
"Raja, bagaimana keadaan El?" Tanya Ratu dalam panggilan telephone.
Ratu yang berbaring menyamping memeluk guling, menggigit kuku jemari. Perasaan cemas dan takut bila terjadi sesuatu pada teman sekamarnya itu.
"El tadi, alerginya kambuh. Dia sempat sesak nafas. Sekarang masih dalam perawatan di rumah." Jawab Raja dan memang benar begitu adanya.
"Memangnya, tadi El kemana? Sampai alerginya bisa kambuh?" Tanya Ratu dan masih penasaran.
"Tadi pagi, El ke Jakarta. Ada tugas di kantor majalah Ziie Ziie. Terus, makan malam, sama pimpinan kantornya, di Hotel Chang Ho."
Raja yang duduk di kursi gamer Lionel dan mematikan komputer. Earphone, masih menempel di telinga kanannya dan Ratu masih ingin mengobrol dengan suaminya.
"Aku harap, El segera sembuh." Ucap Ratu. Terdengar begitu lembut dan manis.
Padahal, Ratu biasanya tidak pernah memikirkan tentang temannya. Apalagi, ini kali pertamanya Ratu membiarkan teman sekamar tinggal bersama, tanpa menganggunya.
"Iya. Terima kasih sudah mencemaskan saudaraku. Aku senang." Balas Raja.
"Aku teman sekamarnya. Aneh saja rasanya, saat El tidak ada. Padahal, dia belum sempat bermalam disini. Aku sudah mengkhawatirkan dia."
Ratu yang semakin senang, ada perasaan manis dalam batinnya, ketika Raja bisa bersikap manis padanya.
"Aku harap, kalian berdua akur. El juga bagian dari hidupku."
"Iya, aku mengerti." Balas Ratu.
"Cepatlah tidur. Ini sudah malam." Ucap Raja dan sudah melepaskan mantelnya.
Berbaring di atas tempat tidur dan melihat kursi gamer Lionel.
"Apa dia beneran ngambek?!" Batin Raja. Sampai saat ini, Lionel belum juga menghubungi Kakak sepupunya ini.
"Raja, kamu masih mendengarkan aku?" Tanya Ratu.
"Iya, aku masih mendengar suaramu."
"Ayok kita tidur." Ajaknya Ratu.
"Kamu ingin tidur bersamaku?" Raja pikirannya sudah mengarah pada hal lainnya.
"Iya, tidur. Aku sudah ngantuk."
"Ratu, aku nggak bisa ke asrama putri." Ucap Raja.
Ratu mendengarnya jadi bingung, "Raja, kamu kenapa sih??!"
"Tadi kamu ngajakin aku tidur." Ucapnya terdengar aneh.
Ratu sadar akan pikiran Raja, "Eh, bukan itu maksud aku. Tadi, kamu nyuruh aku cepat tidur. Ya aku mau tidur. Kita itu, maksudnya. Aku tidur disini. Kamu disana juga cepat tidur. Begitu Rajaku." Balas Ratu.
"Iya, iya. Aku tahu. Tapi, kalau nantinya aku ingin tidur bersama gimana? Aku sama kamu tidur seranjang." Raja masih memburu.
Ratu dengan cepat berkata "Aku sudah ngantuk. Semalam malam, selamat tidur. Sampai bertemu besok ya."
Ratu lantas mematikan panggilan telephone. Dia merasa aneh akan ucapan Raja, tapi ada rasa manis yang membuatnya senyam-senyum sendiri.
"Ratuku, kita sudah menikah. Apa salahnya tidur seranjang. Aku juga tidak akan menyakitimu." Gumam Raja.
Saat ini, sudah tengah malam. Ratu masih mamandangi layar ponselnya. Melihat, foto pernikahannya dengan Raja.
Meraba foto itu, dengan wajah tersenyum.
"Raja, jangan nakalin aku."
Raja juga melakukan hal yang sama, bergumam "Kamu, sudah menyelamatkan nama baikku di hadapan keluarga besarku. Aku akan memperlakukan kamu dengan sebaik mungkin. Aku janji."
Malam membawa kehatangan untuk sepasang pengantin baru ini. Meski pernikahan mereka baru hitungan jam, tetapi keduanya telah merasakan hal manis.
Membuka jendela kamar, selimir angin yang menghembusnya dengan lembut.
Rambut panjangnya yang terurai lurus ke bawah dan suami tampannya memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Selamat pagi sayangku."
Tangan halus istrinya, meraih tangan sang suami dan membuatnya bersedekap di dadanya.
"Aku senang." Ucap istrinya, dengan suara manis dan wajah itu tampak berseri-seri.
"Kamu senang bersamaku?" Tanya Raja.
"Iya, aku senang bersamamu." Jawabnya.
Raja mendekap erat istrinya, dan kedua insan ini telah menatap ke arah luar. Panorama perbukitan yang elok dan tampak kehijauan.
Begitu indah pagi ini, melihat mentari yang telah terbit dari ufuk timur dan perlahan menyapa mereka berdua.
Ratu yang memakai gaun tidur berbahan sutera, begitu bahagia.
Raja masih terus saja mendekapnya dalam kahatangan di pagi harinya.
Suasana yang romantis dan membuatnya tersenyum manis.
Getaran cinta, sepertinya sudah menyapa mereka berdua.
Ratu membalikan badannya dan Raja mengelus rambut panjangnya. Begitu lembut dan keduanya saling menatap manis.
Ratu berkata "Raja, aku ingin kita selalu bersama."
"Aku juga."
Wajah mereka berdua, begitu manis. Saat saling menatap lembut. Ada rasa yang susah di jelaskan dan hanya ingin selalu bersama-sama dalam suka maupun duka.
