
"Iya. Aku mencintai suamiku." Lea, lalu kembali menikmati makan siangnya.
Sang suami kaku ini, jadi terdiam dan tidak banyak bertanya. Sudah 1 jam, mereka menikmati kebersamaan di restoran sejuk ini.
Sajian makanan yang terlihat memukau, dan rasa masakannya juga terkenal sedap. Lea juga bisa merasakan ayam goreng lengkuasnya terasa gurih nikmat.
Setya memandangi istrinya, dalam hati ia memuji istrinya "Pantas saja. Dulu, Zio selalu memuji keberanian Lea."
Setelah selesai makan, Lea tersenyum ceria dan ia tidak lupa mencuci tangan di wastafel, yang tidak tauh dari meja makannya.
"Mas Setya kenapa melamun?"
"Aku tidak melamun." Kilahnya dan secepat mungkin mengalihkan pandangannya.
Saat Lea makan, dari tadi tatapan Setya hanya tertuju pada wajah istrinya. Hanya saja, Lea tidak menghiraukannya.
"Mas Setya, selesaikan makannya. Aku mau ke kolam ikan." Bak anak kecil yang berlari pergi dan meninggalkan Setya seorang diri.
"Kenapa tatapan Mas Setya begitu? Bikin jantungku berdetak cepat." Desis Lea dan masih memegang dada. Perlahan mengatur nafasnya dan ia merasakan hal manis.
"Lea, Lea, kamu beneran bikin aku gemas." Gumam Setya kesemsem.
Setelah menyelesaikan makan siangnya dan Lea kembali mendekat. Senyuman manis dan terlihat ceria.
Lea tidak basa basi, memegang lengan tangan sang suami, ia berkata "Mas Setya sudah selesai makan. Ayo kita pulang."
"Kenapa pulang? Bukannya kamu suka melihat ikan?"
"Aku ingin, kita jalan berdua. Nonton lagi, sepertinya boleh juga."
"Emh, baik. Tapi, nontonnya di rumah saja ya."
"Kok di rumah?" Wajah itu jadi pudar, padahal sudah semangat 45. Seperti malam itu, nonton berdua di bioskop. Membuat Lea jadi semakin berdebar.
"Di rumah lebih nyaman." Balas Setya dan mencubit gemas pipinya.
Lea kembali tersenyum, ia berkata "Tapi, nanti malam aku balik ke hotel lagi."
"Kenapa kesana?"
"Emh, aku kangen Yunaku sayang." Jawab Lea, ia berfikir kalau malam bakalan tidur seranjang lagi, nanti takutnya khilaf. Padahal, sudah janji tidak akan terjadi hubungan intim, sebelum Lea lulus kuliah.
"Baik, terserah kamu nyamannya gimana."
Setya menggandeng tangan istrinya dan masih duduk dengan santai "Sana, kamu yang bayar."
"Kok jadi aku, yang bayarin?" Tatapan Lea begitu polos dan tidak mengerti.
"Lea sayang, kamu istriku. ATMku sudah sama kamu." Jawab Setya.
Lea teringat, menjawab "Mas Setya, semua ATMnya yang bawa Yuna."
"Yuna? Terus kita gimana?" Tanya Setya.
Lea merogoh tasnya dan tidak ada apapun selain ponsel.
"Aku bisa minta Yuna datang kemari." Begitu polos wajah itu dan Setya bisa melihat kepolosan sikap Lea. Bukannya, marah atau kesal kepada istrinya. Setya berubah gemas sekali kepada sang istri.
"Lea sayang. Lain kali, kamu harus bisa melayani suamimu. Apa nantinya, Yuna juga yang akan melayani aku?"
"Hah??" Lea terkaget dan lepas sudah tangan mereka berdua.
Setya beranjak berdiri dan Lea malah mematung saja.
"Sayang, kamu kenapa? Ayo kita pergi."
"Apa maksudnya Yuna yang melayani? Huh, aku tidak mau berbagi suami sama siapapun, termasuk Yuna. Kalau dulu Zio, bisa saja ciuman dengan Yuna, dan aku yang menyuruhnya. Kalau suamiku, aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Bodohnya aku, harusnya di perjajian pra nikah aku tulis juga, aku tidak mau dipoligami. Aku harus segera bilang sama Papa, untuk merubahnya." Batin Lea hareudang.
Setya kembali meraih tangan sang istri "Sayang, ayo kita pulang."
__ADS_1
"Mas Setya, gimana bayarnya?" Tanya Lea dengan wajah yang tampak gelisah. Karena pikiran konyolnya itu, dia malah jadi gegana sendiri.
"Sayang, aku sudah bayar. Aku cuma iseng sama kamu." Jawabnya.
Lea jadi cemberut gemas dan mencubit lengan tangan suaminya "Aaa, Mas Setya ngeselin."
"Habisnya, kamu apa-apa Yuna. Mulai sekarang, kamu harus terbiasa sama aku." Balas Setya dan tangan kanannya sudah menggandeng tangan kiri Lea.
"Mas Setya, bisa ngeprank juga." Batin Lea jadi senang. Setidaknya, dia tidak akan monoton, meski akan hidup selamanya dengan Setya.
Wajah tampannya terlihat kaku dan dingin. Tapi perlakuan Setya kepada istrinya, sangatlah lembut dan bijaksana. Mungkin saja diantara pria lainnya, hanya Setya yang berani memerintah Lea begini begitu. Lea juga bisa patuh akan nasehat suaminya.
"Sayang, kamu ingin nonton film apa?"
"Film horor saja."
"Baik."
