
Seharian tanpa Yuna dan hanya menyibukan diri di kamar saja. Ponsel ia matikan dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Lea yang bermain sendiri, membuat permen kapas mini, menggunakan mesin khusus dan terlihat mungil.
Saat jam makan siang, Setya datang mengantarkan makan siang Lea.
"Kenapa harus Mas Setya yang kemari?" Batin Lea, saat membuka pintu kamar.
Lea hanya mengisyaratkan dengan tangan, agar Setya masuk ke dalam. Setya juga tidak secerah tadi pagi, setelah melihat wajah muram Lea.
Lea seperti tidak ada semangat dan rasanya begitu malas.
"Ini makan siang kamu."
"Iya."
Setya melihat wajah itu, dan ia berkata "Semangat."
"Emh, aku memang sedang malas. Apa Mas Setya sudah makan?"
"Iya. Sudah."
"Beneran?"
"Benar."
Lea berkata "Aku sedang ada masalah sama Zio. Aku sampai tidak punya semangat."
Setya yang bersikap ramah "Apa yang terjadi?"
"Ada masalah biasa. Hanya saja, aku tidak suka. Aku jadi kecewa sama diriku sendiri."
"Tadi pagi, kamu bilang ingin nonton."
"Tapi aku bingung, mau nonton dimana."
Setya menatap ke wajah Lea, ia berkata "Jam 7 malam, aku tunggu di Luxury Meghan."
"Baik." Balas Lea dan tersenyum tipis.
Setya lantas pergi meninggalkan kamar itu dan Lea merasa ada seseorang yang akan menemaninya. Tidak ada salahnya, dirinya juga berpaling pada pria lain.
Lea yang kembali bermain di sofa dan membuat permen kapas mini berbagai warna. Tentunya, ada banyak varian rasa yang akan dibuatnya.
Hari ini, bisa kecewa karena Zio. Tapi, esok hari tidak ada yang tahu tentang perasaannya.
"Emmmh. Aku suka permen kapas buatanku. Aku, juga harus berikan ini untuk Mas Setya dan Yuna."
"Tapi. Zio juga suka permen kapas." Bibirnya membulat dan masih saja mengingat tentang sang pacar.
Meski dalam hatinya sangat kesal, tapi perasaan Lea tidak bisa berbohong.
Lea sudah terbiasa dengan Zio. Dari pagi bangun tidur, selalu ada ada chat dan tidak selalu penting. Banyak hal yang mereka obrolkan. Mereka sering bersama, selama di sekolah dan di kampus.
Flashback On
Semasa Lea dan Zio masih duduk di bangku SMA.
"Apa apa mencari aku? Ingin tanding basket lagi?" Tatapan Lea yang garang, tapi senyuman tengilnya itu membawa pesona bagi seorang remaja tampan nan imut wajahnya yang bernama Zio.
Zio menjawab "Aku suka sama kamu."
Mendengar hal itu, Lea mendekat dan ia berbisik ke telinga Zio "Aku tidak suka kamu."
Zio semakin gelisah, ada getaran manis yang kian menyerang. Lea yang berada dihadapannya dan mereka juga tidak hanya berdua. Ada si manis Yuna, yang selalu mengikuti langkah kaki Lea.
"Aku mau kita jadian." Zio yang pantang menyerah. Sudah terlanjur menerobos rambu-rambu yang diperingatkan, jadi susah untuk mengerem.
"Apa? Jadian?" Tatapan Lea dan ia merasa ingin mengerjai Zio.
"Iya. Aku mau, kamu jadi pacarku." Jawab Zio.
"Apa yang bisa kamu lakukan selama jadi pacarku?"
"Apapun akan aku lakukan, selama kamu mau jadi pacar aku. Aku akan berikan yang kamu minta, aku akan berusaha untuk menjadi pacar yang terbaik."
"Pacar terbaik?" Pikir Lea dan ia hanya menatap Zio, tanpa membalas kata-kata dari mulut pria tampan nan imut itu.
__ADS_1
"Aku tolak kamu."
Lea beranjak pergi dan Yuna dalam hatinya tertawa, sudah 5 remaja pria yang di tolak mentah-mentah oleh Lea. Bukan hanya dari sekolah, bahkan ada sahabat dari sepupu tampan yang menyukai Lea. Tapi Lea tidak suka padanya.
"Apa alasan kamu menolak aku?" Zio meraih tangannya dan Lea menatap tangan Zio yang berani menyentuh tangan kirinya itu. Tatapan Zio terlihat lebih tegas dari sebelumnya.
"Aku tidak suka pria imut. Kamu terlalu cantik bagi seorang Lea."
"Kenapa kamu merendahkan fisikku?" Zio yang semakin terlihat garang, tapi dalam hatinya sulit untuk bersikap begitu.
"Tadi kamu yang tanya, apa alasan aku menolak kamu. Aku berkata, sesuai dari penilaianku. Aku memang tidak suka pria yang lebih cantik dari aku."
Zio kala itu memang terlihat imut dan sangat manis. Bahkan, kalau dilihat dari sisi berbeda, Lea memang kalah dengan keimutan Zio.
"Kamu laki-laki, tapi aku kalah cantik."
"Coba kamu bercermin."
Lea menghempaskan tangan Zio dan ia jadi tertawa senang. Yuna juga menjadi terkekeh dan tampak menggoda Zio.
Dari situ, gosip Zio si imut cantik muncul dan menyebar ke semua murid yang ada di SMA swasta itu.
"Imut."
"Hallo imut."
"Eh, ada adek imut." Goda dari kakak kelas.
