
Suasana kantin kampus di siang ini. Kedua wajah itu saling menatap, Zio yang seolah meminta penjelasan dari Lea, sedangkan Lea sendiri tampaknya susah untuk mengungkapnya.
"Aku tahu semalam kamu pergi bersama pria lain." Ucap Zio, yang memang sudah tahu dari orang suruhannya. Sayangnya, orang suruhannya itu tidak tahu kalau sosok laki-laki itu adalah Kakak tirinya Zio sendiri.
"Iya. Tapi, aku tidak berbohong. Kemarin sore aku memang pulang ke rumah bareng Mbak Nada dan Bang Varell. Terus, semalam balik karena ada urusan penting." Balas Lea dengan santai dan mengatakan hal sebenarnya, kepada sang pacar imutnya.
Zio masih kepikiran hal itu, dan berkata "Dia pasti orang yang dijodohin sama kamu."
"Hah?? Dijodohin?" Tatapan Lea terkaget. Zio masih memandanginya dengan wajah super cute.
"Bukannya, Yuna kemarin memberitahu begitu. Kamu bisa saja dijodohin sama pria lain." Ulasnya membela diri sendiri. Padahal, dia juga salah sudah menyuruh orang lain, untuk mengawasi sang pacar cubbynya itu.
"Zio. Kamu ini ada-ada saja. Mana ada perjodohan seperti itu. Aku juga punya pilihan sendiri." Ujar Lea, dengan gayanya yang biasa saja.
"Pilihan kamu, siapa?" Tatapan Zio sekali lagi tidak bisa mengalihkan perasaan Lea. Meski sempat terpikir untuk berselingkuh darinya.
Lea tersenyum, lalu menjawab "Buruan makannya. Aku masih ada kuliah lagi."
"Iya. Kamu jangan kemana-mana."
"Aku akan tetap disini."
"Kamu memang harus disini."
"Selamat makan Zio pacarnya Lea."
Lea dengan tersenyum ceria dan merasa lega. Ternyata Zio tidak menebak siapa pria yang semalam bersamanya di taman.
"Aku juga ingin jalan di taman sama kamu."
"Iya. Udah dong. Makan dulu. Aku temani disini dan akan terus melihat ke wajah kamu." Lea merasa gemas dan Zio jadi tersenyum lebih manis.
Zio menikmati makan siangnya dan Lea sudah menyangga wajah dengan kedua tangan. Tersenyum gemas saat melihat sang pacar tampannya itu makan.
Lea yang masih saja menatap ke wajah Zio dan Yuna memotret mereka dari kejauhan. Mengunggah di forum kampus dan mengatakan bahwa Lea dan Zio semakin manis.
Padahal, Yuna sendiri malas membuat imeg manis pasangan ini. Tapi, demi Lea yang menjaga imeg manis. Sebentar lagi juga ada pesta tahunan. Pasangan lain, berlomba-lomba akan memberikan pertunjukan yang menarik. Bukan hanya couple, tapi ada pula para grup yang akan menampilkan tarian, lagu, drama dan ada penutupan dengan acara dansa secara berpasangan.
Pesta tahunan yang akan di adakan pada hari sabtu malam nanti. Dalam rangka memperingati ulang tahun kampus Glory.
"Lea, aku masuk ke kelas." Ucap Yuna.
"Iya. Aku temani pacarku dulu."
Yuna menggeleng dan membatin "Zio memang selalu di posisi pertama."
Zio semakin senang setelah mendengar ucapan Lea barusan. Entah sengaja atau tidak, makan siang kali ini cukup lama sekali. Lea sempat melihat ke arah jam yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa kamu nggak nafsu makan?"
"Aku tidak enak badan."
"Apa kamu demam?" Lea mendekat dan memegang dahi Zio. Ia tampak merasa kalau dahi Zio memang sedikit hangat.
"Ya sudah kalau nggak nafsu makan. Kita ke ruang medis yuk."
"Kenapa kesana?"
"Aku akan merawat pacarku."
Gimana Zio nggak semakin klepek-klepek dibuatnya.
"Kenapa senyum begitu?"
__ADS_1
"Aku senang saja." Zio kembali makan dan segera menghabiskan makanannya.
Lea berkacak pinggang dan ia berkata "Kamu sudah lebih sehat. Aku masuk ke kelasku dulu."
Menyambar tas yang ada di meja dan pergi begitu saja. Zio tetap senang dan ternyata dugaannya sudah salah. Dirinya tetap jadi pilihan Lea.
"Aku juga masih ada kuliah." Zio mengingat akan dosennya yang membawa nilai kedisiplinan. Nilai kehadirannya harus sempurna, bila sekalinya membolos, akan ada tugas tambahan.
Lea yang berlari karena sudah terlambat masuk kelas. Dosen sepertinya sudah hadir dan memulai perkuliahannya di jam siang hari ini.
Dengan cepat menaiki anak tangga dan Lea merasa terbebas dari sang pacar.
"Untung saja. Aku bisa menghindar." Gumamnya dan saat tiba di depan pintu kelas itu, Lea membenahi dirinya.
Setelah itu, Lea masuk ke ruangan dan sudah ada dosen perempuan yang telah memberikan perkuliahan. Lea berjalan menuju kursi yang sudah disiapkan Yuna.
"Gimana? Pacar kamu baik-baik saja?"
"Iya." Jawabnya manis.
