
"Sayang. Bangun."
"Yunaku sayang, aku masih ngantuk." Rengekan Lea menggeliat manja, saat tidurnya diganggu dan kedua kaki bergerak-gerak kesal.
Setya mendekat, ia berbisik di sekitar telinga Lea. "Sayang, aku suamimu."
Rasa kantuknya masih membuat Lea lupa. Lea yang terbiasa hidup bersama Yuna, rasanya begitu aneh saat bersuami.
"Aaa.. Aku masih ingin tidur." Matanya susah untuk terbuka, tapi dia beralih posisi menghadap ke arah Setya.
"Lea. Ini aku, Mas Setya."
Mendengar hal itu, ia mencoba untuk membuka mata. Rasanya begitu berat untuk terbuka. Lea dengan samar, telah menatap wajah Setya.
"Mas Setya, kamu sudah sampai?" Pikiran Lea masih melayang di udara. Mungkin, ia masih memikirkan soal kepulangan Setya, sampai-sampai terbawa mimpi dan mengigau.
"Iya, aku sudah sampai. Ayo bangun. Ini sudah hampir maghrib."
Tak berselang lama, terdengar kumandang adzan maghrib. Lea membuka mata lebar-lebar. Tangannya bergerak untuk menggapai tangan Setya.
"Mas Setya, aku tadi ketiduran." Lirih Lea manja.
Ketiduran, sampai 2 jam lebih. Lea yang memang begitu adanya.
"Iya. Ayo bangun." Setya membuat Lea terduduk di atas kasur dan tampak lemas bersandar tembok.
Lea memandangi sosok tampan, yang mengenakan koko hitam, sarung dan peci.
"Mas Setya mau kemana?"
"Ke masjid. Sekalian, ke rumah Ibuk Kost."
"Aku tidak ikut. Aku mau sholat disini."
'Hemms, Setya juga tidak berniat untuk mengajak kamu. Lea,, nggak usah sok kepedaan deh.' Batin Othor.
Setya tersenyum, ia berkata "Sayang, sana buruan mandi. Aku udah siapin baju kamu."
"Iya."
"Aku berangkat dulu. Jangan lupa, kunci pintunya."
"Siap Bos." Ucapnya tengil.
Setya beranjak pergi dan Lea masih menatap ke arah Setya.
"Itu tadi, suamiku. Ganteng banget kalau pakai baju koko sama sarung. Aku jadi makin cinta."
Lea sepertinya, sudah ter- Setya-Setya.
Segera mengunci pintu kamar dan tutup jendela dengan rapat. Sesore tidur pulas, karena semilir angin dari celah jendela.
"Hoh, ini pakaian dalamku, juga disiapin sama Mas Setya." Auto mata melek. Mata itu terbelalak dengan sempurna.
Lea yang memegang tali bra dan masih terus menatapnya. Lea merasakan hal yang sulit untuk dipercaya, bahwa pria kaku seperti Setya, bisa membeli bra segemas ini.
"Suamiku."
Benar-benar ngegemesin, tampak warna pinky muda. Modelnya bra itu juga terkesan unik, dihiasi renda kecil bermotif kupu-kupu.
Emh lebih unyu lagi, cancut segitiganya yang sama warna dan motifnya. Ya, bisa dibilang satu set dalaman wanita.
"Dimana belinya? Berani banget beli beginian? Aku saja yang perempuan malas banget belinya. Biasanya, Yuna yang siapin buat aku." Gumamnya.
Sudah maghrib, tidak buru-buru sholat. Malah sibuk memandangi satu set daleman pinky unyu gemesin.
Lea kembali berkata "Suamiku memang pemberani. Emmh, aku makin cinta."
__ADS_1
Setya, sore tadi memang ke ruko depan untuk memindahkan mobilnya, ke rumah Jonathan, sekalian pamitan.
Rumah Ibu kostnya, di pinggir jalan raya itu. Sekitar 300 meter dan dekat dengan Masjid. Makanya, Setya setelah maghrib nanti, mau mampir ke rumah Jonathan.
Mamanya Jonathan juga terkaget, saat Setya mengatakan kalau dia membawa perempuan ke kamar kostnya. Sampai kepala Setya dicubit gemas, Mamanya Jojo.
Yuk, Simak percakapan Setya dengan Ibu Kost tadi sore. Mamanya Jonathan sering dipanggil Ibuk Jojo.
