Permen Kapas

Permen Kapas
Tinggal Di Asrama


__ADS_3

Embun pagi tampak membasahi kaca jendela kamar asrama. Ratu semalam menunggu teman kamarnya, sampai gerbang di kunci penjaga, temannya tidak kunjung datang.


Saat ini, baru jam 6 pagi. Ratu yang duduk di kursi belajar, menatap arah jendela.


Seketika meninggalkan tugasnya dan melihat ke arah luar. Begitu histeris, suara beberapa mahasiswa dan mahasiswi.


"Trio RL." Ratu yang membuka jendela, melihat mobil sedan hitam dan itu mobil calon mertuanya.


"Untuk apa tinggal di asrama?" Batin Raty yang sudah mulai penasaran.


"Nggak mungkin, kalau dia ngikutin aku." Desis Ratu dan menutup kembali jendela kamarnya.


Ratu bukan hanya suka menyendiri, dia memang lebih menyukai kamar tertutup dan selalu menutup rapat jendela kamarnya.


Ratu kembali dengan tugas kampusnya dan dia hanya berfikir kalau Raja pasti sedang mencari sensasi.


Yang di parkirkan, Elmeera, Raja dan Lionel tampak melakukan perpisahan.


"Kita berdua cuma di seberang situ El." Ucap Lionel dan Raja memilih diam.


"Tetap saja. Aku nggak bisa lagi nimbrung kalian berdua."


Pakai acara pelukan segala dan membuat para penghuni asrama semakin riuh.


El sudah terbiasa bertingkah begitu. Marla sang penghuni baru, juga menatap dari jendela.


Dia gadis yang mengejar-ngejar Raja. Dari SMA dan sampai ke kampus ini, dia tetap mengikuti Raja. Sayangnya, Marla tidak tahu kalau El itu Kakak sepupunya Raja. Soalnya, El selalu berkata kalau Raja itu sahabat kecilnya.


Mungkin karena itu, Marla dan El saling menindas satu sama lainnya. El tidak suka dengan gaya sok kecantikan dari Marla. Sedangkan Marla, selalu cemburu bila El bermanja dengan cowok idamannya.


"Dia juga ikut tinggal disini. Aku akan berikan pelajaran." Dessisnya.


Marla tahu, dari teman dekatnya. Kalau kemarin sore, Raja menyuruh pengawal dan mengurus perijinan tinggal di asrama putra.


Sebab itu, Marla tidak mau membuang kesempatannya, untuk dekat dengan cowok idamannya.


Raja berkata "El, ingat tugasmu."


"Iya, iya. Aku akan berteman dengan Ratumu." El kembali memeluknya dan masih merasakan kegelisahan semalam.


"Kamu baik-baik ya. Jangan sampai sakit. Belajarlah untuk mandiri." Ucap El yang seolah menasehatinya.


"Iya, aku tahu Mbak El." Balas Raja dan El hendak meninju pipi tampannya itu.


Raja memegang kepalan tangan El. Raja berkata "El, jadilah perempuan manis. Biar ada cowok yang suka sama kamu."


"Aku nggak mau dipanggil Mbak." Balasnya terdengar kasar.


"Sana pergi, aku sudah nggak sabar. Ingin melihat kamar tidurku."


Mereka berjalan terpisah dan mobil Bunda Lea, sudah pergi setelah menurunkan mereka bertiga.


Bunda Lea sendiri yang mengantarkan putranya. Meski tidak tega saat melihatnya. Tetapi, Bunda harus merelakan putra tampannya. Agar kelak, bisa menjadi suami yang bertanggung jawab.


"Raja, Bunda pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik." Gumam sang Bunda, saat melajukan mobil sedan hitamnya.


Mobil mewah itu meninggalkan area kampus dan akan kembali ke ibukota. Meski tampak seorang diri, sudah terbiasa bagi Bunda Lea. Tetap ada, pengawal yang mengikutinya.


Kembali pada El, yang telah berjalan memasuki asrama putri. Memegang gagang koper dan menariknya dengan pelan. El juga tampak berjalan pelan menuju ruangan penjaga asrama.


"Permisi."

__ADS_1


"Iya. Kamu pasti mahasiswi yang bernama Elmeera."


"Iya Bu."


"Saya Darsih, anak-anak biasa memanggil saya Bu Darsih."


El tampak tersenyum, setelah saling berjabat tangan.


Bu Darsih berkata "Ayo, saya antar ke kamar kamu."


"Iya Bu Darsih." El mengikutinya.


Asrama 2 lantai dan ada 20 kamar di asrama putri A. Lalu, ada pula 3 asrama putri yang di belakang asrama A.


Di seberang kanan asrama putri. Ada asrama putra, yang sama seperti asrama putri.


Asrama A, satu kamar hanya ditempati dua orang saja. Sedangkan asrama B, C, dan D. Satu kamar, bisa di tempati 4 orang untuk asrama B, 6 orang di asrama C dan 8 orang di asrama D.


Baik asrama putra, maupun asrama putri. Sepertinya, sama begitu.


"Ini kamar kamu. Teman kamar kamu. Namanya Ratu. Kamu bisa berteman dengannya." Ucap Bu Darsih.


"Iya Bu Darsih. Terima kasih."


El menatap pintu kamar itu, perlahan tangan kirinya mengetuk pintu.


Ratu menoleh ke arah pintu. Ratu yang bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu.


Setelah membuka pintu, Ratu menatap sosok cantik nan menarik. Dari segi penampilan El, terlihat sangat menarik dan wajah El selalu memancarkan kecantikannya yang alami.


"Haii." El yang mengangkat tangan kirinya. Dadadada, dengan senyuman khas Elmeera.


