
Revan tidak tertangkap, tapi dia malah tertabrak mobil box pengantar barang, di jalan raya yang tidak jauh dari hotel.
Redi, tertegun saat semalam melihat dengan kedua matanya sendiri. Ada lima pengawal yang juga mengejarnya, dan sekarang mereka semua sudah di Markas Roberto.
CCTV menjadi saksi utama dalam kejadian ini. Mungkin, Revan ini hanya memancing seseorang agar segera keluar dan membalas dendam kepada keluarga Bunda Lea.
"Redi, kamu baik-baik saja?" Tanya Panda, kepada rekan kerjanya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Redi.
Redi masih terduduk di ruang rapat, semua sudah keluar dan segera bekerja sesuai instruksi Bos.
Anggota pengawal dari Markas Roberto sudah menyelesaikan tugas mereka dengan sebaik mungkin, namun masih ada tugas berat.
Madam Marisa, kemarin sudah diperiksa pihak berwajib. Beberapa anggota penanam modal, juga merasa ditipu olehnya. Setelah, tersebar isue kejahatan Madam Marisa, anggota VIP melaporkan perbuatan jahatnya. Sayangnya, polisi belum menemukan harta yang disimpan oleh Madam Marisa.
"Aku tidak tahu."
"Aku cuma arisan."
"Bukan apa-apa."
"Aku tidak berjudi."
"Aku hanya bermain kartu."
"Bukan. Tidak ada uang dan emas itu."
"Periksa saja rumahku."
"Kalian masih mencurigai aku?"
"Aku ini juga korban. Aku bersumpah."
Dia menatap kuku runcing dan terlihat kutek merah gelap. Aura wajah itu juga selalu terlihat gelap. Meskipun bibirnya merah dan wajahnya mulus bak porselen. Tapi, wajah orang itu tetap terlihat tidak sedap dipandang mata.
Seperti itulah, sewaktu kemarin di periksa oleh pihak berwajid. Para detektif pilihan, juga sudah mencari keseluruh tempat penyimpanan.
Lalu, pagi ini sebuah bukti telah ditemukan oleh seorang detektif hebat. Bukti, dari penipuan dan bisnis jaringan hitam yang merambah ke luar negeri, sudah di tangan detektif itu.
Madam Marisa menyembunyikan bukti kejahatanya di bawah kolam ikan Koi. Ada ruang sempit di bawah tanah, yang tersembunyi rapat. Bila hendak masuk ke tempat itu, kolam ikan harus di kuras lebih dulu dan hanya dia yang tahu. Itu, bukan di rumahnya. Melainkan, di rumah Madam Clarissa.
"Siall. Marisa sengaja ingin menjatuhkan aku. Pantas saja, dia menjual rumah ini kepadaku." Batin Clarissa dan merasa geram sekali.
"Nyonya, anda harus ikut kami untuk pemeriksaan."
"Aku tidak bersalah."
"Anda bisa menjelaskan di kantor kami."
"Lepaskan, jangan pegang aku."
"Silakan. Anda berjalan sendiri dan menjelaskan di kantor kami."
...Yuk, pagi ini beralih ke Calvin di rumah Bunda Lea....
Pagi yang cerah dan tersirat senyuman dari sosok tuan putri Kai. Calvin sudah merasa ketiban sial dua kali. Semalam dia dibekap dan mendapat tusukan dari senjata tajam. Kemudian, sekarang harus dirawat oleh adiknya Raja, yang tidak lain adalah tuan putri Kai.
"Aaak sayang." Ucap Kai, saat ingin menyuapi guru tampannya itu.
"Aku bisa makan sendiri." Balas Calvin dan ia tampak duduk bersandar di ranjang pribadi Raja.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu."
Calvin mencebikan bibirnya ke kanan dan meraih mangkok bubur ayam. Tangan kanannya sudah memegang sendok, tapi pinggang kanannya masih nyeri.
__ADS_1
"Tolong, ambilkan obatku." Ucap Calvin.
Kedua pengawal juga bergantian mandi dan sarapan pagi. Kai, menyuruh para pengawal rumah untuk berjaga di setiap depan pintu.
Bunda Lea dan Ayah Setya pergi ke rumah Raja bersama menantunya.
Mereka pagi tadi, baru tiba dari hotel. Langsung meluncur ke rumah putra pertamanya, untuk melihat keadaannya.
Semalam, semua keluarga harus menginap di hotel dan paginya masih berkumpul dengan keluarga besan. Meski Bunda dan Ayah sudah tahu akan kabar buruk ini, namun tidak enak hati kepada keluarga besar dari menantu tampannya.
"Pak Calvin sangat beruntung. Bisa tidur di kamar ini. Padahal, aku adiknya. Tapi, Mas Raja melarang aku memasuki kamar ini."
"Tapi, sekarang kamu bisa disini."
"Aku menjaga Pak guruku. Apalagi, Pak guruku ini sudah menyelamatkan Masku yang nyebelin itu. Meski aku sebal, tapi aku sangat menyayanginya. Makanya, aku mau merawat Pak Calvin. Sebagai balas hutang nyawa dan ucapan terima kasih. Jadi, Pak Calvin jangan keberatan."
"Aku sangat keberatan. Kamu tidak perlu merawat aku." Balasnya Calvin, ia kembali menikmati sarapan paginya.
Kai sudah menyiapkan obat untuk guru tampannya ini dan setelah selesai makan, langsung meminum obatnya.
"Terima kasih. Kamu bisa pergi."
"Pak Calvin beneran ngusir aku?"
