Permen Kapas

Permen Kapas
Dari Mantan


__ADS_3

Melihat suami mengobrol bersama sang mantan


Saling menatap sampai memberikan senyuman


Mengingat akan status baru bahkan sudah melupakan


Sayang datang mendekat membawa masa depan


"Mas Setya." Panggilnya dan kedua orang itu menoleh ke arah Lea.


Micheel menatap Lea yang berjalan mendekat dan Setya tersenyum, saat istri gemasnya datang.


"Sayang, kamu ingin menjemput aku?" Tanya Setya. Pikir Setya, Lea datang menjemputnya. Karena, memang biasa seperti itu.


Lea meraih lengan tangan suaminya, dan menyandarkan kepalanya. "Aku datang cuma ingin saja. Bukan untuk menjemput kamu Mas."


"Aku jadi kecewa." Balas suaminya dan Micheel masih berdiri di tempat itu.


Kevin keluar dari ruangan dan melihat Lea yang datang tanpa memberikan kabar. Kevin juga menatap Micheel yang berada di tempat itu. Kepala Kevin jadi pusing.


Kevin mendekat "Lea, Lea, kamu datang kemari. Bukannya kamu keluar kota?"


Lea yang masih memegang tangan sang suami, ia berkata "Aku tidak keluar kota. Soalnya, Yuna di rumah Mama mertuanya."


"Owh, aku pikir. Kamu pergi keluar kota. Pantes, cepat sampai kesininya." Ucap Kevin dan merasa takut, kalau Lea akan jadi salah paham dengan bintang terangnya.


Kevin berkata kepada Micheel "Micheel, bukannya kamu masih ada syuting iklan?"


"Iya, ini aku mau berangkat." Jawab Micheel."


Lea bermanja kepada suaminya, ia berkata "Mas, ayo pulang. Aku kangen kamu."


"Iya. Tapi aku harus ke kantor Bang Varell dulu. Ada berkas penting, yang harus aku tanda tangani."


"Aaaa, nanti biar sekretarisnya yang mengantar ke rumah." Ucap Lea yang merengek.


Micheel dan Kevin berjalan pergi, begitu pula mereka berdua ada dibelakangnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Setya bingung.


"Mas, aku hamil. Kamu harus bisa menuruti kemauanku."


"Kamu hamil??" Suara Setya terdengar kencang, sampai Micheel dan Kevin juga mendengarnya.


"Iya, aku hamil." Jawab Lea.


Kevin menarik Micheel ke ruang kerjanya.


"Bos, lepasin aku."


"Diam"


Kevin membuka celah sedikit, agar dia bisa menguping Lea.


Micheel salah tingkah sendiri, saat Kevin mengunci tubuhnya.


"Kamu baik-baik saja? Kamu tidak mual? Kamu ingin memakan sesuatu?" Tanya Setya.


Setya sudah heboh seperti Lea. Sang istri malah diam dan hanya menatap wajah suami tampannya.


"Aku cuma mau sama kamu saja. Aku juga tidak mual-mual." Jawab Lea yang memang begitu adanya.


Setya memeluknya, ia berkata "Pantas saja aku mual-mual dari pagi tadi."


"Hah???!"


Lea mendorong suaminya, ia bingung akan hal itu, "Mas Setya mengidam? Kenapa sama seperti Zio??"


"Zio??" Tanya Setya yang penasaran.

__ADS_1


"Iya. Yuna juga hamil lagi. Malahan, Zio yang suka makan rujak. Aku aja sampai ngilu lihatnya. Zio di rumah, makanya Mama kamu sibuk mengurus adikmu yang mengidam." Jawab Lea gemas.


"Aku ngidam? Tapi, aku nggak kepingin apa-apa. Aku cuma mual. Tadi, habis minum kopi susu, aku jadi muntah-muntah."


"Mas Setya sakit? Mas Setya baik-baik saja?" Lea memandangi Setya dan memegang pipi kanannya.


"Aku cuma pusing." Jawab Setya.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Aku juga cuma mau memeluk kamu. Aku berasa kangen terus." Ucap Lea gemas manis manja.


"Makanya, jangan tinggalin aku lagi. Kamu sudah cukup bersama Yunamu. Sekarang, giliran sama aku." Rayuan suaminya.


Mereka sudah berjalan melewati ruangan Kevin.


"Emh, iya iya. Aku ingin selalu bersama kamu."


"Harus! Kamu harus selalu sama aku." Setya begitu gemas dan Micheel juga mendengarnya.


Micheel tidak menghiraukan, sosok Kevin yang menatapnya lekat.


Kevin mundur dan Micheel memalingkan wajahnya.


"Bos, saya masih ada pekerjaan. Tim 2 ikut bersama saya."


"Iya, silakan." Balasnya.


Micheel keluar dari ruangannya dan Kevin jadi terduduk di pinggiran sofa. Dia yang bersedekap, hanya bisa melamun.


"Mereka mau jadi Bapak. Aku malah belum membuatnya." Batin Kevin yang gila sendiri.


Kevin merasa harus seperti mereka yang sudah menikah, tapinya Kevin belum menemukan tambatan hatinya.


"Clarissa?? atau Micheel??" Kevin seolah menimbang kedua perempuan itu.


"Aah, tidak. Aku harus mencari yang sesuai. Yang bisa menerima aku apa adanya. Bukan yang ada maunya." Kevin merasa kalau Micheel memang akan terus fokus pada karirnya dan Clarissa hanya mencari kesempatan untuk masuk ke dunianya Kevin.


"Allea hamil? Setya ngidam? Aneh." Batin Micheel, yang masih saja mengurusi kehidupan baru mantan kekasihnya.