Mereka yang saling berbisik, lalu fokus pada perkuliahan mereka. Mata kuliah public speaking, membuat Lea jadi semakin termotivasi. Dosen yang mengampuh mata kuliah ini juga asyik. Membuat suasana ruangan begitu nyaman. Seperti perasaan Lea saat ini.
90 menit berlalu dan Lea malah sibuk dengan layar ponselnya. Yuna yang sudah ada di sebelah kanannya mengambil tasnya Lea.
"Ayo buruan pergi."
"Bentar napa."
Ruangan itu sudah sepi dan mahasiswa sudah keluar lebih dulu.
"Yuk ke A.J."
"A.J? Ngapain?"
"Bilang aja mau ketemu Bang Kevin."
"Lea."
"Oke." Lea yang beranjak pergi dan Yuna mengikuti langkah kakinya. Yuna yang memang sedang PDKT dengan Kevin, dan rasanya bahagia bila akan bertemu. Apalagi, tadi juga sudah mengirim pesan kepada Kevin, dan menyuruh Yuna datang ke kantornya saja.
"Honey." Zio yang sudah berada dihadapannya.
Lea berkata kepada Yuna. "Yuna, kamu bisa tunggu di mobil."
"Oke." Yuna yang patuh dan segera pergi meninggalkan mereka berdua. Bahkan tasnya Lea sudah dibawa Yuna. Hanya ponsel yang masih di tangan kirinya.
"Aku antar kamu pulang."
"Sorry, aku sudah ada janji sama orang."
"Orang lain? Siapa?" Tatapan Zio dan sudah penasaran. Kian hari semakin takut kalau Lea akan memilih pria lain dan sampai meninggalkan dirinya.
"Aku ada janji sama Bang Kevin. Soal acara besok sabtu. Sekalian aku ingin melihat para talent yang sedang berlatih." Jawab Lea.
Memang itu yang sebenarnya. Lea juga ingin melihat para artis pilihan sang Mama yang nantinya akan jadi bintang tamu di acara pesta tahunan kampus.
"Aku akan ikut kamu."
"Zio. Kamu pulang saja. Kamu sepertinya masih tidak enak badan."
Zio mendekat dan memeluk Lea. "Honey, aku masih kangen kamu."
"Aku tahu. Tapi aku juga ada urusan lain."
"Baik, aku mengerti." Zio melepaskan pelukannya dan Lea tersenyum.
__ADS_1
"Nanti malam aku telephone."
Zio kembali meraih Lea, dan mengecup bibirnya. "Zio, kita masih di kampus."
"Aku tidak peduli."
Keduanya saling menatap, Lea berkata "Aku pergi dulu."
"Hati-hati."
Lea berjalan pergi dan Zio masih saja menatapnya. Kedua teman Zio telah mendekat.
"Gimana? Lea selingkuh lagi?"
"Kalian biangnya api."
Tommy berkata "Aku melihat sendiri."
"Sudahlah. Aku lebih mengenal Lea."
"Ayo kita bikin party." Ajak Revan.
"Aku sedang malas."
"Ayolah. Merayakan hubungan kalian langgeng. Besok sabtu, kita berdua tidak akan mengganggu kalian."
"Baiklah." Zio yang sudah bersama kedua temannya. Sayangnya, mereka berdua tidak tahu menahu soal keluarga Zio dan tidak mengenal Kakaknya Zio.
Tadinya, Tommy melihat Lea di hari pertama Lea bertemu Setya dan akhirnya Zio membayar orang untuk mengawasi sang pacar dan ingin membuktikan kalau Lea tidak selingkuh darinya.
Anggap saja ini foto genknya Zio. Ada Tommy, Zio dan Revan. Mereka bertiga ini, dekat selama kuliah, karena mereka bertiga dari satu jurusan yang sama.
Pernah selingkuh, tapi Lea hanya bermain saja dan tidak ada hubungan manis. Hal itu juga terjadi pada Zio dan hanya ingin membuat api cemburu saja.
"Kenapa lama? Ciuman dulu?" Yuna yang memang sangat mengenal Lea dan Zio. Hanya dengan Zio, Lea mau pelukan dan ciuman.
"Apasih, aku cuma merasa nggak enak hati aja sama dia."
"Nyesel, udah selingkuhin dia." Yuna yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Bukan begitu Yunaku sayang." Balasnya.
Mobil sedan mewah dengan warna putih elegan, tipe mobil perempuan. Mobil itu telah meninggalkan halaman parkiran kampus.
"Entah kenapa, aku merasa sudah menyakiti Zio. Padahal, aku sama sekali tidak selingkuh. Kalau aku jadian sama yang lain dibelakangnya, itu namanya selingkuh. Tapi aku tidak begitu."
"Lea, sepertinya kamu harus jaga jarak dengan Kakaknya Zio. Aku cemas kalau Zio sampai tahu dan akhirnya malah ada keributan antara Zio dengan Kakaknya."
"Aku juga berfikir begitu. Tapi aku tulus membantu Mas Setya."
"Kamu niatnya memang begitu. Tapi, apa kata Zio nantinya. Kamu sendiri juga nggak bisa jujur sama Zio."
"Kamu benar. Aku, sudah menciptakan masalah." Lea yang hanya menatap ke depan.
Jalanan yang ramai akan kendaraan, tapi menjelang sore ini tidak semacet biasanya. Mereka berdua telah menuju ke A.J.
Setelah 30 menit perjalanan, mereka berdua tiba di A.J.
"Lea."
"Sana, jalan duluan."
__ADS_1