
Saat tak ada suara untuk menjawab, Raja berkata "Aku memang belum mencintai kamu. Tapi aku selalu berusaha memperhatikan kamu."
Ratu memikirkan semuanya, dan tak ada jawaban untuk Raja. Keduanya masih saling menggenggam.
"Beri aku kesempatan."
Perasaan gusar saat memikirkan soal pernikahan dan Ratu sulit sekali, berkata IYA ATAU TIDAK.
"Raja." Ratu memanggilnya dan Raja menoleh ke wajah sang Ratu.
Tampak keduanya saling menatap dengan perasaan.
Raja dengan perasaan yang berharap. Ratu dengan perasaan siap menjawab.
Sett!
Duugggh!
Mobil taxi yang mereka tumpangi, mengerem mendadak dan menabrak mobil yang ada di depannya.
Ratu melihat mobil itu, "Papa."
Sang sopir taxi dengan raut wajah cemas, menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Ma-Maaf Pak. Saya tidak sengaja." Terdengar logat medoknya.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin bertemu anak saya."
"Anak bapak?" Tanya sang sopir taxi.
Papa Kevin menoleh ke arah Ratu, dari sisi pintu sopir. Papa Kevin berkata "Penumpang anda. Dia putri saya."
Sang sopir berkata "Iya Pak. Saya paham."
Pak Sopir ini, tadi mendengar jelas perkataan penumpang pria, yang sempat berkata ingin menikahinya.
Sopir itu secepatnya, membuka kunci pintu penumpang.
Papa Kevin mendekat ke pintu belakang dan membuka pintunya "Ratu, ayo ikut Papa."
"Aku nggak mau."
"Cepat keluar."
Wajah Ratu yang tampak kesal, karena memang sedang marah dengan Papanya.
Ratu keluar mobil dengan terpaksa dan Papa Kevin menggandengnya ke mobil.
"Papa kejam." Ketusnya.
Sang Papa tidak menghiraukannya dan Raja hanya menatap dari dalam taxi.
"Om Kevin kenapa?" Tanya Raja dalam hatinya dan tahu-tahu di sebelahnya sudah ada Eyang Arjuna.
Eyang Arjuna dengan wajah datar, berkata "Biarkan Ratu pergi dulu."
Raja menoleh ke wajah sang Eyang, ia berkata "Eyang, bikin kaget saja."
"Bundamu, sudah membuat keputusan untukmu."
Sang sopir masih terdiam, Eyang Arjuna berkata "Pak. Tolong antar kami ke Hotel Allerich."
Sang sopir yang berusia 40an, berkata sopan, "Baik Pak."
Di dalam mobil sang Papa, Ratu hanya tampak terdiam. Raut wajah yang sudah terlihat muram. Sang Papa juga masih terdiam dengan wajah datar.
Setelah beberapa menit kemudian, Ratu dan Papa Kevin, tiba di Hotel Allerich.
Sang Papa berkata "Hari ini, kamu akan menikah. Mau tidak mau, pernikahan kamu harus segera dilangsungkan."
Ratu hanya terdiam, percuma dirinya marah kepada sang Papa. Papa Kevin tidak akan mendengarkan perkataannya.
"Papa tidak pernah memenuhi keinginanku."
Suara Ratu terdengar sendu dan wajah itu semakin terlihat muram.
"Raja yang akan memenuhi semua keinginanmu." Ucap sang Papa tegas.
__ADS_1
Papa Kevin selalu bersikap tegas kepada putrinya. Sekalinya Ratu melawan, malah menyuruh Ratu tinggal dengan nenek kakeknya di luar kota.
"Papa tega sama aku." Ucapnya dan ingin sekali meluapkan kekesalannya.
Papa Kevin berkata "Papa tidak akan tega, kalau kamu hidup susah. Selama kamu bersama Raja. Papa akan tega."
"Aku nggak mau dikekang. Aku nggak suka di kawal. Aku nggak mau jadi Nyonya."
"Kamu tidak akan mengerti." Ucapan sang Papa tegas.
"Percuma aku melawan Papa. Kalau Mama, Nenek sama Kakek malah mendukung Papa." Keluhnya dalam hati.
Ratu masih terdiam dan sang Papa melihat putrinya yang muram.
"Ratu, jaman sekarang semua serba duit. Kamu mau makan cinta??"
Papa dengan mudahnya berkata begitu. Padahal, anaknya hanya ingin dicintai.
"Papa dari dulu nggak pernah mau ngertiin aku." Kesalnya Ratu.
"Iya, Papa memang tidak pernah mengerti perasaan kamu. Biar Raja yang ngertiin perasaan kamu itu.
Sang Papa keluar mobil lebih dulu dan bergegas membuka pintu samping kiri.
Setelah Papa Kevin membuka pintu, "Ayo turun."
"Iya."
Ratu dengan terpaksa menuruti ucapan sang Papa. Papa kandungnya Ratu, memang begitu adanya. Urusan pentingnya cuma bisnis, dan selalu membuang jauh-jauh perasaan cinta. Meski pernah singgah di dalam hatinya.
Ratu yang telah memegang lengan tangan sang Papa. Berjalan memasuki pintu utama Hotel Allerich. Seorang pengawal pribadinya, mengambil alih mobilnya.
Tidak lama, taxi yang di tumpangi Raja sudah tiba di Hotel Allerich.
"Eyang, kenapa kita kemari?" Tanya Raja kepada sang Eyang.
"Bukannya, kamu ingin segera menikahi Ratumu." Jawab sang Eyang dengan santai.
