Permen Kapas

Permen Kapas
Tidak Mau Putus


__ADS_3

Suasana malam di restoran The Queen's Hotel. Telah menjadi saksi bisu, saat couple imut berciuman mesra.


Lea yang tadinya dalam dekapan Zio. Perlahan membalikan badannya dan menatap wajah sang pacar begitu lekat. Mata indah berkilau dengan pancaran sendu dan mulai tampak berkaca-kaca. Baru kali ini, Lea merasakan patah hati dari sang kekasih hati.


Perasaan apa yang telah dirasakan oleh pasangan ini. Sepertinya, ciuman ini hanya pelampiasan saja.


Lea menyudahi ciuman mesranya. Zio menatap dengan penuh berharap. Agar Lea mau memaafkan dirinya.


"Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita. Aku hanya berharap, kamu akan terus mengingat ciuman malam ini."


"Lea."


"Aku pergi dulu."


"Honey." Zio berusaha untuk meraih tangannya dan berharap semua ini tidak akan usai begitu saja.


"Jangan mengejarku. Aku harap kamu memikirkan kesalahanmu. Kita tidak putus. Aku hanya ingin sendirian dulu."


Lea pergi dengan berlari dan Zio tidak berani mengejarnya. Bila Zio mengejar Lea akan semakin ribut dan pastinya akan terucap kata putus.


"Zio sama sekali tidak mau mengejarku." Lea semakin kesal dan ingin rasanya segera meluapkan perasaannya.


"Aku memang dekat dengan pria lain, tapi aku tidak bersikap begitu padanya. Zio, kamu sudah keterlaluan."


Lea yang menangis dan menuju ke pintu lift. Sudah terbuka pintu itu dan ada seorang tamu yang menaiki lift yang sama.


Lea menyeka air matanya sendiri dan masih merasa kesal. Dia sadar, kalau selama ini dirinya begitu menyayangi sang pacar tampannya.


"Zio, kamu sudah memulainya. Aku juga akan mengalihkan perasaanku." Batin Lea.


Di restoran, Zio kembali duduk dan ia berfikir kalau dia memang telah bersalah. Tapi, kesalahannya bermula dari Lea. Zio tidak suka dengan sikap Lea yang mulai berubah.


"Lea, apa yang kamu pikirkan? Siapa yang ada dalam hatimu? Apa kamu benar-benar sudah dijodohkan?" Batin Zio yang masih meragukan Lea.


Apalagi saat malam itu, Lea benar-benar bersama pria lain dan berduaan di taman. Membuat Zio gelisah dan semalaman tidak bisa tidur nyenyak.


"Lea cemburu? Atau hanya merasa kesal?" Zio dengan pikirannya yang memang begitu adanya.


Lea yang telah tiba di kamar dia sangat kesal, rasanya sudah mencabik-cabik batinnya. Ingin sekali meluapkan emosi dan ia mulai mengingat kalau dirinya juga sempat ingin menduakan Zio.


"Oke. Aku akan bermain juga. Aku juga butuh hiburan." Batin Lea yang sudah bergejolak, tapi dia hanya kecewa dengan sikap Zio saat ini.


"Bodo amat. Aku nggak peduli." Bilangnya sih begitu, tapi sudah menguras perasaan dalam hatinya.


Yuna datang mendekat dan Lea juga melemparkan tasnya begitu saja. Yuna dengan sigap menangkapnya. Yuna sangat tahu, kalau hal ini akan terjadi. Keributan kecil ala couple imut, tapi Yuna tidak tahu masalah aslinya. Yuna hanya berfikir kalau Zio yang cemburu.


Bibir cemberut dan duduk bersandar di sofa. Memeluk kedua lututnya, dengan rasa kesal dia ingin menumpahkan perasaan gegana ini.


"Yuna. Zio sudah selingkuh di belakangku." Rengeknya dan Yuna seketika terkaget.


"Zio selingkuh?" Tanya Yuna dan merasa aneh.


"Zio bahkan ciuman sama Clarissa."


"Wah, si imut gercep juga ya. Tahu aja mana yang cakepan."


Mendengar perkataan itu, Lea jadi semakin kesal, tangannya secepat mungkin meraih benda di sekitarnya, dan langsung saja melemparkan ke wajah Yuna.

__ADS_1


"Ampun Lea sayang. Aku cuma bercanda." Ucapnya.


"Kamu ini, udah tahu aku kecewa masih sanggup meledek aku."


Yuna lantas duduk di sebelahnya dan memandangi wajah Lea. Yuna bertanya "Kamu cemburu sama Clarissa?"


"Tidak juga. Tapi, gimana imeg aku di kampus nanti?"


Lea yang sadar diri selama di kampus selalu dibandingkan dengan Clarissa. Dia sama sekali tidak sebanding dengan Clarissa, meski Lea putri pemilik kampus swasta itu.


"Emh, kalau itu terjadi. Aku akan segera menyumpal mulut mereka."


"Aku sudah membungkam Zio dengan bibirku ini."


"Aauuh, kamu juga tidak mau kalah ciuman hangat ala mereka."


Lea menatap Yuna semakin kesal, ia berkata "Yuna, kamu ini asistenku, apa asisten Zio?"


Yuna terkekeh, semenjak kecil dirinya sangat tahu sifat Lea. Baru kali ini, Lea merasa kalah dengan gadis lain.


