
Siang hari dengan cuaca panas, sudah jam 2 siang. Lea mendapat tamu yang tidak disangka-sangka.
Seorang staff hotel telah mengatakan, kalau ada Madam Jenny, yang sudah menunggu di restoran. Lea dengan segera menemuinya.
Setya tetap melayani tamu agung ini. Sudah tampak sorot mata kesal dari sang ibu tiri. Lea yang datang mendekat, juga telah melihat mereka.
"Kamu kerja disini?"
"Iya Mama."
Jenny membatin "Kedua putra hendri sudah membuat aku darah tinggi "
"Pulanglah, Ayahmu sudah mencarimu."
"Baik."
Setya lalu kembali ke dapur, setelah menerima pesanan dari sang tamu agung.
Lea berjalan mendekat. Senyuman ala Lea, mengiringi setiap langkah kakinya.
"Tante." Suara riang Lea.
"Duduklah."
"Tumben, Tante Jenny datang kemari."
Lea duduk di seberang meja dan masih saja tersenyum manis. Jenny yang telah menatap dengan rasa tidak senang.
"Apa kalian berantem lagi?"
"Iya."
Jenny mendesah pelan, dan berkata "Lebih baik kalian putus."
"Tante ingin aku sama Zio, putus?"
"Iya, dari pada Zio selalu merengek dan sekarang dia mengurung diri di kamar."
"Harusnya aku yang begitu. Kenapa Zio yang marah?"
"Apa masalah kalian berdua? Tante sudah capek. Zio ingin kuliah sama kamu, Tante sudah menurutinya, tapi sekarang bagaimana dengan kuliahnya?"
Lea berkata "Kalau aku sama Zio putus. Apa dia akan pindah kuliahnya?"
"Iya, Tante akan mengirimnya ke luar negeri."
Lea berkata "Tante, bisa mengirimnya kesana. Ke seberang benua yang jauh sana, sepertinya akan lebih baik."
"Dari pagi, Zio sama sekali tidak keluar kamar. Tante takut kalau dia sampai bunuh diri."
"Harusnya aku yang kesal, karena dia yang selingkuh dari aku."
"Kalian putus nyambung berulang kali dan sekarang kalian selingkuh, Tante heran sama gaya pacaran kalian berdua." Jenny yang memang begitu adanya, dan sosok yang kemayu. Kalau ngomong tidak pandang bulu, dan sama Lea sudah klik. Sayangnya, Jenny juga mengharapkan masa depan untuk putra tampannya itu.
"Aku dekat sama cowok lain. Zio juga berpesta sama gadis yang populer di kampus. Aku tidak suka, aku kecewa. Aku juga sudah bilang sama Zio, kalau untuk saat ini, aku ingin sendirian dulu." Ucap Lea yang apa adanya dan dia tidak berfikir kalau Zio akan mengurung diri di kamar.
"Sudah beberapa jam, Tante jadi cemas."
"Coba sehari semalam, kalau Zio tidak keluar kamar juga. Aku akan datang kesana."
"Baik. Tante akan menunggu."
Saat ini, Setya kembali datang dan sudah membawa menu pesanan tamu agung ini, Lea juga menatap ke wajahnya.
"Setya, apa kamu sudah makan?" Tanya sang Mama tiri kepadanya.
Setya menjawab "Sudah."
"Baguslah. Aku tidak perlu memikirkan kamu. Aku sudah pusing karena ulah adikmu." Ujarnya dan Lea tampak menatap Setya dengan rasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Saya permisi dulu." Ucap Setya.
Lea berkata "Tante. Selamat makan."
"Ayo temani Tante. Tante tahu, kamu belum makan."
"Tidak mau."
"Kamu sama saja seperti Zio. Kalau sikap kalian begitu terus, bagaimana kehidupan kalian setelah menikah nanti?"
"Aku masih ingin kuliah. Untuk apa aku memikirkan pernikahan."
"Zio, sudah meminta Papanya, agar segera melamar pacarnya. Tante sampai syok, Tante pikir Zio sudah menghamili gadis lain. Tidak tahunya, kalian berdua sudah balikan lagi."
Saat menikmati makan siang yang sudah kelewat jam siang ini. Setya melihat keakraban antara Lea dan Mama tirinya.
"Hubungan kalian ternyata sangat dekat." Gumam Setya
Riko datang dan menghampiri Setya yang tetap berdiri di sisi pintu restoran. Riko berkata "Sana pergi ke dapur. Aku sudah siap melayani para tamuku."
"Oke."
Setya pergi dan Lea sekilas menatap ke arah Setya, yang berjalan pergi menuju pintu dapur.
"Tante Jenny, kenapa Mas Setya bisa pergi meninggalkan rumah?"
"Dia susah diatur. Ayahnya ingin dia menjadi pimpinan, tapi apa yang dia perbuat, dia malah sibuk pacaran dengan artis" Jawab Jenny.
"Kalau hubungan aku dan Zio. Apa Om Hendri sudah setuju?"
Jenny menjawab "Papanya, tetap tidak suka. Meskipun, kamu putrinya Arjuna. Papanya Zio, hanya ingin kedua putranya bisa belajar dan bekerja dengan serius. Tidak sibuk pacaran."
"Jadi begitu." Batin Lea tenang.
Lea berkata "Tante, bilang saja sama Zio. Aku akan memaafkannya, kalau dia sudah jadi CEO."
"Kamu ini, omongan Tante mana mempan."
