
Perasaan manis akan pernikahan sang Kakak cantiknya. Membuat Lea begitu bahagia.
Hari ini, Lea yang berjalan-jalan seorang diri dan tanpa pengawalan. Begitu manis, seperti permen kapas yang dia makan saat ini.
Suasana taman yang menyegarkan mata, ada sekelompok orang yang menari ala aplikasi ponselnya dan membuat perasaan semakin senang.
Cara Lea memandang dunia luar begitu manis. Banyak hal yang dia temukan dan ada rasa menarik untuk di dekati.
Meski taman yang ia singgahi, tidak jauh dari hotel tempat pernikahan sang Kakak tercinta.
"Emmh, manis sekali." Ucapnya pelan.
Lea yang saat ini telah mengenakan hoodie warna broken white dan sepatu sporty yang sama warna dengan pakaiannya.
Permen kapas di tangan kirinya dan duduk menatap pasangan muda. Rasa apa yang diciptakan pasangan muda itu, Lea sendiri berfikir kalau pasangan itu telah berselingkuh dari pasangan mereka.
"Kalau Zio sampai selingkuh begitu. Aku tidak akan memaafkannya." Ucapnya dan seketika melihat sosok tampan nan menawan duduk di sisi bangku sebelahnya.
Sepertinya, Lea pernah melihatnya, tapi dimana Lea bertemu dengannya.
Pria manis dan tampak menunduk, ada air mata tak ada suara tangisnya.
"Haa, cowok menangis?"
Lea yang merasa heran, saat melihat cowok yang tampak sendu dengan kepala menunduk ke bawah. Pria itu perlahan menyeka air matanya. Lea tidak berhenti menatapnya. Bahkan, sampai melupakan permen kapasnya.
Lea mendekatinya, mengambil tisue yang ada dalam tasnya dan memberikan kepada pria itu.
"Ini."
"Aku tidak membutuhkan ini."
Sorot mata itu, suara itu dan Lea sudah terpesona saat menatap wajahnya.
Begitu manis, semanis permen kapas. Bisa jadi, lebih manis lagi. Kedua wajah itu saling bertemu. Lea seolah sudah merasakan semilir angin menghembus ke arahnya.
"Aku tidak membutuhkan tisue."
Ia beranjak pergi dan Lea merasa seperti pernah bertemu sebelumnya.
Pria itu berjalan pergi, Lea masih mengikuti.
Lea memanggilnya "Hai, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya aku pernah bertemu kamu. Hai, apa kamu pernah bertemu dengan aku?"
Pria itu menoleh, menatapnya dan ia memang mengingat wajah Lea, saat bertabrakan dengannya. Bukan hanya sekali saja, bahkan sudah ketiga kali berpapasan dengannya, tadi juga berada di The Queen's Hotel.
Hotel tempat acara resepsi pernikahan Nada dan Varell. Hotel itu juga milik sang Mama tercinta, dari peninggalan Nenek buyutnya.
Tatapan itu, sudah sadis dan hendak mengiris perasaan Lea. Pria itu, telah siap berkata, tapi senyuman Lea jadi menghentikan niatnya.
Kembali berjalan, dan Lea seperti mendapatkan mainan baru.
"Apa aku harus merelakan Zio demi cowok ini?" Perasaan aneh macam apa itu, seolah ingin bermain dengan pria manis itu.
Sudah banyak cowok yang menjadi pacar iseng hanya untuk memanasi kekasihnya, apalagi saat acara pesta tahunan. Saat ini, Lea masih terikat hubungan pacar dengan Zio Adhi Wardhana.
Lea yang mengejarnya dan memegang lengan tangannya begitu saja, sang pria yang tampak tidak suka padanya, dan hanya menganggap kalau Lea sudah membuat dirinya sial.
"Hai, boleh aku tanya nama kamu siapa?"
__ADS_1
Dia berkata "Jangan buat aku semakin sial."
"Apa maksudnya?"
Pria itu berlari dan menaiki bus yang telah berhenti di halte taman itu. Bukan Lea kalau tidak bisa mengejarnya.
Lea dengan cepat berlari ke arah mobil yang terparkir, dengan segera mengikuti bus kota yang telah melaju di jalan itu.
"Emh, dia menolakku. Aku semakin tergoda."
Lea penebar pesona, apalagi di kampusnya tercinta. Para cowok juga siap mengantri giliran ajakan Lea, untuk menjadi pasangannya saat ada acara pesta tahunan. Tetapi, Zio tetap masih mendominasi di urutan pertama.
Putus nyambung, juga sering terjadi di antara Lea dan Zio, apalagi kala mereka berdua masih duduk di bangku SMA, pacaran ala mereka itu membuat legenda romantika tersendiri di masanya itu.
Setelah 1 jam mengikuti arah bus kota melaju tadi, Lea sudah melihat pria itu.
"Rasanya aku sudah pernah bertemu dia. Tapi dimana? Kenapa aku bisa lupa?" Lea semakin memutar otaknya dan mencoba untuk lebih mengingat lagi. Tentang semua masalah yang pernah dibuatnya.
"Aku tidak asing sama dia. Tapi aku udah lupa." Begitu dirinya saat ini, semakin penasaran dibuatnya.