"Iya, iya, Lea sayang. Aku mengerti perasaan kamu. Kamu tidak cemburu, tapi kamu sangat kesal dengan Zio, karena ciuman hangatnya dengan Clarissa."


"Bisa diam nggak. Nggak usah bilang tentang ciuman mesra mereka."


"Terus? Kamu mau melawan balik Zio?"


"Pasti. Aku bisa bermain manis dengan Mas Setya untuk melawan Zio."


"Lea. Kamu jangan main-main begitu."


"Aku tahu. Meski mereka saudara. Tapi, ada jarak diantara mereka berdua."


Kemarin Lea sudah ingin memperbaiki diri dan mempererat hubungan Zio dengan Kakak tirinya. Malah mau membuat mereka putus hubungan saudara.


"Aku hanya ingin membalasnya." Ucap Lea.


Lea dengan wajah sendu meraih Yuna dan memeluknya erat. Air mata bening telah menetes dari ujung kelopak mata cantiknya.


"Yuna. Meski kita bukan saudara, aku sangat menyayangi kamu. Aku berharap, kita tidak akan terpisah hanya karena masalah laki-laki."


"Lea."


"Kamu atau aku. Bila nantinya ada seseorang yang sama-sama kita cintai. Aku harap, kita bisa melepaskannya."


"Lea, mana mungkin aku akan begitu."


"Yuna, kita tidak akan tahu hal apa yang akan terjadi nantinya. Buktinya, Zio bisa berpaling dari aku, bahkan bisa berciuman dengan Clarissa."


Yuna mengelus punggung Lea, ia berkata "Iya Lea, aku janji. Kita tetap saudara selamanya."


Setelah malam yang tak disangka itu, Lea tertidur dalam kehangatan. Yuna sang asisten, masih mengelus-elus rambutnya sampai Lea terlelap.


"Apa Lea sudah mencintai Zio?"


Yuna juga telah berbaring di sebelah Lea, dan perlahan memejamkan kedua mata indahnya. Besok pagi, Yuna sendiri juga harus pergi bersama Kevin, sang pujaan hati.


🍭🍭

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Yuna sudah dijemput sang pujaan hati.


Setelah sholat subuh, Lea kembali menarik selimut dan ia sangat enggan beranjak dari tempat tidurnya.


Lea masih membayangkan, tentang ciuman Zio dan Clarissa. "Huf, aku masih kesal sama Zio."


Tidak lama, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Kamar ini, pintunya juga masih model lama. Kesan klasik dari kamar ini, masih melekat. Dari pintu masuknya saja tetap sama, tidak ada yang berubah. Tidak seperti pintu kamar lainnya, yang sudah lebih modern.


"Sebentar."


Lea membuka pintu kamar, dan ia jadi melihat senyuman manis sang pelayan.


"Selamat pagi Nona Allea. Saya datang untuk mengantarkan sarapan anda."


"Iya. Taruh saja di meja makan."


Lea yang merasa aneh, padahal saat ini dia berharap sekali. Bisa memanggil dengan panggilan Mas Setya.


"Mas Setya." Panggilan Lea.


Lea sudah duduk di kursi meja makan.


"Iya."


"Kenapa Mas Setya yang mengantar sarapanku?"


"Aku hanya menjalankan perintah atasanku. Aku begitu datang, langsung disuruh mengantarkan ini, khusus buat kamu."


"Pasti Kakek yang nyuruh." Desis Lea.


Setya sudah meletakan semua menu pagi Lea. Dia berkata "Nona Allea, selamat makan."


"Iya, terima kasih."


Setya yang hendak beranjak pergi, Lea berkata "Nanti sore, sepulang kerja. Aku ingin pergi nonton."


Setya berkata "Nanti chattingan saja."


Entah, sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kedua orang ini. Sepertinya, tadi malam Lea masih biasa saja. Tapi pagi ini, sudah berubah romansa. Apa, Lea ingin segera membuat permainan bersama Setya, untuk melawan sang pacar imutnya.


Setelah tiba di dapur, seorang pelayan yang biasa mengantar makanan Lea, sudah menemui Setya.


"Apa dia menangis?"


"Apa dia marah-marah dan membanting semua bonekanya?"


"Apa dia sedang curhat dengan asisten pribadinya?"


Setya berkata "Tidak terlihat begitu. Nona Allea, baik-baik saja. Dia langsung makan menu pagi yang aku antar barusan."


"Waaah, sepertinya. Dia memang sudah putus dengan pacarnya. Semalam itu, aku melayani mereka berdua di restoran. Ada pertengkaran kecil. Lalu Nona berlari dengan ekspresi kesal dan menangis, pacarnya mengejar, meraih tangannya dan memeluknya dari belakang. Terus, aku mendengar ucapan Nona, lepaskan aku. Lalu pacarnya berkata, aku minta maaf. Terus, apa yang terjadi. Kamu mau menebak?"


"Terus, apalagi?" Setya ingin mendengar cerita sang pelayan tetap di dapur ini.


Dia orang yang membawa Setya untuk bekerja disini. Dia teman satu kost dengan Setya. Tapi, dia sering menginap di ruang istirahat staff hotel. Sebut saja namanya Riko.


Riko berkata "Nona membalikan badan, meraih wajah pacarnya dan mencium bibirnya dengan gairah. Tapi anehnya, Nona menangis. Nona berlari pergi, sebelum pergi Nona berkata, aku berharap, kamu akan terus mengingat ciumanku malam ini."

__ADS_1


"Apa mereka putus?"


__ADS_2