
Seperti biasa, Gibran dan Gania turun bersama untuk sarapan di lantai bawah. Gibran menuntun Gania dengan pelan karena ia tahu istri kecilnya sedang tidak baik-baik saja. Setibanya di lantai bawah, Gania tidak menemukan keberadaan Papanya.
"Bi, Papa udah sarapan?" tanya Gania sambil berusaha mendudukkan dirinya
"belum Non, dari tadi pintunya masih tertutup" jawab Bi Asih sambil menyiapkan sarapan
Mendengar jawaban Bi Asih, Gania segera beranjak dari kursi dengan maksud akan memanggil Papanya. Tapi Gibran melarangnya karena Gania masih susah berjalan. Akhirnya Gibran yang memanggil Papa Arya.
*tok tok tok*
"Papa"
Gibran mengetuk pintu dan memanggil Papa Arya dari luar kamar, tapi tidak ada jawaban sama sekali, tidak ada suara apapun dari dalam kamar. Gibran mencoba membuka pintu, namun dikunci.
Gibran mulai khawatir, akhirnya ia mendobrak paksa pintu kamar Papa Arya, Gibran terkejut karena ia tak melihat keberadaan Papa Arya dikamarnya tapi anehnya pintu terkunci. Ketika hendak melangkahkan kaki untuk keluar, ia mendengar suara lirih rintihan dari dalam kamar mandi. Gibran segera berlari dan membuka pintu kamar mandi dan ternyata...
"Astagfirullah Papa!"
__ADS_1
"tolong! Gania!" teriaknya lagi
Mendengar teriakan Gibran, Gania yang sedang asyik makan pun segera mengentikan aktivitas makannya kemudian berjalan cepat menuju kamar Papa meskipun merasakan sangat sakit di bagian bawahnya. Dilihatnya Papa Arya sudah lemah tak berdaya serta hidungnya berlumuran darah. Ia panik tapi tubuhnya terasa kaku, lalu menangis dengan begitu kencang sampai mengagetkan semua orang rumah.
Semua panik tapi dengan cepat Pak Sopir segera membawa Papa Arya ke rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit, Gania menangis tiada henti. Ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan. Gibran yang melihat istrinya pun ikut menangis dan membiarkan Gania bersandar dipundaknya.
Tak lama kemudian Dokter Danar keluar menemui Gania, ia mengatakan bahwa Papa Arya mengalami perdarahan akibat terjatuh di kamar mandi dan saat ini tim medis masih mengobservasi.
"gimana mungkin baik-baik saja sih mas. Kamu kan dengar sendiri penjelasan Dokter tadi" Gania merasa stress, ia tak sadar dengan ucapannya
***
Sudah 24 jam Papa Arya belum bisa dijenguk. Setiap ada tim medis yang keluar masuk ICU, Gania selalu memohon untuk masuk, ia khawatir dengan Papanya. Dari yang menangis sampai memberontak sudah Gania lakukan, tapi tak ada satupun yang mengizinkan.
Nenek Gania yang baru saja datang juga tak kuasa menahan tangisnya ketika mendengar kabar tentang putra sematawayangnya.
__ADS_1
Ketika Dokter Danar keluar dari ICU, dengan cepat Gania menghampirinya dan memohon untuk masuk.
"baiklah kamu dan keluarga bisa masuk" ucap Dokter Danar
Gania dan Gibran mengikuti Dokter Danar untuk masuk ke ruang ICU. Tangisnya kembali pecah ketika melihat Papanya terbaring lemah, tangan kirinya terpasang infus, hidungnya terpasang selang oksigen dan jari tangannya terpasang kabel EKG.
"kenapa Dokter membawaku kesini?" tanya Gania sambil sesenggukan
"Gania, Papamu hebat. Papamu sudah menjaga dirinya dengan baik. Tapi musibah kemarin, menjadikan kondisi Papamu seperti ini. Apakah ada hal yang ingin kamu katakan atau kamu lakukan?"
Gania tidak paham apa yang dimaksud Dokter Danar,
"doakan Papamu Ga" ucap Dokter Danar
Gibran sudah merasa tidak enak, lalu ia melihat EKG. Disana menunjukkan detak jantung Papa Arya semakin melemah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi dengan Papa Arya?
__ADS_1