Permen Kapas

Permen Kapas
Kebersamaan Teman Kost


__ADS_3

Si Nona hotel memeluk suami dengan hebohnya.


Rona bahagia telah terpancar dari wajah cantiknya.


Jaket dan celana jeans sudah membalut parasnya.


Menoleh ke arah pria ganteng dengan tengilnya.


"Sayang. Pegangan yang bener." Setya yang menarik kedua tangan istrinya, agar perpegangan erat, melingkari perut batako miliknya.


"Ini dari tadi aku pegangan. Malah erat begini." Tangannya berpegang bahu, satu kirinya memegang dadanya dan memandangi pria lainnya.


"Pegangan sini." Ucapnya lagi, sambil tangan kirinya menarik tangan istrinya.


Lea yang sudah memegang erat perut suaminya dengan benar, dia kemudian berkata "Mas Setya. Bang Riko, kenapa bisa jadi kalem begitu, kalau lagi sama pacarnya?"


Menurutnya aneh, padahal Lea juga begitu. Hanya tidak menoleh ke spion saja. 'Coba tengok ke belakang'. Siapa yang berubah sok kalem?!


"Ya memang begitu. Aku juga kalem, waktu kita pacaran." Balas Suaminya, yang memang sama saja. "Kamu sudah salah mengira aku."


"Uuuwu, kamu tetap sama Mas. Muka es batu, tapi hatinya seperti embun pagi. Menyejukan mata dan perasaanku." Bahasanya, seolah dirinya pujangga yang pandai merangkai kata


Setya cuma digituin saja, sudah baper. Jadi, mengelus-elus paha Lea.


Hoii, lampu merah untuk berhenti. Harusnya, sang pengendara motor matic ini, bisa menahan diri, eh..malah pacaran.


Riko menoleh ke Setya "Sialan. Giliran sudah halal, tangannya nggak bisa diem. Dasar bocah kampret."


Riko juga pernah memergoki Setya yang memeluk istrinya dan sampai merambat ke dada.


Seketika, Riko malu, putar balik dan tidak mau lagi mengantarkan makanan ke kamar Lea. Padahal, mereka sedang bercanda, ada Yuna juga. Sayangnya, tangan Setya nggak bisa anteng. Selalu spontan sampai ke My Sweetie.


Ternyata, setelah 2 minggu Setya tidur seranjang dengan istrinya. Sikap genitnya, jadi melebihi si tampan Rainner. Auuh, tangannya nggak bisa diem, selalu memborgol Lea dengan tangannya.


Tinnttiiin...


Riko sudah diklakson para pengendara yang ada di belakangnya. Setya sudah ngacir duluan, tidak peduli dengan para teman-teman kostnya itu.


Seet!


"Mas Setya, habis ngebut ngerem mendadak" Ucapan Lea.


Jurus jitu kepentok batako belakang. Lea masih polos saja. Rasanya itu, nyes-nyes nyosss. Apalagi, Lea boncengnya begitu tegap.


Setelah sampai di tempat tujuan. Setya terlihat melepaskan helm Lea, kemudian dengan tatapan manis, kedua tangannya bergerak merapikan rambut istrinya.


Riko yang membawa pacar manisnya, malah menatap manis ke pasangan halal itu. Hawanya ingin juga mesra-mesraan, takutnya jadi kebablasan.


"Jiah, Riko kepanasan. Ayo sholat. Biar adem." Tangan teman sebelahnya merangkul dan mengajaknya pergi ke mushola.


"Sialan, Setya jadi durjana. Tidak kenal tempat, itu tangan harus diruqyah, biar nggak gatel."


Setya yang sedang merangkul bahu istrinya. Lea dengan sikap tengilnya, tampak memegangi tangan suaminya.

__ADS_1


Sesampainya di saung bambu, yang sudah dipesan Setya. Mereka berdua, duduknya juga menempel, sudah mengalahkan perangko.


Bilangnya, tempat lesehan lebih nyaman. Menurut Setya, nyamannya ya begitu, sampai tidak membiarkan istrinya leluasa.


Saat ini, mereka sudah berada di restoran. Saung yang tampak dikelilingi kolam ikan air tawar dan sangat segar dipandang mata. Karena, tempat ini pilihan dari teman kostnya.


Setya dan Lea, tadinya main ke kosan. Akhirnya, mengajak anak-anak kost untuk makan siang bersama.


Mumpung hari minggu, semuanya libur kerja. Riko yang tadinya, apel ke kost ciwiknya. Jadi kepincut, ikut ke restoran, sampai mengajak pacar manisnya.


Gadis berhijab dan terlihat manis. Usianya, sudah 22 tahun.


Tetangga di seberang ruko, ada kost-kostan khusus putri.


Masih kuliah dan terlihat kalem. Tutur katanya juga lemah lembut. Pantas saja, Riko jadi berubah kalem.


Gadis itu sedang sholat dzuhur. Lea dan Setya masih sibuk memesan menu makan siang, untuk para temannya.


Tangan kanan Lea sibuk menulis semua pesanan, para teman suaminya. Tangan kiri tampak memegang manis, tangan genit sang suami.


"Mas Setya. Ini, sudah semua." Ucap Lea yang memperlihatkan tulisannya.


"Oke."


Setya memberikan lembaran daftar menu berisi pesanan, makan siangnya. Para temannya, satu persatu bergantian ke mushola untuk sholat dzuhur.


"Sayang, aku mau sholat dulu."


Lea tampak duduk saja dan hanya melambaikan tangannya. Seperti harapannya, bulan ini mendapatkan tamu bulannya.