"Zio tidak seperti Setya, meskipun dia tidak mau mendengarkan nasehat Papanya, Zio memilih untuk kembali ke rumah. Kalau Setya, dia sangat keras kepala. Sekalinya kabur, dia tidak kembali."
"Ternyata begitu, aku jadi mengerti."
"Tante, Besok aku akan membujuk Zio."
"Gadis pintar. Tante sudah selesai makan. Tante harus segera pulang. Semoja saja, Zio sudah keluar kamar."
"Iya Tante Jenny."
Lea tetap duduk saja, setelah Jenny memanggil pelayan untuk membayar tagihan menu pesanannya tadi, beliau lantas pergi dengan harapan manis.
"Zio, harusnya aku yang marah."
Setya yang datang mengambil piring dan gelas kotor di atas meja tamu. Lea juga menatap wajahnya, tak ada kata untuk saling menyapa.
Setelah malam tiba, Setya yang sudah datang lebih dulu dan segera memesan tiket film horor. Setya tahu kalau Lea menyukai film horor, info itu dari mulut Zio sang adik tiri.
Setelah 10 menit menunggu, Lea datang dengan penampilan tertutup.
Sudah berapa pakaian dia lempar. Pastinya, Yuna pulang nanti bakalan lembur.
Satu lemari di obrak-abrik, sampai harus memanggil desainer ternama untuk membawakan beberapa dress. Akhirnya, membeli baju atasan yang dipakai oleh asisten desainer itu.
Untungnya saja tidak ada Mama, Nada dan Yuna. Bisa-bisa Lea menjadi pusat perhatian mereka para wanita.
Menurut pendapat dari penglihatan Lea, wanita cantik jelita tiada tara hanya sang Mama tercinta, sedangkan perempuan yang anggun dan mempesona adalah Nada, sang Kakak tersayang.
Lalu ada Clarissa, si cantik menawan dan tampak sempurna, dengan julukan mahasiswa paket lengkap.
__ADS_1
Tidak seperti dirinya, si tuan putri biasa dengan banyak tingkahnya.
Salah sendiri, semua pakaian di lemari tidak ada yang berlengan, semuanya terbuka dan hanya ada jaket milik Yuna, itupun sudah sering dipakainya. Kecuali kalau kuliah, pakai kaos dan rok mini.
"Apa, Mas Setya sudah lama menunggu?" Suara itu terdengar lemah lembut.
"Tidak. Aku juga baru saja datang. Tapi aku sudah membeli ini." Setya yang mununjukan dua tiket film horor.
"Oke. Kalau begitu, aku yang membeli minuman dan popcorn."
"Terserah kamu saja." Setya mengikuti saja langkah kaki Lea saat ini.
Setelah masuk ke bioskop. Mereka mencari tempat duduknya. Tidak menunggu lama, mereka mulai menonton film.
Sebut saja judul film Dedemit Aromanis, Lea yang menatap layar lebar dan Setya juga tampak fokus pada film yang dia tonton.
"Huf, harusnya aku beli satu popcorn aja. Biar jadi romantis." Batin Lea sepertinya sudah menyesal.
"Apa Lea tidak suka filmnya? Tapi kata Zio, mereka berdua sering nonton film horor." Batin Setya.
Meski Setya sudah dewasa, dia tidak banyak mengerti tentang perempuan. Soalnya, sewaktu jadian sama Micheel, nggak ada waktu buat nonton berdua seperti saat ini.
"Kenapa Mas Setya ingin nonton film horor? Apa karena Micheel yang memerankan tokoh utamanya?"
Setya akhirnya melihat sendiri akting sang mantan kekasih. Setya juga lupa, kalau Micheel yang menjadi tokoh utama, dalam film yang sedang menjadi pusat perbincangan.
Riko juga memberikan komentar setelah menontonnya. Malahan, dia orangnya yang merekomendasikan pada Setya, agar menonton film ini.
Saat tangan bergerak, Lea sempat menyenggol lengan tangan Setya.
Keduanya jadi saling menatap manis. Perlahan, terlihat senyuman Setya untuk Lea.
Setelah film selesai dan semua para penonton telah berhamburan keluar.
Setya menawarkan tangannya "Ayo kita pergi."
"Kemana?"
"Terserah kamu."
"Oke."
Lea dengan tersenyum dan memegang tangan Setya. Sempat malu-malu meong, tapi dia merasa bahagia.
"Mas Setya bisa menyetir mobil?"
"Bisa."
"Kalau begitu, aku yang memandu jalan."
"Baik."
Lea dan Setya jalan berduaan. Mereka memilih pergi dari tempat nonton itu, agar tidak ada yang melihat mereka berdua.
"Mas Setya kenapa tidak pulang ke rumah?"
"Aku masih ingin begini."
"Bukannya, aku sok menasehati Mas Setya. Tapi sebaiknya, Mas Setya pulang ke rumah dan melanjutkan pendidikan Mas Setya."
Seketika wajah Setya menoleh ke wajah Lea, dan bertanya, "Kamu ingin aku begitu?"
"Setidaknya, itu jauh lebih baik." Jawab Lea.
Setya kembali fokus mengendarai mobilnya Lea. Setya yang tampak terdiam dan Lea merasa gelisah.
"Zio, kenapa aku jadi merasa bersalah?!" Zio sudah berpaling. Lea juga menarik perhatian Kakak tirinya."
__ADS_1
Setya spontan "Apa, aku harus merebut kamu dari adikku sendiri?"