
Raja, nama panggilan anak pertama Lea dan Setya.
Bayi yang mungil dan tampak anteng dalam dekapan sang Bunda.
"Mas Setya, kenapa Raja bobo terus?" Tanya Lea dan masih duduk bersandar tempat tidur. Mendekap bayi tampannya dengan penuh kehangatan.
Seharian merasakan kontraksi dan malamnya sudah membawa kebahagiaan.
Sudah jam tengah malam, tapi Lea malah terjaga dan mendekap bayi tampannya ini.
"Bayi baru lahir memang begitu. Masih banyak jam tidurnya. Nanti, kalau sudah beberapa lama, baru sering menangis dan banyak geraknya."
"Owh, aku pikir akan nangis terus." Ucap Lea yang polos.
Setya membalas dengan senyuman, ia berkata "Tapi, memang ada juga bayi yang rewelan. Seperti Salsa. Dulu seingat aku, waktu Salsa baru lahir. Bunda yang gendong semalaman. Soalnya rewel terus. Ayah sampai nggak sanggup menggendong."
"Terus, antengnya gimana?" Tanya Lea.
"Ya digendong terus sama Bunda." Jawab Setya.
Sebelum Bundanya meninggal, masih sempat merasakan menggendong bayi perempuan. Meski bukan darah dagingnya, Bundanya Setya sangat menyayangi Salsa.
"Sayang, tidurlah. Nanti, jam menyusui Raja. Aku bangunin." Ucap Setya.
Lea berkata "Aku tidak mengantuk. Tadi setelah melahirkan, aku merasa seperti terpejam sesaat dan seolah aku sedang bermimpi. Ternyata aku beneran melahirkan. Aku hanya kaget."
"Kaget kenapa?" Tanya sang suami.
"Kaget waktu pertama menyusui. Rasanya aneh. Makanya, tadi aku berasa seperti mimpi. Tapi, ternyata bayiku beneran sudah lahir." Jawabnya gemas.
Setya meraih kepalanya dan mengecup keningnya. "Istriku sayang. Terima kasih. Sudah melahirkan putra kita dengan sekuat tenaga. Aku sangat bahagia."
"Iya Mas. Aku juga bahagia." Balas Lea dan ia tersenyum.
Lea menatap wajah mungil itu. Bayi tampan, berhidung mancung, bibirnya imut. Tampak rambutnya hitam halus dan tertutup kupluk rajut putih.
"Raja sayang." Panggilan gemas dari Bunda.
Setya bertanya "Sayang, namanya Raja saja? Atau ada yang lain?"
"Mas Setya bilangnya Raja. Ya udah, panggilnya Raja." Jawab Lea.
"Terus nama panjangnya apa?" Tanya Setya dan Lea masih bingung.
Lea berkata "Nanti tanya yang lainnya saja. Aku juga tidak mengerti."
"Oke. Tapi, Papa minta ada nama Madaharsa."
"Nggak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Aku nggak mau, nama anakku ada namaku atau nama Mas Setya."
"Ya sudah, makanya kamu saja yang bikin. Kalau aku, nggak bisa menolak Papa." Balas sang suami.
"Siap Mas. nanti aku pikirkan dulu. Yang jelas, aku nggak mau namanya Papa jadi nama bayiku." Lea yang terlihat tengil.
Bunda gemas ini, juga tergemas-gemas setelah melihat bayi tampanya. Bukan hanya suara yang mengowek memanggilnya untuk segera mendekapnya. Tetapi, dari wajah bayinya, Bunda Lea seakan luluh dan tak berdaya. Semua yang ada dalam hidupnya, sudah teralihkan untuk bayi tampannya.
"Sayang, kamu bobok sini saja ya. Sama Bunda. Bunda peluk."
Sang Ayah mendekat "Sayang, Raja harus bobo disana. Kamu belum boleh terlalu capek."
"Aku nggak capek. Cuma kepingin bobok pelukan."
"Raja masih kecil. Nanti kalau kamu lupa, malah tindihin dia."
"Aaa.. Tapi, aku masih ingin memeluknya."
__ADS_1
Setya tetap mengambil bayinya dari tangan istrinya dan memindahkan ke tempat tidur bayi. Ada Mama Beby dan Papa Arjuna yang siaga di ruangan itu.
"Raja sayang, sama Eyang dulu ya. Ayah mau nemenin Bunda." Ucap Setya yang menidurkan bayi tampannya ke atas tempat tidur.
"Mama, tolong jagain Raja." Ucap Setya dan melihat sang Eyang Arjuna yang tidur pulas di sofa.
"Iya, sana kamu jagain Lea. Nanti kalau mau menyusu. Mama antar kesana." Balas Mama mertuanya.
Setya masih menoleh ke wajah bayi tampannya. Tapi, mau bagaimana lagi, sementara harus terpisah ruangan dulu. Kalau istrinya nekat, Setya juga yang kerepotan harus mengurus dua bayi. Lea masih seperti bayi yang harus dirawatnya.
Setelah keesokan harinya. Lea sudah tampak berjalan sambil mendekap bayinya.
"Sayangnya Bunda habis berjemur ya." Gemasnya Lea, saat menatap bayinya.
"Sayang, tempat mandimu sudah siap." Ucap sang suami dan Lea masih sibuk dengan bayi tampannya.
"Iya Mas. Tunggu bentar." Ucap Lea.
"Sayang, Raja juga mau dimandikan sama suster."
Si bayi tampan yang mungil, dengan berat lahir 3,2 kg dan panjang 51 cm, begitu menggemaskan.
Kulit putih kemerahan dan mulutnya sudah meminta asi. Tampak mengowek gemas, tapi Lea melihat bayinya mencari-cari tempat asi eksklusifnya.
