
Hujan turun membasahi atap setiap rumah, termasuk rumah megah milik Papa Arya yang kini menjadi milik Gania. Dinginnya udara ditambah dinginnya AC menambah suasana menjadi syahdu seharusnya. Tapi kali ini tidak dengan bumil muda Gania.
"mas, lepasin ah" ucapnya sambil mendorong tubuh Gibran
"kenapa?" tanya Gibran heran
"aku gerah" jawabnya sambil mendudukkan diri
"hah gerah? Ini dingin loh yang, ruangan ini aja suhunya 18 derajat celcius" Gibran semakin heran
"atau jangan-jangan kamu bosen tidur sama aku?" tebak Gibran
"emm baby pengen Mommynya tidur sendiri" ucap Gania lirih sambil tertunduk
"yaudah kamu tidur disini, aku tidur di sofa" kemudian Gibran beranjak dari ranjang dan merebahkan dirinya di sofa, meski tak senyaman ranjangnya tapi bagaimana lagi.
"maaf ya Dad" ucap Gania menirukan suara anak kecil sambil tertawa
"Goodnight sayang sayangnya Daddy" ucap Gibran dari sofa lalu memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.15 dini hari Gania terbangun. Tangannya meraba area kosong disampingnya kemudian membuka mata.
"aku tidur sendiri?" tanyanya lirih sambil mengucek matanya kemudian mendudukkan diri
"mas" panggilnya sambil menyalakan lampu utama untuk mengetahui keberadaan suaminya. Setelah lampu menerangi kamar, tampaklah Gibran tidur terlentang di sofa. Kemudian Gania menghampirinya.
"masss" rengeknya sambil menggoyangkan tubuh Gibran
__ADS_1
"hmmm" Gibran mencoba membuka mata
"kok kamu tidur disini sih? Kok kamu ngga temenin aku? Kamu ngga mau tidur sama aku? kamu bosen?" rentetan pertanyaan Gania itu seketika mengumpulkan seluruh nyawa Gibran yang tadinya belum terkumpul sama sekali.
"sayang bukannya kamu yang tidak mau tidur denganku? Kamu bilang baby yang minta" jawab Gibran
"hah?" Gania menganga
"jadi sekarang gimana?" tanya Gibran sambil menutup mulut Gania yang terbuka
"temani aku" rengeknya
Gibran geleng-geleng kepala sambil menghela nafasnya, ribet banget ya Gania hahaha.
"sayangnya Mommy besok lagi ngga boleh ya usir Daddy dari ranjang" ucap Gania sambil mengelus perutnya
"udah ayo tidur lagi" ajak Gibran sambil ikut mengelus baby yang masih berada didalam perut sang istri.
Pagi harinya, Gibran bangun lebih dulu dari Gania. Ia membuka mata dan mengamati istrinya sangat lama, semakin hari ia semakin gemas dengannya. Meskipun kadang rewel tapi Gibran menikmatinya, inilah proses untuk menjadi Daddy.
Setelah puas mengamati, ia menangkis selimut yang menutupi tubuh keduanya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi.
15 menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang istri juga sudah terbangun.
"mas nanti pulang jam berapa?" tanya Gania yang sibuk menonton video dari ponselnya
"belum tahu yang, kenapa?"
__ADS_1
"jangan malem-malem ya, aku pengen jalan" ucap Gania kemudian meletakkan ponselnya
"jalan kemana sih bumil?" kemudian Gibran mendudukkan dirinya disamping Gania
"aku lihat di sosmed, ada festival lampu gitu mas di deket Mall"
"yaudah nanti malem ya, sekarang kerja dulu" kemudian Gibran mendaratkan bibirnya di kening Gania
"masss" Gania merengek
"kamu ngga kangen ini?" tanya Gania sambil menunjuk bibirnya malu malu
Gibran tersenyum kemudian menyosor bibir Gania dengan cepat. Entah kenapa Gania berubah agresif pagi ini.
"sayang udah dulu ya, nanti yang dibawah meronta-ronta loh" ucap Gibran yang melepaskan pagutan itu
"kamu udah ngga mau cium aku lagi?" mata Gania memerah dan suaranya bergetar
Gibran yang peka istrinya akan menangis pun segera menyambar bibirnya lagi.
Tubuh keduanya saling menempel, perut buncit Gania menempel keras pada perut Gibran. Gibran membuat permainan ini menjadi lebih panas, tangannya pun reflek mencari benda kenyal kesukaannya, tapi sebelum ia menikmatinya, baby yang berada didalam perut Gania pun mengalami pergerakan kecil seperti menendangnya.
Sehingga dengan cepat mereka saling melepaskan diri kemudian tertawa bersama.
"tuh kan baby aja ngga ngebolehin kita beginian pagi-pagi hahaha" ucap Gibran sambil mengelus perut sang istri
"baby cemburu sama Daddy?" tanya Gania yang juga mengelus perutnya.
__ADS_1
"aku siap-siap dulu ya" kemudian Gibran berganti pakaian kantorannya dan menyiapkan barang yang biasa ia bawa.
Setelah itu mereka sarapan bersama kemudian Gibran berangkat ke kantor untuk bekerja.