Permen Kapas

Permen Kapas
Salah Ngomong Lagi


__ADS_3

"Untungnya sayang, kalau nggak. Udah aku tendang."


Lea yang menatap Setya, seolah ingin menghempasnya. Meski rasa cinta itu ada, Lea bukan wanita yang akan nangis kejang-kejang bila disakiti oleh seorang pria, apalagi hanya sebutan suami. Orang tua sendiri saja, Lea suka membantahnya. Bahkan, hanya sekedar cinta, nanti bisa dicari. Lea yang memang begitu adanya.


Mbak Nada saja, tidak pernah berbicara atau membatin kasar tentang suaminya. Meskipun Bang Varell, terkadang sangat menyebalkan bagi Mbak Nada.


Lea yang masih berdiri di anak tangga. Hanya menatap wajah suami tampannya.


Yuna yang tampak berdiri disampingnya, memegang tangan Lea. Ia berkata "Lea sana jalan. Suamimu sudah lama nungguin kamu."


"Baru 3 jam. Lama apanya?" Lea yang tidak mau kalah. Meski dalam hatinya ingin memeluknya.


"Ayo, jalan." Ajak Yuna.


"Biarkan dia, yang kemari." Balas Lea.



Yuna berjalan lebih dulu, karena anak tangga gedung itu, juga untuk jalan orang lain. Apalagi dijam siang dan waktunya para mahasiswa kampus Glory, makan siang.


"Aku cinta sama Mas Setya. Tapi, aku juga ingin dicintai." Batin Lea dan mata itu hanya tertuju, pada wajah suaminya.


Semoga saja, Setya suami peka.


Melihat Yuna yang berjalan lebih dulu. Setya mengerti, akan sang istri yang tidak mau menuruni anak tangga. Sudah lebih dari 5 menit dan hanya saling menatap dari kejauhan.


"Aku mencintaimu."


Setya berjalan mendekat, perlahan rasa denyut jantungnya begetar mesra. Apa ini, yang dinamakan cinta. Apalagi di tempat umum. Setya belum pernah merasakannya, meski dulunya berkencan, rasanya tidak begini.


"Aku mencintaimu."


Batin saja yang mengatakan cinta, tapi mulutnya susah untuk berbicara. Apalagi, mengatakan di depan istrinya.


"Sayang." Ucap Setya yang datar.


Lea berkata "Mas Setya. Lain kali, tidak perlu lagi nungguin aku. Aku bisa pulang sendiri."


"Tidak apa-apa. Lagian, aku tidak ada kerjaan." Balas Setya.


Lea berkata dengan gaya tengilnya "Mas Setya, aku nanti masih ada kelas lagi."


"Aku tidak masalah." Balas Setya yang kekeh.


Kedua wajah yang bertemu, masih berdiri berhadapan di anak tangga, di gedung baru kampus Glory.


Setya tanpa berkata apapun, ia menggandeng tangan istrinya. Lea merasakan hal yang manis. Saat itu terjadi, Clarissa juga bisa melihatnya.


"Hem, ganti lagi? Beneran putus dari Zio?" Clarissa yang terheran.


Yuna mengabadikan moment itu dari sisi pintu utama gedung ini. Yuna juga senyam-senyum saat melihat Setya yang berubah manis kepada Lea.


"Aku suka ini." Yuna yang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung upload ke akun pribadi Lea, dengan caption cinta yang baru kian bersemi.


Mau akun pribadi, sandi atm, sandi apapun tentang Lea, sudah berada ditangan Yuna. Lea sebenarnya malas sekali, punya akun informasi tentang profil serta asmaranya. Ya, hanya sekedar hiburan saja. Tidak semua tentang kehidupan Lea, diberitakan oleh Yuna. Kalau iya, Lea bisa diincar oleh banyak pria.


Tidak ada yang tahu, sosok Lea yang sebenarnya. Kalau di SMA dan di kampus, Lea memang terkenal putri pemilik yayasan. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu. Kalau Lea itu, sebenarnya memang tuan putri yang sesungguhnya.


"Sepertinya, Zio sama Lea beneran putus." Batin Clarissa, yang masih tertuju pada Lea dan Setya.