Mereka yang menuju ke parkiran restoran, sudah tampak bergandengan mesra. Keduanya insan itu terlihat serasi, mungkin karena pakaian yang mereka kenakan saat ini, sama warnanya.
Setya yang menawan dengan kemeja putih dan dipadukan celana jeans warna biru muda. Sedangkan Lea tampil imut dengan mengenakan kaos putih dan di balut celana kodok jeans warna biru muda.
Setya dengan manis membuka pintu mobil, ia tadi lebih dulu menyalakan mesin mobilnya, agar sang istri tidak kepanasan di dalam.
Setelah sejuk, baru ia meminta sang istri untuk naik ke dalam mobil. "Silakan, tuan putri Allea."
"Terima kasih." Balasnya gemas.
Setya seraya berlari dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia begitu kegemesan, dengan tingkah istrinya.
"Mas Setya, nggak pakai sabun pengaman?"
"Iya, nanti aku pakai."
Setya menyalakan radio dan mengatur tempat duduknya. Ia tampak santai dan Lea hanya menatap suaminya.
Tatapan Setya yang memikat dan Lea kembali berdebar mesra.
Deg
Deg
Deg
60 detik dan mereka saling menatap saja.
Lea berkata "Aku mencintai kamu."
Setya mengulum senyuman. "Aku merasakannya."
Setya melepaskan seat belt Lea, dan menarik tubuh Lea begitu saja. Keduanya sudah tampak dekat.
Nyees!!
Pipi Lea merona kemerahan, tangannya masih mendekap dadanya sendiri. Setya mencium bibirnya dengan lembut.
"Aaa, aku sangat menyukai ini." Batin Lea yang telah mengembang seperti Permen Kapas. Rasanya manis, lumer dimulut dan begitu lembut.
Radio mobil terdengar mesra, dengan lagu yang berjudul Casablanca by Nuha Bahrain dan Naufal Azril.
Ada bait dari lirik lagu yang menyentuh perasaan, saat mengiringi ciuman pertama Lea dan Setya.
^^^Denyut jantungku berdebar^^^
^^^Terasa indahnya^^^
^^^Dunia ini kita yang punya^^^
^^^Akulah mataharimu^^^
__ADS_1
^^^Kaulah kekasihku^^^
^^^Kita kan bersama selamanya^^^
Othor mau dengerin lagu Casablanca dulu. Biar nggak jadi ngintip ciuman mereka.
Lea yang tadinya memejamkan mata, karena ciuman manisnya terlalu nikmat. Perlahan membuka mata, setelah Setya melepaskan ciuman pertamanya untuk Lea.
Lea jadi salah tingkah sendiri, begitu pula dengan Setya, yang langsung memakai sabuk pengaman.
Lea menarik seatbelt dan tangannya seketika menjadi lemah, mungkin efek ciumannya.
"Sayang. Aku jadi lupa memperhatikan kamu." Setya memakaikan sabuk pengaman Lea.
"Iya Mas. Tanganku kesemutan."
Setya memagang tangannya "Kamu tidak apa-apa?"
"Iya." Jawabnya salting.
Lea semakin berdebar dan tidak berani menatap wajah suaminya. Setya mulai melajukan mobilnya.
Rasanya susah untuk menahan diri, batin Lea gelisah, "Gimana ini? Mas Setya suamiku. Kita sudah menikah, tidak masalah kita bermesraan, tapi kenapa aku jadi takut begini sih?"
"Sayang, kamu beneran mau balik ke hotel?"
"Aku juga bingung." Batin Lea. Antara ingin bersama, tapi takut kalau sampai bercumbu mesra. Tadi saja, hanya ciuman, Lea jadi pasrah dan menikmati. Apalagi dengan sentuhan lembut suaminya.
"Lea sayang."
"Iya Mas." Itu jawaban Lea yang terkaget, saat mendengar panggilan sang suami. Sayangnya, sang suami mengira kalau Lea memang ingin pulang ke hotel.
Suasana siang menuju sore hari. Kedua orang ini masih berada di dalam mobil. Lagu-lagu romantis dari radio, terdengar sangat nyaman. Lea yang bersandar, tampak senyuman manis dan Setya melihatnya.
"Kenapa kamu senyam-senyum begitu?" Tanya Setya.
Lea menoleh ke wajahnya, ia berkata "Aku bahagia."
"Lea, sepertinya aku harus mengenalmu."
Setya juga tidak ingin buru-buru, untuk memaksa Lea menjadi sosok istri yang harus bisa melayani suaminya. Bukan hanya urusan ranjang, tapi juga hal lainnya.
"Mas Setya, kita mau kemana?" Tanya Lea, karena jalan ini bukan jalan yang menuju ke rumah Setya.
Saat ini, sudah jam 15. 30 WIB. Mobil itu melaju santai menuju ke suatu tempat.
"Aku mau ke kost. Ambil barang-barang yang masih tertinggal disana." Jawab Setya.
"Apa Mas Setya satu kost sama Bang Riko?" Tanya Lea dan Setya tampak mengangguk.
"Bang Riko bilang, dia kangen sama Mas Setya."
"Kamu ngobrol sama Riko?" Tanya Setya.
"Tidak. Yuna yang ngobrol sama Bang Riko." Jawab Lea, jadi gemas. Lea punya foto-fotonya dari Yuna.
"Sayang, apa dia tahu kalau kita sudah menikah?"
"Tidak. Yuna tidak cerita apapun. Tapi, Bang Riko kasih ini ke Yuna."
Lea menunjukan foto-foto itu. Lea berkata "Bangun tidur aja ganteng."
"Ganteng?" Setya yang suka mendengarnya.
Lea berkata "Suamiku ganteng."
Setya jadi tersipu malu. "Gemees!"
__ADS_1