Permen Kapas

Permen Kapas
Melawan Balik


__ADS_3

Bagaikan kucing dan anjing dalam satu kurungan saja


Lea yang memegang alat pel dan Jenny mengelap meja


Keduanya saling memancarkan kilat dan menyambarnya


Bergerak melawan balik dan membalas semua permainannya


"Tante, aku sudah selesai ngepel. Beneran kinclong-makinclong." Lea dengan tengilnya dan memuji dirinya sendiri.


Lea yang berpakaian seperti pelayan, kemeja putih dengan rok mekar warna hitam dan dibagian kerah kemejanya, ada pita yang sudah terikat, seperti dasi kupu-kupu.


Setelah makan siang tadi, Mama Jenny menghubungi Lea dan mengajaknya untuk bersih-bersih rumah Setya. Jadinya, Lea sudah berfikiran, kalau Jenny memang berniat membalaskan dendamnya.


"Tante, kenapa? Pinggang Tante masih nyeri?" Tanya Lea.


Sepertinya belum siap beraksi, setelah melihat Jenny terjatuh. Pinggang Jenny, terasa ngilu-ngilu sedap. Lea bisa melihat, ekspresi wajah Jenny yang kesakitan.


"Tante tidak apa-apa. Terpleset di lantai sudah biasa." Balasnya dan tidak mau terlihat keok dimata sang menantu tirinya ini.


"Setya, jangan salahkan aku. Istrimu juga sudah berani menyakiti aku."


Mama Jenny dengan senyuman yang lebih menyengat. Lea juga tidak mau kalah, dia lebih mengerikan.


"Tante. Selesai ngepel. Aku harus bersihin apa?" Tanya Lea sopan.


Jenny melihat persiapan fisik Lea, ia berkata "Owh, kamu rapikan kamar kamu saja. Ganti sprei. Terus bersihin kamar mandinya."


"Baik Tante. Saya siap melakukan misinya Tante." Lea keceplosan, "Eh maksud aku, siap menjalankan tugas kebersihan yang Tante perintahkan. Aku ini, istri yang hebat, cuma bersih-bersih rumah, aku bisa melakukannya."


Jenny yang tampak bersedekap, ia berkata lembut "Bagus, sana kerjakan yang bersih. Besok malam, kamu harus mengadakan acara makan malam bersama keluarga kita. Kalau perlu, kamu harus mengundang kesayanganmu. Yunamu juga bagian keluarga kita. Kita harus menjalin hubungan erat. Bukannya begitu, Nona Allea Gita Madaharsa??"


"Aaa, Tante ini, bisa saja. Aku jadi makin ngefans sama Tante. Dari dulu, aku sudah menjadi penggemar Tante Jenny." Ucap Lea yang berbanding terbalik dengan batinnya. "Huh, hanya kasian. Habisnya tante terlihat menderita. Di film, selalu jadi wanita yang tertindas."


"Baik Tante. Besok malam, aku akan mengadakan acara makan malam."


"Lea, kamu akan masuk ke dalam perangkapku." Batin Jenny senang.


Jenny berkata "Sana buruan, keburu Setya datang."


"Oke, siap Tante."


Jenny buru-buru menghubungi Setya, kalau Lea bersamanya, membersihkan rumahnya.


Lea mulai membersihkan kamar tidurnya. Ia mengambil sprei dari kantongnya. Sudah wangi dari tempat laundry. Bed cover juga terasa lembut dan harum.


"Wanginya." Ucap Lea. Saat membuka sprei, ada keoak loncat dari kantongnya.


Wings! Terbang!


"Waah, ini kecoak ajaib??" Pikirannya, Lea jadi menebak itu kerjaan Jenny.


"Cuma kecoak doang. Aku akan cari ular buat dia. Awas saja nanti. Di pertemuan makan malam. Aku akan kasih kejutan yang spektakuler." Batinnya Lea.


Lea jadi membayangkan. Betapa kacaunya, kalau di meja makan ada ular yang akan mematuk Jenny. Apalagi, tepat di depan mukanya.


Seesss!


Lea juga cekikikan sendiri di dalam kamarnya. Jenny mendekat dan menganggap Lea sudah gila.