Si tuan putri ini, bisa menurut setelah hamil. Dia benar-benar menjaga kehamilannya.


Duduk berdua dan ada sopir yang mengantar perjalanan mereka berdua. Setelah dari rumah sakit, Lea masih mengantar Yuna ke rumah Zio. Lalu, ia masih tancap gas ke A. J.


Perjalanan yang cukup jauh, tapi Lea tidak ada masalah. Setelah bertemu suaminya. Lea baru berusaha menurut dan patuh akan nasehat suaminya.


"Iya, iya Mas. Aku akan berhati-hati."


Duduknya menempel, bersandar dada suaminya. Setya juga tergemas-gemas, saat melihat foto dari hasil USG.


"Di dalam sini, ada anak kita." Ucap Setya dan jari tangan kanannya meraba foto itu.


"Iya Mas. Anak kita, di dalam perutku ini. Dokter bilang, baru 7 minggu." Balas Lea.


Setya masih asyik sendiri, saat menatap gambar hasil USG itu. Entah, apa yang dia pikirkan.


"Aku mau anak cowok." Ucap Lea.


"Cowok cewek sama saja sayang." Ucap Setya dan mengelus perut istrinya dengan lembut sekali.


Setya takut, kalau nanti menyakiti dedek imut yang ada di dalam sana.


"Kalau cowok, biar seganteng kamu Mas." Ucap Lea.


"Iya, iya. Kita lihat nanti. Bagiku, cowok cewek. Yang penting anak kita. Aku ingin, kamu benar-benar menjaga kehamilan kamu."


"Iya Mas. Iya. Aku janji. Aku akan menjaga anak kita yang imut ini."


Orang-orang tahunya kalau Yuna mengalami keguguran. Setya mewanti-wanti istrinya, agar istrinya tidak mengalami seperti Yuna.


"Imut??" Setya, sepertinya tidak suka dengan sebutan imut, untuk anaknya.

__ADS_1


Lea meringis tipis, lalu bertanya "Terus mau dikasih nama apa?"


Rasa cinta yang mengembang seperti permen kapas, terlihat lembut dan rasanya begitu manis.


Emh! Nyummy!


"Em, sekarang tidak perlu dikasih nama. Nanti kalau akan kita lahir, aku ingin memberinya nama Raja untuk anak laki-laki dan Ratu untuk anak perempuan."


"Biasa banget namanya. Sama seperti Queen dan Kings. Aku tidak suka."


"Apanya yang salah, dengan Raja dan Ratu?? Nama agung, tahta tertinggi, berkuasa." Jelas suami, sepertinya Setya tampak berkata serius.


"Tapi, rasanya aneh. Apa aku harus hormat juga, dengan anakku sendiri?"


"Sayang, ini hanya nama. Bukan dalam kerajaan. Kamu ini aneh." Setya jadi tertawa gemas.


"Aaa.. Terserah Mas Setya saja. Aku juga tidak pandai merangkai kata. Aku tahunya Olivia, Derall, Felisha, Alex, Marlo, Genoveva, Julian, Safira dan Rainer."


"Itu nama mantan kamu sama teman SMA kamu. Sayang...." Setya menahan diri.


"Opss, sorry. Keceplosan. Aku nggak ngerti juga. Ya sudah, terserah Mas Setya saja, gimana baiknya."


Setya terdiam dan Lea meraih wajah sang suami, Lea bertanya "Mas, tahu dari mana? Nama teman-temanku? Malahan, aku nggak tahu nama teman SMAmu, meskipun sudah pernah bertemu, waktu itu aku nggak kenalan sama mereka."


"Aku pernah melihat buku tahunan sekolahmu." Ucap Setya yang jujur.


"Owh, kirain kamu cari tahu soal aku." Lea yang gemas.


"Buat apa aku cari tahu. Zio juga sudah cerita semuanya."


"Emh, Mas Setya cemburu lagi?"


"Nggak, siapa juga yang cemburu."


"Uuu, itu bibir Mas Setya jadi manyun, pasti nahan cemburu."


"Aku mual." Balas Setya mengalihkan.


Lea mengelus wajahnya, dan berkata "Percayalah sama aku. Aku nggak bertemu mereka lagi. Aku tidak seperti Micheel."


Setya semakin memalingkan wajahnya, Lea berkata gemas, "Harusnya aku yang cemburu, bukannya Mas Setya."


"Kamu cemburu?" Tanya Setya.


"Sedikit. Aku tahu, Mas Setya harus bekerja." Jawab Lea menutupi.


Setya merasa kecewa akan perkataan istrinya "Harusnya kamu cemburu. Kalau perlu. Kamu memarahi aku di depan Micheel."


"Mas Setya, mau aku begitu?" Tatapan Lea bingung.


"Ya. Setidaknya, biar dia tahu, kalau kamu sangat mencintai aku."


"Baik, kapan-kapan aku buktiin."


Setya tersenyum, meraih istrinya ke dalam dekapannya. "Ya sudah, nggak perlu pembuktian. Yang penting, hanya kita dan anak-anak kita."


Mengingat suaminya yang mengidam, Lea bertanya "Mas Setya ingin makan apa? Apa Mas Setya mau rujak, yang seperti dimakan Zio?"


"Tidak, aku tidak berselera. Tadi aku lebih enakan setelah makan permen."


"Permen??" Tatapan Lea penasaran.


Setya mengangguk gemas, lalu berkata "Dari Kevin. Tapi, Kevin dapat dari Micheel."


"Micheel??!" Tatapan Lea masih terheran.


Setya mengangguk gemas, tangan kanannya mengelus rambut Lea.


__ADS_1


__ADS_2