
Setelah makan malam selesai, semua penghuni rumah belakang itu, tampak menikmati tontonan yang ada di layar kaca.
LCD digital yang berukuran lebar dan begitu jernih gambarnya. Mereka semua menonton film pilihan Lean. Terdengar gelak tawa, saat menonton film kartun itu.
Ratu duduk di sebelah Bunda, Raja di kerebuti dua perempuan. Sebelah kiri ada El dan kanan ada Kai. Kai masih bersandar dada kakak tampannya. Gegara tadi ribut sama Raja sampai menangis, akhirnya berbaikan. Malah menempel seperti perangko di dada Raja.
Tangan kanan Raja masih sibuk mengelus-elus rambut adiknya dan lengan kirinya di pegang terus sama El.
Ratu hanya diam dan tak protes sama sekali. Sang Bunda duduk di sebelah menantunya. Lean dalam pangkuan Aull, yang tampak duduk di sebelah Ayahnya.
Tiga sofa jadi terlihat penuh, dan Lionel serta Zyan, duduk di karpet bulu. Mulut Lionel sibuk memakan kuaci. Zyan juga sibuk memakan permen kapas.
"Ayah, Kai tidur." Ucap Raja.
"Biarin, tunggu nyenyak dulu. Nanti dipindah ke kamar."
"Lenganku pegel." Ucap Raja kepada Ayahnya.
Ayahnya bangkit dari sofa dan mendekat. El menjauh dari Raja.
Zyan berkata "Bisa-bisanya tidur nyenyak. Padahal kita ketawa ketiwi."
"Kakakmu memang begitu. Kalau sudah nyaman, jadi ketiduran." Sahutnya Ayah.
"Untungnya kemarin di apartemen Pak Calvin nggak begitu. Kalau sampai tidur disana. Aku tinggalin." Ucapnya Zyan sekali lagi.
Bunda yang duduk di belakang Zyan, mengelus rambutnya Zyan, "Ayok, kamu juga harus bobok."
Zyan menoleh ke wajah sang Bunda, ia berkata "Tadi sudah mau tidur, katanya diajakin ngumpul disini. Baru satu jam, malah di suruh bobok lagi."
Sang Ayah mengangkat anak gadisnya, yang berusia remaja itu dan membawa ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang televisi itu.
Mata Lean perlahan juga meredup, setelah meminum susu hangatnya.
Aull membaringkan posisi Lean dalam lengannya, ia berkata "Sayang, kamu sudah ngantuk. Ayok bobok di kamar."
Lean semakin redup, hanya tampak senyuman manis, untuk membalas perkataan Kakak cantiknya itu.
"Ayok, kita bobok." Ucap Aull dan bangkit dari sofa.
Aull berjalan ke kamar Lean dan berpapasan dengan Ayah.
Ayah Setya mengecup pipi gemas Lean. "Selamat malam gantengnya Ayah, bobok yang nyenyak ya."
Lean kembali tersenyum manis dan merasa nyaman dalam dekapan Aull.
"Iiih, kamu makin gemesin. Nanti Mbak Aull bakalan kangen banget sama kamu." Ucapnya dan berjalan ke arah kamarnya.
Ayah Setya kembali ruangan tadi, dan mendekati Zyan, ayah berkata "Ayok, Ayah gendong."
"Ayah, aku masih ingin nonton film."
"Baiklah. Tapi, sebelum jam 10, harus sudah tidur." Lantas, Ayahnya berjalan pergi ke lantai atas.
"Iya, iya. Aku tahu." Zyan jadi beranjak ke sofa, duduk di sebelah Raja.
"Mas Raja, elus-elus rambutku. Biar aku tidur disini." Pinta Zyan.
Raja tersenyum, ia berkata "Kalau kamu tidur disini, siapa yang akan gendong kamu?"
"Ayah pasti gendong aku."
"Kalau Ayah tidur gimana? Ayah pasti pergi ke kamar atas. Ayah juga mau tidur. Dari pagi Ayah kerja, sore baru pulang, malah disuruh masak makanan kesukaanmu sama Kai."
