
Terkadang lisan memang salah berkata. Demi menjaga perasaan istri gemasnya. Setya harus bisa menuruti kemauannya.
Setelah seharian di kampus dan saat ini sudah malam. Setya mengikuti istrinya untuk tinggal di hotel.
Lea yang ngambek dan tadi sore pulangnya bersama Yuna. Meskipun begitu, Setya tidak ingin berpisah dari istri gemasnya.
Bibir cemberut cantik dan memegang tangan Yuna. Lea dari tadi sudah cuek dan tidak mempedulikan suaminya.
Yuna juga bingung, malah duduk di antara sepasang pengantin baru ini.
"Yuna, tanyakan pada istriku. Apa dia masih marah sama aku?" Setya ternyata sama persisnya dengan Lea, yang tidak mau mengalah sama sekali. Meski bersalah, tetap tidak mau disalahkan istrinya.
"Lea sayang, apa kamu masih marah sama suami kamu?" Tanya Yuna, dan ia dari tadi hanya menjadi perantara mereka berdua.
"Ntahlah, aku tidak tahu." Jawab Lea dan masih terlihat asyik pada layar kaca, ada sebuah film yang mereka tonton saat ini.
Untungnya saja, tadi yang mengantar makan malam bukan si ganteng Riko. Coba kalau Riko yang mengantar, dia pasti syok melihat Setya yang tinggal di kamar Lea.
Bagaimana tanggapannya nanti? Apa yang akan Riko ucapkan kepada Setya?
Riko sangat menggemari couple imut, Lea dan Zio.
Setya memeluk bantal hati kesayangan Lea. Setya juga bingung harus bagaimana. Dulunya, Micheel kalau marah, langsung pada pointnya, dan meluapkan isi hatinya. Jadinya, Setya mudah sekali untuk menyenangkannya. Kalau Lea, istri gemasnya ini, moodnya sedang naik turun, ini sangat memusingkan.
"Yunaku sayang. Aku ngantuk." Lea yang perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Yuna.
Setya merasa, kalau Lea lebih memilih tinggal dengan Yuna.
Yuna mengelus rambut Lea, ia berkata "Tidurlah, nanti aku ambilkan selimut."
"Jangan jauh-jauh." Pinta Lea terlihat gemas manja.
Yuna membalas, "Iya, aku akan selalu ada selama kamu butuhkan."
"Aaa, kok ngomongnya begitu." Cebiknya Lea yang tampak sebal.
"Lea, kamu sudah menikah. Aku tidak nyaman kalau ada suami kamu disini." Bisikan Yuna. Yuna merasa tidak bisa leluasa, selama Setya tinggal bersama mereka berdua.
Setya yang tetap nekat juga, ia berkata "Yuna, bilang sama istriku. Selama dia ingin tinggal disini. Aku juga harus ada disini."
"Lea, selama kamu disini. Suami kamu juga akan tinggal disini. Bagaimana dengan aku??" Yuna jadi garuk-garuk kepala, Setya juga tidak melepaskan dia begitu saja. Tatapan Setya kepada Yuna semakin mengerikan, dan Yuna mengerti keadaannya.
"Bilang sama suamiku. Aku nggak mau pulang kesana." Ucap Lea.
Yuna menoleh ke kiri "Setya, Lea nggak mau pulang kesana."
Sesaat, Yuna menerima pesan dan ia jadi terfokus pada kalimat manis dari sang pacar.
Lea mengintip Setya dari punggung Yuna dan Setya seketika menoleh ke arahnya.
Lea dengan tengil mengedipkan mata, berniat menggodanya. Setya makin bersemangat untuk segera membawanya pulang.
Lea menggodanya gemas dan sampai menjulurkan liddahnya centil. Bak gadis kecil yang mengejek seorang Kakak.
Setya menggeleng dengan tatapan yang sudah menginginkan Lea sepenuhnya.
"Yuna."
Yuna yang tidak mau diganggu oleh Setya. "Ya. Ada Apa? Aku lagi sibuk."
"Yuna, kamu bisa telephone pacar kamu di luar. Aku yang akan menjaga Lea.
