
Gambaran Lea, suaminya itu sosok yang cemburuan. Dia bakalan bosan dan stuck pada suaminya. Tidak bisa lagi bergerak bebas sesuka hati.
Semalaman tidak bisa tidur, sampai subuh matanya tak bisa merem. Biasanya, kalau susah tidur, ada Yuna yang akan bercerita dan mengelus rambutnya sampai tertidur pulas.
"Mana?? Katanya Yuna subuh. Apa mungkin transit dulu?" Lea yang telah menunggu suaminya, sampai jam subuh dan sang suami juga tidak kunjung datang.
Lea yang kembali ke ranjang dan ia mulai mengantuk, karena semalaman dia tetap terjaga. Rasa kantuk mulai menerjang dan perlahan kedua mata cantiknya terpejam dengan manis.
"Yunaku sayang." Lea yang memeluk gulingnya dan perlahan tertidur pulas.
Lea hanya berusaha untuk menjadi istri yang patuh akan perkataan sang suami. Kemarin, memang Zio diminta Setya, untuk menjemput dan mengantar Lea. Setelah itu, tidak mengatakan hal lainnya kepada Zio.
Saat ini sudah jam 7 pagi. Tidak ada yang datang ke kamar, untuk membangunkan Lea.
Si Mbok Yum, pembantu rumah tangga, juga tidak memanggil Lea, agar bangun dan sarapan pagi.
Jarum jam telah menunjukan pukul 10 pagi dan Lea masih memeluk guling empuk dengan mesra.
Puk, puuk
Tangan Lea menepuk dan merasa aneh. Perlahan, Lea memegang tangan seseorang. Lea tidak memastikannya, tapi dia merasa yang memeluknya bukan Yuna. Lea yang masih lupa akan status dirinya.
Wakk Ciiat
.
.
Daap
Dash!
Bruuuggh!
"Sayang." Keluhnya, merasa sakit.
Lea yang masih di atas kasur sudah tampak ternganga, melihat suaminya terjatuh dari tempat tidur. Bahkan, Lea memelintir lengan tangan suaminya, yang terlihat kekar menawan itu.
"Mas Setya." Lea yang langsung loncat dari tempat tidur dan memastikan tangan suaminya tidak terluka.
Lea kecil-kecil begitu tenaganya kuat, apalagi jago bela diri. Dari kecil Lea sudah berlatih bela diri, ada pelatih khusus yang mengajarinya setiap minggu.
"Apa ini, sambutan kamu untuk suamimu?"
"Habisnya, Mas Setya peluk-peluk aku. Aku ngerasa bukan tangan Yuna. Yaaa aku nggak salah." Tetap saja memutar balikan keadaan. Lea tidak mau disalahkan suaminya.
Lea juga tidak berusaha memeluk sang suami. Hanya melihat keadaan tangan Setya, yang tadi sempat ia pelintir keras.
"Untung saja aku bangun tidur. Tenagaku masih loyo. Pasti, tidak sampai patah."
Setya yang telah menatap heran istrinya. "Tidak sampai patah,, hah?"
"Sepertinya. Soalnya aku pernah melukai orang sampai patah tulang." Jawabnya dan begitu santai. Lea sama sekali tidak merasa bersalah, malahan hanya nyengir di depan suaminya.
"Bantu aku berdiri." Pinta Setya.
"Itu, yang sakit tangannya. Kakinya masih sanggup buat berdiri sendiri."
Setya tetap tidak mau berdiri, dia masih terduduk di lantai dan memegang lengan tangan kirinya.
Lea mendekat, ia memegang tangan sang suami "Mas Setya, aku minta maaf. Aku sudah salah."
__ADS_1
Setya yang tidak mau kalah, ia meraih tangan Lea dan menjatuhkannya ke lantai. Tangan kiri Setya memegang kepala Lea, jadinya tidak sampai membentur ke lantai.
Keduanya saling menatap, Lea begitu gelisah akan tatapan Setya saat ini. Lea berusaha untuk memalingkan wajahnya.
"Kamu takut sama aku??"
"Tidak. Aku sama sekali tidak takut sama Mas Setya." Jawab Lea dan ia merasa kalau Setya tadi hanya berpura-pura kesakitan.
"Aku sudah disini. Kamu tidak mau memeluk aku." Ucap Setya.
Meski wajah itu terlihat datar dan tanpa senyuman, tapi Lea merasakan kehangatan dari suaminya.
Kedua tangan Lea, yang tadinya masih berada di atas lantai, perlahan telah memegang punggung Setya.
"Sayang, aku tidak merasa kalau kamu menyukai aku." Ucap Setya.
Lea perlahan memeluk sang suami dan berkata "Mas, punggungku dingin."
Mungkin ucapan itu hanya alasan saja, Setya tersenyum tipis dan mengangkat istrinya dalam dekapannya.
Setya membaringkan Lea di atas ranjang. Lea yang merasa di sayang suaminya.
Tempat tidur yang berukuran king itu, terbalut sprei warna putih tulang dan sangat lembut.
Setya yang berdiri di sisi tempat tidur dan ia berkata "Lea, kamu harus bisa melayaniku."
"Hah??" Lea yang terkejut dan seketika tenggorokannya terasa gatal kekeringan.
"Uhuk, uhuk," Berpura batuk dan Lea hendak pergi dari kamar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Setya.
"Aku, mau ambil minum." Jawab Lea dan ia berusaha lari.
"Apa?? Masak?" Lea yang tersentak dan melotot.
