
2 bulan telah berlalu. Luka kehilangan Papa masih membekas dalam ingatan Gania, tapi rasa sakitnya perlahan telah memudar. Ia ikhlas, ia yakin Papanya mendapat tempat yang lebih baik & tidak akan lagi merasakan sakit.
***
Jam menunjukkan pukul 19.45, hari ini Gibran pulang lebih lambat 2 jam dari hari hari sebelumnya.
"Assalamualaikum" ucap Gibran begitu masuk rumah
"Waalaikumsalam" jawab Gania sambil menghampirinya dan melepas dasi yang Gibran kenakan.
"mandi dulu ya mas, semua udah aku siapin. Aku tunggu disini ya, kita makan malam sama Nenek juga"
"siap sayang"
Kemudian Gibran naik ke lantai atas dengan cepat dan bersemangat. Ia merasa lapar karena ia hanya makan sandwich buatan Gania siang tadi.
15 menit kemudian Gibran turun dengan menggunakan kaos putih dan celana pendek, rambutnya pun masih terlihat basah dan sedikit berantakan.
"mas rambutnya kok ngga di keringin?" tanya Gania seraya mengambilkan makan malam untuk suaminya.
"kamu ngga ada sih" jawabnya
__ADS_1
"eh sudah mau punya momongan belum?" tanya Nenek tiba-tiba
Gania melongo sedangkan Gibran tersenyum nakal.
"sepertinya malam ini Gania ingin Nek, lihat saja dia memberiku porsi makan sangat banyak. Mungkin biar aku kuat hahaha" ucap Gibran yang diiringi tawa
Nenek ikut tertawa, tapi tidak dengan Gania. Ia malah merasa gemas dengan suaminya sehingga ia mencubit paha Gibran berkali-kali. Gibran sedikit kesakitan sehingga ia menggerekakan tubuh & kakinya. Dan itu membuat cubitan terakhir Gania meleset ke tempat yaaa pasti kalian paham lah ya :v
Gania kaget hingga spontan menarik tangannya dan menutup bibir mungilnya yang menganga. Hal itu pun dimanfaatkan Gibran untuk menggodanya.
"sayang, sabar dong. Makanku belum habis loh" ucap Gibran sambil mengedipkan matanya.
Wajah Gania merah padam, ia malu sangat malu. Sang Nenek yang melihat tingkah cucunya pun hanya tersenyum dan geleng-geleng.
***
Cup
Gibran mendaratkan ciuman pada bibir mungil Gania, sesekali ia mel*m*tnya. Tak ingin kalah dari sang suami, Gania pun juga membalasnya.
"sayang aku ingin kamu" bisik Gibran
__ADS_1
Tanpa lama, Gibran menarik semua kancing piyama Gania hingga lepas bersamaan, tak lupa juga ia melepas semua pembungkus yang Gania gunakan. Kemudian membuangnya ke lantai begitu saja.
Gibran sudah tidak sabar, ia juga segera melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya. Kini keduanya sudah sama sama polos.
Gibran memulai permainan dengan menyatukan kembali pagutan mereka, tangannya pun juga tak tinggal diam. Tangan kirinya memainkan rambut Gania sedangkan tangan kanannya memainkan salah satu bagian favoritnya.
"emmmhhhh"
Mendengar suara itu, Gibran segera melepaskan pagutannya. Ia menyukai suara seksi Gania dan selalu melarang Gania menahannya. Kini tangannya pun juga semakin aktif.
Gania semakin menggeliat kesana kemari dan sesekali meracau. Tubuhnya terasa lemas, ia hanya pasrah dengan kelakuan Gibran.
“aku tidak akan membuatmu kesakitan” ucap Gibran di sela sela aktivitas panas mereka
“hmm” jawab Gania
Setelah itu keduanya melanjutkan aktivitas panas mereka hingga benar benar puas.
Skip ya :p
“aku mandi duluan ya mas” ucap Gania sambil terseok-terseok berjalan menuju kamar mandi
__ADS_1
Gibran ingin mandi juga namun rasa kantuk lebih dulu menyerangnya, jadi ia memutuskan untuk tidur.