
Yang bosan silakan tinggalkan. Yang setia silakan tekan gambar jempolnya.
...Yuk, lanjut lagi dengan Raja....
Cahaya pagi yang menyilaukan, sudah menyusup masuk melalui tirai jendela kamarnya Ratu, yang ada di rumah Raja.
Sepasang pengantin baru, masih tertidur pulas dan mesra.
Selimut tebal masih menutupi kedua insan yang terbaring menyamping dan saling memegang tangan.
"Aku masih ngantuk." Keluhnya, saat mendengar suara deringan ponsel yang memanggil dirinya.
Raja juga lupa mematikan ponselnya. Saat ini sudah jam 9 pagi. Tangan kanan itu bergerak meraih ponselnya, yang berdering merdu di atas meja kecil, sebelah ranjang tidurnya itu.
"Hallo." Suara Raja terdengar serak.
"Raja sayang, kamu masih tidur? Ini sudah siang nak." Ucapan nyaring dari telephone itu.
Raja melihat ke layar ponselnya dan sang Bunda yang telah memanggilnya. Sudah 2 kali panggilan Bunda, tidak dia angkat.
"Bunda, aku habis lembur. Aku masih ngantuk." Ucap Raja
"Lembur? Kamu masih di asrama? Lembur main game?" Bunda jadi kepo sendiri dan sepintas mendengar suara memanggil Raja dengan sayang.
"Sayang." Panggilan Ratu yang manja.
Raja mengecup keningnya, lalu berkata "Sebentar ya. Aku mau bicara sama Bunda."
Raja beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Di tempat Bunda berada, Kai juga turut mendengar ucapan Raja. Karena Bunda menyalakan speakernya. Ada hal yang sekiranya tidak beres, Bunda mematikan panggilannya itu.
"Bunda kok dimatiin. Aku penasaran sama jawaban Mas Raja."
"Sudah diputuskan, kalau kamu harus tinggal di kamarmu sendiri."
"Bunda kok gitu. Tadi Bunda belain aku di depan Ayah sama semua saudaraku, kenapa sekarang Bunda jadi melarang aku tinggal di kamarnya Mas Raja. Ini namanya nggak adil."
"Ucapan Ayahmu benar. Raja tidak kasih ijin, buat kamu masuk ke kamarnya. Raja juga sudah menikah, bisa saja Masmu itu mengajak istrinya bermalam di rumah ini." Ucapnya tegas.
"Aaa.. Bunda. Aku maunya kamar Mas Raja." Rengekan Kai, dan terdengar begitu manja.
"Kai, sudah cukup merengeknya. Bunda masih ada pekerjaan."
"Pokoknya, aku mau kamar Mas Raja. Kalau nggak, aku nggak mau lagi pulang ke rumah ini." Balasnya Kai juga tegas.
Bunda menoleh ke arah Kai, lalu berkata "Terserah kamu saja. Bunda pusing."
"Aaaa.... Bunda begitu." Kai kesal dan beranjak pergi dari hadapan sang Bunda.
Bunda Lea kembali menghubungi putra pertamanya.
"Sayang, kamu dimana?"
"Aku di rumah sama Ratu."
"Sama Ratu? Kamu berduaan sama Ratu?" Bunda penasaran dan melihat ke arah pintu ruangan itu. Menutup rapat pintu ruang kerjanya dan kembali bicara dengan Raja dari telephonenya.
Kai kembali dan menguping obrolan Bunda "Apa? Tidur bersama? Wow, Kak Ratu terlena juga. Bilangnya nggak suka sama Mas Raja, tapi mau juga tidur seranjang."
Kai kecil-kecil begitu, menghanyutkan. Bunda Lea ke point utama, kalau Kai ingin tinggal di kamar Raja.
"Bunda, aku sudah bilang sama Ayah. Aku nggak mau, Kai masuk ke kamarku, apalagi tukeran kamar. Aku nggak mau."
"Iya iya. Bunda sudah bilang begitu. Tapi, adikmu mengancam Bunda."