"Mas Setya nyebelin."


"Beneran nyebelin?"


Lea hanya tampak tersenyum kesal.


Setelah dari mushola kampus, mereka berdua masih terlihat manis. Apalagi, jalan berdua dan tampak bergandengan mesra. Zio, kali ini melihatnya.


"Ngapain mesra di depanku? Kalian berdua pasti sengaja membuat aku cemburu, iya kan?!" Batin Zio.


Pikiran Zio, masih saja seperti dulu. Yang kekanakan, saat Lea bersama pria lain. Sepertinya, Zio lupa akan status baru mereka masing-masing.


"Zio, ngapain kamu bengong begitu?" Tegur Revan, lalu merangkul bahu Zio.

__ADS_1


"Aku tidak bengong." Balas Zio dan mereka juga hendak ke kantin kampus.


Yuna yang telah di kantin lebih dulu. Dia sengaja menyiapkan meja khusus untuk Tuan dan Nyonya. Dia bahkan berkhayal sendiri.


"Ini yang namanya, pemandangan indah di hati." Lisannya begitu senang.


Lea dan Setya tiba di kantin, Lea terlihat sangat manis. Tetap mau bergandengan tangan. Berbeda ketika bersama Zio. Lea masih punya rasa tidak nyaman, apalagi dihadapan banyak orang. Terutama, para mahasiswa dan mahasiswi kampus Glory.


"Silakan Tuan dan Nyonya Setya."


"Yuna." Tatapan Lea terkesan sengit, tapi dia sudah gemas duluan.


"Aku juga duduk disini. Semua meja juga penuh." Balasan Yuna.


Setya yang tidak basi-basi, duduk lebih dulu. Ia berkata "Sayang, duduklah. Jangan membuat aku tidak nyaman."


"Mas Setya kenapa merasa tidak nyaman?" Tanya Lea.


Setelah Lea duduk, Setya mendekat dan ia berbisik. "Banyak orang yang menatap wajahku. Aku malu."


Lea tersenyum, ia berkata "Makanya, besok-besok nggak usah nungguin aku."


"Baik." Ucap Setya.


Jam makan siang ini, seolah mendapat suguhan baru. Lea, Yuna dan Setya duduk di meja yang sama. Lalu, di meja sebelahnya, ada Zio, Revan dan Clarissa.


"Apa Lea dan Zio, beneran putus?" Bisik beberapa mahasiswa yang melihat mereka.


"Zio sepertinya dekat dengan Clarissa."


"Terus, itu cowok. Siapanya Lea? Cowok barunya?"


"Bisa jadi begitu."


"Aku lebih menyukainya, dari pada Zio. Bikin aku penasaran." Ada yang gemas manja.


"Bukannya, dia yang datang bersama Lea sewaktu pesta."


"Iya. Dia. Aku dengar sendiri, dia minta dicium sama Lea. Tapi, setelah itu Lea pergi. Aku duduk di sebelahnya. Mereka berdiri di kananku, aku jelas-jelas bisa mendengar obrolan mereka."


"Tidak banyak. Hanya ciuman dan panas-panas gitu."


"Panas-panas apaan?"


"Ya gitulah. Mungkin hubungan mereka yang panas."


"Yee, jangan ngadi-ngadi deh. Bilangnya dengar obrolan mereka berdua. Hayo, kamu pasti ngarang."


"Sumpah, kalau yang minta cium aku dengar. Aku jadinya kepo. Aku pasang telinga lebar-lebar."


"Iya, iya. Aku percaya omongan kamu. Aaakk. Makan yang banyak." Temannya gemas menyodorkan sendok penuh makanan, ke mulut teman bawelnya.


Kantin kampus ini, malah menjadi ajang para mahasiswa yang punya pasangan.


Clarissa bertanya kepada Zio, "Kalian beneran putus?"


Zio menjawab "Iya."


"Apa karena aku??" Entah kenapa, Clarissa berfikir, semenjak ciumannya dengan Zio. Hubungan Zio dan Lea jadi renggang.


"Tidak." Jawab Zio dan ia tampak tersenyum.