"Kamu ini, mau ngajarin anak-anak Ibuk." Ucap Ibuk Jojo dan langsung mencubit lengan Setya. Ibu kost berfikir kalau Setya, pacaran di dalam kamar kost.
"Ibuk salah paham." Balas Setya.
"Cepat sana, bawa pacarmu pergi. Atau Ibuk bawakan Pak RT, sama warga kampung sini." Ucapan Ibuk Jojo kesal.
"Bukan pacar. Tapi dia istriku." Setya juga bisa selengekan, kalau di depan Mamanya Jonathan.
"Istri??" Semakin kaget dan gelisah.
"Iya, tapi Setya belum cerita sama Jojo. Makanya, Ibuk jangan bilang dulu sama Jojo." Jawab Setya.
"Kamu hamilin anak orang??" Tatapan Ibuk Jojo begitu tajam.
"Tidak. Aku menikah halal." Jawab Setya begitu santai.
Batin Setya error "Kenapa orang-orang menuduhku menghamili Lea? Tadi Riko juga bilang begitu."
Setya dan Ibuk Jojo ini, sudah akrab dari usia Setya 15 tahun. Berarti hampir 10 tahun mengenal. Keduanya remaja yang selalu membuatnya pusing. Mamanya Jojo, kalau memarahi putranya, Setya datang membela.
Begitulah, Setya seperti anaknya sendiri. Apalagi, anak-anak kost semuanya juga disayang Ibuk Jojo. Kecuali kalau sudah ada yang membawa masuk cewek ke kamar, pastinya langsung naik pitan. Padahal sudah disediakan ruang tamu dan dapur untuk para penghuni kost, bila ada tamu yang berkunjung.
Masih tentang Setya dan orang tua Jonathan.
Setelah dari Masjid, Setya bertandang ke rumah Jonathan dan mengobrol dengan kedua orang tua Jonathan.
Kebetulan, Papanya Jonathan juga mengenal dekat Presdir Hendri, yaitu Ayahnya Setya.
Barusan terkejut, saat Setya menceritakan romansa cintanya. Papanya Jonathan malah mendukung Ayahnya Setya.
"Bapak malah berpihak sama Ayah"
Papanya Jonathan, lalu berkata. "Setya, yang namanya anak tetaplah anak, sampai kapanpun itu. Tidak ada yang namanya mantan anak, meski kamu sudah meninggalkan rumah Ayahmu. Nanti, kalau kamu jadi Papa, coba ingat-ingat wajah Ayahmu. Kamu pasti akan turut merasakan perjuangan Ayahmu, yang membesarkan dan mendidik kamu. Meskipun, tidak terlihat di dekatmu, tapi kebutuhan kamu dari lahir, dari tangan siapa, kalau bukan Ayahmu."
Sebenarnya, warisan dari Kakeknya Setya, juga disimpan khusus untuk Setya, tapi tidak memberitahu Malika. Hendri malah takut, kalau Malika meninggalkannya. Hendri mengatakan kalau sudah dipegang Jenny. Meski menyakiti hati Malika.
"Aku tahu. Aku hanya tidak suka ucapan Ayah sama Mama."
"Jadi, selama ini kamu tinggal di kost?"
"Iya Pak."
Papanya Jonathan langsung melirik ke Mamanya Jojo, yang pura-pura tidak tahu menahu, tentang masalah Setya.
Mamanya Jonathan berkata "Papa, Mama juga tidak tahu apa-apa. Jojo bilang, kalau Setya mau tinggal di kost. Mumpung ada kamar yang kosong. Ya sudah, Mama suruh Setya tinggal disana."
Papanya Jonathan hanya menggeleng, "Kalian semua sama saja. Kalau tahu begitu, kamu mendingan tinggal disini. Aku malah bisa bilang sama Ayahmu. Anakmu ada di rumahku, dia tidak mau jadi anakmu"
Setya jadi tersenyum dan Mamanya Jonathan jadi merasa lega. Tapi, tatapan Papanya Jonathan ke sang Mama, seperti pisau yang diasah.
"Mama minta maaf. Soalnya, Jojo bilang, Setya mau belajar mandiri. Setya juga kerja. Mama nggak tega. Setiap harinya, Mama tetap sediain kebutuhannya."
Papanya Jonathan jadi menggeleng, sudah berbulan-bulan, tapi tidak tahu menahu tentang Setya.
