
Pukul 15.15 waktu setempat, Gibran tiba di rumah. Ia langsung masuk ke kamarnya, tapi tak melihat anak istrinya.
Ia mendengar gemercik air dan gumaman Gania dari dalam kamar mandinya.
"oh mandi" gumamnya sambil melepas jas dan meletakkan tas nya
Setelah itu ia keluar dari kamarnya untuk masuk ke kamar Baby Gift. Ia menata furniture pada tempat yang diinginkan Gania.
demi anak istri aku rela melakukan apapun yang mereka inginkan, walau sebenarnya rasa kantuk sedang menyerang :v ~ Daddy Gibran
-
Di kamar Gania
"loh udah pulang" gumam Gania saat melihat jas serta tas suaminya
"Daddy udah pulang" ucap Gania sambil menggoyangkan tubuh montok putrinya
Kemudian Gania memakaikan pakaian untuk Baby Gift, dan tak lupa juga memakaikan bandana bunga.
"cantikk, yuk ikut Daddy"
Tok Tok Gania mengetuk pintu lalu membukanya, tapi ia tak menemukan seseorang yang di carinya.
Saat Gania masuk kedalam, tiba-tiba "Baaa" Gibran mengagetkan Gania dan putri mereka.
"masss" decis Gania karena kekagetannya
Tapi berbeda dengan Baby Gift. Bukannya kaget, Baby Gift malah tersenyum melihat Daddynya mengagetkannya.
__ADS_1
"ih senyum" ucap Gibran gemas
Kemudian Gibran mengulanginya lagi. Kali ini ia menutup wajahnya kemudian membukanya.
"ciluk.. baaa"
Baby Gift kembali tersenyum di buatnya.
"ciluk.. baaa"
Lagi-lagi Baby Gift tersenyum.
"udah selesai ya Mas?" tanya Gania sambil melihat suasana baru kamar Babynya
"udah yang, cuma mindahin dikit makanya cepet selesai" jawab Gibran
"bagus banget, jadi pengen tidur sini" rengek Gania
"yuk tiduran sini yuk" Gania membawa Baby Gift rebahan di ranjang barunya
"ini bentuknya telinga kelinci" jelas Gania pada Baby Gift yang melihati kepala ranjangnya
"besok Baby kalau udah gede bobonya disini sendiri" imbuh Gania
Gibran yang berdiri di samping ranjang pun tersenyum simpul melihat anak dan istrinya yang menggemaskan.
"sini Mas" ajak Gania sambil menepuk celah kosong
__ADS_1
Dengan semangat Gibran pun menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Buggg
"bilang apa sama Daddy?" goda Gibran pada Baby Gift yang memukul mukul hidungnya
"terimakasih Daddy" Gania mewakili
"uhh sakit By, pukulanmu kenceng juga" racau Gibran
"pengen hidung mancung Daddy mungkin" jawab Gania di selingi tawa
Gibran pun juga ikut tertawa.
"yang, kayanya seminggu kedepan aku pulang agak telat deh" curhat Gibran kemudian
"kenapa Mas? Banyak kerjaan ya?" tanya Gania
"iya, banyak proyek masuk. Dan beberapa hari ini aku banyak izin juga"
"tapi kamu kan orang yang paling tinggi jabatannya Mas disana"
"justru itu, kalau atasan ngga tertib apa bawahan akan tertib? Pasti aku akan jadi contoh bagi mereka" jelas Gibran
"iya juga Mas"
"jangan manyun dong" ucap Gibran saat melihat Gania memanyunkan bibirnya
"aku pengen nempel terus sama kamu, sama Baby Gift juga" jawab Gania yang berkaca-kaca
"sayang, kok sedih sih? Kenapa? Kan setiap malam kita selalu bersama" Gibran menenangkan Gania sambil mengelus rambut panjangnya
"karena baru kali ini Mas hidupku terasa lengkap. Sejak kamu datang ke kehidupanku, memang awalnya aku menolak tapi lama lama aku luluh dan candu. Apalagi sejak hadirnya Baby Gift di tengah-tengah kita. Aku jadi semakin tidak ingin jauh dari kalian berdua" jelas Gania dengan suara bergetarnya
__ADS_1
"sssttt, iya aku tahu. Aku janji akan selalu memberi waktu yang cukup untuk istri dan anakku" ucap Gibran kemudian mencium Gania dan Baby Gift bergantian
Maklumlah Gania manja tak mau lepas dari suaminya, karena sejak kecil ia tak pernah merasakan lengkapnya keluarga. Papa Arya memang sangat menyayanginya namun Papa Arya selalu sibuk dengan pekerjaannya.