"Aku hanya tidak nyaman bersamamu."
"Kenapa? Aku sudah berusaha baik."
"Kai, aku mau istirahat. Apa kamu bisa keluar dari sini?"
Kai jadi mengangguk dan tak lagi nekatan. Kai bisa berubah lembut, setelah hal buruk menimpa kakak dan guru tampannya ini.
"Huh. Kemarin, aku di usir Mas Raja. Sekarang, aku di usir Pak Calvin." Gumam Kai dan masih memegang gagang pintu.
Kai memutar selot pintu kamar itu dan mengintip ke arah Calvin. Ternyata, sang guru tampannya masih menatap Kai dan tampak aura wajah kejamnya.
Kai pergi dari kamar itu, dan tersenyum manis kepada pengawal yang berjaga di samping pintu kamar ini.
"Emh, Zyan sekolah. Lean sekolah. Aku hari ini, tidak ada jadwal sekolah."
Kai berjalan ke ruang para pengawal, dan pimpinan pengawal datang.
Bos berjalan, sosok tua dan tampak uban di rambut cepaknya.
Penampilan yang terlihat formal dengan setelan jas abu-abu. Tampak memakai kacamata warna hitam. Berjalan dengan gagah dan tampak menawan.
"Selamat pagi Nona Kai."
"Selamat pagi Mr. Roberto."
Kai juga terpesona dan mengagumi sosok bapak tua ini. Begitu macho dan telihat gagah perkasa. Padahal sudah tua, tapi tidak membungkuk sedikipun. Malah, terpancar kharisma pria yang luar biasa.
"Nona Kai, ada perlu apa kemari?"
"Harusnya, aku yang bertanya kepada Mr. Roberto. Apa perlu apa, anda datang kemari?"
"Maaf Nona. Saya sudah lancang."
"Tidak perlu sungkan."
"Saya datang kemari, hanya ingin menemui Pak Calvin."
"Owh, itu. Pak Calvin lagi tidur."
"Tidur??"
__ADS_1
"Iya. Barusan minum obat, lalu istirahat. Tolong, biarkan saja dia tidur."
"Baik Nona, saya mengerti. Saya tidak akan menganggu Pak Calvin."
Mereka bertemu di pinggir kolam ikan dan ada berbagai tanaman anggrek yang menghiasi jalan penghubung rumah depan dan rumah belakang.
"Mr. Roberto. Bisa kita bicara berdua saja."
"Apa yang ingin Nona bicarakan sama saya?"
"Ini, soal penyusup semalam." Bisik Kai pelan, dan ia tampak berjinjit.
Mr. Roberto postur badannya tinggi, Kai tidak sampai ke telinganya. Padahal, tinggi badan Kai cukup ideal bagi seorang gadis remaja.
"Nona, tidak perlu cemas. Orang itu, sudah mendapat balasannya sendiri."
"Mr. Roberto. Ada lagi, seseorang. Dia perempuan. Dia mengawasi Mas Raja."
"Seorang perempuan?" Tanya Mr. Roberto.
"Benar. Dia Nyonya. Ini, sketsa wajahnya. Tadi subuh, aku membuat gambar wanita itu."
Kai memperlihatkan gambar yang dia buat dari ponsel yang ia pegang.
"Dia?" Terkaget.
"Iya Mr. Roberto. Semalam, dia juga ada di pesta. Aku mengikutinya. Dia yang berbicara dengan penyusup itu. Lalu, dia pergi bersama pengawal pribadinya."
Saat Kai berkata soal ini. Di rumah Raja, sudah terjadi penembakan.
"Eyang!!!" Teriak Raja dan memeluk Eyang Arjuna yang sudah tertembak.
Suasana pagi berduka di rumah mewah sang cucu kesayangannya. Keluarga datang dan Raja keluar dari rumah menghampiri Eyangnya. Namun, hal sebaliknya terjadi. Eyang melihat lebih dulu arah pistol itu, dan Eyang memeluk cucu kesayangannya.
Memutar badannya dan seketika peluru itu telah mengenai bahu kanannya.
"Eyang!!!" Jeritan dengan tangisnya menyayat hati.
Bunda Lea tertegun dan tak bisa berkata apapun. Terduduk di atas paving dan di peluk suaminya tercinta.
Tatapan nanar dan penuh kesakitan, Eyang tersenyum memandangi wajah Raja.
"Ra-ja."
Hembusan nafas yang terasa semakin berat. Raja merasakan darah hangat melumuri kedua telapak tangan yang mendekap sang Eyang.
Ratu juga terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Lalu, Singa mengejarnya, bersama beberapa pengawal.
El yang menunggu di ruang tamu, hanya terdiam. Merasakan gelisah yang amat dalam.
"Ey-yang? Eyang. Eyang!!!" El jadi histeris.
2 Jam kemudian.
Raja sudah duduk di ruang tunggu operasi, tampak diam dan hanya ada air mata yang masih luruh.
Tak ingin berfikiran buruk, tapi hal buruk memang sudah menimpanya.
"Pa-pa, Mas. Papa." Ucap Bunda Lea yang menangis dalam pelukan suaminya.
Ayah Setya juga dari tadi sudah menangis dan memeluk istrinya "Sayang, kamu yang tenang. Kita do'akan yang terbaik buat Papa."
"Mas, aku ta-kut. Ak-ku nggak ma-u kehi-lang-an Papa." Ucapnya yang tersengal-sengal.
Tangisan Bunda Lea, menyayat hati. Ayah Setya masih menenangkannya.
__ADS_1
"Dokter."