
Setelah tenang, Gibran mengikuti nasehat Gania dan Papa Surya agar mencari Ibu Sarah kembali.
Ia mengelilingi seluruh penjuru Rumah Sakit, tapi tidak menemukannya. Karena kesal, ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan kasar.
"Gibran" panggil seseorang
Lalu Gibran menoleh ke sumber suara. Matanya berbinar karena kembali bertemu dengan seseorang yang baru saja ia cari.
"apa kamu sudah siap menerima permintaan maaf dariku?" tanya Ibu Sarah
"ya" jawab Gibran
"maafkan aku Nak, memang benar aku tak pantas di sebut Ibu. Aku sudah mencoba menggugurkanmu, aku tidak merawat dan mendampingimu. Jika aku bisa melihat masa depan, aku yakin masa itu aku tak akan meninggalkan kalian" ucap Ibu Sarah dengan suara bergetar
"Ibu..." satu kata yang lolos dari bibir Gibran
"jangan menyalahkan masalalu, karena masalalu lah kita ada di masa ini" imbuh Gibran
"apakah kamu mau memaafkanku?" tanya Ibu Sarah kemudian menepuk bahu Gibran
"Gibran sudah memaafkan Ibu" jawab Gibran sambil tersenyum tipis
"aku tidak pantas disebut Ibu" Ibu Sarah merutuki dirinya sendiri
"maaf Bu, seharusnya Gibran tidak berbicara seperti itu tadi"
Ibu Sarah menyeka air matanya kemudian tersenyum.
"tidak apa, karena memang benar begitu adanya. Bolehkah aku memeluk putraku?" tanya Ibu Sarah
Dengan senang hati Gibran langsung menganggukkan kepala dan merentangkan tangannya, kemudian memeluk sang Ibu yang sudah lama di bencinya.
__ADS_1
"sakit apa yang Ibu derita?"
"Ibu lumpuh Nak" jawab Ibu Sarah dengan memperlihatkan senyum pahitnya
"lumpuh? Tidak bisa sembuh?"
"tidak bisa, Ibu sudah melakukan terapi berkali-kali tapi tak ada perubahan sama sekali. Ya beginilah Ibu sekarang, sejak Ibu pisah dari suami, Ibu kembali tinggal disini sendiri"
"kenapa bisa lumpuh?"
"sembilan bulan yang lalu Ibu mengalami kecelakaan" jelas Ibu Sarah
"ngomong-ngomong siapa nama Istrimu?" tanya Ibu Sarah
"Gania" jawab Gibran sambil tersenyum
"dan putrimu?"
"Giftania"
"sangat baik. Istriku adalah putri tunggal Papa Arya Anjasmara, sahabat Papa" jawab Gibran
"benarkah? bolehkah Ibu bertemu lagi dengan mereka?"
Kemudian Gibran membawa Ibu Sarah kembali ke ruang perawatan untuk menemui Gania.
Senyum Gania mengembang ketika melihat Gibran mampu memaafkan sang Ibu.
"Gania" panggil Ibu Sarah kemudian meraih tangan Gania
"iya Bu?"
__ADS_1
"Ibu titip Gibran ya, Ibu harap kalian bisa bersama selamanya"
Gania kemudian mengangguk dan tersenyum.
"Ibu harap kalian selalu hidup bahagia"
"aamiin" jawab Gibran dan Gania bersamaan
"sepertinya Ibu pernah bertemu denganmu sebelumnya" ucap Ibu Sarah yang terus melihati wajah Gania
Gania mengerutkan dahinya.
"aahh, maaf sayang. Waktu itu Ibu merebut semua strawberry yang akan kamu beli"
Gania semakin mengerutkan dahinya.
"apa kamu ingat kamu pernah menghentikan seorang wanita berkacamata hitam yang memborong semua strawberry di Supermarket?"
Gania mengangguk.
"iya, Gania ingat. Apakah itu Ibu?" tanya Gania
"iya, Ibu minta maaf ya sayang. Pasti waktu itu kamu kecewa"
"sudah di maafkan Bu"
"walaupun ada sedikit drama hahaha" ledek Gibran
Ibu Sarah kemudian melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Ibu pamit ya"
__ADS_1
"semoga lain waktu kita bisa bertemu" ucap Gibran
Ibu Sarah hanya tersenyum kemudian berlalu dengan kursi rodanya, karena setelah ini ia tak akan lagi masuk ke kehidupan mereka.