
Pagi dengan sinar mentari yang cerah. Tampak menyinari kota ini. Meski bukan musim penghujan, kota ini sering kali turun hujan.
Ratu yang berjalan melewati pintu gerbang asrama. Ada dua satpam, sering kali disapa oleh Ratu.
"Permisi Pak Dul, Pak Bakir."
"Iya neng, semangat belajarnya ya."
Meski dirinya hanya berakting, Ratu menyukai gaya anehnya ini. Dadanan yang terlihat gaya aneh dengan rambut di sempol dua kanan dan kiri. Kadang juga dikepang dua. Pakaian yang selalu berwarna terang dan terkadang bersilang warna aneh.
Bibir selalu merah orange dan terlihat mencolok. Sikapnya yang menyendiri dikenal cupu, dan gaya tingkahnya bicara yang berpura-pura oneng, membuat orang disekitarnya geli.
Menganggap kalau Ratu itu memang sosok aneh. Ratu memang punya cara sendiri, agar para laki-laki tidak terpikat padanya. Setelah bertunangan, Ratu ingin menjaga dirinya.
"Pak Tatang, buryamnya 1. Seperti biasa Pak." Ucap Ratu, saat memesan bubur ayam, dan tidak mau daun bawang.
Di depan gerbang asrama, selalu ada penjual makanan pagi. Mamang dengan gerobaknya, selalu stay di pagi hari.
Ratu duduk di kursi plastik dan dia terlihat ceria. Apalagi, pagi ini tidak hujan. Bisa menikmati sarapan paginya di tempat.
Ada pula beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengantri untuk membeli sarapan. Revan tahu-tahu sudah duduk di sebelah Ratu.
"Revan." Ucapnya dengan suara cempreng lucu.
Dalam pikiran Revan, kalau Ratu ini memang lucu. Revan berkata "Aku juga suka makan disini."
"Owh, aku sering kesini. Tapi nggak pernah lihat kamu." Ucapnya Ratu dan tampak tesenyum senang.
Revan tersenyum, berkata "Mungkin, karena kita belum kenalan."
"Benar juga."
Yang di dalam kamar, tampak berselie dan mengirimkan fotonya kepada sang Ayah dan Eyang Arjuna.
Meski tampak senyuman manis dari wajah tampannya, Raja tidak terlihat bahagia.
"Apa Papa yakin, dengan keputusan Papa untuk putraku?" Seorang Ayah, yang mengharapkan kebahagiaan untuk putra pertamanya.
"Papa hanya ingin menyenangkan cucu Papa." Jawaban dari Papa mertua, terdengar penuh keyakinan.
Kedua orang tua ini. Saat ini sudah melihat foto kiriman dari Raja.
"Raja, maafin Ayah." Batin sang Ayah dan tidak bisa menolak keinginan istrinya. Untuk menikahkan Raja lebih dulu, sebelum berlangsungnya pernikahan anak keduanya.
Sang Eyang, juga masih menatap foto itu. "Raja, kamu harus bahagia. Eyang janji, akan selalu mendukung keputusan kamu."
Di kamar asrama, Raja masih menatap dirinya dari cermin. Dia yang tampak manis dengan kemeja pinky.
"Lumayan." Masih saja tersenyum manis, meski dalam hatinya terasa seperti diiris. Entah, dari kapan dirinya bersikap manis. Bahkan, dirinya sendiri tidak mengerti.
Raja perlahan duduk di kursi yang ada di meja belajarnya, sudah tampak menunduk dan tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Raja dalam hati kecilnya.
Pernikahan, itu dalam pikiran kecilnya. Yang akan menjadi, masalah besar untuknya.
"Menikah? Tidak? Menikah? Tidak?"
Raja masih saja, mementingkan ego dalam dirinya. Sampai-sampai, tidak mau dilangkahi oleh adik perempuannya.
__ADS_1
"Aull membuat aku gila." Hikks, Raja merasa kesal dan kembali rebahan di kasurnya. Tidak ingin diganggu oleh siapapun dan memilih memeluk guling. Meski 30 menit lagi, akan ada kelas pagi.
"Ayah." Rengekan Raja.
Raja lebih suka mengadu kepada Ayahnya, ketimbang dengan sang Bunda. Raja, dari dulu mendengar cerita masa bayinya. Raja mengungkit terus, kalau Bunda sudah tega membiarkan dirinya pergi dan tinggal jauh dari Bunda.
Meski anak laki-laki, begitulah sikap Raja bila sudah merasa terluka. Diam, dan mengurung dirinya di dalam ruangan. Tidak mau diganggu oleh siapapun. Kecuali, El dan Lionel tetap bisa menganggunya. Sampai, moodnya Raja kembali membaik.
Tok Tok Tok
"Lionel bukalah." Teriak Raja, dan sangat tahu kalau itu pasti adik sepupunya.
"Mas Raja." Lionel yang membuka pintu dan hanya memasukan sebagian kepalanya, menoleh ke arah Raja yang tengkurap memeluk guling.
"Sudah ganteng, kenapa tidak keluar?"
"Kemarilah."
Lionel paham, dia membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke kamar itu. Secepatnya menutup dan mengunci pintu kamar itu.
Kamar dengan nuansa putih. Tempat tidur tingkat dan berbahan kayu. Revan sudah lebih dulu tidur di atas dan Raja tidur di kasur bawah.
