Permen Kapas

Permen Kapas
Ulah Adik Ipar


__ADS_3

Hal yang tidak terduga. Lea berusaha patuh kepada suaminya. Zio sudah berada di ruangan pribadi Lea, untuk menjemput Lea.


Yuna secepatnya membawakan semua perlengkapan Lea, untuk beberapa hari ke depan.


Lea menatap Zio, dengan bibir cemberut.


Zio seketika merasa seolah aneh. Untuk pertama kalinya, ia datang ke ruangan ini dan bisa melihat tempat keseharian Lea, saat bertukar kabar dengannya.


Meski hanya hubungan pacar, bagi Zio itu sangat berarti. Zio terlihat diam dan tak banyak bicara.


"Lea sayang, semuanya sudah di dalam sini." Ujar Yuna, dengan gemas menepuk koper ukuran sedang.


"Iya, terima kasih." Balas Lea.


"Ayo kita berangkat. Keburu malam." Ajak Zio.


"Baik."


Zio yang telah disuruh oleh sang Kakak tampannya, untuk menjemput Lea dan mengantar Lea ke rumah pribadinya.


Sesaat dalam perjalanan, Zio tetap cuek dan Lea merasa, ini sudah tidak adil. Meski sudah putus, harusnya bisa berteman.


Lea yang menatap jalanan dari kaca samping, ia sedikit menyandarkan kepalanya ke sisi kaca.


"Mas Setya keterlaluan, untuk apa aku harus kesana." Batin Lea dan ia merasa tidak senang.


Zio berkata "Rumahnya Mas Setya sudah di bersihin. Disana juga ada pembantu sama penjaga. Kamu tidak perlu cemas."


"Iya, aku paham." Balasnya. Meski terlihat wajah biasa, Zio merasa kalau Lea sudah cemas.


"Padahal Mas Setya sudah janji. Huh, ngeselin. Mana Zio yang jemput aku. Aku jadi nggak ada muka di depan dia."


"Mbak Lea." Panggilan Zio, dengan suara merdu.


Seketika Lea menoleh ke wajahnya "Hah?? Apa kamu bilang? Mbak??"


Zio mengangguk, dengan wajah datar.


"Kamu panggil aku, Mbak Lea?" Tatapan Lea menandakan kalau tidak suka, akan panggilan itu.


Zio berkata "Mas Setya yang nyuruh aku panggil kamu Mbak. Aku hanya menurut saja. Aku ini, adik ipar kamu."


"Iya benar. Kamu adik iparku." Lea yang mencoba pasrah, akan keadaan saat ini. Apa yang dikatakan Zio, memang benar adanya.


Sekitar 20 menit perjalanan dan kedua orang ini tampak terdiam. Tidak seperti dulu, yang selalu asyik dan seru ketika bersama.


"Zio, apa rumah Mas Setya beneran berhantu?" Tanya Lea serius.


Zio tersenyum "Aku tidak tahu. Kamu percaya sama cerita Mama?"


"Iya, aku hanya berfikir begitu. Soalnya, Mama kamu bilang. Rumah itu dijual karena ada hantunya."


"Lea, Lea, kamu ini suka nonton film horor, tapi hal begituan saja kamu jadi takut."


Mendengar panggilan Lea dari mulut Zio. Lea jadi senang "Kamu nggak jadi panggil aku, Mbak?"


"Owh, aku belum terbiasa. Masih sering lupa. Semoga saja, di depan Mas Setya nanti, aku tidak salah panggil kamu."


"Honey??" Lea yang kadang-kadang suka iseng, meskipun sudah merried. Malah asyik menggoda adik iparnya ini.

__ADS_1


"Mbak Lea. Ayolah, bersikap dewasa."


"Kamu yang tidak bisa bersikap dewasa."


"Iya. Aku tidak bisa langsung dewasa dalam hitungan hari."


"Benar juga kata kamu. Adikku, kamu pasti bisa melewati prosesnya. Tapi jangan ke club malam. Jujur, aku masih mencemaskan kamu."


"Terima kasih, sudah mencemaskan aku."


Zio kembali tersenyum, memiliki hati seorang Lea, sudah pernah ia dapatkan. Bahkan sampai detik ini, Lea juga masih mencemaskan dirinya.


"Mbak Lea, tidak perlu mencemaskan aku lagi." Ucap Zio dan wajah itu sudah terlihat bahagia.


"Iya, sekarang ini aku cemas sama Masmu. Kenapa dia bisa tahu soal kejadian tadi pagi?"


"Mungkin saja, ada orang yang memberi tahu Mas Setya." Jawabnya.


"Siapa? Kamu?" Tatapan Lea, seolah telah menuduh Zio jadi pengadu.


"Emm, bukan aku." Kilah Zio.


Bukan Zio yang mengadu lebih dulu. Melainkan, Setya yang bertanya, tentang keseharian Lea di kampus.


Zio hanya menjawab jujur apa adanya. Dia sudah tidak bisa membantu Lea. Bahkan mengharuskan, putus di depan umum. Eh, ada pria tampan datang menyatakan cinta.


"Huh, kamu kenapa ngaduin aku?"


"Aku juga seperti Yuna. Yang ditanya macam-macam soal kamu."


Lea bertanya pada Zio "Masmu itu memang orang gimana? Cemburuan?"


"Wwah Gawat. Mana bisa aku terkurung begitu. Aku punya jiwa bebas. Kalau apa-apa di kekang, gimana aku bisa bahagia?" Batin Lea yang semakin meronta.


