Permen Kapas

Permen Kapas
Mengingat Malam Itu


__ADS_3

Cinta yang awalnya manis, sekarang sudah berubah rasa


Memberikan keputusan, saat cinta makin terasa nyata


Tidak ingin membelenggunya, sampai pergi begitu saja


Segenap cinta yang masih ada, ingin segera menghapusnya


"Yuna."


Zio yang berada di dalam mobil. Melihat Yuna tampak berdiri, di depan pintu Lobby apartemen Golden Star.


Set!


"Hei, Yuna."


Yuna jadi melihat ke arah seseorang, yang memanggilnya.


"Zio."


Yuna buru-buru masuk ke mobil.


Saat ini, pikiran Yuna sedang kacau. Kevin juga tidak bisa menerima keputusan Yuna. Baginya, hanya salah paham.


Kevin yang mengejarnya. Jadi melihat Yuna, memasuki mobilnya Zio.


"Buruan jalan!" Perintah Yuna dengan suara kencang. Tatapan Yuna juga begitu garang.


Zio mengalihkan pandangnya pada jalan. Ia takut akan mata Yuna yang telihat serius.


"Sudah numpang, galaknya nggak ilang."


Zio tancap gas dan tidak lagi peduli dengan ucapan Yuna. Begitulah Yuna, selalu ketus setiap bersama Zio.


Ho. Ho. Ho


Yuna nangis tersedu-sedu. Zio bingung, hanya menoleh sesaat dan kembali fokus pada kemudinya.


Zio baru pulang dari apartemen Clarissa.


Revan, bersama genknya Clarissa, mengajakanya ke apartemen Clarissa. Mereka sedang ada perayaan pesta kejutan untuk Tommy. Apalagi Tommy sedang patah hati.


Clarissa dan genknya mengatur semua kejutan untuk Tommy. Setelah itu, Zio pulang lebih dulu.


Yups, Kevin dan Clarissa sama-sama tinggal di apartemen Golden Star.


Apartemen Kevin di lantai 9 dan Clarissa di lantai 7. Mereka pernah bertemu saat berada di dalam satu lift yang sama. Meski pernah bertemu di acara pesta kampus malam itu, mereka tidak bertegur sapa. Clarissa hanya menerka kalau Kevin itu, managernya Micheel.


Srrott!


Yuna yang mengeluarkan ingusnya dan Zio merasa kalau Yuna memang begitu adanya. Tidak tahu aturan. Meski Lea terkadang juga terkesan jorok begitu, tapi Zio masih menyukainya, tidak dengan Yuna.


"Aaaaaa!!" Jeritnya.


Zio menatapnya.


"Aku Yuna. Aku bisa mencari pria yang lebih tampan dari dia." Ucap Yuna dengan emosi jiwa.


Setelah, Yuna rileks. Zio menoleh ke arah wajahnya dan bertanya, "Yuna, kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit muak dengan diriku sendiri." Jawab Yuna.


"Owh, karena kamu bodoh. Jadi, kamu menyesal." Celotehnya Zio.


Yuna menatapnya sinis, "Hai, imut. Kamu ngerti apa sih soal aku?!"


"Soal kamu. Cewek galak." Balasnya.


Yuna menyandarkan kepalanya, ia berkata "Aku baru putus dari Kevin."


"Selamat atas keputusanmu. Selamat menjomblo."


"Idih, kamu ini. Emangnya aku dan Kevin, sama seperti kamu."


"Eh, jangan bawa-bawa aku. Aku putus, karena aku sayang sama Lea. Aku ingin dia bahagia, dengan orang yang dia cintai." Balasan Zio membungkam Yuna.


Yuna terdiam dan rasanya semakin malas bila satu ruangan dengan Zio. Tidak akan ada habisnya. Apalagi sedang bad mood begini.

__ADS_1


"Turunkan aku di halte depan!!"


"Kenapa? Kamu takut sama Lea? Kalau aku, yang mengantar kamu pulang?" Zio jadi mengedipkan sebelah mata.


"Imut, aku tidak takut. Lea malah menyuruh aku menjaga kamu." Yuna keceplosan dan menutup mulutnya sendiri.