"Dia kenapa? Bukannya takut sama kecoak?" Batin Jenny, yang pernah melihat Lea ketakutan, melihat kecoak saat di rumahnya.


Lea cuma akting di depan Setya, sok feminine saja, buat memikat Setya. Apakah, suaminya akan membantai kecoak nakal yang menggoda dirinya itu.


Yups, waktu itu Setya memburunya dan meremuknya dengan tongkat ajaibnya, yaitu tongkat golf milik Ayahnya.


Wah, kacau. Karena menantunya tuan putri, Ayahnya hanya bisa pasrah. Saat melihatnya Setya yang memukul kecoak gila, yang terbang menggoda. Tapi, memakai alat golf kesayangan Ayahnya. Zio dan Salsa juga bisa melihat raut sendu wajah Papa mereka. Setya dengan gampangnya berkata "Besok bisa beli lagi. Kalau Lea nggak bisa dibeli."

__ADS_1


Kembali kepada Mama Jenny, yang asyik menatap menantu tirinya.


"Lea sayang. Kamu bisa sendiri?" Tanya Jenny. Saat melihat Lea merapikan sprei putih, yang berukuran 200.


"Bisa Tante. Tante Jenny tenang saja." Jawabnya begitu gemas sekali.


Jenny melirik ke sekitar, tidak terlihat kecoak terbang, ia berjalan ke kamar mandi dan melihatnya.


"Lea, Lea, awas ada kecoak."


Wiingss!


Terbang ke rambut Jenny.


"Tante, aku jangan bergerak!!" Teriaknya.


Jenny mematung di kamar mandi, Lea datang membawakan sapu.


"Kamu mau getok kepala Tante?" Tatapan Jenny, sudah menusuk wajah Lea.


Lea dengan gemas berkata "Aku cuma mau memukul kecoak gila."


Waaak


Ciaaat


Sat-Set


Geduubrrrak!


Jenny terjatuh lagi, tengkurap di lantai kamar mandi. Berniat menghindar, dari sapu yang ada di tangan Lea, eh malah tersandung ember yang berisi alat kebersihan.


Lea yang berhasil memukul kecoaknya dan tepat di samping Jenny. Kecoak itu hancur di depan mata Jenny.


Jenny yang masih tengkurap di lantai, jadi menoleh ke kanan. Melihat pembantain tragis.


"Iya Tante. Dia sudah gila, sampai hinggap di kepala Tante. Jadi, aku harus membatainya tanpa ampun. Pokoknya, siapapun dia, yang menyakiti keluargaku dan kesayanganku, aku tidak akan segan menghabisi nyawanya." Ucap Lea begitu lemah lembut. Tapi mengerikan bagi Mama Jenny.


"Dia gadis yang tidak bisa aku kerjai. Aku harus membuat rencana baru. Kita akan lihat, sampai kapan dia akan bisa bertahan." Gertak Jenny dalam hati.


Lea membatin "Besok, kalau Yuna sampai dikerjai begini. Aku akan membuatnya semakin menarik." Lea jadi senyam-senyum saat membayangkan rencananya. Mama Jenny jadi ketakutan sendiri.


"Apa Lea sudah gila beneran? Aku juga baru memulainya." Batinnya dan masih ingin membalas dendamnya.


Lea memapah Jenny ke sofa, yang ada di kamar itu. Lea menjadi sosok yang manis di depan ibu mertua tirinya.


"Apa lagi yang akan dia mainkan untuk aku? Aku sudah siap meladeninya, mumpung aku lagi ingin hiburan yang menarik." Batin Lea dan malah ingin dikerjai.


Jennya berkata "Lea, dari tadi Tante jatuh. Kamu lanjutkan sendiri, itu beresin. Pinggang Tante pegel."


"Owh, siap Tante. Pasti semuanya akan beres."


Jenny berjalan ke lantai bawah dan Lea masih terus menatapnya. Sampai Jenny duduk bersantai di sofa, yang ada di ruang tamu.


Lea kembali beberes rumahnya sampai bersih dan kamar mandi kamarnya juga sudah bersih mengkilap, ditambah aroma parfum, yang tercium wangi buah strawberry.