Raja yang masih memeluk guling, ia bertanya "Lionel, apa yang harus aku lakukan?"
Lionel duduk di kursi belajar dan menatap pungung Kakak sepupunya.
"Emh, aku juga tidak tahu." Jawab Lionel, dia juga bingung.
"Lionel, aku masih 20 tahun. Apa aku harus menikah muda?" Suara Raja yang mulai kekanakan.
"Bisa saja begitu." Jawab Lionel.
"Kalau kamu jadi aku? Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Raja dan mulai membalikan posisi badannya. Menatap wajah Lionel.
"Tapi aku masih 20 tahun. Aku mengurus diriku sendiri saja tidak bisa. Bagaimana aku bisa mengurus istriku?"
Hikss, wajah itu memperlihatkan rasa sedih dan sudah berubah kekanakan. Lionel masih menatap wajah Kakak sepupunya. Perlahan Lionel malah menangis di hadapan Raja.
"Mas Raja." Rengekan Lionel dan malah memeluk Kakak sepupunya ini.
"Hei, jangan menangis. Aku jadi geli lihat kamu menangis begini."
Raja menepuk-nepuk punggung Lionel.
Tok Tok Tok
"Sudah jangan menangis. Ada yang datang." Ucap Raja dan menggeser badan sepupunya.
Raja bangkit dari kasurnya, malah Lionel dengan isak tangisnya memeluk bantal. Raja bergegas ke pintu dan memutar selotnya.
"Kenapa bisa dikunci?" Gumam Raja, karena tadi yang mengunci pintunya itu Lionel.
Setelah memutar kuncinya, ternyata susah di putar. Raja berkata "Kuncinya rusak?"
Tok tok tok
"Iya, tunggu sebentar." Ucap Raja kencang.
Lionel menoleh dan matanya sembab. Mungkin, semalaman dirinya juga menangis.
"Mas Raja, kenapa pintunya?"
__ADS_1
"Ini rusak. Tadi kamu yang mengunci?"
"Iya." Lionel jadi mendekat.
Raja lupa memberitahu kalau selot kamar ini rusak dan tidak perlu mengunci pintu kamarnya.
"Ini rusak. Aku lupa kasih tahu kamu." Ucap Raja.
"Ya gimana dong? Aku mau ada kelas." Ucap Lionel.
"Lewat jendela." Jawab Raja.
Raja membuka jendela dan tidak lama, Revan muncul dihadapannya.
Diam.
Kedua orang ini, hanya saling menatap tanpa suara apapun.
Raja mundur dan Revan melompat dari jendela. Untung saja, kamarnya di lantai bawah. Kalau di lantai dua, mana bisa lewat jendela.
Revan melihat, ada Lionel pula di kamar itu. Ia membatin "Apa hubungan mereka berdua begitu erat?? Sampai mengunci pintu kamar."
"Mas Raja, apa aku harus lewat jendela?" Tanya Lionel.
Revan mendengar panggilan itu dan ia mencari-cari map di mejanya.
"Mas??! Aneh banget." Batin Revan.
Revan sudah menemukan map yang berisi tugas kuliahnya dan Raja tampak mengamatinya.
"Apa yang special dari dia? Kacamata? Apa karena itu, Ratu menyukainya?" Tatapan Raja yang begitu aneh dan pelahan Revan menoleh ke arahnya.
Revan yang menyadari akan tatapan Raja. Dia berkata "Maaf, aku sudah menganggu kalian berdua."
Lionel membalasnya, "Hei, junior. Aku tidak tahu kalau pintu kamarmu sudah rusak. Aku terbiasa mengunci pintu bila di kamarnya Raja."
"Berdua? Apa maksudnya? Hah??Apa mereka berdua? G*y." Tatapan Revan dan tampak menelan ludahnya sendiri. Rasanya ada sesuatu yang membuat dirinya kaget. Revan merasa berdebar dan seharusnya dirinya tidak ke kamar.
"Mas Raja, aku mau ada kuliah." Rengekan Lionel manja.
Revan yang melihatnya semakin membuat dirinya gelisah.
"Aku harus cepat pergi." Batin Revan. Lalu, Revan berkata "Kak, saya pergi dulu. Nanti jangan lupa bilang sama penjaga asrama."
Revan berlari ke jendela dan segera melompat dari jendela kamar.
Raja jadi berkacak pinggang dan masih menatap arah jendela.
"Manis. Sepertinya, aku harus bersikap manis kepada Ratu." Batin Raja.
Dari tadi mengamati sosok Revan dan tidak mempedulikan adiknya yang bingung.
"Mas Raja, aku mau ada kelas." Keluh Lionel pada Raja.
"Kamu lompat dari jendela, terus cari penjaga asrama dan bilang sama penjaga, aku sudah terkunci di kamar." Ucapnya Raja, enteng.
Lionel menatapnya tidak senang, ia berkata "Kok aku yang mencari penjaga. Harusnya Mas Raja."
"Kamu yang mengunci pintunya. Makanya, kamu harus jadi pria yang bertanggung jawab." Raja jadi menyunggingkan bibirnya.
"Nanti kalau ada cewek yang lihat aku lompat jendela gimana?" Lionel yang tidak mau diledekin. Dia menjaga imeg cool di depan para cewek-cewek kampus.
__ADS_1
"Oke, aku yang keluar." Raja berjalan mendekat ke jendela, dan melompati jendela begitu saja.
Cekleek.