Lebih mendekat dan Raja memegang dagu Ratu. Keduanya saling melempar senyuman. Ada desiran lembut yang berdenyut mesra di dalam dadanya.
Bibir manisnya Raja, mengecup ke bibir ranum sang Ratu.
Nyess!
Rasanya manis, seperti permen kapas kesukaan Raja. Lembut-lembut manis.
Raja masih mencium bibirnya Ratu.
Bangun subuh.
Alarm ponsel Raja, membangunkan dari mimpi manisnya. Raja ternyata hanya memegang bantal dan mengelusnya. Suasana tengah malam, membawanya ke dalam mimpi manisnya.
"Kamu mengganggu mimpiku." Gumam Raja dan masih tidur tengkurap saat mematikan alarm ponselnya.
"Huh, aku ternyata cuma mimpi."
Begitu pula dengan Ratu, ia meraih jam weker yang tampak bersemangat membangunkan Ratu dari mimpinya.
"Aaa.. Aku masih ingin tidur." Ratu meraih jam wakernya mematikannya.
Ratu terduduk dan perlahan membuka mata, menoleh ke jendela kamarnya. "Aku hanya bermimpi."
Jelas mimpi, kalian berdua masih tinggal di asrama bukan bermalam di puncak.
Beberapa jam kemudian. Ratu yang bersiap dan terlihat bingung akan memakai pakaian apa. Apalagi, dirinya tidak akan lagi membuat imeg cupu nan oneng. Ratu ingin, menampilkan dirinya yang sesungguhnya.
"Apa ini?" Ratu kembali bercermin dan menatap dirinya dari cermin standing.
Ia menentang dress dengan mode Korea fashion, warna pastel kebiruan dan ada pita putih di bagian kerah lehernya.
Merasa tidak cocok, dia berganti lagi menjejeng atasan dan bawahan. Tangan kanannya, masih memegang hanger dan menatap ke arah cermin.
"Ini sudah biasa aku pakai." Gerutunya pelan.
Ratu sudah melempar baju itu ke atas kasur. Entah, apa yang dia cari dan jam sudah menunjukan pukul 7. Seharusnya, dia sudah bersiap dan sarapan. Lalu, pergi ke gedung fakultasnya.
"Aku heran, semuanya jadi nggak cocok, kalau aku make-up begini? Huh." Ratu yang menjadi kesal sendiri, karena semua bajunya, tidak ada yang mau menyatu dengan dandannya.
"Aku Ratu, aku bisa tampil menawan." Gumamnya merasa aneh saat kembali bercermin.
__ADS_1
Dia mengingat, kalau Raja akan menerima dia apa adanya.
Bisa saja, selama kuliah tetap jadi cupu nan oneng. Lagian, Raja sudah tahu kalau Ratu hanya berakting.
Ponsel berdering merdu dan Raja telah memanggil. Tangan halus itu, meraih ponsel yang tergeletak di meja belajar.
"Selamat pagi, sayang."
Ratu tersenyum, ia membalas. "Selamat pagi Rajaku."
Raja berkata "Kenapa lama sekali? Aku sudah di depan pintu gerbang asrama putri."
"Hemms? Kamu di depan?" Ratu yang berlari ke jendela dan melihat suaminya sudah berdiri, tampak memegang buket bunga mawar putih.
"Raja tunggu sebentar. Aku akan segera kesana."
"Baik, aku akan menunggu kamu." Ucapnya Raja, lalu memutuskan panggilannya.
Ratu bergegas cepat berganti pakaian.
Raja di luar halaman asrama putri, sudah menarik perhatian para jomblowati nan cantik.
Untungnya saja, tidak ada Marla. Bisa-bisa, ia tampak kepedean.
Bisik-bisik para mahasiswa dan mahasiswi tentang Raja yang berdiri membawa bunga segar. Dua pengawal telah membawakan perlengkapan kuliah Raja.
Sekitar 10 menit Raja menunggu. Sang Ratu tiba di hadapannya. Keduanya, saling menatap manis.
"Sayaaangku."
"Hems, berani memanggilku begitu?" Tanya Ratu, yang telah memastikan kalau Raja sudah serius berhubungan dengannya.
"Sayang, aku suamimu. Aku tidak akan peduli dengan gadis yang lainnya. Sekarang hanya ada kamu."
"Dasar. Buaya nakal. Gombalanmu simpan saja ke dalam sakumu." Ucapnya Ratu, tapi dia tetap terlihat senang, akan ucapan Raja padanya.
"Saku ini, memang ada sesuatu untukmu."
"Sesuatu?"
"Kamu tidak penasaran?"
Ratu hanya menggeleng dengan wajah yang terlihat datar. Raja tersenyum, ia berkata "Ini untuk kamu."
"Bunga? Aku dari tadi melihatnya."
Ratu menerima bunga itu, kemudian Raja berkata "Ada lagi, disini."
Raja mengeluarkan kotak perhiasan dari dalam saku mantelnya dan membuka kotak berwarna putih di hadapan sang Ratu.
"Gimana? Kamu suka?"
Ratu hanya mengangguk, ia tampak pasrah saat Raja memakaikan gelang emas putih dengan diamond kebiruan.
Wajah itu terlihat datar, tapi Ratu dalam hatinya berbunga-bunga. Meski dulunya, tidak ada rasa. Perlahan, terasa manis, bila bersamanya.
Banyak orang yang menatap mereka. Raja tidak peduli, dengan pendapat orang lain tentang dirinya.
"Sayang."
"Iya."
"Bagaimana? Kamu suka gelangnya?"
Ratu perlahan tersenyum, ia berkata "Aku suka."
"Ayo jalan, kita harus makan pagi bersama."
"Oke."
__ADS_1
Raja meraih tangan Ratu, dan menggandengnya manis.
"Raja menggandeng Ratu???!