"Segernya." Ucap Lea, saat menikmati minumannya.


Sudah dua jam beberes rumah. Membuat Lea cukup kegerahan.


Setya datang dan melihat Mama tirinya memegang kain lap kaca. Sedangkan, istrinya bersantai di belakang rumahnya.


"Mama bersih-besih sendirian? Lea dimana?"


"Istrimu bersantai di belakang. Biarkan saja." Aksi dari Mama tirinya begitu manis lebay.


Setya berjalan ke belakang dan melihat istrinya, yang duduk di kursi santai. Bersandar dan rebahan.

__ADS_1


"Sayang." Panggilan dari sang suami.


"Mas Setya." Lea tersenyum dan ia malas menghampiri sang suami.


Setya semakin mendekat. Setelah sampai, ia berdiri di belakang istrinya, dan memijat lembut bahu Lea. Setya bertanya "Kamu sudah capek?"


"Emh, iya. Capek banget. Aku jadi kepingin massage di salon."


Mama tirinya Setya, menatap mereka berdua, dari jendela dan semakin bingung saat melihat ekspresi Setya.


"Aku saja, yang pijitin kamu." Ucap Setya dan terdengar merayu.


Lea tersenyum dan berdiri di kursi santai. Lea mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Lea jadi berkata "Kalau Mas Setya yang pijitin aku, pasti rasanya berbeda. Aaa,, nggak mau."


"Beneran nggak mau?" Goda Setya sekali lagi, dan semakin menggoda.


Mama tirinya masih mengintip mereka berdua, Jenny bergumam "Apa Lea sudah mengadu duluan sama suaminya?"


Jenny kesal, meleparkan lap kaca ke sembarang tempat dan kembali duduk di sofa. Segera mencari cara, untuk nanti acara makan malam dengan keluarganya.


Apalagi, besok malam akan ada Yuna. Desayangan Lea, yang sudah menjadi menantu Mama Jenny, tapi tidak direstuinya.


Setya mengelus rambut Lea, seperti mengelus kepala kucing, gemasnya poll.


"Sayang, kamu nggak perlu beberes rumah sendirian. Aku bisa mencari asisten rumah tangga." Ucap Setya gemas. Tangannya, sambil mencubit pipinya Lea.


"Aku nggak apa-apa. Lagian, tadi aku kesepian."


Setya mencium gemas bibirnya.


"Mas Setya, tadi Mama tiri kamu jatuh."


"Kok bisa??" Tanya Setya penasaran.


"Emmh, aku nggak sengaja narik tangannya waktu dia terpleset."


Setya menatapnya gemas, Lea lanjut berkata "Itu Mas. Aku nggak sengaja. Kalau tidak aku tarik tangannya, Tante Jenny, pastinya nabrak ember depanku. Terus air yang dia bawa, pasti muncrat ke wajahku." Ucap Lea dengan wajah polosnya dan Setya bisa menebak sendiri.


Setya sudah senyam-senyum, "Kamu ini, malah meladeni keisengan Mama"


"Mas Setya, sudah paham?"


Setya mengangguk.


"Dia pura-pura terpleset, terus mau lempar air dingin ke muka aku, aku jadinya refleks mas. Eh, dia jatuh."


"Tapi, kamu baik-baik saja?? Kamu nggak sampai terluka?" Tanya Setya dan langsung melihat kondisi tangan dan kaki istri gemasnya.


"Aku nggak kenapa-napa. Itu, Mama tirimu Mas. Pasti sudah encok. Apalagi lulut kakinya. Tadi, di kamar mandi tersandung ember."


"Ada-ada saja kamu ini. Memangnya, apalagi ulah kalian berdua?"


"Itu tadi, ada kecoak gila, terbang. Malah hinggap di rambutnya."


Setya meraih tangan istrinya, dan berkata "Ayo, kita temui Mama."


"Gendong aku." Pintanya manis manja.


Setya mengerti, dengan segera berjongkok dan Lea mendekap punggungnya.


Mendekat,


"Tante Jenny."


"Lea sayang." Balasnya.


__ADS_1


__ADS_2