"Baguslah, aku hanya tidak enak hati. Kalau karena permainan itu, malah membuat kalian putus hubungan."


Revan menyela "Clarissa, apa kamu ingin jadi pacarnya Zio?"


"Emh, tidak. Semua gadis di kampus ini, sudah susah payah mengantri."


"Tidak semuanya, buktinya Lea sama Yuna tidak ikut mengantri." Revan terus saja membuat Clarissa terjatuh, pada arahan permainannya.


Zio berkata "Revan, makanlah. Setelah ini, kita harus ke rumah Tommy."


Clarissa bertanya "Owh iya. Tommy apa beneran sakit?"

__ADS_1


Revan yang lebay memegang dada, ia berkata "Iya sakit parah. Disini, sudah tertusuk pisau."


"Hah? Tertusuk pisau?" Tanya Clarissa, yang menanggapinya dengan serius.


Zio berkata "Tommy hanya putus dari pacarnya."


Clarissa tersenyum, lalu ia menggoda Zio. "Zio, kamu sendiri gimana? Apa putus dari Lea menyakiti kamu??"


Clarissa jadi menatap ke arah Lea dan Setya. Melihat keduanya yang begitu manis. Apalagi saat makan, Lea terlihat begitu feminine.


"Mereka tampak manis. Apa kamu tidak cemburu?"


Zio berkata "Meski aku cemburu. Aku tidak akan mengatakannya padamu."


Zio meraih tas ranselnya, ia lantas pergi. Lea jadi menoleh ke arah Zio, yang berjalan melewati belakang kursinya.


"Zio kenapa?" Lea jadi menoleh ke arah Clarissa.


Revan berkata "Clarissa, aku pergi dulu. Nanti aku telephone kamu."


"Oke. Salam buat Tommy."


Revan pergi dengan melambaikan tangan kepada Clarissa. Tatapan Lea malah menyebalkan bagi Clarissa.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Setya, saat melihat sorot mata Lea tampak kesal.


"Cewek itu, yang ciuman sama Zio." Jawab Lea dengan manja.


"Dia cantik. Pantas saja Zio tertarik." Ucapan Setya salah lagi.


Yuna sengaja menyenggol gelas dan sampai tumpah mengenai Lea. "Lea, sorry."


Lea jadi beranjak pergi.


Setya hendak mengejarnya istrinya, yang berjalan ke arah toilet. Yuna menghadang Setya.


"Kenapa melototi aku?"


"Tuan Setya, anda salah berkata."


"Aku salah berkata?" Tatapan Setya bingung dan Yuna merasa jengkel.


Setya kembali duduk dan meraih tasnya Lea. Yuna meminta pegawai kebersihan, untuk membereskan kecauannya.


Setelah Yuna kembali, ia berkata "Tuan, mari ikut saya."


"Kemana??"


"Ikut saja." Jawab Yuna dan tidak sabar menarik tangan Setya begitu saja.


Banyak orang yang melihat mereka, dan Yuna sudah terbiasa begitu kepada Zio.


Setelah Yuna membawa Setya keluar dari kantin. Yuna menatap Setya, dengan tatapan serius.


"Setya, kamu sadar tidak, kalau ucapanmu nyakitin Lea?"


"Apa maksudmu?" Tanya Setya.


"Lea paling tidak suka. Kalau ada orang yang membadingkannya. Apalagi, soal visual. Cantik, sexy, apalagi soal dada."


"Hah? Kapan aku membandingkannya?"


"Barusan dan tadi pagi." Jawab Yuna.


Setya menunduk dan memegang dahi. "Aku jadi ingat. Pantas saja, pagi tadi, istriku begitu kesal. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya membela diri, saat dia menuduh aku seperti pria mesum."


"Kamu sudah mengerti?" Tatapan Yuna sudah lebih baik, dari pada tadi saat ia begitu kesal.


"Iya, aku jadi mengerti." Jawab Setya..


Setya perlahan, telah mengingat point masalah utama, mereka berdua.


"Aku tidak berniat begitu." Keluhnya.

__ADS_1


"Bawa Lea pulang. Manjakan dia."


__ADS_2