Keduanya, saling menatap aneh.


"Apa maksud kamu barusan?" Tanya Zio yang jadi penasaran.


"Bukan apa-apa." Jawab Yuna.


"Lea meminta kamu untuk jadi pacarku? Begitu maksud kamu? Hemms?"


"Tidak. Bukan begitu." Jawab Yuna.


Yuna masih malas menjelaskan, Zio malah penasaran, dia ingin penjelasan.


Yuna mengalihkan pembicaraannya, ia bertanya "Imut. Waktu malam itu, kamu beneran nggak apa-apain Micheel?"


"Yuna, pikiran kamu gila. Aku masih waras. Pikirkanku juga tidak kosong. Aku cuma membantu Mas Setya, membawanya ke hotel dan aku tidur di kamar terpisah. Setelah pagi, aku hanya memastikan keadaan dia, itu saja." Ungkap Zio.


Flashback On


Malam itu, Zio mengikuti Setya yang pergi mengendarai mobil.


Sudah hampir tengah malam. Apalagi, besok siang akad nikah. Zio curiga dan membututi Setya kemanapun perginya.


Demi Lea, Zio menjaga Kakaknya dari godaan perempuan, maksudnya begitu.


Saat malam itu, di sebuah club malam, dalam ruangan khusus yang dipesan oleh Micheel, Setya datang. Tidak lama, membawa Micheel pergi.


Sesampainya di hotel, Zio memberanikan diri di hadapan Kakaknya.


"Mas Setya."


"Zio."


Sesaat, mereka berdua saling menatap, dalam pikiran mereka masing-masing.


"Aku saja yang menamaninya, untuk Mas Setya."


Zio yang mengira, kalau Setya masih menaruh hati kepada Micheel.


"Mas Setya besok menikah. Tidak baik, bila Mas Setya membantu perempuan lain." Zio sakit banget waktu itu. Dia merasakan, hati Lea yang seakan tertusuk pisau.


Jleeb!


Setya juga curiga. Menganggap adiknya, hanya memikirkan Lea. Bahkan, sampai berfikir kalau Zio akan mengatakan kepada Lea di hari pernikahannya besok. Apa jadinya nanti? Apa Lea akan kabur dari pernikahannya? Setelah Zio mengatakan tentang dirinya.


"Ini kunci kamarnya. Micheel masih di dalam mobil."


"Baik."


Zio memapah Micheel dari mobil sedan, milik Salsa.


Setya memang sengaja, akhir-akhir itu, pergi memakai mobil adik perempuannya.


Wajah Micheel sudah tampak tertutup jaket sporty milik Zio. Lorong hotel juga sepi, apalagi sudah tengah malam.


"Apa hebatnya kamu? Sampai Kakakku mencintaimu." Gumamnya dengan suara pelan.


"Setya. Kamu sengaja menusuk hatiku." Ocehnya dan Zio menggeleng.


Sepanjang jalan dari parkiran ke kamar. Micheel tidak henti mengumpat dengan ocehannya semua tentang Setya. Sampai Zio bergidik geli, bisa-bisanya Kakaknya jatuh cinta sama Micheel.


"Kamu tidak waras. Aku saja yang diberi obat perangs*Ng tidak segila kamu."


Setelah malam pertunangan, Zio juga seperti Micheel yang pergi ke club malam.


Parahnya, Zio malah diberi obat perangs*Ng oleh perempuan cantik. Yuna datang tepat waktu, membawanya ke hotel.


Yuna melihat gelagat aneh dari matanya Zio. Yuna langsung memborgol kedua tangan Zio dan menyemplungkan ke dalam bath tub, sampai menggigil.


Yuna pergi membeli penawar racun menggilakan itu. Untungnya, bisa diredam. Tadinya, Zio kesakitan dan sudah diambang kehancuran.


"Setya. Aku akan membalasmu." Pekik Micheel. Memang sudah seperti orang gila, yang menyumpahi Setya.

__ADS_1


Giliran mereka putus, Micheel serasa dihantui oleh Setya. Sampai pada akhirnya, Micheel jadi begitu.


Syuting, tidak fokus. Pikirannya tentang Setya selalu muncul.