"Eyang, aku tanya serius. Eyang bercanda." Balas Raja dan masih berada di dalam taxi.
Raja terdiam, dalam hatinya bingung.
Sang sopir taxi menerima satu gepok lembaran merah.
"Pak ini apa ya?" Tanya sang sopir saat menerima uang bayaran taxinya.
"Itu rezeki Bapak. Saya sedang ada acara syukuran. Tolong uangnya diterima."
"Pak, ini uang beneran?" Tanya sang sopir dan masih tidak percaya.
"Iya Pak. Terima kasih sudah mengantar kami kemari."
Sang sopir masih memandangi uang itu dan tidak percaya begitu saja. Eyang Arjuna keluar dari taxi lebih dulu dan Raja masih mematung di kursi penumpang.
"Masnya masih ingin disini?" Tanya sopir taxi itu dan tampak menatap Raja.
"Owh, iya Pak. Saya mau turun. Terima kasih Pak." Jawabnya dan bergegas keluar.
"Apa mereka itu, para sultan?" Batin sang sopir dan memandangi sosok tua yang tampak penampilan biasa saja. Hanya mengenakan kemeja batik warna abu-abu dipadukan dengan celana bahan warna hitam.
Sang sopir kembali memandangi uang itu dan bersyukur atas rezekinya hari ini. Sedari pagi, baru mendapat penumpang pasangan muda dan akhirnya malah bertemu Eyang Arjuna.
"Rezeki nomplok. Aku harus mengajak anak istriku ke mal tadi." Sang sopir kembali mengemudikan mobilnya, terlihat wajah senang dan terharu.
Raja yang sudah melewati pintu utama Hotel Allerich dan hanya mengikuti langkah kaki sang Eyang.
"Eyang sudah menyiapkan semuanya." Batin Raja dan masih bingung sendiri.
"Kamu sama Ratu harus bersiap. Eyang mau menemui yang lainnya."
"Iya Eyang."
Raja menoleh ke arah Ratu yang duduk di sofa lobby.
"Ratu belum menjawab perkataanku." Batin Raja, karena pikirannya masih belum dewasa.
"Ratuku, kamu kenapa muram begitu?" Tanya Raja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Jawab Ratu.
"Apa Om Kevin tadi memarahimu?"
"Raja, Papa memang sering begitu."
Raja mengulurkan tangannya dan berkata "Ayo kita kesana. Kamu jangan takut. Aku akan jagain kamu."
Ratu mendongak dan menatap wajah Raja. Saat itu juga, Marla melihat dari sisi pintu utama.
Ratu perlahan memberikan tangan kirinya, "Iya. Kamu harus menjaga aku."
Melihat hal itu, Marla jadi kesal. Apalagi setelah mendengar perkataan Raja yang ingin menjaga Ratu. Seketika, hatinya bergemuruh dengan emosi.
Raja mengajak Ratu pergi ke ruangan khusus untuk bersiap-siap. Marla masih mengikuti mereka berdua.
"Apa hubungan mereka? Kenapa sampai pergi ke hotel berduaan?" Batin Marla yang semakin panas membara.
Satu jam kemudian.
Akad nikah Raja dan Ratu berlangsung sederhana. Hanya ada kedua orang tua dan Eyang Arjuna. Kemudian, beberapa orang saksi, pilihan Eyang Arjuna.
"Ratu. Kenapa kamu diam saja?"
"Aku hanya bingung."
"Bingung kenapa?"
"Aku pikir, prosesinya akan lama. Ternyata cepet banget." Jawab Ratu.
Kedua orang ini masih tinggal di sebuah kamar hotel. Kedua orang tua mereka dan Eyang masih bersama pengacara pribadi Eyang.
Sang pengacara membacakan semua perjanjian dari kedua pihak keluarga ini.
Papa Kevin hanya terdiam, sedangkan Mama Micheel malah sibuk sendiri dengan ponselnya, karena urusan filmnya.
Bunda Lea menetapkan point-point penting, yang tidak merugikan putranya.
Ayah Setya hanya ingin, putranya bahagia dan percaya dengan mertuanya.
Marla di lobby memikirkan hal-hal negatif. Apalagi, dia tadi sempat di usir oleh pengawal hotel. Karena, ruangan privasi itu sudah ada yang menempati. Tidak boleh tamu datang mendekat, selain dari pihak tamu undangan VIP.
"Apa yang mereka lakukan di dalam?" Batin Marla semakin hareudang.
Yang di dalam kamar duduk berjauhan. Ratu yang duduk di atas tempat tidur dan Raja tampak duduk di sofa.
"Raja, aku masih ingin tinggal di asrama."
"Aku juga belum sampai bermalam disana."
"Aku masih bingung. Tolong berikan aku waktu lagi."
"Iya, aku paham. Aku sendiri juga terlalu memaksakan hubungkan kita."
Ratu yang gelisah dan menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya saling meremas dan menatap wajah suaminya.
"Raja, kalau di kampus nanti. Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku ingin, kamu selalu bersamaku."
"Apa kamu tidak malu?"
"Untuk apa aku malu. Biarkan saja, orang lain bilang apa tentang kita."
Raja jadi berbaring di sofa dan Ratu mendekat membawakan bantal.
Ratu berkata "Aku akan mencobanya."
"Ratuku, duduk sini."
Raja yang memeluk bantal, perlahan Ratu duduk di sofa dan kaki Raja sudah berada di atas pangkuan Ratu.
"Raja, tapi aku takut."
"Kamu takut sama siapa?"
__ADS_1