"Kalau dia mengancam Bunda, usir saja dari rumah. Biarkan saja tinggal di rumah Eyang."
"Sayang, jangan bilang begitu. Kai dari kecil sudah disana. Jarang sekali pulang ke rumah. Ayolah, Bunda mohon sama kamu."
Ratu masuk ke kamar mandi, melihat Raja yang menatap ke cermin di dinding atas wastafel.
__ADS_1
Tangan Ratu melingkari perutnya. Ratu berkata "Jangan pergi. Aku ingin bersamamu."
"Sayang. Aku harus membereskan ulat bulu yang berjalan ke kamarku."
"Ulat bulu? Ada ulat bulu?"
"Iya, dia bikin gatel pikiranku."
"Raja, kamu masih mendengarkan Bunda?"
Tik tuk tik tuk.
Bunda malah jadi mendengar obrolan Raja dengan menantu cantiknya itu.
"Raja."
"Bunda, nanti aku akan pulang sama Ratu. Aku yang akan bicara sama Kai."
"Raja sayang, tapi kamu jangan memarahi adikmu."
"Bunda tenang saja."
"Bunda tunggu kedatangan kalian."
"Nanti aku kabari lagi. Soalnya, siang ini aku sama Ratu masih ada kuliah."
"Baik, Bunda akan sabar menunggu."
Raja dan Ratu, semalaman lembur. Saat pagi setelah subuh, jadi ngerumpi manja, sampai keduanya terlelap.
Bunda membuka pintu ruang kerjanya dan Kai sudah tidak terlihat.
Bunda bergumam dalam hati, "Apa Kai beneran pergi? Kemana perginya?"
"Bunda." Kai seketika memeluk Bundanya dari belakang.
Bunda tampak terkejut, menoleh ke wajah Kai.
"Bunda."
"Bunda. Gimana? Apa Mas Raja sudah kasih ijinnya?" Tanyanya Kai manja.
Bunda yang masih dipeluk Kai, dan Kai menyandarkan dagunya ke bahu kanan sang Bunda. Tangan Bunda mengelus pipi gemoy putrinya.
"Tidak."
"Tidak kasih ijin? Tidak mau tukeran kamar?"
"Iya. Nanti malam, Masmu pulang bawa istrinya."
"Huff."
"Sayang, kamu bisa tinggal di kamar Bunda."
"Emh, memangnya boleh?"
"Boleh, Bunda sama Ayah bisa pindah ke kamarmu."
"Yes, aku bisa berlama-lama di rumah."
"Iya sayang, kamu memang harus tinggal bersama Bunda."
Kai mengecup pipi kanan sang Bunda dan ia berlari pergi dari hadapan sang Bunda.
"Gadis nakal." Gumam Bunda, dan bibir itu tampak tersenyum.
Bunda Lea merasa gemas akan tingkah putrinya yang satu ini. Manjanya sudah kelewatan, meski dulu dirinya nekatan tapi jarang bermanja kepada orang tuanya. Kecuali, dengan kesayangannya yaitu Yuna Kartika.
"Yunaku sayang." Ucapnya dalam panggilan telephone.
"Iya sayang, ada apa? Tumben calling aku lagi?" Mammi Yuna seolah sudah terlupakan seminggu ini.
__ADS_1
"Sayang. Minggu kemarin itu, pikiranku sangat kacau."
"Apa sekarang sudah lega? Lalu kembali mengingat aku?"
"Bukannya lega. Semakin nyut-nyutan ini. Duh, aku pusing. Aku mau bertemu kamu sekarang."
"Aku mau ada rapat penting. Nanti jam makan siang? Di Hotel kamu, bagaimana?"
"Ayolah, sekarang saja."
"Baiklah, aku menyerah."
Bunda Lea tersenyum dan menutup panggilan telephonenya itu. Bunda Lea sudah menentukan tempat pertemuan mereka, di sebuah cafe milik kerabat dekatnya.