"Uuh, sayangnya unda. Mau ennyen yak." Ucapnya Lea begitu gemas.
Setya mendekatinya lagi, "Sayang, kamu masih pangku Raja terus. Aku mau anter ke suster dulu."
"Ini mau ennyen dulu." Ucapnya dan sang suami jadi mengalah.
Setya duduk di sebelah istrinya, ia berkata "Raja cuma pinjem loh ya. Itu punya Ayah."
"Idih, sama anak sendiri begitu."
"Emang bener. Aku sudah seharian nahan sampai nanti 40 hari."
"Sadar, aku lihat terus prosesnya."
"Nah makanya, nanti jangan buat anak lagi."
"Kok gitu ngomongnya. Kamu nggak ikhlas, melahirkan bayi tampanmu?"
"Ya bukan begitu. Makanya, aku mau fokus sama Raja dulu. Nggak mau bikin adiknya dulu."
"Siapa yang bilang mau bikin adiknya Raja. Kamu saja yang mikirnya sudah kelewatan." Ucap Setya.
"Aku terlihat begitu? Aku nggak begitu Mas. Aku cuma ingin fokus sama bayi kita ini."
"Iya, tapi kamu juga harus nurut sama aku. Aku mau punya anak 5. " Ucap suaminya dan Lea hanya menggeleng gemas.
"Pokoknya, 5 anak." Ucap Setya.
"Mas, aku bisa bikin pabrik permen. Tapi, aku bukan pabrik bayi kamu Mas."
"Terus, aku harus gimana??" Tanya suaminya menggoda.
"Aaa.. Jangan bilang mau poligami."
Setya berkata "Siapa bilang aku mau poligami. Kita ribut di depan Raja, nanti dia ngadu sama Eyangnya."
"Iih, Raja malah dijadiin tameng. Awas saja kalau ngelirik yang lain."
"Siapa yang berani begitu?" Setya yang kalah.
"Iya, iya. Ini bawa Raja ke suster. Mas harus mandiin aku." Ucap Lea, lalu tersenyum.
"Hems, cuma mandiin doang." Balasnya.
"Mas, pikiranmu yang aneh. Baru sehari puasa saja sudah kepingin."
__ADS_1
Setya tak lagi mempedulikan omongan istrinya. Meraih bayi tampannya dari dekapan sang istri.
"Rajanya Ayah, mandi dulu sama suster ya. Ada Eyang juga yang menemani."
Setelah siang hari, Raja kedatangan tamu kecil yang sama-sama gemoy.
"Hallo Raja kecil." Ucap Om Zio gemas.
"Jangan memotret anakku." Teguran sang Kakak ipar.
"Itu Yunamu boleh, kenapa aku tidak? Jangan pilih kasih dong."
"Istrimu sudah memotret, cukup sekali saja. Kamu tidak perlu memotret lagi." Ucap Lea gemas sekali.
Nada juga memangku bayi cantiknya dan ketiga Mahmud duduk bersama, melakukan sesi foto bersama.
Cekrrek.
Tiga mamah muda bersama bayi mereka. Nada yang duduk di tengah dan terlihat anggun.
"Lea, nama lengkapnya Raja siapa?" Tanya Yuna.
"Aku belum tahu." Jawab Lea, memang begitu adanya.
Lea belum sempat memikirkan nama panjang untuk putra tampannya ini.
"Gimana kalau kita vote?" Celetuk Lea gemas. Setya menyela "Sayang, jangan vote. Aku tidak setuju."
"Mas, aku juga bingung namanya. Mumpung ada Mbak Nada sama Yuna. Mereka bisa memilih, dari beberapa nama yang akan aku susun." Ucap Lea semakin gemas.
Setya memandangi bayi tampannya, dan bertanya "Raja sayang, kamu ingin nama seperti apa? Ayah sendiri juga bingung."
Eyang Arjuna datang mendekat, menyela "Raja Septa Kaiswaran."
"Emh?" Lea tidak merespon bagus.
Nada yang malah membalas Papanya "Kok nggak ada Madaharsa, kenapa anakku di kasih nama Madaharsa?"
"Adik kamu nggak mau dikasih nama itu sayang." Balas Mama Beby.
"Owh, kenapa nggak? Bukannya itu nama Eyangnya?"
Lea berkata "Terus, aku harus kasih namaku sama namanya Mas Setya, kayak Baby El? Aku nggak mau."
"Kenapa tidak, malah gampang mengingatnya. Nggak perlu susah-susah." Balas Nada.
Varell dan Zio juga sama seperti Setya. Hanya bisa memberi nama depan untuk bayi mereka.
"Elmeera dari Bang Varell, terus tinggal nama belakang orang tua. Gampang banget."
Yuna menyela obrolan Lea dan Nada "Lea, Lionel juga dari Zio, terus yang belakangnya dikasih sama Mama. Aku malah bingung waktu mikir. Jadi, aku iyain aja, namanya jadi Lionel Kendra Wardhana. Kalau anakmu, dikasih nama suami kamu, nanti anak kita, namanya sama-sama Wardhana."
Lea membalas, "Ogah, nama Eyangku sudah Wardhana. Alm. Mbah buyutku juga itu kalau nggak salah. Aku nggak mau. Namanya jadi mirip-mirip semua."
Yuna, Zio, Varell dan Nada terdiam. Papa Arjuna masih menyusun nama untuk cucunya ini.
"Raja Pramudya Kaiswaran." Ucap Eyang Arjuna yang antusias sekali.
"Nggak suka." Balas Lea.
"Lea coba pilih, Kaivan, Madhava, Alzam."
"Nggak suka."
Kevin datang. "Hallo, calon menantu."
Owweeek!!
Ooweek!!!
__ADS_1