"Iiih, Mas Raja gitu."
"Bunda. Aku mau bobok sama Mas Raja."
"Zyan, nggak boleh ganggu Masmu. Ada Kak Ratu disini."
"Aaa... Biarin. Pokoknya aku mau bobok sama Mas Raja."
__ADS_1
"Ayo, bobok sama Bunda."
"Nggak mau, aku mau bobok sama Mas Raja. Titik."
Zyan memeluk lengan tangan sang Kakak tampannya itu. Zyan berkata "Kak Ratu, aku mau tidur sama Mas Raja. Kak Ratu tidurnya sama Kak El saja. Di kamarnya Kak El."
"Zyan, nanti kamu dimarahin Ayah. Ayo bobok sama Bunda."
Bunda sudah berdiri di depannya dan meraih tangan Zyan. Sayangnya, Zyan ngambek dan berpegang erat lengan tangan kanan Raja.
"Ayah!!!" Zyan malah berteriak memanggil sang Ayah.
"AYAH!! BUNDA NAKALIN AKU." Teriknya lebih kencang. Sang Ayah tak kunjung datang. Sepertinya, sang Ayah memang sudah lelah dan beristirahat di kamar tamu.
Raja berkata "Bunda, biarkan saja."
"Istrimu gimana? Dia juga capek."
Raja bertanya kepada Ratu, "Ratu sayang, adikku rewel. Boleh tidak, Zyan tidur di kamar kita?"
"Iya, terserah kamu saja." Jawabnya.
Jawabannya memang terserah, tapi kalau perempuan sudah bilang terserah. Itu antara menolak dan mengiyakan. Susah untuk dimengerti oleh para pria.
Tetapi, Raja tersenyum lega. Dia sudah menganggap, Ratunya tidak mengijinkannya.
Zyan memang begitu, setiap dengan Bundanya. Malah tidak akur. Tapi kalau sakit. Selalu saja, minta dielus-elus punggungnya sama Bunda.
Raja menggendong Zyan di punggungnya. Ia telah mengajak Zyan ke kamar Zyan. "Kalau mau aku temani bobok. Disini saja. Jangan ke kamarku."
"Memangnya, di kamar Mas Raja ada apaan? Apa benar, Mas Raja punya senjata?"
"Senjata? Siapa yang bilang?" Raja lalu duduk di tempat tidur.
Zyan duduk di sebelah dan Raja merangkul bahu adiknya. Raja tersenyum gemas akan ucapan Zyan.
"Aku dengar dari pimpinan pengawal."
"Ih, aku pikir karena itu. Kak Kai ingin tinggal di kamar Mas Raja."
"Kai ingin tinggal dikamarku. Mungkin, karena kamarku luas, menghadap ke kolam renang, nggak pakai naik turun tangga." Ucap Raja yang menjelaskan.
"Owh, aku pikir beneran ada ruangan senjata." Ucap Zyan.
Zyan jadi pergi ke toilet dan Raja tampak menyunggingkan bibir manisnya. "Dasar anak-anak, sukanya kepo."
Raja jadi merebahkan dirinya di atas kasurnya Zyan, menatap langit-langit kamar itu. Raja mengingat jelas, semua yang telah disampaikan oleh mata-matanya.
"Papa kandungnya Revan masih hidup dan dia mengincar keluargaku." Gumam Raja pelan dan Zyan ternyata sudah mendekat.
"Mas Raja, siapa itu Revan?" Tanya Zyan yang jadi penasaran.
"Bocil ganteng. Ayo bobok. Besok sekolah. Besok pagi, aku antar kamu ke sekolah." Ucap Raja, yang masih berbantal kedua lengan tangannya.
"Mas Raja, aku tanya serius. Malah bilang begitu. Kalau ada yang menyakiti Mas Raja, aku akan maju menghadang dia."