Zio semakin tidak senang dan dia sampai tidak masuk sekolah. Beberapa hari, hanya mengurung diri di asrama.
Remaja usia 17 tahun, yang mendapat ledekan dengan imeg imut. Akhirnya, bisa merubah penampilan dan terlihat keren seperti jagoan sekolah.
Lea melihat perubahannya, semakin tidak senang.
"Untuk apa merubah gaya penampilan?"
"Lea, apa kamu sudah terpesona padaku?"
Degh!
Hatinya semakin runtuh, dia merasa sudah kalah. Bukan hanya tolakan dari seorang Lea, bahkan para murid juga semakin menggoda dan menertawakan Zio.
Satu bulan setelah penolakan itu, Zio tidak terlihat di sekolah. Lea merasa aneh bila tidak melihat Zio. Biasanya, Zio menjadi bahan gosip dan Lea yang melerai para penggosip.
"Yuna, tolong cari tahu tentang si imut."
"Siap."
Yuna menggali informasi. Ternyata, Zio tetap berada di asrama. Akhirnya Lea si jagoan sekolah, mendatangi asrama laki-laki. Meskipun Lea ini putri pemilik yayasan, Lea memanjat pagar samping asrama atas bantuan Yuna. Tetap saja, ada aturan yang selalu di langgar Lea.
Tap tap tap!
Lea yang masuk dan menaiki tangga. Ia lupa nomor kamar Zio. Lea berusaha mencari dari setiap pintu, tapi pagi ini begitu sepi, karena semua murid juga masih bersekolah.
"Nomor 9 apa 8?" Lea yang bingung dan melihat jendela terbuka. "Sepertinya yang itu."
Lea mengendap-endap dan melihat ke sekitar lorong. Tidak terlihat oleh penjaga asrama.
Haapp!
Lea melompat dari jendela dan Zio menatapnya syok.
"Kamu." Zio yang duduk di meja belajar masih terkaget dan ia tidak berani mendekat.
"Kenapa nggak masuk sekolah?"
"Aku."
"Kamu sakit?" Lea yang langsung memegang dahi Zio.
Remaja putra ini semakin gelisah dan jantungnya berdetak kencang.
"Kamu tidak sakit." Lea yang menatap Zio.
Ekspresi Zio berubah manyun dengan cemberut.
__ADS_1
Lea berkata "Aku mau jadi pacarmu."
Zio menatap Lea berdebar.
"Aku mau jadi pacar kamu."
"Kenapa kamu berubah pikiran?"
"Kalau kamu masih suka sama aku. Aku anggap, sekarang hari jadian kita."
"Jadian?"
"Iya."
Lea lantas pergi dan Zio menoleh ke arahnya. Sekali lagi Lea pergi melompat jendela. Zio membuka pintu dengan cepat mengejarnya. Sayangnya, Lea lebih cepat menghilang dari pandangannya.
"Cepat sekali larinya?"
Lea meraih tangan Zio. Mereka berdua berpelukan di sisi ruangan kecil, yang menghubungkan dengan kamar mandi.
"Diam." Bisik Lea.
Ternyata ada penjaga asrama yang sedang melewati lorong itu. Tampak membawa tumpukan sprei warna abu-abu.
Keduanya saling menatap lekat, wajah Lea hanya berjarak satu sentimeter. Lea masih merangkul punggung Zio.
Zio menatap wajah si jagoan, "Lea sangat manis."
Tanpa sadar, Zio melayangkan bibirnya dengan manis dan Lea secepat kilat memalingkan wajahnya. Eitz, mendarat di pipi cubbynya.
Lea yang merasakan, jadi melotot "Kamu cari kesempatan."
"Bukannya kita sudah jadian?"
Lea yang salah tingkah dan ia merasa aneh, tangannya lantas mendorong Zio "Aku pergi dulu."
Zio tersenyum "Aku sangat menyukaimu."
Lea jadi berdebar, entah karena ciuman Zio atau hanya karena dia sedang lari di pagi ini, tapi Lea benar-benar berdebar.
"Yuna, minum."
"Oke."
Yuna yang gercep memberikan botol minum dan mengelap keringat Lea.
"Kamu ketahuan?"
"Hampir saja."
"Hampir saja?"
"Iya." Tapi yang dimaksud Lea itu, hampir saja bibirnya dikecup oleh Zio.
Flashback Off
Lea memandangi permen kapas yang tampak imut. Berbagai warna cerah ceria dan banyak varian rasa.
Meski sama manisnya, tetapi permen kapas mini buatan Lea, semuanya jadi berbeda rasa.
"Zio, Mas Setya? Meski mereka saudara, tapi mereka sangat berbeda. Seperti aku dan Mbak Nada, kita berbeda."
Lea yang sudah kembali bersemangat dan sekarang menikmati permen kapas imutnya, malah tidak mau makan siang. Sampai pelayan mengambil kembali menu siangnya. Tetapi, pelayan itu bukan Setya.
Setibanya di dapur, Setya melihat sajian piring makanan Lea masih utuh dan tak nampak sentuhan.
"Kenapa Lea tidak makan?"
Setelah beberapa saat, setelah piring kembali ke dapur. Tampak lengang dan tidak ada yang membutuhkan bantuan Setya. Ia lalu pergi dan menghubungi nomor Lea. Sayangnya, nomor itu masih dinonaktifkan.
"Apa Lea sakit?" Batin Setya.
Saat kembali ke dapur dan Riko meminta untuk menggantikan pekerjaannya. Karena, Riko menikmati menu khusus untuk Lea tadi.
"Sana, buruan pakai jasnya."
Setya yang bekerja sebagai pelayan, melihat tamu datang.
__ADS_1
"Mama."