Sekelibat melihat Setya. Ya, memang benar. Micheel, yang sedang Syuting di butik terkenal. Setya datang mengambil pesanan jas miliknya. Tidak ada unsur kesengajaan.


Tetapi, Micheel menganggap kalau Setya tidak melepaskannya, dan masih menganggu dirinya.


"Cewek aneh." Ucap Zio, lalu dia pergi meninggalkan Micheel.


Baru mau beranjak pergi, Micheel yang telanjang kaki, melompat dari kasur dan langsung memeluk Zio dari belakang.


"Jangan tinggalin aku. Aku ingin bersamamu" Ucap Micheel. Dia mengira kalau Zio adalah Setya.


"Aku bukan Mas Setya." Balasnya dan Zio masih tampak mematung.


"Aku tidak menyesal. Tapi, aku tidak bisa melupakan kamu. Kenapa kamu selalu ada dihadapanku? Pasti kamu sengaja."


Micheel menangis, Zio mendengarkan saja, tanpa bergerak sedikitpun.


"Setya, aku tahu. Kamu sangat mencintai aku. Aku juga mencintai kamu. Kita sudah putus, tapi kamu merusak hidupku dan karirku."


"Micheel, sadarlah. Besok Mas Setya sudah menikah dengan perempuan lain." Ucap Zio dengan suara lembut.


"Setya. Aku tidak ingin melepaskan karirku. Aku mohon, jangan buat aku gila. Kalau kita memang putus, jangan muncul di depanku."


Suara tangisnya semakin tersedu-sedu.


Micheel yang pernah menampar Setya, dihadapan Lea. Itu, karena kejadian di hotel.


Micheel menganggap, kalau Setya sudah mengikuti dan mengganggu pekerjaannya.


Sebenarnya, Setya merindukannya. Tapi tidak menggembu-gebu.


Setya, hanya ingin melihat Micheel. Apa bisa menerimanya, saat Setya menjadi pelayan hotel.


Riko yang gembar-gembor kalau Micheel akan mengisi acara, di resepsi pernikahan Tuan Putri.


Karena itu, Setya ingin menjadi pelayan hotel. Berkat Riko, akhirnya Setya bisa bertemu Micheel di aula. Eh...sampai bertemu jodohnya.


Zio saat ini, masih tampak mematung. "Micheel tidurlah. Aku tidak akan menganggu kamu."


"Apa kamu tidak akan mengganggu aku lagi??"


"Aku tidak akan mengganggumu."


Perlahan kedua tangannya melepas dada Zio. Zio tanpa melihat ke belakang, ia berjalan ke arah pintu.


Blleeg


Micheel tergeletak lemas di lantai, Zio mendengar benturan kepalanya, akhirnya mendekatinya lagi.


"Micheel. Micheel. Kamu tidak apa-apa?" Zio yang sudah meraih tubuhnya. Perlahan membawanya ke tempat tidur.


Ia menghubungi nomor Yuna, ingin meminta bantuannya, sayangnya tidak diangkat.


Yuna sudah tidur pulas. Karena, seharian capek mengurus persiapan akad nikah Lea dan Setya. Apapun keperluan Lea, Yuna yang menyiapkan semuanya.


"Sial!! Yuna malah mematikan panggilanku."


Zio memastikan nafas Micheel. Tadi, Zio berfikir kalau Micheel sekarat.


Seperti dirinya kala itu. Seakan diambang maut, karena tidak kuat menahan aliran darah yang terasa panas menyengat, dan ingin segera meraih Lea dalam dekapannya. Untungnya saja Yuna, bukan Lea.


"Micheel, aku pikir, kamu mati." Ucap Zio dan merasa lega.


Karena malam itu, gosip di kampus memanas. Beritanya, Zio sudah berkencan dengan artis terkenal.


Flashback Off



Tiba di halte yang ditunjukkan Yuna.


Mobil tampak berhenti, Yuna melepaskan sabuk pengaman.


"Bila kamu membutuhkan aku. Aku akan membayar hutangku malam itu."

__ADS_1


Yuna terdiam dan turun dari mobil Zio.


__ADS_2