Pernikahan Paksa Gania

Pernikahan Paksa Gania
Permainan Pricilla


__ADS_3

Tengah malam Gania terbangun, nafasnya terengah-engah. Buru-buru ia mencari air putih yang ia letakkan di nakasnya. Setelah menemukan, ia langsung menenggaknya hingga habis.


"ya allah mimpi buruk" ucapnya sambil mengelap keringat yang membasahi lehernya


Ia menatap jam yang menunjukkan pukul 12 malam.


"apa mas Gibran ngga menelfonku" tanyanya kemudian meraih ponselnya


Ia mendapati notifikasi balasan dari WhatsApp Gibran.


"ah sudah dibalas" gumamnya lalu membuka pesan itu sambil tersenyum


Gania memutar pesan suara itu, tiba-tiba saja matanya membulat sempurna. Detak jantungnya serasa berhenti.


"aku pasti salah dengar, nyawaku belum kumpul" Gania berusaha menenangkan diri dan nafasnya yang memburu


"akan ku ulangi"


Dengan jari gemetar, ia kembali memutar pesan suara itu. Dan benar, suara itu berbunyi


"aaahhh ssayang jangann"


Tanpa aba-aba, air mata Gania mengalir deras. Ia melemparkan ponselnya jauh jauh dari dirinya. Satu jeritan juga lolos begitu saja dari bibirnya.


"mas Gibran ngga mungkin berkhianat"


"tapi suara tadi"


"aaaarrghhh"


Gania tak kuat, ia buru-buru menyibakkan selimutnya lalu turun ke lantai bawah untuk menemui Neneknya.


Dor dor dor


"Nek buka Nek" teriak Gania sambil menggedor pintu kamar Nenek


Tak lama kemudian Nenek membuka pintu sambil menguap.


Gania yang sudah acak-acakan pun menerobos masuk begitu saja lalu membenamkan tubuhnya di kasur Nenek.


"Gania, kamu kenapa Nak?" Nenek khawatir


"ngga mungkin!" teriak Gania sambil menangis tersedu-sedu


"Gania, ada apa ini?"


Gania kemudian memeluk Neneknya, ia merasa seluruh tubuhnya rapuh.


"kenapa Nak malam-malam begini menangis?"

__ADS_1


Gania belum menjawab, ia hanya terus menggeleng.


"kenapa sayang?" Nenek panik


Gania melepaskan diri dari Neneknya, perutnya terasa sangat kencang.


"aawhh Nek, sakit Nek" racaunya sambil menangis


"tenangin diri dulu, sebentar ya Nenek ambilkan minum" Nenek meninggalkan Gania di kamarnya untuk mengambilkan minum di dapur


Setelah mendapatkan minum, Nenek kembali ke kamarnya. Tapi ia terperanjat saat melihat cucu tersayangnya terbaring lemah dengan mata terpejam.


Buru-buru Nenek menghampirinya dan menggoyangkan tubuh Gania.


"Gania"


"Ga"


"kamu kenapa Nak"


Kemudian Nenek menempelkan minyak aromaterapi di hidung Gania.


Beberapa saat kemudian mata Gania kembali mengerjap, tapi lagi-lagi ia menangis tersedu-sedu dan sesekali berteriak.


"Gania, tenang Nak. Ini tengah malam jangan berteriak" ucap Nenek sambil mengelus bahu Gania


"kenapa Nak? ada apa?" tanya Nenek pelan


"mm..mass Gibrann" tangisnya kembali pecah


"kenapa? Gibran kenapa?" Nenek panik


Kemudian Nenek menyodorkan minum agar Gania lebih tenang.


"tenangin dirimu Nak, kasian anakmu"


Gania mengangguk dan mengatur nafasnya yang sesenggukan.


Setelah butuh waktu lama untuk menenangkan diri, Gania pun menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Neneknya.


Hal yang sama juga terjadi dengan Nenek, air matanya lolos begitu saja.


"Gibran..." ucap Nenek tidak percaya


"dimana ponselmu?" tanya Nenek


"di kamar"


Karena tidak sabar, Nenek mengambil ponsel Gania yang tadi ia lempar begitu saja.

__ADS_1


10 menit kemudian Nenek kembali ke kamarnya dengan membawa ponsel Gania.


"hubungi dia" perintah Nenek tegas


Menuruti perintah Neneknya, Gania menghubungi Gibran.


***


Kring kring kring


Mendengar dering ponselnya, Gibran terbagun dan mengerjapkan matanya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat dirinya bertelanjang dada dan tidur di tempat asing bersama wanita.


Matanya membulat hebat, saat melihat wajah wanita itu yang tak lain adalah Pricilla.


"Hallo sayang" jawab Gibran mengangkat panggilan


"apa yang kamu lakukan?" Terdengar suara Nenek dari seberang sana


"melakukan apa Nek?"


Mendengar suara berisik, Pricilla pun terbangun. Ia tersenyum sinis melihat Gibran yang sedang kebingungan menjelaskan.


"Nek, ini tidak seperti yang Nenek pikirkan" ucap Gibran ketus


"Nek, saya di jebak"


"dia memperkosaku" teriak Pricilla tiba-tiba, menambah kegentingan yang terjadi malam ini


Gibran membalikkan tubuhnya


"kamu!" Gibran mendekat ke arah Pricilla lalu mencengkram tangannya


Hal ini menjadi kesempatan bagi Pricilla, ia malah membuat suara d*s*h*n yang membuat orang lain berfikir yang tidak-tidak.


"aahhh jjangn lagii eemmhhh" d*s*hnya


"b*ngs*t kamu!" teriak Gibran kemudian melepas cengkramannya dengan kasar


"aku kira kamu benar benar mau berubah, ternyata ucapanmu hanya dibibir saja!" teriak Gibran lagi


"apa yang sebenarnya kamu rencanakan? apa kamu se gila ini?! teriaknya lagi


"YA! Aku gila karenamu!" jawab Pricilla dengan suara tak kalah lantang


Ingin sekali Gibran menghajarnya, tapi mengingat Pricilla ada seorang wanita jadi ia terpaksa mengurungkan niatnya. Ia mengacak-acak rambutnya kemudian keluar dari kamar Pricilla dan membanting pintunya dengan kasar.


"permainan belum selesai"

__ADS_1


__ADS_2