"Bawa sini, istrimu. Kita makan malam bersama. Biar aku kenal istrimu. Sebagai Bapakmu, aku harus mengenal menantuku."
"Iya Pak, nanti setelah sholat isya'. Aku ajak kemari."
Saatnya, makan malam bersama keluarga Jonathan. Sayangnya, Jonathan tidak ada di rumah.
__ADS_1
Lea dan Papa Mamanya Jonathan. Hanya saling menatap, mereka tampak terdiam saja.
Setya tadi, hanya mengenalkan istrinya. Setelah di ruang makan, saling menatap saja.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku kesal."
Lea berkata "Om Ziel, tega banget sama aku."
"Om Ziel?" Tatapan Setya syok.
Melihat ke arah Lea dan Papanya Jonathan. Mereka berdua saling menatap tegang.
"Om, ada pekerjaan penting. Om sudah suruh Tantemu."
"Sayang, Tante ada masalah darurat sama Jojo. Tante waktu itu, nyusulin Jojo ke seberang lautan."
Lea semakin kesal, "Terus-terusin saja, kalian begitu. Kenapa tidak datang merestuiku?"
"Sayang, kamu nggak boleh kasar begitu sama orang tua." Ujar Setya.
Lea membalas, "Mereka Tante sama Omku. Mereka berdua memang begitu. Hanya karena tidak mau bertemu Oma Darra. Mereka tidak datang ke pernikahanku."
Setya menoleh ke arah Papanya Jonathan, yang berpura tidak mengenal Lea.
"Bapak sama Ibuk, kenal sama Lea?"
"Iya, kita kenal sebagai keluarga." Jawab Mamanya Jonathan.
"Kalian masih bisa bilang kita keluarga. Tapi kenapa nggak mau pulang ke rumah Oma Darra? Kasian Oma Darra. Sekarang, Oma sakit, tapi kalian enak-enakan makan bersama aku."
"Mami sakit??" Tatapan Papanya Jonathan, semakin gelisah.
"Iya. Sepulangnya, dari acara akad nikahku. Oma Darra pingsan." Jawabnya.
Papa Jonathan ini, namanya Zielo Buyut Mahatma. Keturunan dari keluarga Mahatma, dalam silsilah keluarga besar Lea.
Om Ziel, supupunya Papa Arjuna. Baik dari Oma maupun Opanya Lea. Om Ziel memiliki ikatan saudara dekat.
Tentang Oma Darra dan Papa Arjuna. #baca_ABYAZ.
"Oma Darra sakit keras. Itu karena, merindukan Om Ziel."
Tuan muda minggat dari Mansion, karena gadis cantik bernama Aisyah. Siapa yang menghidupi mereka, selama manjadi pengantin baru, dan hidup dalam kesusahan, ialah Papa Arjuna.
Papa Arjuna hanya bertindak sebagai Kakak. Yang mencari adiknya. Adiknya, sudah kawin lari dengan kekasihnya.
Karena, ada perbedaan keyakinan antara Om Ziel dan Tante Aisyah. Yang, tidak dapat direstui oleh Oma Darra. Ya, seperti itu.
Tante Aisyah yang sendu, memegang tangan suaminya. Sebenarnya, Tante Aisyah sudah pernah berkunjung ke rumah Oma Darra. Bahkan, nama Jonathan juga pemberian dari sang Oma. Tetapi sampai sekarang, Om Ziel sendiri, tidak mampu untuk meminta restu kepada kedua orang tuanya.
"Selagi Oma masih ada. Om Ziel, lebih baik meminta restunya."
Alasan mereka tidak datang di setiap pernikahan, karena itu menyakiti perasaan mereka dan Oma Darra.
Orang tua, terkadang juga salah. Tidak selamanya benar. Mungkin saat ini, pria yang dianggap Bapak oleh Setya, bisa menasehati. Tapi tidak mengingat, akan masalahnya sendiri.
"Kamu tidak jadi pulang ke hotel?"
"Aku malas." Jawab Lea dan duduk bersandar.
Lea dan Setya, berada di dalam mobil, hendak pulang ke rumah Setya.
Sang suami yang tampak kaku ini, mencoba untuk mengenal Allea Gita Madaharsa.
Om Ziel juga langsung mengajak istrinya, pergi ke Mansion. Untuk menemui ibu kandungnya.
__ADS_1
Yang di kost, "Eh, Setya sama bininya kemana?"
"Sudah pergi."