Entah, Zio hanya berbohong atau tidak. Tetapi Lea sudah mempercayai ucapan Zio. Sepertinya, memang benar begitu. Yuna saja, sampai nyut-nyutan kalau Setya sudah memanggil. Meski hanya lewat telephone, Yuna jadi sulit untuk berbohong padanya.


Setibanya di rumah mewah, kawasan komplek elit dan perpagar tinggi.


Meski pagar tinggi itu berdekatan dengan pagar tetangga, tapi rasanya rumah itu seperti sendirian.


Horroore!


Maklum saja ya, sudah belasan tahun. Rumah itu tidak dihuni siapapun.


Hanya sesekali, Setya datang kesana untuk mengingat akan kenangan masa kecilnya. Setelah kepergian sang Bunda, Setya langsung diboyong ke rumah baru Presdir Hendri dan tinggal bersama Jenny serta kedua adik tirinya.


Saat Setya usia balita, sudah tahu kalau Ayahnya punya dua keluarga.


Setya dari kecilnya, sudah diajari untuk memanggil Jenny dengan sebutan Mama. Lalu, sang adik laki-laki imut itu, diajari untuk memanggilnya Mas Setya. Semasa sang Bunda masih hidup, Setya hanya menurut kepada Bunda. Bunda mengajari semua hal, bahkan tentang keluarga baru Ayahnya.


Karena itu ajaran Bundanya Setya, Zio terbiasa memanggilnya, Mas Setya.


"Mbak Lea kenapa masih diam saja? Ayo turun dari mobil." Ajaknya dan ia sudah siap keluar.


"Zio."


"Iya. Ada apa?" Zio yang sudah hendak keluar dari mobil jadi menatap Lea.


"Aku jadi merinding gini ya. Apa aku balik lagi saja."

__ADS_1


"Mbak Lea, di dalam ada pembantu, ada penjaga itu tadi yang buka pagar."


Lea memegang lengan Zio "Aku lihat, orangnya tadi rada pucat."


"Ampuuun! Itu, Mang Asep kena sorot lampu mobil. Gimana nggak terlihat pucat."


Rumah putih dengan desain klasik. Terlihat gaya eropa dengan pilar besar dan tinggi di kedua sisi pintu masuk.


Halaman luar yang cukup luas dan ada satu garasi menghubungkan ke arah samping rumah. Pada Sisi kanan ada halaman seperti taman, terlihat ada berbagai tanaman hiasa berwarna kehijauan. Ada pula seperti tanaman bonsai, pada sebuah pot besar.


"Zio, aku tiba-tiba merasa aneh." Ucapnya.


Zio mengambil koper Lea dan ia berkata "Itu, hanya perasaan Mbak Lea saja."


Lea memegang lengan kiri Zio dan ia memang merasa gelisah. Zio yang mengerti kalau Lea tidak takut akan rumah ini, melainkan takut akan sosok Setya.


"Nona Lea sudah datang. Mari silakan masuk." Seorang pembantu paruh baya sudah menyambutnya, saat membuka pintu. Kemudian membawa koper Lea ke kamar utama.


Lea masih saja memegang lengan tangan Zio. Mereka menuju ke ruang tamu. Tatapan Lea, tertuju pada ruangan yang terkesan klasik.


Meski rumah Lea di tengah hutan, tetapi sudah terbiasa. Tidak ada rasa cemas. Kali ini, Lea harus tinggal di rumah sang suami, apalagi tanpa Yuna.


"Selamat datang di rumah Mbak Lea." Ucap Zio kepada Lea.


Lea membalas dengan suara gemas, "Ini rumah Masmu, bukan rumahku."


Zio menggelang, baginya Lea tidak berubah. Meski Lea sudah menikah, tampaknya tidak akan melepaskan Zio begitu saja, membuat Zio nyaman.


"Mbak Lea, itu di lantai dua kamar kalian." Ucap Zio dan menunjuk ke ruangan atas.


Lea jadi melepaskan tangan Zio, lalu bertanya "Apa tidak ada kamar tamu?"


Tatapan Lea menjadi aneh bagi Zio, padahal sudah menikah. Zio menjawab "Kamar tamu ada di situ dan di belakang itu. Lalu, di atas juga ada kamar Mas Setya. Semuanya, ada 4 kamar tidur."


"Syukurlah, aku bisa tidur terpisah." Batin Lea, perlahan merasa tenang.


"Mbak Lea, tenang saja. Itu tadi Mbok Yum. Kalau ada apa-apa. Tinggal panggil saja." Ucap Zio dan Lea sudah mengenal Mbak Yum saat di rumah Zio. Karena, Mama Jenny belum mendapatkan pembantu yang cocok untuk Setya dan Lea.


"Oke."


"Kalau begitu. Aku pulang dulu."


"Kamu mau pulang??" Tatapan Lea tidak senang.


Zio tersenyum, ia berkata "Tugasku cuma menjemput Mbak Lea dan mengantar kemari. Apa aku harus tidur disini?"


Tatapan Zio seolah nakal, dan batin Lea hareudang sendiri "Ini si imut belagak dewasa, siapa yang ngajarin dia begitu?"


Lea semakin tidak senang, saat Zio menggodanya. Lea berkata "Iya, aku baik-baik saja. Sana, kamu pulang."


Zio hendak pergi dia berkata "Aku harap, Mbak Lea bisa melayani Mas Setya dengan baik."


"Apa maksud kamu??" Tanya Lea.


Zio tidak lagi menggubrisnya, dan pergi begitu saja. Lea jadi semakin gelisah.



"Sepertinya, kondisi jantungku aman?" Zio yang tersenyum, ia merasa kalau sudah terbiasa. Sedangkan yang di dalam, seperti sudah masuk perangkap.

__ADS_1


__ADS_2