"Lea sayang, kamu istriku. Kamu harus bisa melayani aku. Termasuk hal yang lain."
Lea bingung, ia berkata "Bukannya ada Mbok Yum yang memasak. Untuk apa aku masak lagi?"
"Mbok Yum sudah pulang. Sekarang, kita hanya berduaan." Jawab Setya.
Lea mendadak pikun, ia kembali lagi naik ke atas ranjang. Lea jadi berkata dengan suara gemas "Mas Setya, sini aku layani disini. Di kasur lebih enak. Di dapur pasti panas."
Dalam batin Setya, ia sudah menahan tawa. Kenapa bisa, dia punya istri yang menggemaskan.
Dulunya, memilih Micheel yang cantik, meski Micheel tidak bisa apapun, tapi berusaha untuk menyiapkan semuanya, bila mereka bertemu. Saat ini Setya punya istri, Tuan Putri Allea.
"Benar. Disini lebih empuk." Perlahan, Setya hendak merayap ke atas kasur dan Lea jadi salting.
"Apa, aku harus berpura-pura pingsan?"
Lea tampaknyan kebingungan sendiri dan Setya telah sampai di atas ranjang. Lea berusaha menarik kaki, sampai memeluk lututnya.
"Sayang." Setya yang tampak menggoda istrinya.
Lea yang tidak kuat melihat tatapan Setya, dia beranjak dari tempat tidur "Baik. Aku akan memasak. Tapi ingat! Apapun masakan aku. Harus di makan sampai habis. Titik!!"
Lea secepatnya berlari ke arah pintu dan sudah sampai di depan pintu. Ia kembali ke sisi tempat tidur untuk mengambil sandal lantai dan ponselnya. Setelah itu, Lea benar-benar pergi meninggalkan sang suami.
Setya yang tampak menggeleng dan perlahan memeluk guling "Lea, Lea, kamu ini terbuat dari apa sih?!" Setya sudah gemas sendiri.
__ADS_1
Eitz, hanya 5 menit ke dapur dan Lea sudah balik lagi. Karena melihat isian kulkas masih kosong. Tidak ada apapun untuk di masak hari ini.
"Mas Setya, kulkas kosong. Nggak ada bahan masakan." Ucapnya dan ia duduk di sebelah suaminya.
"Ada di tas belanjaan. Tadi, Mbok Yum sudah beli sayuran."
"Owh, yang di kantong plastik. Barusan, aku buang ke tong sampah belakang."
Setya jadi bangkit dari kasur kasur dan duduk di sebelah istrinya "Lea sayang, itu belinya pakai duit."
"Ya mana aku tahu kalau itu bahan masakan. Aku pikir sampah dapur. Ya aku buang saja."
Setya dalam batinnya gemas, ia lalu berkata pada istrinya "Sayang, ayo tidur lagi. Aku bisa makan di restoran."
"Nah, gitu dong. Mana bisa aku masak. Lihat kukuku, sudah di meni pedi sama Yuna. Nanti jadi bau bawang. Aku nggak mau."
"Iya, benar. Sini bobok pelukan." Tangan Setya berusaha untuk meraih sang istri. Sayangnya, Lea mendorong Setya lebih dulu.
"Mas Setya, tadi nyampe rumah jam berapa?" Tanya Lea, yang tidak mau basa basi lagi.
"Jam 9." Jawab Setya dan memang benar adanya.
"Owh. Pantes saja. Aku nungguin sampai jam subuh. Tapi Mas Setya nggak datang-datang."
"Kenapa? Kamu kangen sama aku?"
"Tidak. Aku hanya penasaran. Kenapa Mas Setya tiba-tiba pulang?"
"Aku sudah punya istri. Lebih baik aku pulang. Tesis bisa aku kerjaan disini. Kalau sudah mendekati ujian, aku kembali kesana."
Lea jadi tersenyum dan hanya menatap wajah suaminya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka aku pulang?"
"Bukannya begitu. Aku tidak suka tinggal disini. Aku terbiasa di hotel. Semalaman aku nggak bisa bobok."
Setya berkata "Pulanglah kesana."
"Mas Setya nanti gimana?"
"Aku mau tinggal disini dulu."
"Terus, ngapain Mas Setya nyuruh Zio, buat ngajak aku tinggal disini?"
Setya berkata "Kamu istriku. Selama aku disini. Kamu juga harus disini. Tapi kalau kamu nggak betah, bisa pulang ke hotel."
Lea jadi tersenyum, padahal semalam sempat membayangkan kalau sang suami akan marah sama dia. Karena kejadian di kampus pagi itu. Ternyata, suaminya tetap bersikap lembut.
"Mas Setya. Aku mau ke dapur lagi. Aku tadi bohong."
"Aku temani kamu. Aku juga ingin tahu kamu masak apa buat aku."
"Oh, jangan. Jangan ikut. Mas Setya bisa tidur lagi, atau mandi saja. Eh, aku juga belum mandi. Aku mau mandi duluan."
Lea yang langsung kabur dan meraih kopernya, sampai dibawa masuk ke kamar mandi.
"Kenapa aku merasa punya hiburan baru?" Gumam Setya yang jarang tertawa.
Yang di kamar mandi, sekitar 30 menit. Belum keluar juga, ia ternyata dandan cantik dulu.
"Aku harus bisa M-M."
__ADS_1
Lea yang sudah Make-up, nantinya mau Memasak, berlanjut Melayani. Menyenangkan dan Memuaskan sang suami.