Lea yang tadinya berpura tidur. Nah, sekarang udah ada yang siap menjaga.
"Kalau dia kebangun gimana?" Tanya Yuna, yang tetap fokus pada layar pintarnya.
"Aku suaminya. Aku tidak akan menyakitinya." Setya yang ngibul manis dan kembali menoleh ke arah Lea.
Setya sepertinya, sudah semakin gemas, sampai-sampai boneka hati kesayangan Lea, sudah diremas gemas oleh kedua tangannya itu.
Yuna membaringkan kepala Lea ke sisi sofa, yang sudah diberi batal dan ia tidak lupa memberikan selimut menutupi badan Lea.
__ADS_1
"Ingat, jangan macam-macam." Tegas Yuna kepada Setya. Si cantik Yuna, tetap berpihak pada Nonanya.
"Aku suaminya. Terserah aku mau apain istriku." Ucapan Setya terdengar aneh.
Melihat ekspresi itu, Yuna menoleh ke arah Lea. Lalu berkata "Terserahlah. Aku juga sudah pusing."
Setelah Yuna keluar dari ruang kamar itu.
"Lea sayang."
Setya sudah mendekatinya dan memegang tangan Lea.
Lea yang masih berpura-pura tidur, ia tidak melewatkannya. Meski, dalam perasaan ia masih kesal, tapi di hati terdalam, ingin segera memeluk dan menciumnya.
Setya menciumi tangan istrinya, dan ia juga tampak fokus pada layar kaca.
Lea membuka mata dan menatap wajah suaminya. Dari samping, terlihat lekukan wajah menawan dan tampan, Lea mengakui kegantengan suaminya.
"Kenapa masih disini?" Tanya Lea.
"Aku masih kangen sama kamu." Jawab Setya.
"Bilangnya doang kangen. Tapi mana buktinya?!" Lea sewot dan menarik selimutnya tinggi-tinggi, sampai menutup bagian leher.
"Ayo pulang, aku akan tidak akan begitu lagi. Aku memang bodoh, tidak bisa memahami perasaanmu."
Lea berkata "Tapi, aku mau disini. Aku sudah terbiasa tinggal disini."
"Sayang, kita punya rumah. Biarkan, Yuna yang tinggal disini."
"Disana, aku nggak bisa bahagia." Jujur banget, Lea bilang begitu.
Setya semakin mendekat, "Aku ingin menciummu."
"Kenapa harus bilang, hemms?" Bibir Lea semakin cemberut gemas.
Setya menatapnya begitu lekat, sambil mengelus lembut rambut bagian depan. "Aku takut, nantinya kamu marah."
"Sayang, bukan begitu. Maksud aku, selama aku disana. Kita baik-baik saja. Aku baru kembali kesini, kamu malah sensian. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana?"
"Ya udah, sama seperti dulu. Waktu kita pacaran." Ucap Lea. Meski hanya dua minggu, bagi Lea sangat berarti.
Lea juga kesal, Setya malah menurut saja pada Ayahnya. Meski dijodohkan dengan dirinya, itu membuatnya jadi kecewa. Katanya, keras kepala dan sampai kabur meninggalkan rumah demi sang kekasih hati. Giliran harus menikah resmi dengan Lea dalam perjodohan. Setya memutuskan hubungannya dengan Lea. Padahal, mereka berdua tahu akan hal itu. Apalagi, Setya sempat memiliki tujuan lain dan Lea juga telah mengetahui hal itu.
"Ayo kita pulang."
"Tidak mau."
"Baik, kalau kamu ingin tetap disini. Tapi, aku ingin kita tidur seranjang."
Lea tidak membalas perkataannya, hanya menatap sosok suami yang akan mengeluarkan jurus rayuannya.
Setya mengangkat istrinya ke tempat tidur. Cukup jauh dari ruangan TV tadi. Yuna juga belum kembali lagi.
Baru di omongin, Yuna balik ke kamar dan melihat Setya yang menggendong Lea. Sampai sekarang, Lea masih berpura-pura tidur pulas.
Yuna mendekat ke ranjang dan Setya telah menatapnya. Yuna berkata lebih dulu. "Aku cuma mau ambil koper."