Elmeera tidak menyangka, akan tinggal satu ruangan dengan calon istrinya Raja.


El yang berjalan masuk, sambil menarik koper besarnya. Ratu masih di sisih pintu dan tangannya masih memegang selot pintu. Perlahan menutup pintu kamar itu dan menguncinya, sampai terdengar suara terkunci. Membuat El membalikan badannya.


"Aku disini hanya untuk sementara." Ucap El dan ia tidak ingin basa basi kepada Ratu.


"Iya, aku tidak keberatan. Aku malah punya teman." Ucapnya kemayu.


Elmeera membatin "Ini serius, Raja mau menikahinya?" Melihat dari sisi gaya Ratu, membuat El menjadi geli-geli gimana itu. Mau bilang minus, ya memang minus.


Elmeera tidak banyak tahu tentang Ratu. Saat bertunangan dengan Raja. Ratu juga banyak terdiam, dan seolah menjadi gadis yang pemalu.


Setelah di SMA. El melihat sisi aneh dan sering kali para teman SMA mengatakan kalau Ratu itu cupu dan oneng. Selama satu tahun belajar di SMA, meski tidak sekelas dengan Ratu. El terkadang melihat tingkah gadis ini, yang terkesan aneh.


"Ratu, lemariku yang mana?" Tanya El dan dia masih berdiri saja di dekat tempat tidur.


Ratu dengan senyuman, dan gaya kemayu menunjuk ke arah lemari sebelah kiri dekat jendela. Ada meja belajar juga disebelah lemarinya.


Kamar nuansa putih itu, tampaknya akan penuh warna bila El menempatinya.


"Kasur kamu yang di atas."


"Bisakah kita bertukar tempat?" El yang membuka kopernya di atas kasurnya Ratu.


"Hah? Tukar?"


Ratu yang tidak mengerti, ia melirik ke kasur atas itu. Ratu berkata "Aku tidak suka tidur di atas, takut jatuh."


"Tidurku banyak gerak, sudah pasti aku yang akan jatuh." Balasnya dan El tetap fokus pada pakaiannya. Ia merapikan pakaian ke dalam lemari kayu berwarna putih.

__ADS_1


"Oke, oke. Aku akan mencobanya." Suara Ratu terdengar ceria dan ia kembali menoleh ke atas. "Semoga saja aku tidak terjatuh."


"Kalau kamu sudah terbiasa. Pasti tidak akan jatuh." Balas El.


El menatap Ratu, ia berkata "Kamu juga harus mencoba Raja."


"Mencoba dia?" Celetukan yang aneh.


Ratu menatap El, ia bertanya "Apa maksud kamu mencoba Raja?"


"Maksudku, mencoba lebih dekat. Tadi kecepetan ngomongku. Jadi salah bicara."


"Aku sudah mencobanya." Ratu kekanakkan.


"Apa kamu sudah memintanya untuk kencan berdua?" Tanya El dan masih menatapnya. El tampak bersedekap.


"Aku tidak begitu. Harusnya, dia yang mengajak aku." Jawabnya Ratu. El melihat kalau Ratu memang sosok gadis yang aneh.


Ratu berkata "Coba kencan berdua. Jalan ke mal atau kemana gitu."


"Raja tidak pernah mengajak aku. Aku tidak mau memintanya kepadanya."


Ratu yang berubah cemberut dan bibirnya terlihat unyu sekali.


El menyunggingkan bibirnya ke kanan, dan berkata "Aku juga tidak mengerti. Kenapa bisa, Eyang memilih kamu."


"Kenapa bicaramu begitu?" Ratu tampak melotot dan tidak terima akan ucapan Elmeera.


"Hanya saja, pikiranku menganggap kamu itu aneh." Balasnya.


Di luar kamar, Marla dan beberapa mahasiswi tampak menguping pembicaraan mereka berdua. Sayangnya, tidak terdengar jelas.


Marla hanya sekilas mendengar nama Raja disebutkan oleh mereka berdua.


"Apa Ratu cupu juga menyukai Raja?" Batin Marla, tidak suka.


Marla sosok cantik dan sexy. Dia bisa membuat dirinya terpancar mewah. Dari ujung kepala sama kaki, semuanya bernilai mahal. Biayanya tidak murah, semua barang yang dikenakan juga berharga fantastis.


Marla putri bungsu Bos properti dan Kakaknya juga memiliki bisnis besar.


Marla dari SMA menyukai Raja, sampai mengikutinya ke kampus ini.


"Baik. Aku akan mencoba berkencan dengan Raja. Aku memang harus mencobanya, agar aku bisa mengetahui isi hatiku sendiri." Batin Ratu.


Di asrama putra. Raja dan Lionel jadinya terpisah kamar.


Raja yang tidak banyak bicara. Dia malah tinggal sekamar dengan Revan.


Revan juga dianggap cupu dari sebagian para mahasiswa.


Raja yang kalah saat bermain guting batu kertas dengan Lionel, akhirnya dia tinggal bersama Revan. Sedangkan, Lionel tinggal bersama si jorok.


"Wah, disini lebih mengerikan dari kamar sebelah." Lionel dari sewaktu memasuki kamar sampai saat ini, masih terdiam dan tak beranjak untuk merapikan isian kopernya.


Dia masih tertegun dan hanya menatap ke seluruh barang yang berserakan. Padahal tadi, Lionel menang dari Raja. Sekarang, merasa mendapatkan balasan dari Raja.


"Aku harus pulang."


Di kamar sebelah, Raja malah sudah membereskan pakaian sendiri.


"Keren."

__ADS_1


__ADS_2