"Benarkah?? Kalau ada yang meninjuku aku, apa kamu akan melawannya?"
"Pasti, aku akan siap menendangnya."
Waak ciaat!
Zyan jadi memperagakan tendangan kuat dengan badan memutar.
"Aku percaya. Kamu jago bela diri." Ucap Raja dan ia beranjak dari kasur.
"Mas Raja mau kemana?" Tanya Zyan.
"Kamu tidur gieh. Aku mau temui Ratu dulu."
"Yaah, katanya mau tidur sama aku."
__ADS_1
"Iya, tapi aku mau antar Ratu ke kamar dulu. Nanti, aku kesini lagi, tidur bersama kamu."
"Bener loh ya?! Nggak bohongin aku."
"Iya beneran, suer deh!"
"Assyek."
Zyan jadi melepaskan badannya ke atas ranjangnya dan meraih guling empuknya.
Zyan juga begitu dekat dengan Kakak tampan ini, Raja malah sudah seperti panutan baginya.
Raja yang keluar dari kamar Zyan, melihat istrinya yang sudah berjalan ke arah kamarnya. Raja jadi menghampiri istri cantiknya itu.
Set,
Raja memeluknya dari belakang dan kedua tangan Raja sudah melingkari perut rampingnya Ratu.
"Sayang." Bisiknya.
Kepala Raja, sudah berada di sebelah kanan bahunya Ratu.
"Iya."
"Aku akan mengantarmu ke kamar dengan caraku."
"Baik."
Ratu bersikap menurut dan Raja menggodang istrinya ke dalam dekapannya. Kedua tangan Ratu, mengalung manis di lehernya Raja.
Keduanya saling menatap manis, El menatap Raja yang berjalan ke arahnya.
El bernyanyi, "Dunia ini, kita yang punya..."
"Suaramu sumbang." Ucap Raja saat melewati Kakak sepupu cantiknya ini.
"Hiish, suara aku bagus tauk."
Lionel tiba-tiba merangkul bahunya, ia berkata "Iya sayang. Bagus banget. Yuk, lebih baik kita tidur. Sudah malam, nggak baik menyanyi malam-malam begini."
"Lionel, kamu ini percaya mitos. Penyanyi terkenal juga pada nyanyi malam-malam, nggak ada yang ngelarang mereka."
"Iya iya. Tapi, kamu ini lebih dari penyanyi terkenal. Jadi, lebih baik nyanyinya disimpan buat besok pagi. Oke sayang."
Wajah El semakin masam, dengan bibir mendesis. "Kamu sama saja, makin nyebelin."
El menginjak kaki Lionel dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Makin hari makin garang saja nieh cewek satu. Coba saja nanti kalau jadi dikawinin kayak Raja. Pasti kapok." Gerutu Lionel.
"Huft, mereka semua ngeselin. Mama. Kapan Mama pulang?!" Rengekan El dan ia berlari ke kamarnya.
Sudah lebih dari 6 bulan, El belum lagi bertemu Mamanya. Terkadang El ingin sekali curhat tentang keluh kesahnya. Akhir-akhir ini, Raja sudah berpaling darinya dan Lionel juga akan berpaling ke gadis selain dia.
"Mama." Desaahnya, ia memeluk guling dan ingin sekali menangis. El merasa ada yang mengawasi dirinya selain Singa.
Singa juga turut berjaga di rumah ini, dia sedang mengobrol bersama pimpinan pengawal.
"Bos."
Singa melihat pengawal pribadi Raja mendekat, berbisik kepada pimpinan mereka.
"Aku akan kembali ke kantor. Kamu tetap disini bersama Singa dan Tom."
"Siap Bos."
Pimpinan itu, berbadan tinggi besar dan kekar. Tapi selalu mengenakan setelan jas hitam. Melirik ke arah Singa.
Singa tampak mengangguk, lalu mengantar pimpinan sampai ke mobilnya.
__ADS_1
"Lindungi Nonamu dari pria itu." Ucap sang pimpinan kepada Singa.