
"Aku tidak setuju. Aku nggak mau dilangkahi Aull." Ucap Raja, dengan suara tegas.
Lionel dan El, hanya bisa menguping dari kamar mereka masing-masing.
"Sayang, adikkmu cuma sebulan di rumah. Calonnya Adikkmu besok pulang. Sebelum Aull meneruskan S2nya, Bunda terima lamaran dari Rangga."
Ayahnya yang belum mengerti, bertanya "Bunda, Aull beneran hamil?" Tatapan mata sang suami sudah membulat dan Aullia tampak memegang lengan Ayahnya.
"Ayah, Aullia tidak hamil. Hanya saja, minggu lalu, Mamanya Rangga sudah menginginkan pernikahan putranya. Rangga juga menghubungi Bunda. Sebelum nantinya, mereka kembali ke luar negeri. Mamanya Rangga, ingin pernikahan putranya dipercepat. Rangga juga sudah dewasa, Aullia sudah setuju. Ini malah, Masnya nggak setuju." Jawabnya Bunda dan kembali menatap ke wajah putranya.
Bunda sendiri, ketika bersama kedua anaknya ini. Terlihat seperti Kakaknya Raja dan Aullia. Dari penampilan luarnya juga selalu terkesan muda. Banyak yang salah menerka, padahal usia Bunda Lea, sudah 41 tahun. Di umurnya 21 tahun, sudah menjadi Bunda anak 2, gimana tidak terlihat muda sekali.
Bunda mendekati putranya dan duduk disebelahnya. Mengelus rambutnya, Raja hanya terdiam dan tampak menunduk.
"Sayang, kalau kamu tidak mau dilangkahi adikmu. Kamu bisa menikah dengan Ratu, sebelum hari pernikahan adikmu." Ucap sang Bunda, yang terlihat sabar saat menghadapi putra tampannya.
"Terserah Bunda saja." Balasnya dan pergi meninggalkan ruang tengah rumah tinggalnya.
Raja yang tadinya bersiap-siap pergi ke asrama. Sang Bunda telah menelfonnya dan mengatakan kalau akan datang ke rumahnya.
Aullia melihat kakaknya berjalan pergi. Secepatnya melepaskan tangannya dari lengan tangan Ayahnya.
"Mas Raja." Panggilnya.
Raja yang hendak membuka pintu kamar, jadi terdiam sesaat. Raja membalikan badannya dan menatap wajah adikknya.
"Apa Mas Raja nggak kangen sama aku?" Tatapan Aullia, yang meneduhkan perasaan Raja.
Hati Raja, awalnya sangat bergemuruh. Ada kebencian terhadap adiknya. Apalagi, ini soal pernikahan. Selalu saja, adiknya mendahului dan merampas semua angannya.
"Iya, aku kangen kamu." Balasnya.
Raja meraih bahu adiknya dan memeluknya. Entah, perasaan apa ini. Hatinya terasa sakit, Aullia yang juga turut merasakan hal yang tidak bisa dijelaskan. Aullia juga tidak berniat untuk mendahului pernikahan Kakaknya. Tetapi, Aullia juga tidak bisa menolak lamaran dari kekasihnya.
"Mas, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Aullia.
Raja melepaskan pelukannya dan menatap wajah itu, perlahan bibir itu tersenyum dan menyeka air mata adiknya.
"Aku tidak apa-apa."
"Mas Raja, kalau beneran tidak mau aku menikah duluan. Aku akan membatalkan lamaran Mas Rangga."
"Kamu tidak perlu begitu. Aku tidak apa-apa. Tadi cuma kaget." Balas Raja terdengar sendu.
"Aku serius. Kalau memang, Mas Raja tidak suka. Aku bisa menikah nanti, setelah aku menyelesaikan magisterku." Ucap Aullia dan tampak bibir yang cemberut. Aullia juga terkadang ingin bermanja kepada Kakaknya.
"Kamu sudah lulus kuliahnya. Aku malah belum apa-apa." Ucapnya dan Raja juga mengingat, kalau adiknya lulus SMA lebih dulu.
Raja dalam hatinya sedih dan berusaha menjadi pria yang tegar. Susah sekali membuat bangga kedua orang tuanya. Apalagi di depan keluarga besarnya. Aullia lebih menonjol, meski orang tua mereka tetap membanggakannya. Namun, keluarga besarnya selalu memuji Aullia, dengan segala kelebihannya.
__ADS_1
"Aku boleh lihat kamar Mas Raja?"
"Boleh."
Raja membuka pintu kamarnya, dari kejauhan orang tuanya melihat putra tampannya yang sudah bersikap sebagai Kakak yang gentleman.
Aullia melihat kamar yang menawan dan tampak dua koper besar disisi kanan pintu kamar itu.
"Mas Raja mau pergi kemana?" Tanya Aullia dan berjalan ke tempat tidur, duduk di atas kasur. Tampak bedcover abu-abu, dengan motif karakter tokoh kelelawar.
"Aku mau ke asrama." Jawab Raja dan dia sudah tampak duduk di kursi kantor. Duduk membelakangi meja komputer pribadinya dan masih menatap wajah adik perempuannya.
Aullia meraih guling dan memeluknya, dia bertanya "Bagaimana hubungan Mas Raja dengan Ratu? Apa kalian sudah dekat?"
Aullia jadi tersenyum dan Raja menjawab "Aku tidak tahu. Aku hanya bertunangan dengan dia dan tidak ada hubungan special. Tidak seperti kamu sama Mas Rangga."
Rangga, kekasihnya Aullia dari semasa SMA. Rangga yang sudah lebih dewasa, usianya hampir mendekati kepala 3. Mamanya Rangga, kerabat jauhnya Eyang Arjuna. Bunda Lea, sangat mengenal keluarganya Rangga.
