
Gibran memberi tatapan penuh tanya kepada Dokter Danar. Tapi berbeda dengan Gania, ia tak menghiraukan apaun saat ini, ia hanya terus berdoa dan menuntun Papanya melantunkan kalimat syahadat meski sang Papa tak bisa lagi mendengar apapun dari Gania.
Gibran merangkul dan mengelus pundak istrinya tapi pengelihatannya tak bisa lepas dari layar EKG. Dilihatnya, detak jantung Papa Arya tidak teratur. Terkadang cepat namun terkadang juga melambat, terkadang turun tapi terkadang juga meningkat.
Setelah Gania dan Gibran selesai mendoakan, Dokter Danar menyarankan mereka berdua keluar terlebih dahulu agar dirinya dan tim medis lainnya bisa melakukan tindakan lagi.
Kini Dokter dan tim medis memasang alat pacu jantung untuk Papa Arya, agar jantungnya berdetak lebih teratur.
Di luar ruang ICU, sudah ada Papa Surya yang menunggu.
"sabar ya Nak" ucapnya sambil menepuk pundak menantu kecilnya.
Gania takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan, Gibran yang tahu kekhawatiran Gania pun segera membenamkan wajah Gania ke dadanya. Dan terdengarlah suara isak tangis Gania.
"sayang, makan dulu ya. Dari kemarin kamu belum makan. Nanti kamu ikut sakit" ucap Gibran pelan, tapi Gania hanya menggeleng.
"nenek suapin ya" ucap Nenek yang berusaha menyodorkan suapan
Awalnya Gania terus menolak tapi setelah beberapa saat dibujuk, akhirnya Gania mau makan meskipun sedikit. Nafsu makannya turun drastis setelah Papa Arya kritis.
***
__ADS_1
Malam ini hanya Gibran dan Gania yang tinggal di Rumah Sakit. Dinginnya kursi tunggu tidak menjadi masalah bagi mereka untuk menjadikannya sebagai tempat tidur.
"sayang, kamu tidur di mobil aja ya biar aku yang disini" ucap Gibran sambil membelai rambut Gania
"disini dingin" imbuhnya
"aku mau disini mas, di kamar kita juga biasanya dingin kan?" jawabnya sambil tersenyum tipis
"aku mau menunggu Papa sampai Papa siuman" imbuh Gania, ia sangat optimis Papanya bisa sembuh.
Kemudian Gibran melepas jaket yang ia pakai kemudian memakaikannya ke tubuh Gania agar ia tak terlalu kedinginan malam ini.
"kulitku kan tebal, ngga mungkin masuk angin haha" Gibran sedikit melawak agar istrinya tersenyum, dan benar saja Gania tersenyum gemas dan mencubit lengan Gibran.
"ihh sakit sayang" ucap Gibran sambil mengelus elus bekas cubitan Gania.
"katanya kulit tebal, dicubit dikit kok sakit. Besok kulitnya ditukar sama kulit biaya gih"
"loh kamu ngga tahu ya? Aku kan buaya" ucap Gibran, hal itu membuat Gania semakin gemas dan terus mencubit lengan Gibran.
"sayang kamu tahu ngga?" tanya Gibran
__ADS_1
"ngga" jawab Gania sambil terkekeh kecil
"aku kan belum bilang"
"hahaha apa mas?" tanya Gania
"ternyata kita tuh udah berjodoh sejak kecil loh"
Ucapan Gibran membuat Gania heran, bagaimana bisa ia beranggapan seperti itu.
"inisial nama kita kan sama sama GA" ucap Gibran garing
Gania masih menatap Gibran dengan penuh heran dan bertanya-tanya.
"ngga lucu ya?" tanya Gibran
Gania hanya menggeleng namun kemudian tertawa karena ke-garingan lawakan suaminya.
Setelah sedikit bersenda gurau, mereka mencoba memejamkan mata masing-masing. Tak lama kemudia mereka pun terlelap di kursi tunggu depan ruang ICU.
Gibran rela menjadikan pahanya sebagai bantal istrinya agar merasa nyaman, sedangkan dirinya hanya menyandarkan kepalanya di badan kursi.
__ADS_1