"Iya, silakan." Setya yang seolah mendapat secercah harapan manis untuknya.
"Perasaan ini kamarku. Kenapa aku seolah diusir sama Setya?" Tatapan Yuna mencebik dan secepatnya mengambil kopernya.
Sebenarnya, Yuna juga sudah bersiap, bila sewaktu-waktu Setya menempati kamar ini. Yuna juga harus angkat kaki dari kamarnya.
Setelah Yuna pergi dan pintu terkunci, sebagian lampu ruangan telah dimatikan.
Saat ini, sudah pukul 10 malam. Lea yang berbaring menyamping tampak raut wajah menggemaskan.
"Lea! Aku tahu kamu belum tidur." Suara Setya terdengar tegas.
Lea yang langsung duduk, ia berkata "Mas Setya, marah???"
__ADS_1
Tuing
Saat Lea menatapnya gemas, Setya malah jadi salah tingkah sendiri.
Setya yang berusaha santai, ia menuju ke tempat tidur. Pikirannya, tadi sudah benar. Malah jadi error lagi saat Lea menatapnya.
"Aku akan tidur disini." Ucap Setya yang terkesan kaku.
Lea tersenyum gemas, ia berkata "Selamat datang, di kamar Nona Allea."
Lea mendekat dan memeluk gemas suaminya. Setya jadi tersipu malu.
"Aku pikir. Suamiku akan menyerah. Ternyata tetap disini menemani aku." Lea yang memeluknya dari belakang dan sudah menyandarkan kepalanya ke punggung sang suami. Terlihat begitu nyaman dan semakin tersayang-sayang.
Setelah Lea melepaskan pelukannya, Setya berkata "Tadi siang ngambek sama aku. Sekarang sudah gemas begini."
"Aku tadi hanya kesal saja. Perempuan kalau lagi PMS, emh bisa uring-uringan nggak jelas." Ucapnya hanya sekedar pembelaan diri.
Setya mengusap rambut Lea, dengan tangan kirinya dan ia berkata "Aku mohon, jangan ngambek lagi."
"Kenapa? Apa Mas Setya pusing?" Tatapan Lea telihat begitu manis.
Setya yang berpura sakit kepala, "Iya sayang, aku pusing. Ini kepalaku, sampai cekot-cekot. Rasanya sakit sekali.
"Huuu, Mas Setya mengada-ngada. Mas Setya, mana bisa ngibulin aku." Balas Lea. Lea kembali seperti anak kecil, yang mengejek dengan manis menjulurkan liddahnya.
Wek!
"Kamu ini hobby banget godain aku." Setya dengan gemas menunjuk bibirnya. Berkata "Cepat cium aku."
Lea dengan senang hati, mengecup bibir manisnya dan berulang-ulang. Perasaan Setya semakin menggebu.
"Mas Setya, aku makin tersayang-sayang."
"Istriku bikin geemmmeees." Mencubit cemas kedua pipi istrinya.
Tangan Lea memegang bahu Setya, ia berkata "Mulai malam ini, aku siap melayani suamiku."
Mendengar kata melayani di malam hari, jantung Setya berdesir lembut. Lea semakin mendekat, melihat wajah suami yang berbinar malu.
Lea berkata "Emh, suamiku takut sama aku."
Meong cantik ini, pandai menggoda.
Setya membalasnya "Sayang, apa kamu tidak takut sama aku?" Tatapan Setya yang menunjukan kemanisan wajahnya. Senyuman di wajah kakunya itu, malah membuat Lea semakin tergoda.
"Mas Setya. Ayo kita bercinta."
Duuaarr!!
"Hah?!??"
Malah nantangin suaminya. Setya takut akan salah dalam bertindak. Sayangnya, ada hasrat yang tidak bisa ditahan.
"Mas."
Lea sudah mendekat dan memegang telinga suaminya dengan sentuhan nakal.
Meong
Kalau dulu, sama si imut, jadinya Couple Imut.
Sekarang, dengan si kaku yang dicintai.
Couple Aromanis
Ada Romansa Gemas Manis.
__ADS_1