Pria itu berjalan melewati rumah mewah dan ada tulisan tebal yang menyatakan rumah mewah itu telah di sita oleh Bank.
"Dia kenapa melihat rumah itu?" Lea yang semakin penasaran dan terus saja mobilnya itu mengikuti pria itu.
"Dari penampilannya oke. Manis dan dingin seperti es." Gumamnya dan memang rada-rada yang kalau menilai soal cowok yang hendak dia mainkan.
"Zio bagaimana? Aku, masih pacarnya Zio." Batinnya. Lalu berkata "Aku harap kita bertemu lagi."
Baru mau menginjak gas, ada sosok cantik yang menghampiri pria manis itu. Lea juga sepertinya sudah mengenalnya.
"Emh, ada film gratis rupanya." Lea yang tidak ingin melihat ke arah mereka. Tapi, situasi membuatnya jadi melihat adegan pertengkaran sepasang kekasih.
"Aku kalau putus, juga nggak begitu. Aku jadi lihat sisi buruk Micheel." Ucapnya pelan dan mobil Micheel berlalu pergi.
"Apa aku harus nyamperin dia, tapi kalau dia melihat aku yang disini gimana?" Lea yang salah tingkah sendiri dan yang dipikirkan terjadi. Sepertinya pria manis itu telah melihat ke arahnya.
Degh
"Duh, dia jalan kesini."
Perasaannya jadi gerogi, kaki seolah telah mati rasa dan bingung sendiri. Baru kali ini, Lea melihat pertengkaran asmara yang menurutnya telah meruntuhkan perasaan si laki-laki, entah mana yang benar atau salah, tetapi tamparan itu telah menyakiti si laki-kali dan membuat harga dirinya hancur. Untung saja jalan komplek mewah itu tampak sepi, tidak ada yang berlalu-lalang saat kejadian pertengkaran itu.
Tok
Tok
Tok
Perlahan kaca mobil di sebelah kiri turun dan pria manis itu telah bertanya "Boleh aku numpang sampai ke jalan raya?"
Lea hanya mengangguk dan ia telah membuka pintu sebelah kiri. Pria manis itu telah masuk ke dalam mobil Lea, tidak ada rasa canggung dan ia lekas memakai sabuk pengaman.
Lea yang semakin berdebar dan bingung harus berkata apa pada pria manis itu, menghembuskan nafas dengan lembut.
"Jalan sekarang?"
Perlahan melihat anggukan dari si pria manis itu dan Lea mulai melajukan mobilnya.
Saat mobil berjalan, si pria manis telah menoleh ke rumah mewah itu lagi.
__ADS_1
Si pria manis berkata "Kamu pasti melihatku dengan Micheel. Aku harap, kamu tidak menyebarkan berita tentang Micheel."
"Iya, kamu tenang saja. Aku bukan wartawan dari media gosip."
"Bagus."
Selama 5 menit berjalan dan mereka tampak diam, tapi Lea masih sangat penasaran.
"Sepertinya, kita pernah bertemu. Tapi, dimana ya? Aku lupa."
"Benar."
"Dimana?" Saling menatap dan senyuman tipis nan sinis dari si pria manis membuat Lea jadi salah tingkah lagi, langsung memalingkan wajah dan fokus pada jalan.
"Di Hotel. Tadi kamu menabrak pelayan pengantar kue."
"Owh, tadi kamu. Pantas saja, seperti pernah bertemu sebelumnya."
Kembali tidak ada kata, di antara mereka berdua.
"Zio apa kabar?"
Set!!
Rem mendadak dan untungnya jalanan komplek mewah ini benar-benar sepi. Tidak ada mobil di belakang mobil Lea. Seandainya saja ada mobil di belakangnya, pasti akan menabrak mobil Lea.
"Kamu kenal Zio?"
"Iya."
"Kamu?" Tatapan Lea dan dia merasa kalah melihat tatapan si pria manis.
"Zio, saudara tiriku."
Degh!
"OMG, dia Mas Setya. Pantas saja aku pernah melihat dia sebelumnya."
Senyuman tipis nan manis, membuat Lea benar-benar merasa kalah akan tatapan pria manis ini.
"Zio, baik-baik saja."
"Kalian masih pacaran?"
"Iya."
Lea kembali melajukan mobilnya itu dan si pria manis itu masih menatapnya saja. Membuat Lea jadi berdesar-desir tak menentu. Perasaan manis saat memakan permen kapas tadi, seakan berubah jadi pahit tanpa alasan.
"Gila, kenapa aku jadi begini?" Batin Lea meronta dan ingin segera pergi menghindari masalah.
Setya Yuda Wardhana, pria manis dengan senyuman sinis, meski tampak dingin dan kaku, sebenarnya dia pria yang baik. Saat ini, usianya menginjak 24 tahun. Kuliah di Amerika, sayangnya belum sampai lulus kuliahnya, disuruh pulang sang Ibu tiri yang kejam. Sesampainya di rumah, ternyata peninggalan sang Bunda, sudah disita oleh Bank.
Setya tidak bisa berbuat apapun di depan Ayahnya, apalagi setelah kembali dari luar negeri, sudah tidak ada lagi namanya yang tercantum di kartu keluarga Ayahnya.
"Mas Setya."
Tatapannya membuat gelisah.
__ADS_1