20 menit kemudian
Bunda Lea bertemu dengan Mammi Yuna. Saling cipacipiki dan pelukan ala mereka.
"Duduklah." Ucap Bunda Lea kepada Mammi Yuna.
"Oke. Aku juga tidak bisa berlama-lama disini."
"Yunaku sayang, aku pusing. Kai ingin tinggal di rumah, sedangkan Raja nanti malam juga kembali."
"Bagus dong. Malah kumpul semua."
"Bagus?! Kamu tidak tahu saja kalau mereka berdua sudah saling memegang kuasa. Sampai-sampai aku setrees, kalau dua anakku ribut dan mereka punya kekuasaan lebih. Aku mana bisa memarahi mereka."
"Susah juga, kalau kedua orang tuamu selalu menjadi tim pembela mereka berdua."
"Kai ingin kamarnya Raja. Tapi, Raja tidak mengijinkan Kai menginjakkan kaki memasuki kamarnya. Yunaku sayang, aku cemas kalau Raja sampai menendang adiknya."
"Hai, tidak mungkin putramu sekejam itu. Yang ada, putrimu akan menindas Kakaknya."
"Nah itu dia. Aku pusing banget. Ini lagi, Zyan sudah main cinta-cintaan. Mas Setya, juga tidak bisa menasehatinya. Aku baru bicara pelan. Zyan langsung bilang, aku keturunan Bunda. Jadi, aku wajar bersikap begini sama Cassandra." Keluhnya Bunda Lea dan memijat kepala kecilnya itu.
"Lea, putra putrimu tidak salah. Mereka memang sama seperti kamu. Aku saja, sama Lionel tidak pernah akur. Tapi, kalau aku sakit siapa yang paling cemas kalau bukan Lionel, yang lain mana peduli." Ucapnya benar adanya.
"Iya, aku paham. Apalagi, suamimu sering ke luar kota." Balasnya dan Bunda Lea memegang cangkir hitam yang terisi teh mawar. Aromanya terasa nikmat, membuatnya nyaman.
Mammi Yuna, baru memesan kopi. Mammi Yuna lebih menyukai kopi robusta semenjak menangani pekerjaan berat di kantornya. Menurutnya, aroma kopi robusta terasa nikmat dan lebih menggugah semangatnya, untuk menghadapi pekerjaan yang selalu datang tanpa diundang.
"Lea sayang, kamu harus santai. Biar tidak muncul kerutan di wajahmu."
"Benarkah? Apa sudah terlihat kerutan di wajahku?"
"Belum ada. Aku malahan. Sudah tumbuh uban."
Bunda Lea meraih cermin dari dalam tas jinjingnya, melihat wajahnya yang masih terlihat kencang dan mulus.
"Syukurlah, tidak ada kerutan."
"Makanya, kamu harus santai. Biarlah putra putrimu menikmati masa mudanya. Jangan keseringan marah. Nantinya seperti aku."
"Lionel sama Julian penurut, coba anak-anakku begitu."
"Tidak juga. Lionel juga suka nekatan. Buktinya, lebih memilih tinggal sama putramu dari pada tinggal bersamaku."
"Kamu benar, tapi aku masih bingung. Kai mengatakan kalau dia kecan sama Calvin. Raja bilang, aku harus melarang Kai. Raja tidak mau segan sama istri Omnya. Padahal, itu belum terjadi. Apa nanti kabarnya mereka, kalau Kai jadi istrinya Calvin dan Raja harus hormat sama Kai."
"Sayangku, mikirmu kejauhan. Biarkan saja. Siapa tahu, mereka memang berjodoh."
Kopi Mammi Yuna datang. Terlihat senyuman Mammi Yuna saat pelayan memberikan secangkir kopi robusta.
"Bunda."
Lean yang datang dan tampak bersama dua susternya.
"Sayang, kamu bisa kemari?"
"Aku mengikuti Bunda dari sini." Lean memamerkan ponsel canggihnya, ke hadapan sang Bunda.
__ADS_1
"Bunda, ayo pulang. Jangan ngerumpi."