melayang entah kemana. Dari raut wajahnya, dia memang baper kesal. Kevin merasa, kalau Lea akan menghukumnya.


Setelah beberapa menit kemudian, tiba di rumah sakit, tempat Setya berbaring manja dan minta dielus-elus istrinya.


"Mas, aku yang hamil. Harusnya kamu yang memanjakan aku." Gemas Lea, tapi tangannya masih saja mengelus rambut suaminya.


"Entahlah, aku juga bingung. Sayang, pusing." Ucap Setya, tampak loyo.


"Gimana? Udah mau kepingin minum?"

__ADS_1


Setya menggeleng dan hanya infus yang membantu menguatkan tenaga Setya.


"Nona, mereka sudah tiba." Ucap pengawal utama, yang diperintah Lea.


"Baik, suruh masuk kisini saja."


Dalam hitungan detik, mereka masuk ke ruang rawat inap Setya.


"Setya, kamu sakit?" Tanya Kevin.


Micheel hanya diam dan melihat akan perhatian Lea kepada suaminya.


Lea bertanya "Bang Kevin, tadi yang kasih permen ke suamiku?"


Kevin merasa gelisah "Aku tidak meracuni suamimu. Apa permennya Micheel?"


Kevin menoleh ke arah Micheel, dengan tatapan gelisah "Micheel kamu ingin meracuni Setya?"


"Racun apaan? Aku mana ada niat begitu."


"Tadi, kamu kasih aku permen."


"Aku kasih Setya permen, biar nggak mual."


Lea mendekati mereka berdua "Micheel, apa nama permen itu? Dimana belinya?"


Micheel mundur selangkah, ia takut sama Lea.


"Lea aku tidak tahu. Sumpah! Aku tidak meracuni suami kamu."


"Dimana kamu belinya? Micheel, aku ingin tahu, cepat jawab aku!"


Micheel berkata "Aku tidak tahu belinya dimana. Aku juga dapat dari OB, yang membersihkan kamarku."


"OB?" Tatapan Lea yang penasaran.


"Iya, OB di A. J. Namanya Sony."


Sony yang dimaksud adalah, teman kost Setya. Lea juga sudah pernah bertemu waktu di kosan.


Setelah 20 menit.


Sony, si manis gula jawa ini. Sudah tampak dihadapan Micheel dan Lea.


"Iya, saya yang memberikan permen itu kepada Nona Micheel. Tapi, saya juga dapat dari Riko." Ucap Sony, yang tampak ketakutan.


"Kak Sony, dapat permen itu dari Bang Riko??" Tanya Lea sekali lagi.


"Iya, dari Riko." Jawabnya dan dia semakin takut, karena dari tadi dikelilingi pengawal.


Dari A. J. diajak ke rumah sakit, dengan pengawalan ketat. Sosok lugu dan seusia Riko ini, memang bekerja sebagai OB. Dia juga dekat dengan Setya dan Riko selama di kost.


Setya yang terbaring dan tampak tidur. Tidak menghiraukan obrolan Lea.


Kevin menatap Micheel, dan Micheel jadi menatap OB. Lea memanggil Riko dari ponsel canggihnya.


Tidak butuh waktu lama, Riko datang dan berdiri dihadapan Lea.


"Bang Riko. Kasih permen apa ke Kak Sony?"


"Permen?"


"Iya."


"Owh, itu. Permen kapas buatan anda. Saya nggak doyan. Terus, saya kasih ke Sony."


Lea sudah memasang taring, saat mendengar ucapan Riko. Menoleh ke arah Sony.


Sony berkata "Saya juga tidak suka. Makanya, saya kasih Nona Micheel."


"Aku belum sempat memakan permennya. Karena, Setya mual, aku kasih ke Kevin, agar memberikannya sama dia. Beneran, aku nggak meracuni suami kamu."


Lea menatap ke mereka semua dan Kevin berpura-pura tidak mengerti apapun.


Lea berkata "Kalian tidak suka permen kapas mini buatan aku??"


"Itu sudah lama, jadi keras. Susah dikunyah." Ucap Riko.


"Bisa di eemmut." Balas Lea.

__ADS_1


Riko memalingkan wajahnya dan Sony juga mengatakan apa adanya.



__ADS_2