Eittz, Setya tidak pernah memaksanya untuk segera berhubungan suami istri. Lea sendiri, yang memberikan sentuhan manja kepada suaminya. Pria normal mana yang tidak akan tergoda, saat di raba-r*ba. Mana, ciumanya lebih pandai, sampai membelit liddah suaminya.


Alma, sang pacar manisnya Riko, "Lea, jadi beneran. Kamu itu baru menikah? Belum ada sebulan?"


"Iya Kak Alma. Pernikahanku belum ada sebulan. Aku sama Mas Setya, jadiannya juga bentar, terus menikah." Lea tidak mau jujur, tentang pernikahan perjodohannya.


Bila ada yang tanya, pastinya akan ada omongan pahit. 'Owh, ternyata kalian di jodohin.'


Serasa tidak punya muka, seorang Lea mendapatkan suami tampan, hanya karena perjodohan.


Meskipun 2 minggu, mereka jadian dalam hubungan pacar. Tetap bisa dijadikan senjata ampuh, bila ada yang bertanya. Emh, seperti sekarang ini contohnya. Padahal selingkuh dari Zio. Yang terpenting, imeg kerennya tetap terjaga.


"Aku sama Riko, sudah setahun ini pacarannya. Nunggu aku lulus kuliah dulu." Ucap Alma, memang begitu adanya, Riko sepertinya juga sangat menjaga hubungannya.


"Kak Alma jangan lupa undang aku. Aku pasti akan datang ke pernikahan kalian." Ucap Lea.


"Iya, nanti aku akan kasih kabar, kalau Riko sudah melamarku." Alma jadi kegemesan sendiri.


Beberapa cowok yang sudah selesai sholat, tampak datang kembali ke saung.


Saatnya, makan siang bersama keluarga besar kost putra arjuna. Tampak rukun dan harmonis. Alma duduk di sebelah kiri Lea dan sebelahnya ada Riko.


Disisi sebelah kanan Lea, ada Setya yang selalu memanjakannya. Bahkan, Setya yang memilah duri ikan emas yang Lea inginkan. Pepes ikan mas menjadi menu pilihan Lea. Sedangkan Setya, memilih pecak ikan mas dan ikan gurame bakar manis.

__ADS_1


"Mas, cobain ikan bakarnya."


"Aku suapin saja."


Yang lainnya tidak menghiraukan, yang terpenting makan. Kalau Riko, panas dingin sendiri.


"Dasar Nona Allea. Makan pepes saja nggak bisa. Pantas saja, selama di hotel requestnya daging melulu." Batin Riko.


Riko diminta tutup mulut dan Tante Aisyah juga dilarang mengatakan, kalau Lea ini keponakannya. Lea dan Setya, hanya merasa sungkan dengan para temannya.


20 menit kemudian.


"Kak Alma, itu ayam gorengnya masih ada. Aku ambilin ya." Ucap Lea, yang berlaku ramah pada pacarnya Riko.


"Lea, aku sudah kenyang." Kemudian, Alma pergi ke wastafel.


Lea menoleh ke wajah Riko, "Bang Riko gimana sih?! Itu pacarnya nggak diperhatiin."


"Yee, aku udah perhatiin Alma dari tadi. Emangnya, kalian yang sudah halal dan bisa pegang-pegangan."


"Ya setidaknya, waktu sholat di kawal. Itu, ke wastafel ditemenin. Kayak Mas Setya dong." Lea sok menasehati.


"Itu, suami kamu saja yang ganjen. Gatel banget tangannya, ini disini banyak kaum jomblo. Mereka jadi kepingin." Ucap Riko.


Lea menoleh ke arah para cowok manis itu, ada pula yang sudah menikah. Tapi, istrinya masih di kampung halaman.


"Eh, nggak. Kita bertiga yang jomblo. Biasa aja."


"Iya, Riko aja itu yang mulutnya kurang sambal."


Teman di seberang meja, menyodorkan sambal terasi untuk Riko. "Ini sambel pedes banget Rik. Cobain sama gurame bakarnya. Wuih, mantebs."


Riko jadi salah tingkah sendiri, Lea jadi semakin ingin membalasnya. Alma telah duduk kembali di sebelahnya dan Riko jadi mendekatinya.


"Alma, memang kalau aku perhatian seperti Setya itu, kamu gimana??"


"Emh, aku bakalan senang. Aku juga tidak keberatan." Jawab Alma.


"Rik, kamu kalau mau merhatiin cewek. Nggak perlu ditanya. Kamu tinggal jadi cowok peka. Itu, kayak Setya, tanpa mikir panjang. Bininya kukunya terawat, biar nggak kotor tangannya, dibantuin pisahin duri ikannya. Nah, itu namanya perhatian." Ucapan, dari teman yang sepantaran.


"Ini belum halal, baru menuju ke arah sana. Kalau aku sudah menikahi Alma, beda lagi." Balas Riko, tampak membela diri.


Lea mendekati Alma, ia berbisik "Kak Alma, jangan mau di PHP sama Bang Riko."


Alma jadi tersenyum. Riko tidak mau disalahkan, ia mengadu "Setya, istri kamu ngomporin pacarku."


Setya membalas "Lea mana pernah ngomporin. Kalau kamu sih Iya. Ingat! Jangan PHP, sama pacar kamu. Kayak aku, Jadian bentar, aku nikahi." Setya, jadi merangkul istrinya "Iya kan sayang??"


Lea berkata "Iya Mas. Yang penting tidak PHP."


"Aku tahu rahasia kalian berdua. Awas nanti, aku akan bongkar di depan mereka semua." Pekik Riko, dalam batinnya.


Setya menepuk bahunya, saat hendak ke wastafel. "Riko, kamu harus sat-set."

__ADS_1



__ADS_2