"Mas Raja, aku bisa bilang sama Bunda. Untuk membatalkan lamaran Mas Rangga." Ucap Aullia dan masih melihat Raja yang sendu.
"Tidak perlu. Kamu menikah saja. Aku tidak akan menghalangimu."
"Mas Raja, aku serius. Kalau memang Mas Raja keberatan. Aku akan menolak lamarannya." Ucapnya Aullia sendu.
"Mas Rangga, sudah menginginkan pernikahannya. Kamu jangan melukai perasaan dia." Balas Raja dan perlahan tersenyum.
Jari tangan kanannya, menyeka air matanya sendiri dan Aullia kembali berkata kepada Kalaknya "Aku juga ingin, melihat Mas Raja bahagia."
Keduanya jadinya terdiam dan saling menatap, dalam perasaan mereka rapuh.
"Aull, aku akan berusaha menjadi Masmu yang baik." Ucap Raja dan ia pergi dari kamarnya.
Aullia mengikutinya yang berjalan pergi. Raja kembali menemui kedua orang tuanya.
"Ayah, aku ingin secepatnya menikahi Ratu."
"Raja. Pernikahan itu tidak mudah. Kamu juga masih kuliah. Apalagi, sebagai suami, kamu yang harus bertanggung jawab dan harus bisa menghidupi istri kamu."
Raja menghadap Ayahnya dan perlahan berlutut di depan Ayahnya, Raja bertanya "Apa Ayah tidak percaya sama aku?"
Tatapan Raja saat ini, terlihat begitu rapuh. Ayah mana yang tega melihatnya begitu dan sang Bunda juga sudah memalingkan wajahnya. Dari kemarin, sang Bunda juga memikirkan persetujuan putranya.
"Ayah percaya sama kamu." Suara itu, terdengar jelas, oleh putranya.
Keduanya saling menatap, Raja sudah tampak berkaca-kaca. Sang Ayah meraih Raja dalam dekapannya.
"Raja, Ayah percaya sama kamu." Mengelus punggung putranya, dengan segenap perasaan seorang Ayah.
Raja sebagai anak pertama dan hidup dengan sesuka hatinya. Hanya menurut dan patuh kepadanya Eyang Arjuna. Selama, Eyang selalu memenuhi keinginannya, Raja menerima perjodohan dan melupakan tentang, "Apa itu cinta?"
__ADS_1
Sedari awal, Raja tidak mengerti akan cinta dan selalu membuang jauh-jauh, perasaan tentang cinta. Tidak ada arti cinta dalam hidupnya, apalagi hanya untuk seorang wanita.
"Ayah harus percaya sama aku." Ucap Raja sekali lagi, diiringi suara tangisnya.
"Iya, Ayah percaya sama kamu. Kamu pasti bisa menjadi suami yang hebat. Ayah akan melihatnya."
Dari pintu kamar El, dia melihat adik sepupunya seperti itu. Elmeera juga sudah menangis dan tampak bersandar tembok. Dia turut merasakan hati seorang Raja. Tumbuh bersama di rumah sang Eyang. Raja sudah bagaikan kembaran hidupnya, dalam suka maupun duka.
"Raja." Tangisnya semakin sesenggukan dan menutupnya dengan bantal, agar Raja tidak mendengarnya.
Di kamar Lionel, cowok tampan itu juga masih mengintip dari pintu kamarnya. Tidak berani mendekat saudaranya tampannya. Tampak mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Meskipun kerap kali, Lionel bertengkar dengan Mamminya, tapi melihat Raja yang seperti itu, Lionel tak kuasa menahan dirinya.
"Sakit banget rasanya. Semoga Mas Raja menikah lebih dulu." Batinnya Lionel dan dia juga sudah tahu rencana pernikahan Aullia dari Mamminya, tapi Lionel tidak memberitahu Raja.
Mamminya selalu tahu, apa yang Bunda Lea persiapkan untuk putra putrinya.
"Kenapa ini rasanya lebih sakit, dari patah hati." Hikks, Lionel mengunci pintu kamarnya dan jadi tengkurap di atas kasur empuknya.
Aullia turut memeluk kakaknya dan dia sudah menangis, meski tiada suara tangisnya. Air matanya berlinang dengan derasnya, sampai membasahi jaketnya Raja.
"Mas. Mas Raja. Aku sayang Mas Raja." Ucap Aullia.
Bunda Lea, sudah menangis terus sewaktu dulu, berpisah dengan putra tampannya. Tak berniat untuk menyakitinya.
Sundulan, lebih tepatnya.
Awalnya sangat menyakitkan. Sewaktu mengetahui kehamilan keduanya dan putranya baru merasakan kehangatan dekapannya.
Bukannya tidak mau merawat Raja. Tetapi, Eyang Arjuna membawanya pergi, dengan alasan agar Raja bisa terawat dan Bunda Lea juga bisa menjaga kehamilannya.
Air bening menetes dan mengingat akan moment perpisahan kala itu. Sakit, sakit sekali rasanya. Seorang Bunda, yang menganggap dirinya sudah bersalah.
Raja yang masih bayi, masih membutuhkan asi dan dekapannya.
Sayangnya, sang Bunda tak bisa lagi memberikannya. Meski suara mengatakan ikhlas demi tumbuh kembang putranya. Namun, hatinya sudah teriris-iris. Meski hatinya sudah menangis darah. Tidak ada orang lain yang mengetahui goresannya.
"Bunda."
Raja memeluk lengan tangan sang Bunda. Bunda dari tadi duduk menyamping dan memalingkan wajahnya.
"Sayang. Bunda minta maaf. Bunda yang salah." Bunda memeluknya begitu erat, rasanya tidak tega. Air matanya semakin mengalir deras.
__ADS_1